Dua bulan lalu, meskipun suasana bising tak karuan karena berada di tepi jalan, saya berusaha mendekat ke arah guide yang mengantar kami ke lokasi walking tour agar informasi yang diberikan terdengar jelas dan tidak samar-samar.

“Jadi, mengapa Glodok dipenuhi dengan etnis Tionghoa? Ada yang tahu?”

Kami semua saling berpandangan, seperti murid yang sedang ditanya oleh gurunya,lalu serempak menggeleng.

Mungkin bagi sang guide, tidak ada yang mengetahui sejarah Glodok akan membuat suasana tur makin seru karena ada proses transfer ilmu.

Tak lama kemudian karena kami benar-benar tidak bisa menjawab, maka ia pun menjawab pertanyaannya sendiri.

“Dahulu saat zaman penjajah, ada kejadian pembantaian besar-besaran di wilayah Glodok, ada yang tahu apa?”

Akhirnya salah satu dari kami angkat suara. Guide pun senang sambil mengiyakan keterangan singkat salah satu peserta, yang pasti bukan saya yang menjawab.

“Saat zaman penjajahan Belanda, Glodok pernah menjadi kawasan pembantaian besar-besaran. Dahulu, etnis Tionghoa dikumpulkan di satu area, tepatnya Glodok, untuk memudahkan pengawasan dengan terkonsentrasi di satu wilayah saja. Pengawasan yang dimaksud ialah pengawasan terkait dengan pembantaian yang terjadi pada tahun 1740 M.”

Apa yang menyebabkan pembantaian terjadi? Menurut sumber yang saya baca, dahulu saat zaman penjajahan Belanda, etnis Tionghoa yang datang dari daratan China berhasil untuk melakukan kegiatan perniagaan. Pabrik-pabrik didirikan untuk mendukung proses perdagangan. Belanda pun tak senang melihatnya. Etnis pendatang kok lebih sukses daripada pribumi yang notabene mereka jadikan budak.

Akhirnya peraturan pun dilakukan. Warga Tionghoa diberi beban pajak tinggi. Makin tinggi pendapatan mereka, makin tinggi pula pajak yang yang harus mereka bayar.

Pabrik Gula yang mereka miliki harus menjual hasil gulanya kepada Belanda dengan harga murah.

Peraturan lainnya ialah adanya surat izin tinggal di Batavia bagi etnis Tionghoa. Lalu bagaimana cara mendapatkan surat izin tersebut? Ya dengan membayar sejumlah uang kepada petugas. Lantas bagi mereka yang tidak memiliki surat izin akan dimasukkan di penjara.

Siapa yang tak geram dengan tindakan Belanda tersebut?

Adanya korupsi besar-besaran yang dilakukan oleh gubernur VOC serta kesalahan prosedur ekspor gula ke Eropa membuat VOC menaikkan kembali pajak kepada etnis Tionghoa.

Merasa tertindas dengan tindakan yang semena-mena yang dilakukan VOC maka mereka pun melakukan perlawanan.

Beberapa perlawanan yang terjadi diantaranya pada Oktober tahun 1740 M. Sekitar 600 etnis Tionghoa menyerang pos penjagaan di sekitar Jatinegara dan membunuh 50 tentara VOC. Selain di Jatinegara, benteng dalam Kota Batavia pun pernah dikepung dalam bulan yang sama. Mereka ingin masuk. Namun hal ini dapat dicegah oleh tentara VOC yang saat itu dipimpin oleh Gustaav Willem van Imhoff.

Pemberontakan yang terjadi membuat VOC khawatir.

Kekhawatiran tersebut kemudian membuat Belnada menerapkan peraturan baru yaitu adanya jam malam bagi warga Tionghoa yang tinggal di dalam Kota Batavia. Selain itu semua senjata wajib diserahkan kepada VOC.

Kekhawatiran VOC tersebut memuncak hingga akhirnya pada 9 Oktober 1740, atas perintah Gubernur VOC yang menjabat, Adriaan Valckeneir dilakukan pembantaian massal kepada warga Tionghoa yang menewaskan sekitar 10.000 orang dan ratusan warga luka-luka.

Meski telah dilakukan pembantaian namun warga Tionghoa yang masih hidup tetap melakukan pemberontakan.

Akibat dari pembantaian tersebut, Gubernur VOC yang memberi perintah, Adriaan Valckeneir, dicopot dari jabatannya dan dimasukkan ke dalam penjara hingga akhirnya ia meninggal. Lalu sebagai pengganti ditunjuklah Gustaav Willem van Imhoff.

Sebagai Gubernur baru, ia akhirnya memberikan peraturan baru yakni dipindahkannya warga Tionghoa di satu tempat di luar benteng kota yakni di Glodok, agar mereka makin mudah diawasi dan sulit melakukan pemberontakan.

Hingga kini, kawasan Glodok menjadi pusat warga Tionghoa tinggal dan berniaga. Entahlah, sejarah memang membuat pedih hati. Kalau diingat-ingat terus rasa geram tidak tertahan. Namun kini semuanya sudah berlalu. Kawasan Glodok masih hidup dengan ramainya lapak-lapak penjual dagangan. Hio masih menyala di sudut-sudut kelenteng. Pengunjung yang datang dari luar maupun dalam negeri kini ikut memadati kawasan ini meski hanya beberapa jam saja singgah.

Semoga apa yang masih ada terus terjaga meski Mei 1998 sempat ada cerita duka di sana...







Kelenteng Kim Tek Ie

Beberapa pekerja yang sedang melakukan perbaikan


Menyusuri Jalan Kemenangan

Jalan Kemenangan

Makan di kaki lima

catatan: menyusuri Glodok sangat menyenangkan! jangan lupa siapkan alas kaki yang nyaman dan bersenang-senanglah menyusuri gang-gang di sana. Apabila haus dan lapar tak perlu khawatir karena banyak penjual makanan dan minuman, apabila ragu dengan halal/haram, bisa bertanya langsung atau amannya beli penyetan ehehehe...

*semua foto diambil menggunakan kamera hp saya kecuali foto saya yang berbaju biru..






Bujang Dare Tinggi Semampai
sungguh lawa si bujang dare
ke Tanjungpinang jangan tak sampai
wisata kulinernya menggungah selere


Makanan khas melayu identik dengan penggunaan rempah-rempah yang cukup banyak. Santan juga menjadi salah satu unsur penting untuk memperkaya rasa dan karakter kental. Selain rempah dan santan ternyata ada beberapa kuliner yang khas dari Tanah Melayu. Nah kali ini saya akan membahas tentang beberapa kuliner Melayu yang saya cicipi saat berkunjung di Tanjungpinang beberapa waktu yang lalu, silahkan disimak ya...

1. Mie Tarempa


Pertama kali mencicipi kuliner yang berasal dari Tarempa Kabupaten Anambas ini, rasanya langsung pengen cepat-cepat menghabiskan saking enaknya haha (dasarnya suka banget makan). Jadi Mie Tarempa ini terbuat dari tepung dan telur dengan bumbu rempah kemerahan yang sepertinya ini yang bikin saya ketagihan makan haha. Tekstur Mie Tarempa sendiri lebih tebal daripada mie yang lain. Saat memakannya saya jadi ingat mie aceh, hmm meski belinya di Surabaya belum di tempa aslinya tapi saya menemukan kemiripan diantara keduanya. Oh iya Mie Tarempa sendiri ada tiga macam yaitu basah, lembab, dan kering, jadi tinggal sesuaikan dengan selera kalian ya!
Mie Tarempa di Tanjungpinang dapat kalian cicipi di Jl.D.I Pnjaitan, Komplek Pertokon Villa Pinang Mas Blok B No.23-24, Km, 9, Tanjungpinang.

2. Kopi Sekanak

Kalau ingin deskripsi detail Kopi Sekanak, bisa langsung berkunjung ke tulisan saya ini ya hehe pokoknya hidangan raja-raja ini wajib teman-teman cicip ketika berkunjung ke Tanjungpinang :D

3. Otak-Otak Ikan


Otak-otak ini terbuat dari ikan laut yang dihaluskan dan diberi bumbu. Adonan ikan tadi lalu dibungkus di daun kelapa dan dibakar atau dipanggang. Rasanya mirip pepes ikan bikinan ibuk saya di rumah ehehehe..

4.Bingke Pandan


Dibuat dari bahan-bahan pilihan dan alami yang sejak dulu dikenal sebagai kue tradisional asli dari Negeri Melayu. Wangi pandan,rasa khas dan bentuknya yang segi delapan membuat kue ini unik dan berbeda daripada yang lain.

5. Luti Gendang


Cemilan satu ini ternyata juga berasal dari Pulau Tarempa yang terdiri dari roti yang berisi abon ikan. Untuk varian abonnya dapat berbeda-beda tapi yang kemarin saya makan berisi abon ikan. Luti Gendang ini paling pas disantap saat hangat sambil ditemani es teh tarik..

6. Tape


Tape yang ada di Tanjungpinang ini rsanya ya sama seperti yang tapi biasanya saya makan haha bedanya dari pembungkusnya karena biasanya kalau di tempat saya tinggal dibungkus dengan besek kalau di Tanungpinang menggunakan daun.

7. Tepung Gomak


Kue satu ini rasanya seperti mochi dengan tepung tebal di bagian luar. Rasanya manis nan legit.

8. Air Sepang


Air Sepang ini berasal dari kayu sepang yang serumpun dengan secang. Saya menyaksikan sendiri bagaimana perubahan warna air ketika diberi kayu sepang yang awalnya jernih hingga menjadi pink, iya pink! Saya juga heran kandunan apa yang ada di dalam kayu sepang sehingga menjadikan perubahan warna tersebut. Keunikan Air Sepang ini adalah ketika kita makan sesuatu yang begtu pekat rasanya di mulut seperti kari atau kopi maka ketika minum Air Sepang rasa pekat itu pun hilang dan berubah netral kembali mulut kita. Hebat kan? Yuk cicipi..

9. Sop Ikan


Sop Ikan di Tanjungpinang biasanya berisi ikan tengiri yang berkuah bening nan segar dengan bumbu rempah yang menjadikan rasanya makin nikmat.

10. Nasi Dagang


Kalau saya bilang, ini adalah nasi kucingnya Tanjungpinang. Isinya yaitu nasi bersantan dengan lauk yang bermacam-macam kebetulan yang saya cicipi kemarin lauknya ikan. Ukuran nasinya juga sepertinya tergantung di mana membeli karena ketika mencoba di tempat yang lain ternyata ukurannya ndak dikit-dikit amat.

11. Lemper


Rasanya sama kok seperti lemper pada umunya yang membedakan hanya bentuknya yang panjang..

12. Roti Jala


Roti ini terbuat dari tepung terigu, telur dan air yang dibentuk seperti jala. Sebenarnya roti jala ini berbentuk dadar namun dengan cetakan khusus akhirnya menjad bentuk jala. Roti jala disajikan dengan kari kambing sebagai pendampingnya.

13. Gonggong


Hewan yang menjadi ikon Kota Tanjungpinang ini ternyata enak loh!
Jadi Gonggong ini merupakan hewan seperti siput. Biasanya disajikan dengan cara direbus dan cara makannya pun membutuhkan ketelitian haha. Jadi biasanya ada daging yang mencuat keluar cangkang Gonggong, nah itu ditarik, nanti daging di dalam cangkangnya akan keluar tapi ndak semua Gonggong bisa ditarik lewat daging yang mencuat tadi ya, ada juga yang susah sekali diambil dagingnya, nah kalau begini bisa memakai alat bantu seperti tusuk gigi.

14. Manisan Jambu


Kalau kata teman saya manisan ini aslinya dari Medan, tapi di Tanjungpinang ada juga ternyata haha. Yang menarik dari manisan jambunya ialah daging jambunya yang begitu tebal serta dipadukan dengan bumbu yang nyess banget! Rasanya mirip dengan rujak manis kalau Jawa. Manisan ini banyak dijumpai di sepanjang Tepi Laut Tanjungpinang ya teman-teman :D

15. Kopi Susu Warkop Batman


Kalau di kota-kota besar di Jakarta atau Surabaya orang-orang ketika bertemu dengan rekan kerja, klien,dll biasanya di cafe atau warung kopi yang ada di mall. Nah kalau di Tanjungpinang, orang-orangnya suka banget ngopi di warung-warung pinggir jalan. Alhasil banyaak sekali warung-warung kopi yang ada di Tanjungpinang ini salah satunya Warkop Batman ini. Soal rasa, enak pol lahh!

16. Ikan Asam Pedas


Terakhir adalah ikan asam pedas yang saya makan ketika di Pulau Penyengat. Jadi karena Kepulauan Riau salah satunya adalah Tanjungpinang ini adalah wilayah kepualauan, maka banyak sekali olahan hasil laut yang diracik menjadi makanan super nyess nan lezat. Ikan asam pedas sendiri adalah olahan ikan dengan kuah kental yang berwarna merah. Rasa pedasnya datang dari perpaduan antara lada putih, cabai, serta jahe yang berpadu menjadi satu menjadi bumbu si ikan yang ditangkap dari lautan.

Nah itu tadi cerita singkat kuliner-kuliner yang saya cicipi di Tanjungpinang, Bagaimana? kalian tertarik dan pengen cicipi yang mana? Yang pastti soal rasa tak kan bikin kalian kecewa :D



.....
Tulisan ini adalah salah satu hasil perjalanan dari kegiatan famtrip oleh Kementerian Pariwisata. Semoga bermanfaat ya tulisannya :D #PesonaIndonesia  #PesonaTanjungpinang



Baca cerita lainnya:  











Adalah sebuah halaman panjang yang ditumbuhi nyiur yang melambai pelan ketika angin laut bertiup.
Ketika tiba pertama kali di halaman panjang ini, saya melihat ada keramba yang bergerak naik turun pelan mengikuti alunan gerak ombak. Keramba ini pada akhirnya saya ketahui bernama asli kelong. Si Kelong memiliki dua jenis, yang menetap di suatu tempat dan yang berpindah-pindah sesuai keinginan si tuan ingin memasangnya di mana dan bagaimana.
Namanya juga keramba, tugas utamanya ialah menjadi perangkap makhluk laut. Ikan – ikan bilis ialah salah satu jenis makhluk yang sering tertangkap, antara sedih dan gembira saya mendengar cerita dari guide pinang jaya tour ini, sedih karena nasibnya berakhir di keramba tapi memang sudah nasibya ya :( dan gembira karena sebelumnya saya makan otak-otak ikan yang katanya terbuat dari ikan bilis.
Akhirnya saya mengetahui bagaimana caranya ikan yang saya makan tadi ditangkap.

Ngomong – ngonng otak-otak ikan di Tanjungpinang enak sekali, kalian harus mencobanya kalau singgah ke Tanjungpinang dan Bintan.


Kelong yangada di tepi pantai

Di sepanjang jalan menuju halaman panjang ini, bebatuan berukuran tak beraturan yang masih dipertanyakan asal muasalnya nampak berserakan. Ada yang dibiarkan di tepi jalan menemani si aspal hitam berpanas-panasan, ada pula bebatuan yang berendam di dalam air, meski beberapa bagian tak terkena air, namun si batu yang berendam terlihat bernasib cukup beruntung, dengan berada di separuh air, setidaknya bisa membuat ia sedikit merasa dingin, tak seperti nasib saudara batunya yang lain yang berpanas kentang-kentang *.
Di salah satu halaman dengan beberapa batu yang ada di tepi, beberapa remaja dengan wajah riang berenang.
Langkah kaki terus menyusuri halaman indah Tanjungpinang. Beberapa pintu untuk masuk halaman tak dapat dimasuki karena terhalang izin dan bukan tamu yang menginap di resort tempat di mana pintu tersebut berada.
Namun akhirnya, ada satu pintu yang terbuka lebar dan dapat dimasuki oleh masyarakat umum, akhirnya saya dapat menjejak dan memasuki halaman indah nan menawan ini.
Inilah halaman indah yang sedari tadi saya ceritakan, si Pantai Trikora, yang memiliki garis pantai kurang lebih 25 km.







Butiran halus pasir seolah mengajak bermain untuk dibuat bermacam bentuk seperti yang pengunjung lain lakukan, tapi saya memilih untuk duduk berselonjor kaki, melepas sandal, dan berdiam diri menikmati alam sekitar.













.....
Lokasi yang saya kunjungi berada di Serumpun Padi Emas Resort, di sini selain area resort juga ada area umum yang diperuntukkan bagi pengunjung non resort. Selain pemandangan yang menarik Anda dapat menyewa gazebo yang ada di tepi pantai, sangat pas bagi Anda yang ingin bersantai bersama keluarga, teman, atau pasangan.


* bahasa suroboyan yang menyebut suatu keadaan begitu panas



Tulisan ini adalah salah satu hasil perjalanan dari kegiatan famtrip oleh Kementerian Pariwisata. Semoga bermanfaat ya tulisannya :D #PesonaIndonesia  #PesonaTanjungpinang



Baca cerita lainnya:  

1. Jantung Negeri Melayu dalam Kopi Sekanak
2. Tercengang di Pecinan Tanjungpinang





Sebuah keistimewaan pada suatu malam yang temaram mendapat suguhan hidangan raja-raja melayu sejak  650 tahun silam. Keladak kafeinnya masih terasa di ingatan seiring cerita sejarah yang didengungkan oleh sang tuan pemilik kedai, Bang Teja Alhabd.

Inilah secangkir kopi Sekanak yang diseduh di cangkir porselen Cina yang harum kafeinnya telah dicampur dengan tujuh macam rempah yang berdaki hitam.

Alkisah sebuah kerajaan yang tercatat di sejarah sebagai kerajaan maritim terbesar, Sriwijaya, mulai mengalami kemunduran.

Namun di wilayah Kepulauan Riau, sudah lama berdiri sebuah kerajaan, Bentan atau Bintan namanya. Ada tiga raja yang begitu dikenal, Raja Iskandar Syah, Wan Seri Beni , dan Sang Nila Utama.

Inilah secangkir kopi Sekanak. Hiruplah ! Dan gelegak kopi Sekanak, kemudian mengarak darah pengembara mereka menuju Temasik. Menuju Melaka, Johor, Riau, Lingga dan sekolah negeri di semenanjung Melaka. Dan dengarkan bisik Sang Nila Utama menghunjam rindunya pada Wan Sri Beni, di cangkir-cangkir porselin Cina: Adinda, biarkanlah darah sang Nila Utama berjejak dan membangun sejarahnya sampai ke Arafura, sampai ke Madagaskar sampai ke Okinawa, sampai kepaterakna Batara Majapahit, Ratu Sahina. Sesaplah!

Salah seorang raja Bentan yang menjabat yaitu Raja Seri Tri Buana memindahkan pusat kerajaan Bentan yang semula di Pulau Bintan ke Temasik(Singapura) di tahun 1158 M.

Lebih dari 200 tahun kemudian, tepanya pada 1384 M, Kerajaan Bentan yang dipimpin oleh Prameswara dikalahkan oleh Majapahit yang kala itu sedang mengalami kejayaan. Hingga ia memindahkan kerajaan ke Malaka dan kerajaan pun berubah nama menjadi Malaka dengan Prameswara menjadi raja pertama di sana.

Prameswara kemudian masuk Islam dan beganti nama menjadi Sultan Muhammad.

Layaknya sebuah roda, kehidupan kerajaan pun terus berputar hingga pada akhirnya pada tahun 1511, Malaka dihancurkan Portugis pada masa Sultan Mahmud Syah.

Bersama putranya yang bernama Raja Ahmad, sang Sultan melarikan diri ke Bintan lalu berpindah ke Kampar, Riau, karena Portugis menyerang Bintan.

Sang sultan yang malang, ia pun mengakhiri hidupnya di Kampar dan digantikan anaknya yang bergelar Sultan Alaudin Riayat Syah.

Sang Sultan baru tersebut memindahkan pusat pemerintahan ke Johor dan menjadi Johor 1 atau lebih tepatnya menjadi Raja di sana.

Inilah babak baru Kerajaan Riau-Lingga-Johor-Pahang.

Setelah itu, pusat pemerintahan berpindah-pindah. Bintan, Johor, Hulu Sungai Carang di Bintan, Pahang, dan berakhir di Daik Lingga.

Dari Bintan berakhir di Bintan dapat dikatakan bahwa Bintan sebagai hulu dan hilir cerita sejarah Melayu.



Saya mencungkil kopi Sekanak sesuai arahan Bang Teja. Warna kopi pun berubah, dari mulai hitam pekat menjadi kecoklatan.

Aroma rempah kian menusuk hidung..

Laksana sang prajurit yang diperintah oleh raja, saya pun kembali melaksanakan perintah sang tuan kedai, mencelupkan kayu manis beberapa kali sebagai rangkaian ritual meminum Kopi Sekanak.

Dan kini tibalah saatnya saya merasakan hidangan para raja.

Lewat kayu manis saya menyesap pelan Kopi Sekanak.

Ada rasa yang berkecamuk di mulut, lalu turun melewati tenggorokan,  campuran rempah dan kafein kian memenuhi rongga tenggorokan dan penciuman. Rasanya begitu lengket dan pekat.

Saya tak bisa berhenti menyesap kopi. Enak betul rasanya. Meski bukan kopi murni karena ada tambahan rempah dan susu tapi rasa-rasanya kopi sekanak adalah kopi terenak yang pernah saya cicip.

Sangatlah tepat Raja Melayu mendaulat Kopi Sekanak sebagai hidangan mereka.

Dan slogan “hidangan para raja” yang awalnya saya kira adalah slogan penarik pengunjung untuk datang nyatanya memang benar adanya. Kopi Sekanak, menurut sang tuan pemilik kedai dapat membuat perasaan tenang, tidur nyenyak, dan bangun tidur dengan tubuh yang akan semakin segar.

Sebuah malam yang mahal dengan rasa kopi istimewa yang melekat di otak namun sejurus kemudian saya sadar, berbanding terbalik dengan kegembiraan saya menyesap Kopi Sekanak, remahan sejarah kerajaan melayu berakhir pilu, pada tahun 1913 M, Kerajaan Riau-Lingga takluk di tangan negara berbendera merah putih biru.





(*Kopi sekanak ini nyatanya memiliki filosofi, si kopi mencerminkan watak orang melayu, yang harus dihadapi dengan alon-alon atau pelan-pelan janganlah terburu-buru..)


Sumber informasi:
2. Dapoer Melayoe, Teja Alhabd. Sila berkunjung ke Jl. Sultan Mahmud No.11, Tj. Unggat, Bukit Bestari, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau 
Telepon: 0812-7006-0098
Jam buka: 07.30–20.00


---
Tulisan ini adalah salah satu hasil perjalanan dari kegiatan famtrip oleh Kementerian Pariwisata. Semoga bermanfaat ya tulisannya :D #PesonaIndonesia  #PesonaTanjungpinang

Baca cerita lainnya:  Tercengang di Pecinan Tanjungpinang





Jika di kota tempat saya tinggal, Surabaya dan Sidoarjo, logat dan dialek penduduk Tionghoa mudah dipahami karena memiliki kesamaan dengan bahasa keseharian bahasa jawa, berbeda ketika saya berhadapan dengan warga Tionghoa di Tanjungpinang. Saya terdiam saat warga Tionghoa di Tanjungpinang berbincang.


“Saya yang ini aja bu,” ujar saya dengan menunjuk salah satu kue kepada penjual di Jalan Merdeka yang juga sebagai pusat pecinan di Tanjungpinang.


Alih-alih membalas ucapan saya beliau kemudian berbicara dengan bahasa Tionghoa kepada rekannya yang baru masuk toko.


“..............” (saya tak bisa menuliskannya karena tak paham apa yang mereka bicarakan)


Pengalaman serupa kerap saya alami ketika berada di kawasan pecinan Tanjungpinang. Sebagai salah satu kelompok masyarakat di Tanjungpinang yang berjumlah 13% dari dari total penduduk Tanjungpinang, warga Tionghoa di sini rupanya memiliki kekhasan tersendiri dibandingkan dengan warga Tionghoa di kota lain, seperti yang ada di kota tempat saya tinggal Sidoarjo dan Surabaya. 

Mereka menggunakan bahasa Tionghoa sebagai bahasa keseharian. Meskipun beberapa kali saya juga pernah mendengar masyarakat Tionghoa di Surabaya berbincang menggunakan bahasa Tionghoa, namun tidak sesering yang terjadi di Tanjungpinang.






Tepung Gomak

Isi Tepung Gomak




Konon menurut sejarah, masyarakat Tionghoa di Tanjungpinang didatangkan dari Cina untuk memenuhi perintah Sultan Riau-Lingga. Mereka didatangkan dari Cina daratan ke Riau (Tanjungpinang) untuk melakukan pekerjaan sebagai petani Gambir kepunyaan Sultan. Perkebunan pun telah disiapkan Sultan disekitar Senggarang.

Adalah perintah dari Sultan Riau-Lingga agar mendatangkan kaum etnis Tionghoa dari Singapura ke Riau (Tanjungpinang), dan telah disediakannya tanah untuk perkebunan di sekitar Senggarang agar mereka dapat menggarap lahan Gambir tersebut.


Perkebunan Gambir tersebut menjadi salah satu komoditi hasil bumi untuk pendapatan kesultanan Riau-Lingga sejak dikenalkan oleh Yang Dipertuan Muda Riau ke II, Daeng Chelak ibni Daeng Relaka sekitar tahun 1729 M.

Pada masa penutupan kesultanan Riau-Lingga oleh Pemerintah Belanda di Tanjungpinang pada tahun 1911 M, perkebunan Gambir yang ada di Senggarang kemudian diambil alih oleh petani yang telah menggarap. Sejak saat itu kaum etnis Tionghoa mulai tinggal dan hidup di Tanjungpinang.






Ketika saya berjalan di Jalan Merdeka bangunan ruko berjajar rapi di sepanjang jalan. Saya pun menyusuri sambil sesekali mengambil gambar. Ada yang menarik ketika saya mengambil gambar di salah satu sudut, segerombol merpati beterbangan dan duduk di atas kabel listrik. Sepertinya mereka tak mengenal sengatan, dengan lincah satu persatu mulai beterbangan dan hinggap di kabel listrik lain. Andai mereka tahu tentang sengatan listrik dan nasib naas yang mereka hadapi yaitu menjadi gosong atau yang paling parah menjadi merpati bakar, tentulah mereka tak akan hinggap dengan lincah di sana. Namun pertunjukan sederhana terbang-hinggap dengan lincah sang merpati menjadi hal menyenangkan bagi saya ketika menyusuri Jalan Merdeka.


merpati di atas tiang listrik di pecinan


Setelah puas mengambil gambar, saya pun mengikuti teman saya berjalan menyusuri pecinan. Ragam produk dijual dan ditawarkan, mulai dari ikan bakar, es tebu, ikan kering, baju import, penukar uang asing,dan masih banyak lagi. Ada pula sebuah hotel melati, hotel wisata namanya, yang berada di tengah-tengah pasar.

Di ujung perjalanan di pecinan Tanjungpinang kami singgah di salah satu vihara, Bahtra Sasana namanya. Vihara ini dibangun pada tahun 1857 oleh etnis Cina-Hokkien.

Vihara Bahtra Sasana 
Seorang warga sedang beribadah

Seorang warga sedang beribadah


Ratusan burung merpati menyambut kedatangan kami. Teman-teman saya sudah menggenggam jagung di tangan mereka untuk diberikan pada burung merpati. Saya yang tertinggal paling belakang pun ikut-ikutan.

Seorang teman saya mencoba mendekat ke arah gerombolan burung yang sedang asyik makan jagung di tanah untuk memberi makan lebih dekat  dan ketika teman saya datang, wusss, mereka terbang dan berhamburan terbang. Teman saya  terlihat sedikit menyesal tapi kami semua senang melihat adegan terbang tersebut, ketika dicoba lagi adegan tersebut tak bisa diulang.

Pengurus vihara, Pak Jani, berkata,” Sebenarnya burung yang di vihara tak sebanyak ini (sambil mendongak ke arah kabel listrik yang ada di vihara) namun ketika diberi makan, burung tersebut mengajak “teman-temannya” yang bukan di vihara, jadinya banyak sekali.”

Pak Jani

Mungkin burung-burung tersebut menganut asas gotong-royong dalam mencari makan sehingga mereka mengajak teman-temannya makan bersama.

Vihara Bahtra Sasana adalah destinasi terakhir kami di pecinan,sebelum kami  beranjak pergi dari pecinan, saya  mendongak ke atas, memberi salam perpisahan pada merpati di atas kabel,” Yang akur sama temen, jangan bikin Pak Jani repot di sini.”


merpati di atas vihara



Jalanan di pecinan

Penjual es tebu

hotel di pecinan



Belum sempat nyicip, sepertinya menarik :D



hotel di dalam pasar



penjual seafood



Tempat Tukar Uang

Penjual Roti

Penjual ikan kering

Salah satu sudut di pecinan



Catatan: ketika berjalan-kaki di Pecinan Tanjungpinang coba cicipi jajanan yang dijual di sepanjang jalan, kue-kue basah yang dijual di toko dan es tebunya enak nan segar!


 ----
Tulisan ini adalah salah satu hasil perjalanan dari kegiatan famtrip oleh Kementerian Pariwisata. Semoga bermanfaat ya tulisannya :D #PesonaIndonesia  #PesonaTanjungpinang



Sumber informasi: www.daengfirman.com