Ya'ahowu..

Setelah berjalan sekitar lima menit dari gapura pintu masuk situs megalitik, saya harus menaiki tanjakan kecil. Tanjakan tersebut membawa ke sebuah tempat datar yang sudah berdiri sebuah rumah berbentuk oval dan di sampingnya terdapat jajaran batu yang tertata rapi.

Akhirnya saya mengetahui bahwa rumah tersebut bernama Oma Hada, rumah adat Nias yang berbentuk oval dengan kaki-kaki rumah yang terbuat dari kayu.

Saya berjalan lurus menuju jajaran batu di samping Oma Hada dan melihat ada batu yang mirip dengan sebuah patung berukuran paling besar dan terletak menjauhi batu lain menarik perhatian.

Patung batu terbesar tersebut digambarkan dalam posisi duduk dengan kedua tangan di dada memegang sebuah wadah. Dagu berjanggut panjang, dan pada lehernya terdapat kalabubu (kalung). Tinggi patung sekiar 3 m. Patung digambarkan memakai penutup kepala dengan hiasan runcing melingkari seluruh kepala, muka persegi, mata kecil, hidung mancung,dan  jenggot sebagian sudah rusak. Telinga kanan beranting-anting bentuk lingkaran dan leher dihiasi kalabubu (kalung). Tangan kanan memakai gelang dan keris terselip di pinggang. Di depan patung tersebut terdapat batu datar yang mungkin digunakan sebagai altar.

Di sisi kiri patung terbesar ini terdapat prasasti berbentuk empat persegi panjang dengan menggunakan huruf latin berbahasa Nias. Terdapat angka tahun 1778 yang tertulis di prasasti tersebut. Wow 240 tahun umur patung ini ternyata!

Ini adalah pertama kalinya saya melihat batu megalitik terukir sangat detail dan menarik. Sebelumnya pengalaman saya melihat ukiran indah di batu ialah saat berada di candi-candi yang berada di Pulau Jawa yang notabene memiliki perbedaan kepercayaan dengan masyarakat Nias karena bentuk ukiran di batu yang ada di candi-candi Pulau Jawa tersebut sudah bercorak Hindu maupun Buddha. Sisi paling menarik yaitu digunakannya batu yang berukuran sangat besar (saya harus mendongak ketika melihat batu megalitik terbesar di Hili Gowe ini) serta ukiran detail seperti keris dan sebuah wadah yang dibawa di tangan batu megalitik.

Saya harus mendongak ketika ingin melihat kepala megalitik terbesar di Hili Gowe ini
Prasasti yang menuliskan angka 1778

Dulu, masyarakat Nias hidup dalam struktur budaya dan hukum yang tinggi.

Hukum adat Nias secara umum disebut fondrakö yang mengatur segala segi kehidupan mulai dari kelahiran sampai kematian. Beberapa hal yang ditentukan dan diatur dalam fondrakö mencakup aspek-aspek fondu (kepercayaan atau agama); fangaso (perekonomian), hao-hao atau ele-ele (kebudayaan); forara hao fowanua (hak dan kewajiban); serta böwö (adat dalam pernikahan).  Salah satu bentuk nyata hukum adat tersebut adalah masyarakat Nias kuno yang hidup dalam budaya megalitik, dibuktikan oleh peninggalan sejarah berupa ukiran pada batu-batu besar yang masih ditemukan di wilayah pedalaman pulau Nias sampai sekarang. Dalam aspek fondu (kepercayaan atau agama) para leluhur Nias kuno menganut kepercayaan animisme murni.

“Kepercayaan animisme adalah kepercayaan kepada roh yang mendiami semua benda (pohon, batu, sungai, gunung, dsb).” 

Peninggalan sejarah berupa batu megalitik memiliki dua fungsi, yaitu fungsi megalit yang utama berorientasi sebagai tanda peringatan bagi laki-laki atau perempuan yang muncul sebagai daro-daro atau naitaro, dan fungsi yang kedua yang lebih menjurus pada kepercayaan terhadap megalit yang memberikan perlindungan, keselamatan dan kesejahteraan yang memiliki kekuatan di luar kemampuan pikiran manusia (supranatural).

Ada satu falsafah yang menarik perhatian saya terkait dengan budaya masyarakat dan batu megalitik yaitu:

“zatua bano fangali lowalangi ba gulidanö”

yang memiliki makna orangtua merupakan pribadi yang harus dihormati bahkan sampai kematiannya, sehingga muncul sebuah falsafah hidup masyarakat Nias yang mensejajarkan orangtua dengan Tuhan, maka sudah menjadi suatu keharusan bagi sebagian masyarakat Nias kuno untuk mendewakan orangtua yang telah meninggal dengan membuat patung atau megalit yang menyerupai orang tua yang telah meninggal (adu zatua) dan menjadikannya sesembahan yang dipercaya dapat memberikan perlindungan dari berbagai macam malapetaka.

Bagi saya falsafah tersebut sangat dalam maknanya. Bagaimana harus bersikap kepada kedua orang tua meski mereka tidak lagi bersama kita. Sekaligus sebuah pengingat sekali ini bagi saya yang kebetulan saat ini sedang tinggal jauh dari orang tua. Maka saya harus terus ingat dan tetap hormat kepada mereka meski jarak memisahkan raga :(

Patung Megalitik di sisi lain Oma Hada


Patung Megalitik di sisi lain Oma Hada




...


Untuk menuju situs megalitik ini Anda dapat menggunakan jasa tur / travel dari Bandar Udara Binaka di Gunung Sitoli. Salah satu travel yang dapat Anda gunakan ialah Go Nias Tour : 081370163576

Berikut ini peta lokasinya, karena saya tidak dapat menemukannya di peta maka saya sematkan Kecamatan Mandrehe : 






Tulisan ini dibuat dalam rangka Famtrip yang diselenggarakan oleh Dinas Pariwisata Nias Barat pada 27-29 Oktober 2018.

Sumber informasi tulisan:

Lucas Partanda Koestoro & Ketut Wiradnyana, Tradisi Megalitik di Pulau Nias, Balai Arkeologi Medan, 2007.
.





Saat berbelok di salah satu gang di Desa Pundong, Bantul, Mbak Yuli menghentikan motornya dan mulai menelepon seseorang. 

“Ini benar polsek...?”

Saya dan Gista reflek saling menoleh.

“Kita mau cari makan bukan cari masalah kan ini Gis, kenapa Mbak Yuli menelepon polsek?”

Ternyata temannya yang bekerja di salah satu Polsek di Bantul lah yang merekomendasikan Miedes Bu Yanti ini dan Mbak Yuli hendak mencari lokasi tepatnya karena agak lupa. Telepon akhirnya diangkat oleh temannya dan yang terdengar adalah diskusi ancer-ancer lokasi Miedes.

Setelah Mbak Yuli menutup telepon kami menyalakan motor dan saya sudah siap membuntuti Mbak Yuli dari belakang. Benar-benar warga Bantul nyel karena hafal betul lokasi dari masing-masing tempat yang akan kami kunjungi salah satunya Miedes Bu Yanti ini. 

Miedes Bu Yanti ternyata sudah ada sejak tahun 1982 dan menjadi salah satu Miedes legendaris di wilayah Bantul. Beruntung sekali kami berkunjung ke Miedes saat kedai makananan ini akhirnya buka saat siang. 

“Baru dua minggu ini mbak kami buka siang hari mulai pukul 10.00 sebelumnya ya malam saja,” ujar Bu Yanti sambil mempersilahkan kami masuk ke dalam kedai makan yang lebih tepatnya masuk ke dalam rumah beliau. Awalnya kami kaget tempat makannya kok masuk ke dalam rumah ternyata saat masuk ke dalam bisa tembus hingga bagian samping rumah yang memang diperuntukkan untuk pengunjung.

“Sebenarnya ya malam saja mbak, tapi banyak yang meminta untuk dibuka saat siang karena kalau malam kan gelap jalannya, pembeli wanita banyak yang takut dan meminta untuk dibuka saat siang, ya sudah akhirnya dibuka.”

Mendengar hal tersebut saya langsung membayangkan saat malam hari melewati jalanan yang saya lewati tadi, kanan kiri sawah dan seingat saya tidak ada tiang lampu, apalagi saya ingat cerita teman saya sendiri yang pernah melewati jalanan yang saya lewati tadi dan memang benar, jalanannya gelap :( Jadi kalau akan pergi ke sini sebaiknya pertimbangkan waktu kedatangan.

“Mau pesan apa mbak?”

Kami pun dengan cepat memutuskan untuk memesan dua porsi Miedes kuah dan seporsi Miedes goreng.

Saat di lokasi kami lah pengunjung satu-satunya dan mumpung sedang sepi dan inilah pengalaman pertama mencicipi mie yang terbuat dari bahan dasar singkong ini maka saya izin untuk melihat langsung proses memasak Miedes. Bu Yanti tidak keberatan sama sekali dengan keinginan saya dan langsung mempersilahkan masuk ke dalam dapur. 

Penataan dapur berukuran 2 m x 3 m ini sederhana. Sebuah meja panjang diletakkan di sisi kanan berdekatan dengan jendela. Di atas meja ini terdapat timbangan dan potongan sayur yang saya perkirakan akan digunakan dalam Miedes.



Di sebelah meja, kompor gas diletakkan di tempat yang agak tinggi yang terbuat dari semen. Dari sini Bu Yanti dapat memasak Miedes sambil duduk.


Bu Yanti sedang memasak Miedes


Proses memasak Miedes yang berkuah dimulai dengan menimbang mie yang sudah ditentukan beratnya oleh Bu Yanti. Selanjutnya Bu Yanti memanaskan minyak goreng. Setelah panas dimasukkanlah beberapa ekor udang dan telur. Campuran antara telur dan udang ini kemudian diorak-arik. Setelah dirasa sudah wangi, air pun dimasukkan yang nantinya akan digunakan sebagai kuah lalu selanjutnya Bu Yanti memasukkan tomat sebagai salah satu sayuran yang ada di Miedes. Terakhir, Bu Yanti memasukkan mie ke dalam wajan yang wanginya sudah memenuhi dapur. Saya meninggalkan sebentar ruangan dapur karena hidung saya yang terasa gatal dan ingin bersin. Setelah puas bersin saya pun kembali ke dalam dapur untuk melanjutkan melihat proses pembuatan Miedes.



Proses pertama: menimbang mie

Proses selanjutnya: memasak udang, telur orak-arik, dan tomat

Penentuan kematangan pastinya sudah tidak menjadi hal baru bagi Bu Yanti. Ketika sudah dirasa kematangannya sudah pas, beliau mengambil Miedes dari wajan yang panas dan meletakkannya di atas piring. Tahap terakhir dari pembuatan Miedes ini adalah menaburi dengan irisan daun seledri, bawang goreng, dan kubis. Sampai di sini lah proses memasak Miedes.

Miedes goreng


Selanjutnya Bu Yanti mempersilahkan saya membawa sendiri Miedes yang telah saya pesan untuk dimakan. Asik juga ya, berasa memasak bersama keluarga sendiri, bedanya di sini saya hanya melihat tanpa ikut campur tangan membantu memasak, takut salah takaran atau pakem yang telah ditetapkan oleh Bu Yanti sendiri lah, jadi ya saya membantu Bu Yanti mengabadikan proses memasak beliau saja. 

Satu hal yang unik saat makan Miedes Bu Yanti ini adalah sambal yang bentuknya berupa cabe yang dikeringkan, mirip b*ncabe ehehe. Saat saya mencicipi Miedes ini, campuran rasa gurih dan tekstur mie yang kenyal (kata teman saya seperti makan seblak) serta pedas dan asin yang begitu pas. Jujur saja ini adalah salah satu mie yang terunik bagi saya. tekstur mienya sendiri yang membuatnya berbeda dari yang lain. Malah menurut saya mirip cendol karena kekenyalannya haha!

sambal kering
Miedes goreng

Miedes kuah


Approved banget lah ini ma,” kata Gista yang sudah memakan Miedes sementara saya masih sibuk dengan pengambilan dokumentasi Miedes ini sendiri. 


Catatan:

Harganya seingat saya Rp 12.000 seporsi dengan air minum.

Untuk menghindari antre panjang saya merekomendasikan berkunjung saat siang hari. Selain bisa makan kalian bisa melihat langsung proses memasak Miedes ini loh! 

Miedes Bu Yanti dapat ditemui di sini: 











Lantunan lagu india mengiringi perjalanan saya dari Bandara ke Hotel yang terletak di Georgetown. Kepala saya reflek ikut bergoyang (sedikit-sedikit).  Sebelum lagu india tersebut dimainkan, sopir taksi online meminta izin kepada saya apakah diperbolehkan menyetel lagu india. Saya pun langsung menjawab,"Ya tentu boleh."

Jadilah perjalanan sore itu seperti perjalanan di New Delhi  daripada di Penang mulai dari lagu, aneka aksesoris di mobil, hingga sopir taksi online yang memang keturunan India  (padahal saya belum pernah ke New Delhi :p).

Lagi-lagi India...

Mungkin ini yang namanya konspirasi semesta, saya baru ingat saat diturunkan oleh sopir taksi di hotel, lokasi penginapan saya berada di Little India. Beberapa toko di samping penginapan terlihat menjual kain sari, punjabi dan jippa suits, aneka bunga, dan lainnya.

Untuk sementara perjumpaan saya dengan budaya India terhenti saat masuk ke dalam hotel karena pemiliknya bukan warga keturunan India tetapi Tionghoa. Sambil melangkah gontai masuk ke dalam hotel karena sudah lelah duduk, petugas yang berjaga bertanya kartu identitas dan kode booking kami. Teman saya, Nofa, yang dalam perjalanan kali ini bertugas untuk menangani urusan penginapan langsung menyerahkan dokumen terkait.  Urusan penginapan lancar, petugas resepsionis langsung saja memberikan kunci kamar. Saat kami meminjam adapter untuk keperluan charger perangkat komunikasi kami olala ternyata petugas resepsionis yang sejak tadi melayani kami adalah orang Medan. (kalau tau dari awal tidak perlu repot-repot ngomong bahasa inggris-_-)

Tidak lama saya beristirahat di dalam hotel karena rundown yang disusun oleh kami sendiri mengharuskan kami bergegas menuju salah satu tempat di sudut Kota Penang. Avatar Park namanya. Tidak banyak yang saya ketahui dari tempat ini hanya taman yang terletak di dalam sebuah kuil dan tepi pantai. Rencananya saya hanya menghabiskan sore dengan duduk di tepi pantai kalau tempatnya memungkinkan dan malamnya langsung menikmati Avatar Park. Hanya begitu saja, harapan yang saya rajut tidak muluk-muluk #cailah ~

Namun ketidakjelian saya melihat secara detail bagaimana destinasi wisata kali ini berujung manis. Saya tidak menyangka sunset di tepi pantai yang masih satu kawasan dengan Avatar Park ini begitu indah. Saya duduk di batu-batu di tepi pantai (yang mengingatkan saya dengan Kenjeran) dan menghadap matahari yang tenggelam di balik gedung-gedung pencakar langit.

Menikmati sunset dengan duduk di batu-batu

Avatar Park

Malam sepulang dari Avatar Park kami memutuskan untuk mencari makan.

"Mau makan apa ini?"

"Nasi Kandar boleh deh Ma kayak rekomnya driver tadi."

"Siiip, tapi Nasi Kandar manaa rek?"

Akhirnya berbekal peta kuliner yang kami dapatkan di bandara, Nasi Kandar Line Clear kami sepakati sebagai makan malam kami. Kesepakatan lain yang kami lakukan adalah pemilihan lauk yang berbeda-beda agar dapat saling mencicipi. Ada cumi, ayam dan olahan daging yang bisa kami rasakan dalam sekali makan.

Nasi Kandar Line Clear

Penjual Chapati di Little India


Hari-hari berikutnya yang kami lakukan dalam urusan makan adalah mencoba berbagai olahan yang belum pernah kami cicipi seperti chapati, pasembur, mie sotong, es kacang, dan es teh tarik yang benar-benar ditarik bukan dari kemasan sachet.

Di akhir perjalanan saya jadi berpikir, perjalanan kali ini mempertemukan banyak sekali ras, dari India, Melayu, Tionghoa, sampai Batak.Hal tersebut didukung oleh data sensus pada tahun 2016 dengan prosentase orang Melayu sebesar 67,4%, Cina 24,6,%, dan India 7,3%.

Terkait dengan multi ras ada sebuah catatan hitam di negeri Jiran pasalnya pernah terjadi kerusuhan yang melibatkan ketiga ras ini pada 13 Mei 1969 dan menewaskan ratusan orang beretnis Tionghoa. Penyebabnya dipicu oleh pemilu yang nyaris memenangkan Democratic Action Party (DAP) yang didominasi etnis Tionghoa.

Pada saat itu terjadi pula ketegangan pada sektor ekonomi yaitu kesenjangan antara warga Melayu dan Tionghoa yang cukup tinggi. Tahun 1960-an warga Melayu menguasai 1,5% total kekayaan nasional dan mayoritas berprofesi sebagai petani di desa berbeda dengan mayoritas warga India dan Tionghoa yang bekerja di sektor perbakan dan industri di kota-kota.

Melihat hal tersebut akhirnya pada 1971 dibentuk New Economic Policy (NEP) yang mengistimewakan warga Melayu dalam berbagai sektor kehidupan publik. Meskipun program ini bisa dikatakan berhasil namun hal lain terjadi di lapangan seperti warga non-Melayu merasa dianaktirikan, kronisme pengusaha dan politisi Melayu serta bagi masyarakat kelas bawah Melayu yang tidak merasa diuntungkan oleh program pro-elit pribumi ini.

Perihal pribumi dan non pribumi yang diberi aturan tertentu di Negeri Jiran ini nyatanya memiliki dampak lain di lapangan. Saya memang tidak mengalami langsung apa yang dialami warga negara tetangga sebelah namun entah mengapa bagi saya pengotak-ngotakan malah membuat kesenjangan dan perbedaan makin terbuka lebar.



Georgetown

Georgetown

es cendol (tapi artificial :p)

Masjid Nagore Dargha Sheriff yang dibangun sejak 1800-an








 Sumber rujukan tulisan:







lunpiaimalavins15

“Jangan lupa Lunpia Semarang ya!” adalah kata-kata yang sering sekali saya dengar ketika berkunjung di kota berjuluk Port of Java ini. 

Lunpia atau Lumpia adalah salah satu kudapan di Indonesia yang terbuat dari racikan rebung muda dengan udang dan daging lalu digulung dengan kulit, terbuat dari gandum, dan digoreng. Sedap sekali rasanya apabila ditambahkan daun brambang dan saus sambal.
...
Siang itu seperti siang-siang sebelumnya di Semarang, matahari yang tepat berada di atas kepala mampu membuat rambut saya kepanasan. Yahh mirip-mirip Surabaya kalau begini rasanya.

Saya dan beberapa teman berjalan kaki dari parkiran mobil di dekat Gang Lombok Semarang menuju salah satu kedai makanan legendaris yang sudah ada sejak ratusan tahun lalu.

Kalau saya orang awam yang tidak menahu tentang keberadaan kedai ini mungkin saya menganggap biasa saja ketika melewatinya karena dari luar tampak tidak ada yang istimewa. Kursi berjajar di bawah meja, besek yang ditata di atas etalase, dan sepeda motor yang diparkir di depan kedai. Mungkin hanya kerumuman orang-oranglah yang akan menjadi penarik perhatian saya.

lunpiaimalavins8
Lunpia Gang Lombok

lunpiaimalavins13
Besek yang ditumpuk di atas etalase
Oh ya ngomong-ngomong di dalam kedai ini petugasnya sangat sibuk. Ada yang mengiris daun bawang, menggoreng di wajan, mengisi kulit lunpia lalu menggulungnya, dan satu lagi yaitu petugas yang mencatat setiap pesanan dan memastikan semuanya benar-benar sesuai dengan pesanan pelanggan. Semua terlihat sibuk dan tidak ada jeda istirahat, saya yang datang pukul 11 siang harus menunggu pesanan Lunpia satu jam lebih. Benar-benar Lunpia istimewa.

lunpiaimalavins11
Pegawai sedang menggulung Lunpia

lunpiaimalavins4

lunpiaimalavins2
Harga Lunpia
Makanan yang berasal dari Tiongkok ini mulanya dibawa oleh Tjoa Thay Joe yang berasal dari Fujian Tiongkok yang akhirnya memutuskan menetap di Semarang. Saat ia membuka usaha Lunpia yang berisi daging babi dan rebung ternyata ada seorang wanita yang menjual makanan serupa, namaya Wasih. Bedanya Wasih menjual dengan rasa yang manis yang berisi kentang dan udang.

Tidak ada permusuhan dan pertikaian antara mereka ketika sama-sama menjual Lunpia di Semarang. Seiring berjalannya waktu malahan timbullah benih cinta di antara keduanya. Akhirnya mereka memutuskan untuk menikah dan membangun usaha Lunpia bersama.

Saat keduanya menikah dan melahirkan keturunan di sinilah dimulai generasi Lunpia Semarang. Generasi ke-2 Lunpia Semarang diwariskan kepada putranya yaitu Siem Gwan Sing yang menikah dengan Tjoa Po Nio. Keduanya melahirkan empat orang anak yang tiga di antaranya memutuskan untuk melanjutkan usaha Lunpia.

Ketiga anak mereka membuka usaha Lunpia di beberapa wilayah di Semarang. Siem Swie Hie membuka Lunpia Pemuda, Siem Swie Kiem meneruskan di Gang Lombok nomor 11 dan  Siem Hwa Noi membuka cabang di Mataram.

Saya memesan dua Lunpia, basah dan kering, agar dapat merasakan sendiri dua menu yang ada di Lunpia Gang Lombok ini. Perbedaan mendasar antara keduanya ialah warna kulit. Kalau pesan Lunpia Goreng maka warnanya cokelat dan apabila pesan basah maka warnanya putih pucat.

Saat akhirnya pesanan Lunpia saya datang, harum aroma Lunpia masuk ke indera penciuman. Wangi rebung dan udang seolah berlomba memenuhi hidung.

Tanpa ba-bi-bu saya langsung mengambil garpu dan mengambil potongan kecil Lunpia. Lunpia Gang Lombok ini berisi campuran rebung dan udang yang pas, tidak sedikit dan tidak pula terlalu banyak. 

lunpiaimalavins16
Lunpia basah dan goreng

lunpiaimalavins6

Ketika menggigitnya, indera kecap saya langsung menangkap rasa manis. Setelah dikunyah campuran asin dan manis bercampur jadi satu. Apalagi ketika saya menambahkan saus sambal, maknyes!

Ada satu lagi teknik memakan Lunpia, yaitu membungkusnya dengan selada. Saya yang diberitahu teman saya langsung saja mempraktekkannya. Rasa segar selada bercampur dengan lezatnya Lunpia, duh pokoknya benar-benar kudapan istimewa!

lunpiaimalavins14
Lunpia dan saos

lunpiaimalavins
Lunpia di dalam besek

lunpiaimalavins17
Lunpia Basah

lunpiaimalavins9
Sepeda di depan kedai

imalavinskampungmalon33



Jalanan berliku dan menanjak di Gunungpati saya akhiri dengan berhentinya bus di depan rumah salah seorang warga. Ternyata kami sudah ditunggu dan segera disambut oleh mereka. Mulanya kami saling bersalaman sambil mengucap salam selamat datang. Adanya dua warga yang konon menjadi ikon Kampung Malon ini menambah semarak proses penyambutan. Masing-masing dari kami, rombongan dari famtrip semarang hebat, bergantian untuk berfoto dengan ikon kampung tersebut.

imalavinskampungmalon4

Sambil asyik berfoto dengan ikon kampung malon kami dipersilahkan untuk mencicipi suguhan khas yaitu wedang malon. Wedang ini ternyata minuman khas Kampung Malon yang terdiri dari rempah-rempah seperti kapulaga, jahe, pandan, jeruk purut, kayu manis, dan gula aren. Air hasil rebusan ini kemudian ditaburi irisan kelapa muda. Ketika masuk melewati tenggorokan, rasa hangat langsung menjalar ke seluruh badan. Kalau diminum saat hujan atau udara dingin sangat pas sekali lah wedang satu ini.

imalavinskampungmalon3

Setelah puas mencicipi minuman khas kampung malon, kami diajak untuk pergi ke kelompok batik yang ada di kampung ini. Ada beberapa kelompok batik yaitu Zie Batik, Batik Kristal, Batik Citra, Batik Delima, Salma Batik, dan Batik Manggis.

Dulu di sini mayoritas penduduknya adalah petani. Namun saat ini batik menjadi ikon atau unggulan di Kampung Alam Malon. Batik di sini memiliki ciri khas dari motifnya yaitu Semarangan serta motif yang ada di lingkungan sekitar kampung. Selain itu hal menarik lainnya adalah digunakannya warna alami pada pembuatan batik.

imalavinskampungmalon9
Bahan pewarna alami biru dari warna pasta indigo, jelawe, dan tingi.

Warna alami ini didapat dari apa yang ada di sekitar lingkungan warga, seperti Indigofera penghasil warna biru, Tingi untuk warna cokelat muda yang berasal dari kulit kayunya, dan Jelawe (Terminalia jewelica) untuk warna kuning. Bahan-bahan ini didapatkan dari tanaman yang memang sengaja ditanam sendiri oleh mereka. Ketika kami diajak ke kebun yang berada tak jauh dari salah satu pengerajin yaitu Zie Batik, kami melihat hamparan tumbuhan Indigofera di salah satu petak.

imalavinskampungmalon26
Perjalanan menuju kebun

imalavinskampungmalon27
Indigofera
Saya pun bertanya-tanya bagaimana caranya dari tumbuhan berwarna hijau ini didapatkan warna biru indigo yang begitu khas dan berkarakter.

Ternyata untuk mendapatkan warna indigo tersebut harus melalui beberapa tahapan seperti pengambilan daun yang dianggap sudah cukup “berumur”, lalu proses perebusan, kemudian dilanjutkan dengan proses lainnya seperti fermentasi dan masih banyak lagi.

Kira-kira seperti ini ilustrasi prosesnya ~

Proses yang cukup panjang ini memang terlihat begitu melelahkan lalu mengapa tetap menggunakan pewarna alami dari alam sekitar?

Warna-warna sintetis atau buatan umumnya memang harganya lebih murah dan warnanya lebih mencolok dan bervariasi namun di sisi lain warna-warna buatan tersebut memiliki dampak terhadap lingkungan yang cukup serius seperti pencemaran lingkungan dan menimbulkan gangguan berbagai penyakit kulit.

Memang jika dilihat dari harga pasti ada perbedaan antara alami dan buatan namun dari sisi dampak warna alami lebih aman digunakan serta memiliki ciri khas dan karakter sendiri dibandingkan dengan warna buatan.

Saat ini Zie Batik tidak hanya memproduksi batik saja namun juga sudah mempersiapkan untuk menjadi produsen pasta warna indigo karena setelah dibandingkan dengan warna indigo hasil produsen lain, warna indigo Zie Batik ini tidak kalah bagusnya.

imalavinskampungmalon21
Batik yang akan dijemur

imalavinskampungmalon14
Seorang pegawai Zie Batik sedang mengecek batik yang sedang dijemur

Setelah berkunjung dan belajar tentang warna alami untuk batik, kami diajak untuk bermain bersama di Taman Nyai SekarWangi dan Pendapa Sunan Kali Jaga. Di salah satu sudut kampung disediakan tempat untuk mengenang kembali ragam dolanan yang masih “alami” belum tersentuh kemajuan era teknologi. Jegog Lesung dan Egrang pun akhirnya menjadi tontonan dan mesin waktu bagi saya yang tidak terasa sudah makin sepuh ini hehe.

imalavinskampungmalon29
Jegog Lesung

imalavinskampungmalon30
Egrang

imalavinskampungmalon7
Pemilik Zie Batik

imalavinskampungmalon8
Workshop Zie Batik
imalavinskampungmalon23
Malam

imalavinskampungmalon17
Ragam warna dan corak Zie Batik
imalavinskampungmalon18
Warna indigo
imalavinskampungmalon5
Kelompok Batik Citra Malon
imalavins
Berada di tengah-tengah batik dengan warna alami
imalavinskampungmalon35
Pembuatan batik cap

imalavinskampungmalon20
Menu makan siang