Pilihan keputusan untuk memilih langsung pergi ke gardu pandang sepertinya sangat tepat bagi saya. Kala itu karena sedang dikejar waktu yang sudah mepet dengan jadwal kunjungan, saya memilih untuk pergi langsung ke gardu pandang, meski wisata utamanya ialah Goa yang begitu menarik dan memiliki cerita filosofis di dalamnya, Goa Seplawan.
...
Pada hari Selasa Kliwon, 28 Agustus 1979, satu tim beserta masyarakat sekitar Keterban memasuki Goa Seplawan dengan peralatan tangga bambu dan penerangan petromak. 

Setelah perjalanan sekitar 1,5 jam dan menempuh jarak 750 meter, ada salah satu anggota tim yang melaporkan kepada tim bahwa ada tiga orang pemuda bernama Slamet, Lebih, dan Sukir menemukan sebuah barang berbentuk kendogo dari perunggu semacam termos yang di dalamnya ada sesuatu yang bersinar. 

Singkat cerita, barang tersebut diambil Bapak Semirejo sebagai Kepala Dusun Keterban dan dilaporkan kepada Kepada Desa Donorejo untuk dibawa keluar goa. Lalu oleh Kepala Desa Donorejo, semua tim dan anggota masyarakat diperintah untuk keluar membawa barang tersebut menuju Pendopo Kelurahan Donorejo. Setelah sampai di pendopo kelurahan, wadah mirip kendogo tersebut dibuka. Semua terkejut ketika isinya ialah sepasang arca emas berbentuk raja dan permaisuri. Saat itu juga, Kepala Desa Donorejo langsung memerintahkan kepada Ngudiyo, Kepala urusan pemerintahan untuk melaporkankepada camat setempat. Hingga kini arca tersebut disimpan di Museum Pusat (Museum Gajah) do Jl.Merdeka Barat, Jakarta. 

Konon menurut sumber ,di dalam Goa Seplawan terdapat lorong yang dapat menembus sampai ke Samudera Hindia, bahkan ada yang mengatakan bahwa lorong tersebut merupakan jalur khusus bagi Nyi Roro Kidul jika ingin bertemu dengan para petapa. Keberadaan lorong tersebut hingga kini masih ditutup karena terdapat gas berbahaya yang terkandung di dalamnya. Benar tidaknya hal tersebut, sepertinya harus dikaji dan diteliti lebih mendalam lagi.

...




Sebelum tiba di gardu pandang sendiri, anak tangga berjumlah puluhan harus saya lewati. Ffiuhh..bagi seorang yang sudah lama tidak berolahraga seperti saya, ini salah satu perjuangan berat. Namun dengan iming-iming dapat berdiri di perbatasan dua kota menjadi penyemangat bagi diri sendiri.

Jika sebelumnya saya hanya mengetahui batas kota dengan tulisan-tulisan bercetak tebal berbunyi “Selamat Datang di Kota...” atau “Selamat Tinggal di Kota B..” beberapa saat lagi saya akan tiba di perbatasan dengan pemandangan berbeda.

Seperti apa ya gardu tersebut bentuknya. Di bus tadi panitia penyelenggara bercerita bahwa kaki kita dapat berada di Jawa Tengah namun tangan kita dapat berada di provinsi yang berbeda yaitu provinsi Daerah Istiwewa Yogyakarta. Saya begitu penasaran dan terus menerka-nerka bagaimana bentuk gardu.

Mungkin karena itulah sehingga kaki saya kian mempercepat langkah meski nafas sudah ngos-ngosan tak karuan.

Tulisan “Goa Seplawan” berukuran besar menyambut ketika anak tangga terakhir berakhir saya lewati. Hah! Akhirnya sampai juga..

Ternyata untuk menuju gardu pandang saya harus berjalan kaki lagi dan beruntung jalanannya tidak menanjak.

Sesampai di gardu pandang, nafas tak lagi terengah dan tergantikan dengan lanskap menawan di depan dua pasang bola mata.

Dari kejauhan nampak Waduk Sermo dan teman saya membisikkan sesuatu, ia berkata apabila cuaca sedang cerah kita dapat melihat pantai selatan dan kalau beruntung lagi dapat melihat Gunung Merapi, Merbabu, Slamet dan Sumbing.

Kalau beruntung...

Nampaknya hari itu keberuntungan saya dapat melihat sebuah ceruk berukuran besar berisi air, sepertinya Waduk Sermo..

Ah tidak apa-apa setidaknya lanskap sekitar sudah mampu membuat saya gembira. Kegembiraan kian bertambah kala sang surya makin meredup sinarnya.

Segera tak saya sia-siakan momen tersebut. Kamera saku dan smartphone saya siapkan demi menangkap momen di ujung hari di batas dua provinsi.


Mengabadikan momen sunset

Pemburu sunse


eh ada pesawat lewat..
Waduk Sermo (kata teman saya)

Gardu Pandang dari kejauhan

 ...

Info Tambahan:

Apabila Anda pergi secara berkelompok dengan menaiki bus maka Anda harus berganti kendaraan dengan menaiki angkot untuk menuju Goa Seplawan. Angkotnya sendiri bertipe mobil carry.

Jam Buka Goa Seplawan sekitar pukul 08.00 sampai 16.00 dengan harga tiket Rp 3.000 di weekday dan Rp 4.000 di weekend.




Ini adalah kali ketiga kunjungan saya ke Bojonegoro. Ingatan saya masih begitu membekas ketika tahun lalu saya berkesempatan berkunjung ke kota ini. Kebun Belimbing, minuman sarang walet, batik khas Bojonegoro dan lainnya adalah beberapa ingatan yang belum pudar.

Kini saya akan berkunjung lagi, akankah ingatan tadi akan terulang kembali? Atau malah akan bertambah lebih berwarna-warni?

Perjalanan saya mulai sejak pukul 08.30 di Bandara Juanda Surabaya. Saya tidak naik pesawat ke Bojonegoro kok, namun saya sudah berjanji bersama teman untuk berkumpul di sana dan berangkat bersama-sama.

Sebuah mobil dari hotel menjemput kami berempat, Kak Tracy, Kak Leo dan Ko Sinyo. Perjalanan selanjutnya yaitu menuju Bojonegoro yang akan menempuh waktu sekitar dua hingga tiga jam.

Sepanjang perjalanan mobil melaju lancar dengan supir handal yang membawa kami berempat tiba di kota kawasan Blok Cepu ini.

Setiba di Bojonegoro, mobil langsung menurunkan kami di lobby hotel.

Sebuah pemandangan berbeda dari biasanya nampak di depan kami. Dari jauh terlihat sebuah mobil PMI terparkir rapi di halaman hotel. Olala, ternyata hotel ini sedang melakukan kegiatan donor darah.

Sambil menyambut kami, salah satu karyawan hotel memperkenalkan diri dan menawarkan donor darah, wah sayang sekali kondisi kami semua sepertinya tidak masuk kriteria pendonor. “Lain kali saja pak,” ucap salah satu dari kami.

Setelah saling berkenalan kami masuk dan berisitirahat sejenak di lobby hotel yang berwarna-warni. Sambil menyeruput welcome drink kami melanjutkan mengobrol santai. Suasana sejuk dengan angin sepoi-sepoi yang menerobos hingga ke dalam lobby membuat perlahan rasa kantuk datang.

Lobby Hotel


Seorang petugas kemudian menyapa kami dan mengantar ke kamar. Wah kebetulan sekali waktunya pas ketika ingin segera beristirahat dan seorang petugas datang dan segera mengantar ke kamar.

Melewati sebuah lift dengan view kaca tembus pandang yang menghadap kolam renang, tiba-tiba ingin rasanya menceburkan diri. Ah ya, mungkin besok saja, masih ada waktu, jangan sekarang.
Saya dan kak TC menempati kamar yang sama yaitu 205 yang bertipe deluxe.

Setelah membuka pintu, hawa kantuk tiba-tiba menyeruak, rasanya ingin segera tidur melihat dua kasur yang ada. Segera saya turunkan tas dari bahu saya dan menuju ke tempat tidur.



Paling suka dengan selimutnya, selain motif batik yang tradisional banget selimutnya juga hangat sekali


Namun ada yang unik di sini, ada sebuah bunga putih yang tertata rapi di atas tempat tidur. Oh ternyata ini sebuah handuk yang diatur sedemikian rupa menyerupai bentuk-bentuk unik. Saya kemudian menemukan bentuk lainnya di kamar lain karena ternyata tiap kamar memiliki bentuk yang berbeda-beda. Kreatif sekali kreasinya!


Merak

Kodok



Saya kemudian menengok keluar, lagi-lagi keinginan menceburkan diri hinggap di hati melihat kolam renang yang berair biru dan memiliki bentuk kolam yang unik yaitu berbentuk seperti gitar. Rasanya ingin segera terjun saja dari lantai dua ke kolam haha.

Mengintip dari dalam kamar



Beberapa bagian kamar lain saya jelajahi. Sebuah kursi dengan penerangan lampu baca dan meja adalah salah satu bagian favorit saya salah satu alasannya adalah saya bisa duduk sambil berlaptop ria di sana, apalagi dengan sambungan wifi di kamar, tak perlulah pusing dengan koneksi internet.



Tak berapa lama kemudian saya dipanggil oleh teman saya untuk turun dan makan siang dan tanpa ba-bi-bu saya dan kak TC segera turun menuju De Colour Resto. Ternyata di sana sudah tersedia beberapa makanan yang telah dipesan sebelumnya.

Sebuah kiriman dibagikan oleh Imama Lavi Insani (@imalavins) pada

Nasi Goreng Bakar, nyess bangett





Keesokan harinya, ada sedikit keramaian di Hotel Dewarna ini. Ternyata, sedang diadakan pameran umrah di salah satu ruangan di hotel ini, yang pasti memang sangat sesuai bagi mereka mengadakan pameran karena ditunjang oleh berbagai fasilitas yang tersedia seperti ballroom yang berkapasitas 700 orang dan meeting room yaitu Jasmine dan Rose yang disertai peralatan pelengkap seperti sound, layar lcd, dan lainnya.

Ballroom

Meeting Room

Ada sekat yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan


Kembali lagi ke kamar, di Hotel Dewarna ini tersedia berbagai macam kamar sesuai dengan kebutuhan tamu diantaranya standart, superior, moderate, deluxe, deluxe pool access, junior suite, dan suite. Harga dimulai dari Rp 275.000 untuk standart hingga Rp 1.000.000 untuk suite room.

Dua orang teman saya memilih deluxe pool access yang memiliki akses langsung ke kolam renang.


Wuih kalau saya di sana mungkin langsung saja menceburkan diri di kolam renang, lah tinggal buka pintu kamar belakang langsung ke kolam haha.

Fasilitas lainnya yang ditawarkan hotel ini ialah layanan serba 24 jam seperti  24 jam keamanan, 24 jam layanan loundry, dan 24 jam layanan kamar.

Batik yang dijual di lobby
Lahan parkir yang luas

Gym di hotel

Semua fasilitas terasa begitu lengkap ditambah dengan akses lokasi hotel yang strategis karena dekat dengan pusat perbelanjaan dan wahana permainan Go Fun. Pihak hotel pun memberikan layanan mobil yang dapat digunakan untuk berkeliling sekitar kota. Menyenangkan bukan? Dengan Hotel Dewarna membuat kenangan saya akan kota Bojonegoro makin berwarna :D






Jadi..di Jumat pagi ini saya mau bercerita sedikit tentang sesuatu hal yang menjadi kebutuhan pokok manusia. Jadi dia adalah....pakaian.

Ngomong-ngomong soal pakaian, saya ini bukan tergolong orang yang fashionable, fashionista, fashion holic dan teman-temannya. Saya ini cuma seorang imama yang kalau memakai pakaian tergolong cuek dan seenaknya karena hal terpenting ketika saya memilih pakaian adalah kenyamanan. Kalau pakaiannya bagus nan lucu namun tak merasa nyaman ketika memakainya, untuk apahh?Haha...

Jadi topik pakaian di sini saya fokuskan pada pakaian yang sering saya kenakan ketika melakukan hobi saya, yaitu jalan-jalan.

Biasanya kalau jalan-jalan, saya lebih memilih beberapa persyaratan wajib berikut ini:
1.Bahan Kaos
2.Gak ribet pakainya (gak mungkin dong pakai baju kebaya pas jalan-jalan)
3. Praktis
4. Gak gampang kusut karena biasanya saya gulung gitu kan di dalam tas.

Nah beberapa waktu terakhir ini saya lagi suka banget pakai rok, entah kenapa. Jadi pas jalan-jalan pun saya seringnya pakai rok juga. Dan entah kenapa ya pas saya pakai rok, ada beberapa cerita menarik.

Jadi saya mau cerita dikit pas saya berkunjung ke salah satu  kota di Jawa Timur kemarin. Pagi-pagi setelah berkumpul di lobby hotel dan bersiap untuk berjalan-jalan saya tak merasa ada yang janggal atau aneh terjadi. Waktu itu saya memakai atasan kaos, bawahan rok, dan sepatu jalan-jalan yang biasanya saya pakai.

Singkat cerita, dua destinasi  telah saya kunjungi dan akan mengunjungi destinasi terakhir yaitu air terjun yang konon masih begitu sangat tersembunyi karena masyarakat masih banyak belum mengetahui. Nah di situ saya belum timbul kecurigaan akan jalan yang akan saya lewati nanti.

Hingga akhirnya..

Saya harus melewati jalanan yang super duper licin dan berlumpur. Saya yang waktu itu memakai rok tiba-tiba ingat sepertinya saya salah kostum, harusnya saya memakai pakaian yang lebih sesuai dengan medan perjalanan.

Tidak seharusnya saya menjadikan itu sebagai penghalang sih yaa tapi seharusnya saya lebih bersiap diri lagi dengan segala kemungkinan medan jalan. Seharusnya saya membawa ganti celana panjang karena sebetulnya jalanan yang berlumpur dan super duper licin tersebut adalah jalanan alternatif yang saya lewati karena seharusnya saya melewati jalan A namun seorang teman saya berkata,”Wah ini Imama nggak bisa lewat sini, kita lewat jalan yang lain aja ya, masih ada jalan lainnya kok.”

Nyess saya terharu, meleleh dengan teman – teman perjalanan saya yang lainnya yang begitu perhatian dan peduli dengan saya : ((

Dan di jalanan alternatif yang saya lewati, karena jalanan begitu licin dan berlumpur terhitung entah dua atau tiga kali saya terguling dan terpeleset : ((

Karena saya nggak enak sama teman saya dan dasarnya saya gak mau manja ketika terpeleset saya langsung bangun dan malah ketawa-ketawa, temen saya yang lain ngetawain saya juga sih, jadinya rasa gak enak yang harusnya gak lewat jalan utama terkikis sudah jadi canda tawa #eaah haha

Setelah trekking tiga puluh menit di jalanan yang begitu berliku akhirnya saya selamat tiba di air terjunnya, Alhamdulillah!




Ada satu lagi pengalaman menarik yang saya alami.

Saat saya memakai rok ini teman perjalanan saya yang notabene adalah lawan jenis, ia menjadi lebih respect (menurut saya), padahal dulu pernah bertemu ya biasa saja haha.

Jadi begini..

Kondisi air terjun yang begitu licin membuat kami harus berhati-hati ketika melangkah di bebatuan. Dan saat saya harus berpapasan dengan teman saya yang lawan jenis tadi, kami berdua harus berpegangan atau saling memiliki pegangan. Nah waktu itu teman saya kondisinya ndak punya pegangan karena jauh dari pohon dan pegangan lain. Saya langsung reflek menawarkan tangan agar teman saya bisa berpindah tempat dan tidak tergelincir kann? Eh taunya teman saya malah bilang.

“Permisi ya Imama...” (sambil berpegang pada tangan saya)

Sebelumnya ndak pernah teman saya seperti itu baru kali ini aja. Saya dengernya jadi merasa dihargai sebagai seorang wanita #ceilah haha.

Saya belum bertanya sih sama teman saya kenapa dia kok jadi seperti itu padahal sebelum-sebelumnya biasa saja. Apa mungkin karena dia benar-benar dasarnya menghargai wanita? Atau karena perubahan pakaian yang saya kenakan? Atau ada alasan lain ? Hmm..daripada menerka-nerka mending saya tanyakan saja nanti kalau saya bertemu lagi di bulan Juni. Semoga rencana jalan-jalan barengnya bisa terwujud, aamiin!

Nah itu tadi cerita tentang pakaian yang saya pakai ketika berjalan-jalan dan pengalaman menarik selama memakainya. Hal yang harus saya perhatikan adalah saya harus menyiapkan dengan baik pakaian yang saya kenakan kalau bisa membawa cadangan untuk mengantisipasi case-case terburuk yang mungkin akan terjadi meskipun prediksi dan menurut kita case tersebut tidaklah mungkin terjadi namun ketika di lapangan, siapa yang tahu kan? Mending sudah bersiap sebelumnya.

Bagaimana cerita kejutan dari pakaian yang saya kenakan ini, kamu pernah mendapatkan pengalaman menarik dengan pakaianmu? Boleh tulis di kolom komentar yaaa :D 


Gambar Sampul: www.pexels.com





Mata saya menatap cemas ke arah depan, sesekali menelan ludah dan merapal doa, tangan kanan saya berpegang pada dashboard mobil, dengan satu hentakan rem yang cukup keras mobil yang saya naiki berhasil melewati genangan lumpur yang masih basah.

Kejadian tersebut terjadi berulang-ulang saat perjalanan saya menuju Desa Keduwung bersama dengan VES Community yang bekerja sama dengan salah satu komunitas yang saya ikuti.

Awalnya saya tak terlalu mengenal komunitas tersebut hanya mendengar sedikit saja keterangan dari teman saya. Saya pun tak terlalu memkirkan siapakah VES Community hingga saat memasuki Kabupaten Pasuruan saya harus berganti mobil karena medan yang tak memungkinkan menaiki mobil small mpv lagi.

Saya sempat berganti mobil dua kali dan akhirnya mobil berwarna putih miliki Om Martin yang menjadi teman perjalanan saya kali ini.

Perjalanan kami dimulai saat meninggalkan area GOR di Pasuruan. Perlahan dalam satu baris, mobil VES yang merupakan singkatan dari Vitara, Escudo dan Sidekick mulai bergerak.

Kali ini mobil Om Martin bergerak di barisan mobil paling belakang atau istilahnya sebagai Sweeper. Di sinilah salah satu pengalaman baru saya dimulai.

Sweeper kali ini sangat berbeda dengan Sweeper yang saya ketahui sebelumnya sebagai pengacau petulangan Dora. Malah sebaliknya tugas Sweeper menurut saya cukup berat karena harus memantau rombongan dari belakang, menemani anggota apabila terjadi masalah, serta berkabar apabila terdapat kendaraan lain yang ingin mendahuli rombongan. Tugas tersebut adalah hasil Googling saya dan memang selama perjalanan saya mengalami itu semua.

Selain pengalaman baru menjadi seorang Sweeper ada satu hal lain yang menarik selama perjalanan yaitu adanya radio yang berfungsi untuk media komunikasi antar mobil karena tidak mungkin menggunakan sambungan telepon ataupun chat untuk saling berkabar tentang keadaan mobil dan jalan yang dilewati. Radio tersebut pun menjadi penghibur di tengah perjalanan yang sepi karena pada saat itu hari sudah mulai larut. Kelakar yang dikeluarkan oleh driver mobil lain membuat saya tertawa terbahak. Kalau perjalanan diselingi candaan seperti ini meskipun jaraknya jauh pun akan terasa terus menyenangkan.

Rombongan mobil kami mulai memasuki area pegunungan. Suasana menjadi lebih sepi. Lampu – lampu jalan mulai meredup. Rumah – rumah warga mulai menghilang dan pemandangan mulai berubah menjadi hutan. Lampu penerangan sepenuhnya dari lampu mobil.

Saya mulai memejamkan mata karena beberapa jam lagi kegiatan akan dimulai dan saya harus menyiapkan stamina dan tenaga ekstra karena seharian penuh saya harus mengurusi kegiatan tersebut. Namun harapan saya untuk beristirahat pupus, saya tak memejam sedikitpun. Rasa kantuk tak kunjung datang. Teman saya yang lain, Fidha, sudah larut di dalam hutan kapuk. Akhirnya saya memilih menikmati perjalanan sambil mengobrol dengan Om Martin.

Saya yang begitu penasaran karena belum mengetahui secara jelas apa itu VES dan kegiatannya akhirnya mulai sedikit mengerti dan paham bagaimana komunitas tersebut hidup di tengah hingar bingar komunitas – komunitas mobil yang lain.

“Komunitas VES ini santai, tidak ada iuran rutin, kalau ada yang ingin gabung ya silahkan langsung,” kata Om Martin menjelaskan kepada saya sambil sesekali menjawab obrolan yang ada di radio.
Jalanan yang saya lewati makin gelap. Saya mulai membuka jendela dan merasakan udara dingin pegunungan.

Saat di tengah kegelapan tersebut saya mulai sadar pentingnya alat komunikasi radio. Dari mobil lain melewati radio tersebut mengabarkan keadaan jalan yang dilalui seperti jalan menukik tajam, ada jembatan, belokan curam, atau harus berjalan satu persatu atau saat tiba – tiba berhenti karena ada penumpang yang mual.

Akhirnya rombongan kami sampai di desa terakhir sebelum perjalanan kami dimulai kembali. Di sini kami beristirahat di mobil masing-masing sambil menunggu matahari mulai terbit karena terlalu bahaya apabila memaksakan naik saat malam hari. Desa tersebut adalah salah satu dari tiga dusun Kedawung.

Sekitar 2 jam kemudian perjalanan kembali dimulai dan mobil Om Martin tetap sebagai Sweeper. Di sinilah perjalanan yang sesungguhnya dimulai *sambil mendengarkan backsound mtma*

Pertama kali rombongan mobil harus melewati sebuah jalan berpaving. Tiap mobil harus mengambil ancang-ancang yang pas kalau tidak akan terjadi seperti yang mobil depan saya alami. Karena ancang – ancang yang kurang pas akhirnya mobil tidak kuat untuk menanjak naik. Om Martin lewat radionya menyuruh mobil di depan saya mundur untuk mengambil ancang-ancang. Dan benar saja ketika mobil sudah turun di tempat yang lebih landai kemudian mobil menancapkan gas kuat – kuat untuk dapat naik.

Kemudian kali ini giliran mobil Om Martin yang mulai merangkak naik. Namun ada sedikit kendala karena mobil tidak dapat bergerak walaupun sudah di gas. Akhirnya mobil pun mundur untuk mengambil ancang-ancang namun ternyata mobil tidak dapat bergerak naik malah bergerak mundur. 

Om Martin tetap berusaha menancap gas namun hasilnya nihil. Dengan tangan kiri mengabarkan keadaan mobil yang belum bisa naik melalui radio tiba – tiba mobil yang bergerak mundur berada  seperti diluar kendali dan akhirnya “Brak!” mobil yang saya naiki menabrak dinding pagar rumah warga. Mobil Om Martin terperosok tak dapat bergerak. Kami pun turun dan melihat apa yang terjadi.


Warga sekitar yang melihat kami akhirnya membantu dengan menggoyangkan mobil sambil di gas oleh Om Martin. Deru mesin terdengar keras dan setelah beberapa kali usaha akhirnya mobil berhasil kembali ke jalan utama dan merangkak naik.

Saya yang cukup was – was melihat kejadian tadi mengajak tiga teman saya yang lain untuk segera naik menuju mobil yang sudah menunggu di atas.

“Itu tadi gara-gara ban mobilnya dan paving yang licin..” ujar Om Martin.

Perjalanan kami mulai kembali. Beberapa menit kemudian ada mobil lain yang berhenti. Teman saya yang berada di mobil tersebut berkata bahwa medan jalan cukup parah. Lumpur dan air yang menggenang menjadi salah satu tantangan.

Akhirnya kami harus bersabar menungu mobil lain naik ke atas satu persatu.

Kesabaran kami berbuah manis. Setelah melewati beberapa tikungan tajam dengan medan jalan yang berlumpur kami sampai di Desa Keduwung.

Barisan mobil VES yang berjajar rapi menarik perhatian penduduk setempat.



Mungkin di batin mereka mengatakan Siapa gerangan yang datang pagi-pagi betul begini. Tak hanya satu mobil lagi...

Anjing-anjing kampung pun ikut menyalak seolah mengucap salam selamat datang pada kami.

Penduduk Suku Tengger Desa Keduwung



----
Pulang

Perjalanan pulang dimulai lebih pagi. Kami sudah bersiap pukul 07.30 untuk turun kembali ke rumah. Salah satu anggota VES mengatakan bahwa sebaiknya jam pulang dimulai lebih pagi pasalnya cuaca yang sedang tidak menentu menjadi salah satu alasan utama.

Tidak terbayang bagaimana kami akan melewati jalan yang dilalui sehari sebelumnya dengan keadaan hujan. Itulah yang ditakutkan.

Setelah pamit dan mengucap perpisahan kami pun menaiki mobil. Dan saya kembali menaiki mobil putih Om Martin bersama dengan Kak Hanif dan Emil ditambah dengan kepala sekolah SD yang juga turut serta di mobil.

Perlahan kami meninggalkan Desa Keduwung.

Tak berapa lama kami meninggalkan Desa Keduwung, matahari mulai tertutupi awan tebal.

Wah bahaya nih kalau di jalan dan kehujanan sambil mengingat-ingat medan jalan ketika berangkat, batin saya.

Om Martin tetap fokus menyetir mobil sambil sesekali berbicara pada radio HT dengan mobil lain mengabarkan keadaan jalan yang mulai berkabut dan jarak pandang yang begitu minim.

Saya ngeri-ngeri sedap melihat medan jalan yang dilalui. Apabila di lagu naik-naik ke puncak gunung liriknya berbunyi kiri-kanan kulihat saja, banyak pohon cemara maka kini berganti
kiri-kanan kulihat saja banyak jurang terbuka ~

Kiri-kanan kulihat saja banyak jurang terbuka ~ 




Berjalan diapit jurang dengan jarak pandang yang begitu minim karena kabut yang turun menjadikan perjalanan ini adalah salah satu perjalanan paling tidak akan saya lupakan dan menjadi perjalanan yang cukup menantang di tahun 2016.

Beruntung saat itu perjalanan berjalan lancar tidak ada lagi mobil yang selip atau mengalami hambatan.

Menjadi sweeper adalah hal menarik dan baru bagi saya dan kesabaran adalah salah satu kunci menjadi sweeper yang baik. Bagaimana dengan sabar membantu teman atau mobil lain yang sedang mengalami masalah, bagaimana menurunkan ego mendahulukan orang lain daripada kita, serta yang paling penting ialah selalu memantau dan berkabar perihal keadaan apapun yang sedang terjadi karena sweeper berada di paling belakang sehingga ia menjadi istilahnya penutup bagi rombongan yang sedang berjalan.

Saya begitu senang dan ingin sekali mengulangi pengalaman ini dan apabila diberi kesempatan kolaborasi dengan komunitas saya lagi, yuk mari :D

Dari kiri-kanan : Om Martin, Saya, Kak Hanif, Emil, dan Fidha



Seperti mahasiswa lain, saya juga pernah mengalami masa-masa di mana saya ingin bepergian di tengah deadline tugas dan tugas akhir yang sudah makin dekat di pelupuk mata. Rasanya dikejar-kejar deadline belum lagi harus bimbingan ke dosen membuat saya merasa ingin sedikit menghela nafas sejenak.

Saya pun akhirnya mengutarakan keinginan tersebut ke seorang teman dan ia pun memiliki perasaan yang sama dengan saya.

Akhirnya pada hari Jumat, 14 Oktober 2016 saya dan seorang teman memutuskan untuk melepas penat ke Kota Malang.

Tak ada tujuan khusus ketika kami memutuskan akan pergi ke Malang. Saya sendiri ingin berkunjung ke salah satu kedai makanan yang berada di Jalan A.Dahlan.

Kedai ini bernama Hok Lay. Saya membaca review dari salah satu food blogger dan memutuskan untuk mengunjunginya. Selain foto yang selalu ciamik di blognya, deskripsi rasa dan sajian istimewa di Hok Lay menjadi magnet tersendiri bagi saya.

Salah satu menu yang ingin sekali saya coba ialah Fosco. Dikatakan di beberapa tulisan bahwa minuman ini tergolong unik salah satunya adalah wadahnya berupa botol minuman soda tersohor di penjuru dunia.

Setelah menunggu sekitar 15 menit di stasiun saya dijemput oleh teman SD saya yang tinggal di Malang dan kami bertiga langsung menuju Hok Lay.

Perjalanan menuju Hok Lay berjalan lancar. Tak seperti kota tempat saya tinggal, Malang ternyata cukup lengang hari itu. Setelah melewati alun-alun kota, kemudian beberapa meter belok kiri dan tinggal lurus saja.

Kami bertiga disambut dengan sebuah bangunan berwarna putih tua dengan dua motor di depannya.
Dari luar kedai terlihat tak ada keramaian dan hiruk pikuk lalu lalang manusia di dalamnya. Ketika masuk tak ada penyambutan istimewa. Dua pramusaji nampak sibuk dengan pekerjaan mereka di dekat meja kasir.

Kami bertiga memutuskan untuk duduk di depan seorang lelaki tua yang sedang membaca koran. Nampaknya ia sama sekali tidak terganggu dengan kedatangan kami. Ia masih terpaku dengan tulisan-tulisan hasil liputan wartawan.

Setelah kami duduk barulah seorang pramusaji memberikan daftar menu.

Aneka sajian tertulis beserta harganya.

Kedua teman saya nampak mencari-cari menu apa yang akan dipesan. Lalu saya memberikan saran bahwa Fosco adalah salah satu yang menarik di sini. Tanpa pikir panjang mereka berdua pun setuju dengan saya yang sudah menetapkan hati memilih Fosco sebagai hidangan utama. Namun tunggu..

Lunpia Semarang, Bakmi, juga patut dicoba karena konon rasanya juga istimewa.

Akhirnya tiga bakmi dan tiga Fosco kami pesan.

Sambil menunggu pesanan saya melihat sekeliling.

Nampak Depan, saya fotonya miring :(

Bangku pengunjung





Hok Lay berdiri di Jalan A.Dahlan, Kota Malang. Tempatnya tak terlalu mencolok dan cenderung terlihat seperti bangunan yang sudah tua. Hal tersebut diperkuat dengan pernyataan teman saya bahwa kakeknya dulu sering makan di sini. Hmm bisa ditebak kedai makanan ini memang sudah berdiri sejak lama.

Lalu beberapa pengunjung mulai datang.

Rata – rata usia mereka hampir sama dengan mbah putri dan kakung saya. Teman saya mengamati pengunjung yang datang dengan perasaan heran. Sampai akhirnya teman saya berucap.
“Ma, sepertinya kita pengunjung paling muda di sini.”

Spontan saya langsung tertawa dan langsung mengarahkan pandangan saya pada pasangan yang sudah tak lagi muda.

Pengunjung tengah menyantap makan


Tiga Fosco dan Tiga Bakmi akhirnya datang.

Asap mengepul membawa aroma bakmi yang langsung membuat kelenjar saliva berproduksi lebih banyak.

“Tunggu tunggu aku mau pinjam Fosco haha.”

Saya meminjam Fosco kedua teman saya untuk mengabadikannya di smartphone.

Fosco yang rasanya nyess banget terbuat dari campuran cokelat dan susu full krim



Aroma harum mi dicampur dengan kuah dan potongan ayam yang telah dirajang kecil menyeruak ke hidung. Rasanya tak kuasa untuk segera melahap mangkuk di depan saya.

Kuah hangat suam-suam kuku saya cicipi pertama kali. Kaldu ayam begitu terasa lezat dan gurih.
Ah, tau begini dari dulu ke sini.




Hok Lay menjadi jawaban perjalanan saya yang tidak bertujuan jelas ke Malang menjadi begitu menyenangkan.

Semangkuk mi, sebotol fosco, dan suasana tenang di tempat makan mampu menenangkan hati saya yang kala itu begitu kalut.

Saya sendiri memberi nilai plus pada tempat makan ini karena jujur saya cukup kesulitan menemukan tempat makan yang sesuai dengan diri saya. Bukan, bukan saya bermaksud egois dengan mencari tempat yang sesuai dengan keinginan saya pribadi namun menjamurnya tempat makan di kota – kota besar maupun kecil malah semakin membuat saya kebingunan memilihnya.

Bingung memilih tempat makan yang benar – benar menjual rasa, keunikan serta kekhasan bukan semata-mata mencari ketenaran di dunia maya.

Hok Lay memang memiliki beberapa akun sosial media, namun tak hanya bersua di dunia maya, kedai ini benar-benar memiliki kekhasan di sajiannya. Selain itu mampu bertahan di waktu yang cukup lama menjadi salah satu bukti kedai ini memiliki tempat tersendiri bagi penikmatnya.

Maka, mulai saat ini saya akan menambahkan kedai makanan ini menjadi salah satu favorit saya : )










ps:dari informasi yang saya dapatkan makanan di sini gak ada campuran pork..