Tersebutlah sebuah kerajaan penguasa di nusantara yang wilayahnya mencakup Jawa, Sumatra, Semenanjung Malaya, Kalimantan, hingga Indonesia timur.

Ada satu hal yang memicu terjadinya perluasan kekuasaan yang menjadi masa kejayaan yaitu Sumpah Palapa. Sumpah ini menunjukkan rencana Gajah Mada untuk melebarkan kekuasaan dan membangun sebuah kemaharajaan.

Kekuasaan yang luas pastilah memiliki prajurit dan panglima yang berperan besar dan rela mengorbankan apapun untuk perluasan wilayah Majapahit.

Namun tidak berlaku oleh seorang panglima ini. Sebut saja namanya Semar Mendem *. Ia memendam cinta di lubuk hatinya yang terdalam dengan seorang wanita cantik berasal dari wilayah tengah Jawa.

“Biyung...”
“Le Tole, iki kaping terakhir yo, aku ora lilo duwe mantu bocah kuwi .”
“Piye to yung Biyung, kula sampun sepenuh hati tresno..”
“Ora le, ora isok, Biyung ora setuju. Kowe ngerti, Rama lan Biyung wes setuju kowe ambek Dyah Wiyata duduk bocah sing liyane..”

Setelah perdebatan sengit yang tak kunjung berakhir dengan orang tua, Semar Mendem pun akhirnya menyerah. Namun bukan menyerah dengan keadaan dan menurut nasihat orang tua tetapi..

Baiklah Biyung, Rama..aku tidak bisa berbuat banyak, selamat tinggal..

Keesokan harinya Semar Mendem absen untuk mengikuti latihan prajurit Bhayangkara. Ia lari seperti dikejar hewan buas masuk ke dalam hutan menuju sebuah pantai.

Seminggu sebelumnya ia berjanji dengan wanita yang dicintainya untuk pergi ke sebuah pantai selatan di wilayah Kebumen.

Sang wanita yang dicintainya, Arem, telah tiba di tepi pantai sejak matahari terbit. Kakinya ia selonjorkan sambil bersandar di sebuah batu di bawah nyiur perdu setinggi empat orang dewasa sambil melihat takjub pemandangan di hadapannya. Ombak biru yang besar bergulung menghempas tebing karang menjadi teman burung camar yang terbang rendah di atas air.

Arem membayangkan ia dan Semar Mendem akan menaiki perahu untuk mengarungi lautan di hadapannya. Namun...

Laut ini cukup ganas untuk sebuah perahu kecil, gumam Arem.

Matanya melihat ke sebelah kiri, tebing curam berjarak sebadan dokar ada di sampingnya. Sesekali ia melihat ke arah hutan, menunggu sang pujaan hati datang. Ia membayangkan Semar Mendem datang mengenakan seragam prajurit Bhayangkara. Namun bukan seragam yang banyak dipakai prajurit, namun seragamnya adalah seragam khusus panglima.

Seulas senyum merekah di bibirnya.

Di sebelah kanan Arem, ia melihat kedatangan seorang wanita dengan dua orang yang sudah cukup berumur. Sambil menggamit lengan kedua orang tersebut, sang wanita perlahan duduk di bawah nyiur yang berukuran dua kali lebih tinggi dari nyiur yang menaungi Arem.

Mungkin mereka sedang berwisata ke tepi pantai ini.

Tiba-tiba ada suara derap langkah cepat dari arah hutan. Arem langsung menengok cepat ke belakang.

Ternyata hanya seorang bocah laki-laki.

Ia menghela nafas sedikit kecewa mengetahui sang pemilik langkah bukan pujaan hatinya. Namun bocah laki-laki itu kian mendekat ke arah Arem. Sampai akhirnya ia memberikan sepucuk surat yang dilipat menjadi dua dengan tangan kanan. 

"Apa ini? Ini untukku? "

Bocah laki-laki tidak membalas pertanyaan Arem. Ia terus menyodorkan surat tersebut dengan pandangannya yang tajam seakan "memaksa" Arem segera menerima surat.

Arem tidak berbuat banyak, ia langsung mengambil surat yang diberikan si bocah lelaki. Setelah diterima si bocah langsung berlari seperti kancil masuk ke dalam hutan.

Arem suka dengan wangi surat itu, aroma melati memenuhi rongga pernafasannya. Ketika surat tersebut dibuka oleh Arem, tak berapa lama air hangat memenuhi kelopak matanya yang sepekat tinta. 

Duhai kekasih, maaf tak bisa menepati janji.
Saat ini aku hendak pergi memenuhi perintah Rama dan Biyung.
Hati seperti kapal yang akan berlabuh di sebuah dermaga.
Entah dermaga mana yang kusinggahi untuk selamanya bersandar.
Namun kali ini dermaga pertama yang kusinggahi bukanlah dirimu.
Maafkan aku..

Surat yang singkat dan menjelaskan apa yang akhirnya terjadi oleh masalah yang Arem dan Semar Mendem alami.

Ia tak memerdulikan lagi kertas tersebut dan melempar sekuat tenaga ke bawah tebing. Wajahnya sudah dipenuhi air mata dan setengah tertatih ia berlari masuk ke hutan.

Nyiur di tepi pantai sudah terkena cahaya matahari seluruh batangnya. Wanita dan dua orang lainnya nampak berteduh di pohon yang lain.

Dari arah hutan, seorang lelaki tiba di tepi pantai. Nafasnya memburu, jantungnya berdebar kencang. Matanya melihat sekeliling mencari sebongkah batu besar di bawah nyiur perdu setinggi empat orang dewasa . Namun ia hanya melihat seorang wanita dan dua orang yang sudah cukup berumur. Ia melihat sekeliling lagi. Diedarkan pandangannya ke penjuru arah dan melihat tempat yang dicarinya.

Tidak salah lagi, di sana tempatnya..

Diaturnya nafas yang tersengal-sengal sambil meluruskan kakinya. Ia mengambil botol air yang dikaitkan di celana sebelah kirinya. Beberapa kali tegukan ia tenggak.

Beberapa saat kemudian nafasnya mulai teratur.

Di tempat lain, seorang lelaki bertanya kepada seorang bocah laki-laki yang telah ia beri surat untuk diberikan kepada wanita di tepi pantai. Sang bocah mengangguk pasti bahwa surat telah sampai di tangan yang tepat. Ia pun lalu membuka telapak tangannya dan siap menerima hadiah dari lelaki tersebut.

Terik panas siang tak mengendurkan semangat Semar Mendem untuk beranjak dari tempat duduknya, ia yakin sang pujaan hati akan datang dan rencana yang mereka siapkan seminggu sebelumnya akan terlaksana.

Hingga petang menjelang, tak nampak batang hidung Arem. Semar Mendem masih duduk di tempat yang sama dan melihat wanita dan dua orang yang berumur tadi sudah meninggalkan tempat berteduh mereka.

Ia tetap setia menanti sampai malam datang.

Hingga akhirnya ia sadar labuhan hati yang dinanti tak kunjung datang menghampiri.

- - - -



Papan petunjuk

Pantai Menganti

Saung yang disewakan

Sawah di tepi pantai



Pantai Menganti adalah pantai yang berlokasi di Desa Karangduwur, Kecamatan Ayah, Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah. Nama Menganti berarti menanti.

Pantainya yang menawan dengan pasir putih akan memberikan pengalaman baru bagi pengunjung. Rasanya tak cukup kata “Woaaah” terlontar dari mulut ketika melihat Pantai Menganti.
Sawah hijau di tepi pantai..
Ombak yang menabrak batu karang..
Air laut yang biru..
Semuanya berpadu menjadi satu di Pantai Menganti ini.

Jangan lewatkan Lembah Menguneng, Jembatan Merah Gebyuran, dan Sawangan Adventure di pantai ini ya agar pengalaman kalian makin seru dan menyenangkan :D

Lembah Menguneng

Jembatan Merah Gebyuran


Sawangan Adventure

Sawangan Adventure

Sawangan Adventure


Mitos dan Legenda Pantai Menganti

Konon seorang panglima perang Majapahit melarikan diri ke pantai selatan karena hubungannya dengan kekasihnya tidak direstui oleh orangtuanya. Keduanya kemudian berjanji untuk bertemu di tepi samudera berpasir putih. Sepanjang hari sang panglima perang menunggu di atas bukit kapur namun sang kekasih tak juga datang. Sementara itu mitos warga sekitar adalah tak diperkenankan menggunakan baju berwarna hijau gadung. Hal tersebut erat kaitannya dengan Nyi Roro Kidul yang umum dipercayai oleh warga pantai selatan.


*membaca "e" seperti kata beli
**terjemahan kalimat berbahasa jawa:

“Ibu..”
“Nak, ini yang terakhir kali, aku tidak ikhlas mempunyai menantu anak itu.”
“Bagaimana ya bu Ibu, aku sudah sepenuh hati jatuh cinta.”
“Enggak nak, enggak bisa, Ibu tidak setuju. Kamu tahu, Bapak dan Ibu sudah setuju kamu dengan Dyah Wiyata bukan yang lainnya..”


Tulisan ini dibuat berdasarkan sumber yang saya baca yaitu :
1. budyrahardja
2. kamuslengkap
3. wikipedia Majapahit
4. lagilibur
5. wikipedia Pantai Menganti








Foto oleh tim Ayo Jalan-Jalan


Saya ingat ketika melewati sebuah jalan bernama Liku Sembilan di Hutan Taba Penanjung yang rasanya memang terus berliku naik seperti tiada ujungnya, guide kami tiba-tiba mengarahkan kami untuk turun dari bus.

“Wah ada apa kok turun?” tidak tertulis di jadwal perjalanan, kami akan berhenti di KM 49 ini.

Ternyata ada kejutan istimewa yang sebenarnya tidak direncanakan oleh penyelenggara. Sebuah banner penunjuk bunga Rafflesia arnoldii terpasang di tepi jalan.

Artinya.. ada Bunga Rafflesia yang sedang mekar!

Kejutan ini kami sambut dengan semangat masuk ke dalam hutan. Karena lokasi tumbuhnya bunga ini yang cukup sulit diprediksi kecuali sudah melihat adanya tunas yang akan tumbuh, maka dimanapun inangnya dia akan tumbuh di sana.



Hmm jadi Bunga Rafflesia dan Bunga Bangkai bedanya apa?

Kalian tidak sendiri, saya pun juga awalnya tidak mengetahui perbedaan ini. Setahu saya Bunga Bangkai ya Bunga Rafflesia itu sendiri, namun ternyata salah....

Bunga Rafflesia adalah tumbuhan parasit yang hanya bertahan hidup 7 hari saja padahal masa pertumbuhannya cukup lama yakni 9 bulan. Cirinya adalah berwarna merah merona, memiliki 5 mahkota, diameternya bisa mencapai 100 meter dengan tinggi sekitar 50 cm dan berat dapat mencapai 10 kg.

Umumnya jenis Rafflesia yang tumbuh di Bengkulu adalah Raflessia arnoldii.



Setelah puas bertemu dengan salah satu puspa nasional Indonesia ini, selanjutnya saya bertemu dengan Bunga Bangkai.

Perbedaan mendasar antara Bunga Bangkai atau biasanya disebut Amorphpophallus titanium dengan Rafflesia arnoldii adalah ukurannya yang berbeda. Kalau salah satu iklan berkata”Tumbuh ke atas bukan ke samping..” Nah ini cocok disematkan pada Bungai Bangkai karena tingginya bisa mencapai 4 meter, berbeda dengan Rafflesia Arnoldii yang tumbuhnya ke samping, bukan ke atas, jadi sudah mengerti perbedaan keduanya kan ?

Satu hal yang sering ditanyakan ketika berada di Bunga Bangkai ini adalah,“wangi bunganya seperti apa?”

Hmm jadi entah saya menyebut ini sebuah keberuntungan atau tidak karena saya tidak mencium bau busuk ketika berada di dekat bunga ini.



Dari artikel yang saya baca, bau tersebut berasal dari kandungan kimia berikut ini:

1. Dimetil trisulfida. Senyawa kimia yang juga dipancarkan oleh bawang merah dan keju limburger.
2. Dimetil disulfida. Senyawa kima ini memiliki bau seperti bawang putih.
3. Trimethylamine. Senyawa yang dapat ditemukan pada ikan busuk atau amonia.
4. Asam isovalerat. Senyawa kimia penyebab kaus kaki berkeringat sehingga berbau menyengat.
5. Benzil alkohol. Senyawa kimia ini menghasilkan aroma bunga manis yang antara lain dapat ditemukan dalam bunga melati dan eceng gondok.
6. Fenol. Senyawa aromatik organik yang beraroma manis dan dapat menyembuhkan. Senyawa kimia ini dapat ditemukan antara lain pada semprotan tenggorokan Chloraseptic.
7. Inole. Senyawa kimia yang baunya seperti kapur barus.

Jadi bayangkan ketika bau dari bawang merah, bawang putih, ikan busuk, kaus kaki, bunga melati, kapur barus, serta semprotan tenggorokan yang bercampur jadi satu. Nah begitu baunya, berhubung saat saya melihat langsung bunga ini tak mencium sesuatu dari semua benda yang saya sebutkan jadi silahkan langsung datang ke Bengkulu untuk membuktikan langsung :D


Hal menarik yang menjadi sorotan saya ketika bertemu dua puspa ini adalah umurnya yang tak lama. Keduanya hanya berumur sekitar seminggu saja untuk mekar sempurna sebelum layu. Dibandingkan dengan masa pertumbuhan bunga Rafflesia arnoldii yang mencapai 9 bulan dan Bunga Bangkai yang mengalami dua vase yakni generatif dan vegetatif, rasanya saya belajar sesuatu hal penting. Bahwa proses tidak akan membohongi hasil.

Dua puspa ini sangatlah istimewa, di proses pertumbuhannya yang cukup lama keduanya dapat memberikan “pertunjukkan” istimewa dan luar biasa bagi siapa saja yang melihatnya.




----

Tulisan ini dibuat dalam rangka kegiatan Famtrip Festival Bumi Rafflesia 21-23 Juli 2017. 

Sumber informasi :






“Rek, kumpul yuk.”
“Ayo-ayo, di mana ya?”
"hmm"
“Mau yang gimana rek? Kan kita wes jarang kumpul nyari tempat makan yang santai dan bisa buat ngobrol lama ta?”
“Iya bolehhh..”
“Carpentier rek?bisa lama dan enak buat ngobrol.”
“Hoke deh..”

Percakapan di atas adalah hal yang terjadi sebelum saya, Nisa, dan Luna berangkat menuju Carpentier. Hmm jujur ya, meskipun sudah lama tinggal di Surabaya tapi saya terkadang bingung ketika mencari tempat yang enak buat ngobrol, makanannya enak, dan nyaman tempat serta pelayanannya (bukan anaq gawl yang suka kongkow di kafe soalnya jadi tahunya itu-itu saja wkwk).

Tempat makan memang banyak yang bermunculan, tapi banyak yang harganya mahal tapi ya rasanya ndak sebanding atau biasa saza jadi ketika saya mau keluar dengan teman yang memang niatnya untuk ngobrol lama, Carpentier lah yang kami pilih.

Oh iya, ini bukan sponsored post ya, ciyus bukan, ini murni review pribadi saya yang beberapa kali berkunjung ke sini dan tidak pernah menyesal.

Jadi mengapa tidak menyesal berkunjung ke tempat ini?

Pertama, makanannya enak. Saya paling suka burger sama pancakenya. Pasta dan tom yam pernah juga saya coba tapi yang bertengger di klasemen tertinggi adalah dua makanan tadi hehe.. Meskipun menurut saya harganya pricey tapi gimana ya, seperti kita mengeluarkan uang tapi tahu makanan yang kita makan akan enak ya begitulah rasanya. . Ndak sering-sering pula saya kesini, sepertinya setahun sekali haha.


Tom Yam


Burger yang nyess

Kami sengaja pesan pancake bukan yang nutella karena pengen coba yang beda dan mayan kok ndak enek



Lupa nama menunya apa, ada unsur morningnya kalau ndak salah

Kedua, tempatnya nyaman banget. Saya baru tahu kalau di lantai dua sudah beroperasi. Nisa, teman saya yang memberi tahunya. Akhirnya kita pilih tempat duduk favoritnya pengunjung, di satu sudut seperti sebuah ruangan dengan genteng kaca, ac, dikelilingi dengan tanaman, majalah, dan pemandangan genteng rumah warga. Meskipun tempat ini rata-rata pengunjungnya adalah anak muda berusia sekitar 18-30 tahun tapi kami bertiga melongo iri ketika ada satu keluarga kecil, ada suami, ibu, dan anak perempuan manisnya duduk dan tertawa bersama. Apalagi saat suami menyendokkan beberapa suap ke istrinya. Langsung Luna berkata,”He romantis pek keluarganya, aku ya mau.” Saya dan Nisa ya langsung mengangguk setuju wkwk.



Ketiga, Ada Musholla! Saya paliing suka dengan tempat makan yang ada mushollanya. Musholla di tempat ini ternyata..bagus dan nyaman banget. Meskipun sempit dan menyatu dengan tempat wudhu tapi nyaman sekali :D

Keempat, ada Ore Store tempat buat cari referensi baju, sepatu, dan kaset CD. Meskipun cuma lihat-lihat saza ~ wkwk.


Kelima, Pelayanan yang cepet dan ramah banget.
Rek, kok cepet banget se iki ngasih makanannya ? “
Koyoke wes disiapno bahan-bahane kari nggoreng nis.” (((nggoreng)))
Tapi serius cepet banget waktu ngasih makanan. Satu lagi nilai plusnya adalah kita hampir empat atau lima jam di Carpentier sampai pindah tempat karena tempat yang kami duduki sudah di booking orang jam 6 sore dan selama itu kami ndak bosen haha.

Mungkin karena kami sudah lama ndak pernah kumpul lagi bertiga dan tempatnya yang mendukung kami untuk melepas kangen, tertawa dan bercanda ria ~



Jadi itu tadi alasan mengapa saya merekomendasikan tempat ini ketika teman-teman berkunjung ke Surabaya dan bingung mau makan ke mana.

Tapi ada satu hal yang kurang menurut saya dan teman-teman rasakan. Ketika di sudut tempat kami duduk tidak ada tempat sampah, alhasil sampah yang kami hasilkan ditaruh di meja dan sedikit mengganggu bagi kami. Saran saya sediakan tempat sampah kecil di tempat tersebut.

Bagaimana ? Tertarik untuk berkunjung dan bercengkrama dengan teman, keluarga atau sanak saudara di Surabaya?

ps: dilarang berfoto untuk keperluan endorse pribadi di sini yaa karena sebelum mengambil foto saya izin dulu ke pegawainya dan diberi pesan tersebut. .








I arrived in Bandung Station since dawn and yes, I am hungry :( So i grabbed my smartphone, opened my online transportation apps, and typed “roti gempol” in input text.

Voila ! Just a minute later the driver was coming.

First, the driver ask me to making sure whether the street that we pass is true but i still blind with the Bandung's street so I just replied ,”Yes, that's right!”  then I hope that it is right ._.

Alhamdulillah 15 minutes later i arrived in a small place that still quite. I saw one of the staff swept the floor.

After i putted my bag on the chair I ordered a food. Actually i want to eat Mie Yamin but poor me, my sprue didn't let me to eat that big thing. So  i just ordered wheat bread with the meat inside and also a warm tea.

For me, Roti Gempol is one of the alternative food that we can try while in Bandung.

There is no wifi and limited chair are the plus point from this place.

We can eat and also have a chit chat with our friend(s) without smartphone distraction. If you still busy with your smartphone in this place i don't know, maybe you really a busy people because i already visited this place for twice and i didn't see the visitor busy with their phone, they just focus to eat and have a nice talks with their friend(s).

Pssst.. The soft, warm and wooden ambience, creates a comfortable and relaxed place.










which one you like the most?
Roti Gempol : 07.00 - 21.00 WIB


Semarang adalah ibukota provinsi Jawa Tengah
Di sana, banyak wisata kuliner yang menggoyang lidah! 


Perpaduan antara kuliner Jawa, China dan banyak daerah lainya di kawasan ini membuat perjalanan kuliner ke Semarang amat sayang untuk dilewatkan.

Beberapa kuliner terkenal di Semarang sudah berdiri sejak puluhan tahun lamanya. Ada yang sudah berubah jadi resto, ada juga yang masih setia dengan tenda di pinggir jalan raya.

Kalau kamu main ke Semarang, jangan lewatkan beberapa kuliner terbaik berikut ini ya…

1. Lumpia Gang Lombok


sumber:poskotanews.com

Di antara banyak penjual lumpia Semarang yang legendaris, Lumpia Gang Lombok adalah idola banyak wisatawan. Tidak hanya nikmat disantap di tempat, lumpia Gang Lombok juga bisa kamu bawa pulang. Buka mulai pukul 09.00 – 17.00, lumpia ini selalu laris sepanjang hari dan antriannya cukup panjang.

2. Nasi Goreng Babat Pak Karmin


sumber:goodindonesiafood.com

Ada banyak nasi goreng babat di Semarang, namun yang paling terkenal adalah buatan Pak Karmin yang sudah berjualan sejak tahun 1958. Hingga saat ini Warung Nasi Goreng Babat Pak Karmin masih berdiri di tempat yang sederhana. Namun jangan tanya soal jumlah pembeli yang berkunjung kesini. Sejak buka pukul 06.00 sampai 18.00, ada ratusan orang yang mengantri untuk membeli nasgor yang terletak di Jl Inspeksi 1 Kauman, Semarang ini.

3. Soto Bokoran


sumber:jajankuliner.wordpress.com

Ciri khas dari soto ini adalah mangkuknya yang kecil, dengan kuah bening. Soto Bokoran sudah lama buka di Semarang, kurang lebih 40 tahun lamanya dan sampai sekarang soto yang berlokasi di Jl Plampitan no 55 ini masih ramai pengunjung.

Soto Bokoran buka mulai pukul 06.00 pagi, dan biasanya pada pukul 10.00 sudah habis!

4. Asem-Asem Koh Liem


sumber:omgsofood.wordpress.com


Bisa dibilang asem-asem adalah makanan ciri khas Jawa Tengah, khususnya daerah Kudus, Jepara, Semarang dan sekitarnya. Kalau kamu sedang berwisata di Semarang, Asem-Asem Koh Liem adalah pilihan terbaik di antara warung yang lain.

Asem-asem ini berisi daging dengan rasa bumbu yang kuat. Letaknya di Jl Karanganyar 28/c4, Asem-Asem Koh Liem buka setiap hari pukul 07.00 – 20.00. Makan malam atau sarapan pagi, asem-asem bisa jadi pilihan kuliner selama berwisata di Semarang.

5. Pisang Plenet


sumber:idntimes.com

Ingin jajan ringan setelah berwisata seharian di Semarang, coba deh icip Pisang Plenet di kawasan Gajah Mada. Seperti namanya, jajanan ini terbuat dari pisang yang ditekan sampai penyet, dalam bahasa Jawa disebut ‘diplenet’. Setelah dibakar di atas bara api, pisang ini diberi topping yang bisa kamu pilih sendiri. Lezat!

6. Tahu Pong Perempatan Depok


sumber:mariyani-thediary.blogspot.co.id

Dinamakan Tahu Pong karena dalamnya kosong alias kopong. Ada banyak penjual tahu pong yang terkenal di Semarang dan kerap jadi oleh-oleh. Namun yang paling banyak diburu adalah Tahu Pong Perempatan Depok yang rasanya dijamin lezat meski dibawa ke luar kota sekalipun.

Tahu Pong Perempatan Depok buka setiap hari mulai pukul 17.00 – 23.00. Seperti namanya, lokasi penjual tahu pong ini ada di Jl Depok, Semarang.

7. Lekker Paimo


sumber:exploresemarang.com

Kue Lekker milik Pak Paimo ini sangat terkenal di Semarang karena isiannya yang beraneka ragam. Tidak hanya meses dan keju, Lekker Paimo juga bisa diisi sosis, daging, buah strawberry dan macam-macam rasa lainnya.

Terletak di kawasan SMA Kolese Loyola, kue lekker ini wajib kamu icipi kalau sedang berwisata ke Semarang.

Jadi,sudah siap mencicipi lezanya kuliner di Semarang? 



Iramanya yang rampak dan semarak membuat langkah kaki makin semangat bergerak masuk ke dalam benteng.

Saat akan memasuki Fort Marlbrough, saya dan teman-teman rombongan famtrip Bumi Rafflesia disambut dengan hentakan musik tradisional Bengkulu, Dol namanya.

Di sebelah kanan saya, ada alat musik pendukung Dol seperti Serunai dan Kolintang.


Bersama dengan tarian tradisional daerah Bengkulu, Dol yang ditabuh mengiringi langkah kami masuk menuju benteng.

Tak berhenti di penyambutan saat akan masuk ke benteng saja namun ternyata di dalam benteng kami diberi pertunjukkan menarik, yaitu tabuhan Dol yang energik dengan gerakan pemainnya yang tak kalah menarik. Kami yang melihat lantas diberi kesempatan mencoba untuk menabuhnya.

Rasanya saat menabuh Dol yang diletakkan di tanah sudah capek sekali, karena saya harus mengikuti irama cepat dari pemain lainnya.

Bagaimana dengan pemain yang mengangkat Dol dan memainkannya sambil berputar-putar lapangan di benteng ini ya?

Dulu ternyata pemain Dol ini tidak boleh dimainkan sembarang orang, hanya orang-orang keturunan India yang bernama Tabot saja yang boleh memainkannya.

Masyarakat muslim India dibawa Pemerintah kolonial Inggris yang saat itu membangun Benteng Malborough.

Tinggal lama di Indonesia membuat mereka kemudian menikah dengan orang lokal Bengkulu dan garis keturunannya dikenal sebagai keluarga Tabot. Hingga tahun 1970-an, Dol hanya boleh dimainkan orang-orang yang memiliki hubungan darah dengan keluarga tabot tersebut.

Nah itu dulu, namun sekarang Dol dapat dimainkan oleh masyarakat umum.

Dol memiliki ukuran beragam, untuk ukuran yang besar mencapai 70 - 125 cm dengan tinggi mencapai 80 cm.

Bahan utamanya adalah kayu atau bonggol kelapa. Bonggol ini kemudian diberi lubang pada bagian atasnya dan terakhir ditutup dengan kulit kambing atau kulit sapi.



Dulu, Dol dimainkan saat hari-hari khusus seperti tanggal 1-10 Muharram. Namun saat ini Dol sudah dikenalkan ke masyarakat umum dan dimainkan di waktu kapan saja sesuai dengan adanya sebuah kegiatan tertentu.

Bagaimana, tertarik untuk mencoba memainkan Dol?

Tari sambutan saat akan memasuki Fort Marlborough

Pemain Serunai

Penyambutan yang diwakili ayo jalan-jalan