I arrived in Bandung Station since dawn and yes, I am hungry :( So i grabbed my smartphone, opened my online transportation apps, and typed “roti gempol” in input text.

Voila ! Just a minute later the driver was coming.

First, the driver ask me to making sure whether the street that we pass is true but i still blind with the Bandung's street so I just replied ,”Yes, that's right!”  then I hope that it is right ._.

Alhamdulillah 15 minutes later i arrived in a small place that still quite. I saw one of the staff swept the floor.

After i putted my bag on the chair I ordered a food. Actually i want to eat Mie Yamin but poor me, my sprue didn't let me to eat that big thing. So  i just ordered wheat bread with the meat inside and also a warm tea.

For me, Roti Gempol is one of the alternative food that we can try while in Bandung.

There is no wifi and limited chair are the plus point from this place.

We can eat and also have a chit chat with our friend(s) without smartphone distraction. If you still busy with your smartphone in this place i don't know, maybe you really a busy people because i already visited this place for twice and i didn't see the visitor busy with their phone, they just focus to eat and have a nice talks with their friend(s).

Pssst.. The soft, warm and wooden ambience, creates a comfortable and relaxed place.










which one you like the most?
Roti Gempol : 07.00 - 21.00 WIB


Semarang adalah ibukota provinsi Jawa Tengah
Di sana, banyak wisata kuliner yang menggoyang lidah! 


Perpaduan antara kuliner Jawa, China dan banyak daerah lainya di kawasan ini membuat perjalanan kuliner ke Semarang amat sayang untuk dilewatkan.

Beberapa kuliner terkenal di Semarang sudah berdiri sejak puluhan tahun lamanya. Ada yang sudah berubah jadi resto, ada juga yang masih setia dengan tenda di pinggir jalan raya.

Kalau kamu main ke Semarang, jangan lewatkan beberapa kuliner terbaik berikut ini ya…

1. Lumpia Gang Lombok


sumber:poskotanews.com

Di antara banyak penjual lumpia Semarang yang legendaris, Lumpia Gang Lombok adalah idola banyak wisatawan. Tidak hanya nikmat disantap di tempat, lumpia Gang Lombok juga bisa kamu bawa pulang. Buka mulai pukul 09.00 – 17.00, lumpia ini selalu laris sepanjang hari dan antriannya cukup panjang.

2. Nasi Goreng Babat Pak Karmin


sumber:goodindonesiafood.com

Ada banyak nasi goreng babat di Semarang, namun yang paling terkenal adalah buatan Pak Karmin yang sudah berjualan sejak tahun 1958. Hingga saat ini Warung Nasi Goreng Babat Pak Karmin masih berdiri di tempat yang sederhana. Namun jangan tanya soal jumlah pembeli yang berkunjung kesini. Sejak buka pukul 06.00 sampai 18.00, ada ratusan orang yang mengantri untuk membeli nasgor yang terletak di Jl Inspeksi 1 Kauman, Semarang ini.

3. Soto Bokoran


sumber:jajankuliner.wordpress.com

Ciri khas dari soto ini adalah mangkuknya yang kecil, dengan kuah bening. Soto Bokoran sudah lama buka di Semarang, kurang lebih 40 tahun lamanya dan sampai sekarang soto yang berlokasi di Jl Plampitan no 55 ini masih ramai pengunjung.

Soto Bokoran buka mulai pukul 06.00 pagi, dan biasanya pada pukul 10.00 sudah habis!

4. Asem-Asem Koh Liem


sumber:omgsofood.wordpress.com


Bisa dibilang asem-asem adalah makanan ciri khas Jawa Tengah, khususnya daerah Kudus, Jepara, Semarang dan sekitarnya. Kalau kamu sedang berwisata di Semarang, Asem-Asem Koh Liem adalah pilihan terbaik di antara warung yang lain.

Asem-asem ini berisi daging dengan rasa bumbu yang kuat. Letaknya di Jl Karanganyar 28/c4, Asem-Asem Koh Liem buka setiap hari pukul 07.00 – 20.00. Makan malam atau sarapan pagi, asem-asem bisa jadi pilihan kuliner selama berwisata di Semarang.

5. Pisang Plenet


sumber:idntimes.com

Ingin jajan ringan setelah berwisata seharian di Semarang, coba deh icip Pisang Plenet di kawasan Gajah Mada. Seperti namanya, jajanan ini terbuat dari pisang yang ditekan sampai penyet, dalam bahasa Jawa disebut ‘diplenet’. Setelah dibakar di atas bara api, pisang ini diberi topping yang bisa kamu pilih sendiri. Lezat!

6. Tahu Pong Perempatan Depok


sumber:mariyani-thediary.blogspot.co.id

Dinamakan Tahu Pong karena dalamnya kosong alias kopong. Ada banyak penjual tahu pong yang terkenal di Semarang dan kerap jadi oleh-oleh. Namun yang paling banyak diburu adalah Tahu Pong Perempatan Depok yang rasanya dijamin lezat meski dibawa ke luar kota sekalipun.

Tahu Pong Perempatan Depok buka setiap hari mulai pukul 17.00 – 23.00. Seperti namanya, lokasi penjual tahu pong ini ada di Jl Depok, Semarang.

7. Lekker Paimo


sumber:exploresemarang.com

Kue Lekker milik Pak Paimo ini sangat terkenal di Semarang karena isiannya yang beraneka ragam. Tidak hanya meses dan keju, Lekker Paimo juga bisa diisi sosis, daging, buah strawberry dan macam-macam rasa lainnya.

Terletak di kawasan SMA Kolese Loyola, kue lekker ini wajib kamu icipi kalau sedang berwisata ke Semarang.

Jadi,sudah siap mencicipi lezanya kuliner di Semarang? 



Iramanya yang rampak dan semarak membuat langkah kaki makin semangat bergerak masuk ke dalam benteng.

Saat akan memasuki Fort Marlbrough, saya dan teman-teman rombongan famtrip Bumi Rafflesia disambut dengan hentakan musik tradisional Bengkulu, Dol namanya.

Di sebelah kanan saya, ada alat musik pendukung Dol seperti Serunai dan Kolintang.


Bersama dengan tarian tradisional daerah Bengkulu, Dol yang ditabuh mengiringi langkah kami masuk menuju benteng.

Tak berhenti di penyambutan saat akan masuk ke benteng saja namun ternyata di dalam benteng kami diberi pertunjukkan menarik, yaitu tabuhan Dol yang energik dengan gerakan pemainnya yang tak kalah menarik. Kami yang melihat lantas diberi kesempatan mencoba untuk menabuhnya.

Rasanya saat menabuh Dol yang diletakkan di tanah sudah capek sekali, karena saya harus mengikuti irama cepat dari pemain lainnya.

Bagaimana dengan pemain yang mengangkat Dol dan memainkannya sambil berputar-putar lapangan di benteng ini ya?

Dulu ternyata pemain Dol ini tidak boleh dimainkan sembarang orang, hanya orang-orang keturunan India yang bernama Tabot saja yang boleh memainkannya.

Masyarakat muslim India dibawa Pemerintah kolonial Inggris yang saat itu membangun Benteng Malborough.

Tinggal lama di Indonesia membuat mereka kemudian menikah dengan orang lokal Bengkulu dan garis keturunannya dikenal sebagai keluarga Tabot. Hingga tahun 1970-an, Dol hanya boleh dimainkan orang-orang yang memiliki hubungan darah dengan keluarga tabot tersebut.

Nah itu dulu, namun sekarang Dol dapat dimainkan oleh masyarakat umum.

Dol memiliki ukuran beragam, untuk ukuran yang besar mencapai 70 - 125 cm dengan tinggi mencapai 80 cm.

Bahan utamanya adalah kayu atau bonggol kelapa. Bonggol ini kemudian diberi lubang pada bagian atasnya dan terakhir ditutup dengan kulit kambing atau kulit sapi.



Dulu, Dol dimainkan saat hari-hari khusus seperti tanggal 1-10 Muharram. Namun saat ini Dol sudah dikenalkan ke masyarakat umum dan dimainkan di waktu kapan saja sesuai dengan adanya sebuah kegiatan tertentu.

Bagaimana, tertarik untuk mencoba memainkan Dol?

Tari sambutan saat akan memasuki Fort Marlborough

Pemain Serunai

Penyambutan yang diwakili ayo jalan-jalan







 











Menurut kbbi, arti kata merdeka ialah /mer·de·ka/ /merdéka/ a 1 bebas (dari perhambaan, penjajahan, dan sebagainya); berdiri sendiri: ; 2 tidak terkena atau lepas dari tuntutan; 3 tidak terikat, tidak bergantung kepada orang atau pihak tertentu; leluasa. 

Lalu hal yang paling sering ditanyakan ketika 17 Agustus tiba ialah, “Apakah bangsa ini benar-benar merdeka?”Kemudian kemiskinan, fasilitas umum yang belum sepenuhnya dapat dinikmati oleh masyarakat, dan ketimpangan sosial lain diperlihatkan di media-media yang ada di Indonesia.

Bagi saya sendiri yang dilahirkan setelah kemerdekaan telah diraih dan ketika melihat tayangan media yang memerlihatkan ketimpangan sosial tersebut lalu dihubungkan dengan pertanyaan-pertanyaan yang menurut saya,” Hmm iya ya, yakin nih Indonesia sepenuhnya sudah merdeka? Angka kemiskinan masih tinggi, fasilitas umum di daerah luar Jawa yang belum optimal, dan lainnya membuat saya pusing sendiri.

Apalagi biasanya dibanding-bandingkan dengan kemajuan negara tetangga yang lebih muda umur kemerdekaannya namun telah memiliki kemajuan yang selangkah ke depan dari Indonesia. 

Mengapa dibanding-bandingkan dengan negara lain? Padahal ndak enak loh dibanding-bandingkan itu :( Indonesia memiliki masalah sendiri yang bagi saya kompleks sekali. 

Beberapa waktu yang lalu saya datang ke sebuah acara yang menghadirkan Bu Sri Mulyani, Menteri Keuangan Indonesia. Beliau menjelaskan mengapa Indonesia berhutang. Jadi intinya, ya kalau ndak berhutang bagaimana caranya Indonesia dapat menutupi semua anggaran yang telah dianggarkan untuk pembangunan negeri wong masyarakatnya ndak bayar pajak. 

Dari 36 juta wajib pajak ternyata hanya 32,3% yang membayarnya.




Kalau misalnya Indonesia ndak berhutang nanti bagaimana mencapai pembangunan negeri, bagaimana caranya menutupi anggaran negara tahunan ? 

Kalau kata salah satu pepatah, Jangan bertanya apa yang negara dapat berikan untukmu, namun pertanyakan apa yang kamu berikan kepada negara. 

Pepatah ini menurut saya yang dapat menjawab itu semua haha.

Kalau wajib pajak sadar dan membayarnya ya memang tidak menjamin semua hal akan langsung berubah menjadi baik dan sempurna namun minimal kita sudah melakukan apa yang sudah seharusnya kita lakukan pada negara.

Selain tentang pajak, bagi saya mengisi kemerdekaan itu dimulai dari hal-hal sederhana yang kita bisa lakukan dan kerjakan seperti berkarya.

Kalau kita bisa menulis, ya menulislah untuk Indonesia, ceritakan bagaimana Indonesia itu kepada banyak orang. Kalau bisa mengajar, ya mengajarlah agar calon pemimpin negeri ini dapat pendidikan yang baik, kalau bisa ngoding, ya buatlah aplikasi dan sistem yang dapat membangun negeri apalagi saat ini banyak sekali program startup yang bertujuan untuk membangun negeri.

Klise sepertinya ya apa yang saya tuliskan tapi jujur hanya itu hal-hal yang menurut saya dapat mengisi kemerdekaan di negeri ini yaitu mengisinya dengan hal-hal yang dapat kita berikan pada bangsa kita sendiri. 

Saya membayangkan kalau saja masyarakat di negeri ini tak lagi sibuk membanding-bandingkan negeri ini dan mulai berkarya membuat sesuatu hal positif bagi bangsa ini dengan kemampuan yang mereka miliki maka pembukaan UUD '45 yang tertuang cita-cita negeri tak hanya sebagai sebuah teks yang dibacakan saja namun akan tercapai sepenuhnya.

Merdeka! 

Salah satu kegiatan 17 Agustus di rumah saya, jalan sehat bareng :D


Posting bareng Travel Bloggers Indonesia dalam rangka merayakan hari Hari Kemerdekaan 17 Agustus 2017, baca tulisan teman saya lainnya ya:

1. Indri Juwono: Terang Merdeka Gunung Sangar
2. Andre Handoyo: Bersatu dalam Keberagaman


Nusantara, Unity in Diversity


Malam itu ketika saya dan teman-teman sedang makan malam di salah satu restoran di Kupang, Joey yang masih berumur sekitar 7 tahun, berbisik kepada saya.

“Kak Ima kok makan daging? Kan daging tidak boleh dimakan sama orang Islam,” Joey berkata pada saya dengan mimik wajah heran.

“Oh ini kan daging sapi, jadi aman Joey, yang tidak boleh daging babi.”saya membalasnya dengan senyuman.

Joey mengangguk dan kami pun melajutkan makan.

Saya dan Joey di Pantai Oetune


Sebagai agama minoritas, Islam di Kupang nyatanya sudah berbaur dengan baik dan menerapkan toleransi dengan agama lain, yaitu Kristen dan Katolik yang menjadi agama terbesar di kota karang tersebut.

Saat siang hari sebelum acara makan malam dimulai saya diberitahu oleh seorang panitia acara yang saya hadiri bahwa,” Tidak perlu cemas makan daging di sini karena tempat penyembelihan sapi di kota ini petugasnya muslim, jangan takut makan daging ya.” Sambil tertawa renyah panitia tersebut menjelasskan kepada saya yang menjadi salah satu peserta muslim di kegiatan famtrip explor the diversity, Kupang.

Menurut salah satu sumber yang saya baca, bahwa ada masjid yang bernama Al-Muttaqin yang terletak satu area dengan gereja HKBP. Sejak lama kaum muslim dan kristen di Kupang sudah menerapkan toleransi satu sama lain.

Misalnya saat Idul Adha, maka petugas gereja dibagikan pula daging kurban dari Masjid Al-Muttaqin. Kemudian saat Ramadhan maka takmir masjid Al-Muttaiqin menyerahkan jadwal kegiatan mereka kepada petugas gereja. Jadwal ini berguna untuk memberitahu kegiatan apa saja yang akan dilakukan pada Bulan Ramadhan agar kemudian disesuaikan dengan jadwal di gereja. Misalnya masjid baru mengadakan acara setelah kebaktian selesai dilakukan. Dan kegiatan di gereja telah selesai dilakukan sebelum Dhuhur karena mereka paham bahwa waktu Sholat Dhuhur tidak bisa diundur.

Masjid Al-Muttaqin


Sejarah masuknya agama Islam di Kupang sendiri erat hubungannya dengan penyebaran agama Islam di Indonesia. Dari Ternate, Islam meluas meliputi pulau-pulau di seluruh Maluku, dan juga daerah pantai timur Sulawesi.

Pada abad ke-16, dari Sulawesi Selatan muncul Kerajaan Gowa. Pengislaman dari Jawa disini tidak berhasil, akan tetapi berkat usaha seorang ulama asal Minangkabau pada awal abad ke-17, raja Gowa itu akhirnya memeluk agama Islam juga. Nah, atas kegiatan orang-orang Bugis, maka Islam masuk pula di Kalimantan Timur dan Sulawesi Tenggara, juga beberapa pulau di Nusa Tenggara.

Akibat meluasnya kekuasaan Kerajaan Tallo dan Goa di Nusantara Tenggara Timur, maka masuklah agama Islam di Nusa Tenggara Timur. Selain pengaruh dari Sulawesi Selatan, masuknya agama Islam di NTT disebabkan pula oleh masuknya orang-orang yang beragama Islam dari Ternate – Maluku ke daerah ini.

Setelah masuknya agama Islam ke Pulau Solor sekitar abad ke XVI, maka dengan perantaraan orang-orang yang beragama Islam dari Solor, agama Islam masuk ke Batu Besi Kupang sekitar tahun 1613.

Melalui komunikasi laut, agama Islam berhasil dikembangkan di daerah-daerah pesisir Kabupaten Kupang yang strategis letaknya, sehingga terbentuknya masyarakat Islam di Kupang pada mulanya terjadi di daerah-daerah pesisir.

Dalam catatan sejarawan, masyarakat Islam yang berada di pesisir Pulau Timor telah muncul di Kupang, Toblolong (Kecamatan Kupang Barat), Sulamu (Kecamatan Kupang Timur), dan Naikliu (Kecamatan Amfoang Utara), Babau (Kecamatan Kupang Timur). Di tempat inilah, para nelayan, pelayar, dan pedagang menyinggahi dan menetap di daerah-daerah ini. Perkampungan Islam juga terbentuk di Pulau Sabu (Kecamatan Sabu Barat) di daerah pesisir.

Di luar Kupang, masyarakat Islam juga terbentuk di Oesalain (Pulau Semau) tahun 1920, Pulau Rote (Papela, Kecamatan Rote Timur) sekitar tahun 1850. Selanjutnya juga terbentuk di Oelaba (Kecamatan Rote Barat Laut), Batu Tua, Oenggae dan Ndao.
Pada tahun 1925, masyarakat Islam di Baa secara gotong royong membangun sebuah surau. Pada tahun 1930 di bangun Masjid An-Nur Baa berukuran 7x9 meter. Pada tahun 1.900, masyarakat Islam di Papela membangun surau pertama atas inisiatif dari Habib Alwi Gudban.

Pulau Semau

Pantai Tablolong

Setelah masyarakat Islam terbentuk di Kupang tahun 1653, selanjutnya masuklah pedagang-pedagang turunan Arab yang beragama Islam dari Semarang ke Kupang (tahun 1812), pedagang Islam dari Sumba (1860), pedagang Islam dari Aceh (1885), nelayan-nelayan beragama Islam dari Pulau Butung (1895) serta pedagang-pedagang Bugis dan Makasar (1957), disusul pula dengan masuknya para pencari nafkah dari daerah-daerah lain di Indonesia, hingga terbentuk masyarakat Islam di Kota Kupang.

Meski kaum muslim menjadi minoritas namun sampai saat ini mereka hidup berdampingan dengan non muslim dan mengetahui bahwa tempat pemotongan hewan ternak di kupang dilakukan oleh kaum muslim untuk mengahargai kehahalan yang menjadi mutlak bagi kami, menjadi salah satu wawasan baru bagi saya yang seumur hidup menjadi kaum mayoritas di lingkungan tempat saya tinggal.



Sumber informasi dan foto Masjid Al-Muttaqin: 






Bagi seeorang yang memiliki mobilitas tinggi untuk bepergian ke luar negeri seperti traveling, business trip, conference, atau kepentingan lainnya, salah satu hal pokok yang perlu diperhatikan ialah jaringan internet!

Jangan sampai ketika tiba di negara lain kita lupa memikirkan hal tersebut dan berakibat  repotnya mencari sinyal wifi atau bingung memilih provider mana yang sesuai dengan kebutuhan kita.

Daripada lama memilih provider atau mencari jaringan wifi, kini ada solusi jitu untuk mengatasi keresahan tersebut dengan XL Pass Xtra Combo.

Ngomong-ngomong, XL Pass Xtra Combo  ini adalah salah satu produk dari XL Easy Roaming yang dimiliki oleh XL. Selain XL Pass ada pula XL Roaming Combo dan XL Umroh.

Untuk XL Pass terdapat pilihan paket Hotrod dan Xtra Combo.

XL Easy Roaming sendiri ialah salah satu kemudahan berkomunikasi yang ditawarkan oleh XL untuk mengakses internet, telpon dan SMS di luar negeri.

Jadi, kenapa sih harus menggunakan XL Pass Xtra Combo?

1. Anti ribet tanpa gonta-ganti kartu simcard.
Kebayang gak kalau tiba di suatu negara kita harus ribet untuk membuka casing hp, kemudian mengeluarkan simcard lama kita dan menyimpannya di tempat paling aman dan mudah diingat, lalu kita harus mengganti dengan kartu yang baru. PR banget ya melakukannya :( Nah dengan XL Pass tak perlu ribet dengan mengganti kartu ketika berada di luar negeri. Mudah dan anti ribet banget kan!

2. Jaringan terpercaya nan luas

Tak perlu ragu untuk jaringan karena XL telah bekerja sama dengan operator lokal di 39 negara! Coba lihat di sini negara mana yang akan kalian tuju (ada daftar 39 negara)






3. Youtube tanpa kuota
Siapa di sini yang gak suka nge-youtube? Angkat tangan coba. Nah gak ada kan...Jadi daripada kalian bosan dan bingung ketika sedang menunggu transportasi umum atau menunggu pesawat yang lagi delay (duh sedih banget ini), kalian bisa nonton video favorit dengan fitur “Youtube Tanpa Kuota”. Kapan lagi coba bisa nonton vlog dan video favorit kalian tanpa kuota? Ya XL Pass solusinya.

4. Proses aktivasi mudah
Gimana sih caranya buat daftar paket XL Pass Xtra Combo? Ribet gak ya caranya... Jawabannya adalah Big No! Cukup dengan mengakses UMB (*123*747#) atau aplikasi myXL kalian bisa langsung menikmati berbagai fitur yang ditawarkan oleh XL Pass.

Begini teman-teman dengan menggunakan XL Pass ini ada hal-hal yang perlu kalian ketahui.

Apabila kuota masih ada setelah dipakai di luar negeri, kuota masih bisa digunakan kembali sepulangnya ke Indonesia. Jadi sisa kuota tidak terbuang percuma :D

Paket XL Pass bisa diaktifkan baik sebelum atau setelah berada di luar negeri, jadi kalian nggak perlu panik ya.

Asal kalian tau ya, tidak ada kompetitor lain yang mempunyai produk yang serupa, yaitu produk yang membuka akses internet dalam negeri untuk dapat digunakan di luar negeri.

Dan...XL Pass dapat digunakan lintas benua, dengan hanya satu kali aktivasi (selama masa aktif masih ada)

Jadi bagaimana? Sudah siap berkeliling dunia tanpa gundah gulana? Mari berkelana dengan XL Pass ke lintas negara ..









Sebutan “Tiongkok kecil” dan “Kota Santri” telah disematkan pada wilayah ini. Lasem bagi saya tak semata sebuah wilayah namun sebuah wajah, wajah perjuangan dan persatuan Indonesia...

Klakson nyaring dari truk berukuran super besar menemani sore saya di hari terkahir kunjungan ke Lasem.

“Minimal seminggu lah kalian di sini, baru kalian nanti paham dan mengerti bagaimana keadaan sebenarnya toleransi di Lasem ..”ungkap Gus Zaim.

Gus Zaim dan rumah berarsitektur Tionghoanya

Hmm.. seminggu, cukup bagi saya untuk mungkin dicoret dari KK karena janji saya tiba di rumah adalah keesokan pagi.

Bagi saya, berkunjung ke Lasem yang sudah saya idamkan sebulan sebelum kepulangan saya dari ibukota merupakan hal yang begitu menarik perhatian saya. Apalagi ketika berkesempatan bertemu dengan kawan baru yang begitu seru serta guide yang mengantar kami ber-vakansinesia di Lasem ini. Terlebih ketika saya baru mengetahui bahwa ada benang merah peristiwa yang terjadi di Glodok dengan perang yang terjadi di Lasem.

Matahari di Lasem sudah meredup, tanda malam akan berganti. Masjid Jami Lasem yang berada di tepi jalan saya lewati dengan perlahan.

“Dahulu, saat perang melawan Belanda, ada tiga kekuatan utama di Lasem ini, warga Tionghoa, Jawa, dan Pesantren. Mereka bersatu melawan penjajah dibawah tiga pemimpin yang mewakili tiga kekuatan tersebut. Karena perang yang berlangsung hari Jumat, maka kaum muslim melaksanakan Sholat Jumat terlebih dahulu. Nah di alun-alun yang ada di depan masjid Jami ini, warga Tionghoa menunggu kaum Muslim yang sedang sholat. Merinding saya ceritanya..”ungkap pak Yanto, guide kami selama di Lasem.



Ternyata ada kaitan antara perang terjadi di bumi Lasem dengan peristiwa Geger Pecinan yang menewaskan 10.0000 orang di Batavia.
Setelah kejadian tersebut banyak warga Tionghoa memilih untuk berpindah ke wilayah yang lebih aman hingga ke wilayah Tengah yaitu Semarang dan Lasem. Lasem yang saat itu dipimpin oleh Adipati Tumenggung Widyaningrat atau Oei Ing Kiat menerima dengan tangan terbuka warga Tionghoa yang berpindah.

Oei Ing Kiat (Oey Ing Kiat) ialah seorang Tionghoa beragama Islam yang sangat kaya, keturunan Bi Nang Oen yang merupakan salah seorang juru mudi armada Laksamana Ceng Ho yang mendarat di Bonang-Lasem.

Perkampungan baru pun didirikan dengan warga Tionghoa penghuninya.

Merasa senasib dan sepenanggungan dengan kesemena-menaan Kompeni, warga Lasem pun mulai bangkit dengan mengangkat senjata. Kebencian warga Lasem dulunya dipicu dengan serangan VOC pada tahun 1679 yang dibantu penguasa Matram untuk memonpoli perdagangan di pesisir pantai utara Pulau Jawa.

Warga mengangkat tiga pemimpin pasukan pemberontak perang yang juga dikenal sebagai Laskar Dampo Awang Lasem. Mereka adalah Raden Panji Margono, Oei Ing Kiat, dan Tan Kee Wie.

Pemberontakan pun dilakukan dengan strategi dan siasat yang dibuat. Pasukan Laskar Dampo Awang Lasem dibagi menjadi dua bagian, pasukan yang menyerang laut dan darat.
Siasat yang mereka buat ialah menguasai daerah pelabuhan terlebih dahulu yang dipimpin oleh Tank Kee Wie lalu bergerak ke pusat kota. Siasat tersebut berhasil dilakukan dan Rembang pun jatuh ke tangan para pemberontak Lasem.

Salah satu pintu di Kauman


Saat menuju Juwana, rupanya Kompeni telah diperkuat senapan dan meriam dari Semarang. Armada Tan Kee Wie ditembaki dan gugurlah salah satu pemimpin Laskar Dampo Awang Lasem tersebut.

Selanjutnya petempuran di darat tak terhindarkan yang menyebabkan pasukan pemberontak tercerai-berai kembali ke Lasem.

Belanda menang namun pasukan pemberontak tetap menaruh dendam untuk membalas kekalahan.

Selang tiga tahun kemudian, semangat untuk memberontak hadir kembali.

Kini, warga pesantren yang dipimpin oleh Kyai Ali Badawi turut serta.

Dengan khotbah Jumat yang berisi tentang perlawanan terhadap penjajah dan mengajak untuk bergabung menjadi satu dengan warga Tionghoa, mereka berjuang sekuat tenaga melawan penjajah yang kala itu menguasai bumi pertiwi.

Tiga pemimpin perang kemudian terpilih lagi. Kini Kyai Ali Badawi menggantikan Tan Kee Wie yang telah gugur.

Di bawah pimpinan Oei Ing Kiat pasukan VOC dihadang di jalur laut yang dipersenjatai senapan dan meriam hasil rampasan perang. Selama ini senjata-senjata tersebut disembunyikan di dalam terowongan yang digali di tepi Sungai Paturenan.

Di sebelah timur Sungai Paturenan, pasukan yang dipimpin Kyai Ali Badawi menghadang pasukan VOC dan Citrasoma, tetapi banyak yang tewas akibat serangan meriam dari kapal VOC.

Raden Panji Margono memimpin pertempuran di daerah Narukan dan Karangpace (barat Lasem) hingga ke utara di tepi laut. Di Narukan, perut sebelah kiri Raden Panji Margono terkena sabetan pedang. Setelah dibawa ke tempat yang lebih aman, Raden Panji Margono meninggal karena kehabisan banyak darah.

Mendengar berita kematian Raden Panji Margono, Oei Ing Kiat gelap mata. Ia maju ke depan peperangan dan akhirnya tertembak di dada oleh serdadu Ambon.

Tiga pemimpin pemberontakan di Lasem telah gugur di medan perang dengan semangat juang tinggi di masing-masing lini.

Akhirnya pada tahun 1780 sebuah klenteng bernama Gie Yong Bio dibangun untuk mengenang jasa Raden Panji Margono, Oei Ing Kiat, dan Tan Kee Wie.

Kelenteng Gie Yong Bio

Laksana sebuah wajah, Lasem tak hanya sebuah wilayah dengan wisata budaya yang dirias dengan bangunan-bangunan kuno yang berdiri, namun bagi saya, di balik keelokan yang tersembunyi di Lasem, ada darah juang mengalir di urat-urat nadinya, ada persaudaraan umat yang terjalin di lubuk hatinya, dan ada toleransi yang terjaga hingga anak cucu warga Lasem lahir di dunia..






Pintu khas wilayah Lasem

Di depan Rumah Merah


Pondok Bodho “Al-Frustasi”


Sumber Informasi:
1. http://suarapesantren.net/2016/04/25/pondok-pesantren-kauman-di-kota-cina-kecil-lasem/
2. https://id.wikipedia.org/wiki/Perang_Kuning
3. https://fahmialinh.wordpress.com/2015/04/18/narasi-perang-kuning-lasem/
4. Vakansinesia









Dua bulan lalu, meskipun suasana bising tak karuan karena berada di tepi jalan, saya berusaha mendekat ke arah guide yang mengantar kami ke lokasi walking tour agar informasi yang diberikan terdengar jelas dan tidak samar-samar.

“Jadi, mengapa Glodok dipenuhi dengan etnis Tionghoa? Ada yang tahu?”

Kami semua saling berpandangan, seperti murid yang sedang ditanya oleh gurunya,lalu serempak menggeleng.

Mungkin bagi sang guide, tidak ada yang mengetahui sejarah Glodok akan membuat suasana tur makin seru karena ada proses transfer ilmu.

Tak lama kemudian karena kami benar-benar tidak bisa menjawab, maka ia pun menjawab pertanyaannya sendiri.

“Dahulu saat zaman penjajah, ada kejadian pembantaian besar-besaran di wilayah Glodok, ada yang tahu apa?”

Akhirnya salah satu dari kami angkat suara. Guide pun senang sambil mengiyakan keterangan singkat salah satu peserta, yang pasti bukan saya yang menjawab.

“Saat zaman penjajahan Belanda, Glodok pernah menjadi kawasan pembantaian besar-besaran. Dahulu, etnis Tionghoa dikumpulkan di satu area, tepatnya Glodok, untuk memudahkan pengawasan dengan terkonsentrasi di satu wilayah saja. Pengawasan yang dimaksud ialah pengawasan terkait dengan pembantaian yang terjadi pada tahun 1740 M.”

Apa yang menyebabkan pembantaian terjadi? Menurut sumber yang saya baca, dahulu saat zaman penjajahan Belanda, etnis Tionghoa yang datang dari daratan China berhasil untuk melakukan kegiatan perniagaan. Pabrik-pabrik didirikan untuk mendukung proses perdagangan. Belanda pun tak senang melihatnya. Etnis pendatang kok lebih sukses daripada pribumi yang notabene mereka jadikan budak.

Akhirnya peraturan pun dilakukan. Warga Tionghoa diberi beban pajak tinggi. Makin tinggi pendapatan mereka, makin tinggi pula pajak yang yang harus mereka bayar.

Pabrik Gula yang mereka miliki harus menjual hasil gulanya kepada Belanda dengan harga murah.

Peraturan lainnya ialah adanya surat izin tinggal di Batavia bagi etnis Tionghoa. Lalu bagaimana cara mendapatkan surat izin tersebut? Ya dengan membayar sejumlah uang kepada petugas. Lantas bagi mereka yang tidak memiliki surat izin akan dimasukkan di penjara.

Siapa yang tak geram dengan tindakan Belanda tersebut?

Adanya korupsi besar-besaran yang dilakukan oleh gubernur VOC serta kesalahan prosedur ekspor gula ke Eropa membuat VOC menaikkan kembali pajak kepada etnis Tionghoa.

Merasa tertindas dengan tindakan yang semena-mena yang dilakukan VOC maka mereka pun melakukan perlawanan.

Beberapa perlawanan yang terjadi diantaranya pada Oktober tahun 1740 M. Sekitar 600 etnis Tionghoa menyerang pos penjagaan di sekitar Jatinegara dan membunuh 50 tentara VOC. Selain di Jatinegara, benteng dalam Kota Batavia pun pernah dikepung dalam bulan yang sama. Mereka ingin masuk. Namun hal ini dapat dicegah oleh tentara VOC yang saat itu dipimpin oleh Gustaav Willem van Imhoff.

Pemberontakan yang terjadi membuat VOC khawatir.

Kekhawatiran tersebut kemudian membuat Belnada menerapkan peraturan baru yaitu adanya jam malam bagi warga Tionghoa yang tinggal di dalam Kota Batavia. Selain itu semua senjata wajib diserahkan kepada VOC.

Kekhawatiran VOC tersebut memuncak hingga akhirnya pada 9 Oktober 1740, atas perintah Gubernur VOC yang menjabat, Adriaan Valckeneir dilakukan pembantaian massal kepada warga Tionghoa yang menewaskan sekitar 10.000 orang dan ratusan warga luka-luka.

Meski telah dilakukan pembantaian namun warga Tionghoa yang masih hidup tetap melakukan pemberontakan.

Akibat dari pembantaian tersebut, Gubernur VOC yang memberi perintah, Adriaan Valckeneir, dicopot dari jabatannya dan dimasukkan ke dalam penjara hingga akhirnya ia meninggal. Lalu sebagai pengganti ditunjuklah Gustaav Willem van Imhoff.

Sebagai Gubernur baru, ia akhirnya memberikan peraturan baru yakni dipindahkannya warga Tionghoa di satu tempat di luar benteng kota yakni di Glodok, agar mereka makin mudah diawasi dan sulit melakukan pemberontakan.

Hingga kini, kawasan Glodok menjadi pusat warga Tionghoa tinggal dan berniaga. Entahlah, sejarah memang membuat pedih hati. Kalau diingat-ingat terus rasa geram tidak tertahan. Namun kini semuanya sudah berlalu. Kawasan Glodok masih hidup dengan ramainya lapak-lapak penjual dagangan. Hio masih menyala di sudut-sudut kelenteng. Pengunjung yang datang dari luar maupun dalam negeri kini ikut memadati kawasan ini meski hanya beberapa jam saja singgah.

Semoga apa yang masih ada terus terjaga meski Mei 1998 sempat ada cerita duka di sana...







Kelenteng Kim Tek Ie

Beberapa pekerja yang sedang melakukan perbaikan


Menyusuri Jalan Kemenangan

Jalan Kemenangan

Makan di kaki lima

catatan: menyusuri Glodok sangat menyenangkan! jangan lupa siapkan alas kaki yang nyaman dan bersenang-senanglah menyusuri gang-gang di sana. Apabila haus dan lapar tak perlu khawatir karena banyak penjual makanan dan minuman, apabila ragu dengan halal/haram, bisa bertanya langsung atau amannya beli penyetan ehehehe...

*semua foto diambil menggunakan kamera hp saya kecuali foto saya yang berbaju biru..