Kak Java dari Go Nias Tour menjelaskan tentang rumah adat Nias sebagai perkenalan awal kami dengan salah satu wilayah di Sumatera Utara ini. Mulai dari bentuk, bahan dasar rumah, hingga ada tes ketahanan rumah adat itu sendiri dijelaskan dengan detail.

Sejak zaman dulu, nenek moyang suku Nias sadar akan kondisi wilayah mereka yang rawan, sehingga mereka mendirikan bangunan yang meminimalisir terjadinya kerugian yang besar. Omo hada inilah yang akhirnya mereka buat untuk menjawab hal tersebut. 

Bentuk umum rumah adat Nias atapnya menjulang tinggi dan terbuat dari rumbia, badannya terbuat dari kayu, dan bentuk bangunannya berbentuk bulat.  

Perkenalan dengan rumah adat nias dimulai dari bahan dasar dan konstruksi rumah yaitu kayu. Penggunaan kayu sebagai material bangunan dan teknik sambungan konstruksi tradisional menggunakan pasak menjadi jawaban dari ketahanan bangunan. Pasak ini digunakan sebagai pengunci konstruksionalnya yang menjadikanya menjadi tahan gempa.

Kayu yang digunakan pun ternyata memiliki sifat “elastis”. Menurut Ya’aro Zebua, seorang pemerhati budaya Nias, "Saat gempa rumah pun turut 'main' (ikut bergerak) sesuai guncangan bumi.” Tetapi diakuinya, gerakan-gerakan itu telah membuat posisi tiang-tiang rumah bergeser, sehingga tampak miring namun tidak begitu parah kerusakannya.

Selanjutnya bangunan rumah adat Nias tidak ditanam di tanah melainkan di atas bebatuan. Bebatuan inilah yang menjadi tumpuan bagi tiang-tiang kayu. Ketika gempa terjadi, tiang tersebut tidak mudah patah karena tiang tersebut mengikuti gaya horizontal gempa. Pengaruh gempa pun juga diredam dengan membuat tiang menyilang sebagai penyangga rumah dan penguat. Tiang yang menyangga ini berbentuk letter X yang disebut “Diwa” dan berfungsi menahan lantai rumah di bagian kolongnya. Selain itu ada gohomo, yaitu kayu-kayu yang tegak lurus menopang dan memagari seluruh kolong rumah.

Rumah tradisional Nias, dalam tulisan Meyers K. dan Watson. P. yang berjudul Legend, Ritual and Architecture on the Ring of Fire (2008), menjelaskan rumah Nias terdiri dari tiang (enomo) dan balok menyilang (ndriwa) yang saling mengait. Balok-balok itu tidak ditancapkan di dalam tanah, tetapi ditumpukan di atas batu besar, sehingga bersifat dinamis menghadapi gaya geser. Semua sambungan kayu menggunakan teknik pasak, alias tanpa paku, sehingga membuat balok-balok kayu dinamis dan tidak patah ketika terjadi gempa. Sebagai bukti, setelah beberapa kali terjadi gempa di Nias, rumah-rumah adat di Nias masih tetap berdiri. 
Tiang kaki Omo Hada yang tidak menempel dengan tanah namun berada di atas batu

Ada yang menarik dari tiang-tiang di Omo Hada ini yang ternyata juga menjadi penanda jumlah babi yang akan dikurbankan. Omo Hada yang saya jumpai memiliki 60 tiang yang berarti ada 60 babi yang dikurbankan. 

Selanjutnya, sebelum Omo Hada jadi terlebih dahulu harus diuji ketahanannya. Untuk uji tahan lantai Omo Hada, sejumlah orang masuk ke dalam dan melakukan aktivitas salah satunya dengan menari. Jika tidak roboh maka Oma Hada baru dapat digunakan. 

Gotong Royong Warga

Umumnya Omo Hada dibangun di bagian puncak bukit. Hal ini memperlihatkan tenaga yang tidak kecil sekaligus tanda akan kuatnya sifat gotong-royong masyarakat sekitar pada zaman dahulu.

Kesenian

Dalam kehidupan di rumah adat Nias kerap dijumpai karya budaya yang menyiratkan citarasa seni tinggi. Motif – motif hias yang ada pada situs-situs di nias termasuk rumah adatnya menunjukkan hubungan yang erat dengan lingkungan. Motif yang dimaksud antara lain flora, fauna dan bulatan. Yang saya jumpai ialah motif bulatan yang mirip dengan Ni’ogama. Bentuk ini merupakan lambang persatuan dan kebulatan hati.


Menurut saya bentuk ukiran kayu di Omo Hada yang berada di tengah-tengah mirip dengan Ni'ogama 

Sejak dahulu rupanya nenek moyang masyarakat Nias sudah sadar dan tanggap dengan bencana dibuktikan dengan Omo Hada yang memiliki berbagai filosofi dan makna di tiap bagian bangunannya. Sejenak saya berfikir kalau saja hal serupa diterapkan kembali di masyarakat tentu kerugian besar dapat dikurangi mengingat akhir-akhir ini banyak terjadi bencana yang menimpa negeri ini. Namun hal tersebut tentulah harus dilakukan riset dan kajian kembali yang mendalam.







Sumber informasi:

Lucas Partanda Koestoro & Ketut Wiradnyana, Tradisi Megalitik di Pulau Nias, Balai Arkeologi Medan, 2007.

http://perkumpulanskala.net/index.php/en/culture/164-rumah-ramah-bencana-di-nias diakses pada 25 November 2018.



Suara cekikian khas anak memenuhi ruang workshop Batik Tulis Kebon Indah, Desa Kebon, Kecamatan Bayat, Kabupaten Klaten. Mereka berasal dari SD Tumbuh 3 Yogyakarta kelas 1 sampai 3 yang hari itu datang untuk belajar membuat batik dan gerabah dengan didampingi guru sekolah mereka.

Sebelum acara dimulai fasilitator sudah bersiap untuk memberikan materi kepada anak-anak ini. Fasilitatornya adalah pemuda di Kecamatan Bayat yang menjadi bagian dari program pemberdayaan ekonomi di sekitar situs warisan dunia kerjasama antara UNESCO dan CITI Foundation. Jumlah penerima manfaat program pemberdayaan tersebut ada 17 orang yang kebanyakan penerimanya dari sektor kerajinan gerabah dan batik. Rata-rata pemuda ini berstatus mahasiswa perguruan tinggi di Yogyakarta. Seorang dari mereka yang berfokus pada batik mengaku masih menjadi mahasiswa di ISI jurusan Kriya. 

Ketika acara dimulai, anak-anak SD Tumbuh 3 dibagi menjadi dua kelompok, batik dan gerabah. Masing-masing kelompok kerajinan ini sudah ada fasilitator yang siap untuk memberikan materi kepada anak-anak. Selama penjelasan materi oleh fasilitator mereka tertib dan mendengarkan dengan seksama serta sesekali bertanya.

Setelah penjelasan selesai, selanjutnya adalah hal yang paling ditunggu oleh anak-anak yaitu praktek langsung membuat kerajinan. 

Di hadapan anak-anak yang memilih kelompok batik sudah tersedia bahan-bahan yang diperlukan yaitu selembar kain batik yang di atasnya sudah ada bahan-bahan untuk dicetak di kain seperti bunga sepatu dan dedaunan. Selanjutnya anak-anak diberi kebebasan untuk menata sendiri pola daun dan bunga yang akan dicetak dengan catatan mereka harus menatanya di setengah kain saja tidak keseluruhan. Setelah proses penataan daun dan bunga selesai kali ini proses yang paling seru akan dimulai. Anak-anak diberi alat pukul seperti kayu dan palu untuk “memukuli” masing-masing kain mereka yang terlebih dahulu dilapisi dengan plastik. Proses pemukulan ini makin membuat suasana kian semarak, anak-anak begitu semangat mengerahkan tenaga mereka agar daun dan bunganya tercetak dengan baik di kainnya. Tak sedikit yang mengeluh lelah tapi hal itu berlangsung sebentar saja selanjutnya ya mereka kembali memukuli kainnya.

Pengarahan oleh fasilitator

Kain dan Bahan untuk Eco Printing

Proses "pemukulan"

Pengelupasan daun dari kain

Hasil karya eco-printing Siswa SD Tumbuh

Kain yang sudah dipukuli tadi lalu dijemur untuk mengeringkan pola daun dan bunga. Setelah itu kemudian dibilas dua kali dengan air tawas dan air tawar biasa. Proses terakhir ialah menjemur kain yang sudah dibilas dengan air dan kain pun siap digunakan.

Proses pembilasan dengan air

Penjemuran kain

Keceriaan nampak pula di wajah anak-anak yang tergabung di kelompok gerabah. Apalagi pola cetakan untuk gerabah yang mereka gunakan bentuknya unik-unik ada cicak, buaya, ayam, gajah, bunga, dan masih banyak lagi. Selain membuat gerabah dengan bentuk yang unik mereka juga diajari untuk menghias gerabah berbentuk kuali kecil. Menurut saya aktivitas ini benar-benar mengasah kreativitas mereka karena tidak ada keharusan harus menghias dengan pakem tertentu. Mereka bebas bereksperimen dengan imajinasi mereka, ada yang menghias dengan pola bunga dan polkadot serta yang paling unik ada yang menghias mulut kuali dengan aneka bentuk. Sungguh kreatif!


Membuat gerabah dengan tanah liat


Fasilitator dari pemuda Bayat membantu anak-anak SD Tumbuh membuat gerabah

ini cicak atau buaya hayo?

Kuali kecil sedang dihias oleh adik-adik SD Tumbuh

Hasil karya kelompok gerabah

Selama acara berlangsung anak-anak SD ini begitu antusias dan aktif. Tidak sedikit dari mereka yang selalu mengancungkan tangan berusaha menjawab pertanyaan yang dilontarkan oleh fasilitator. Benar salah urusan belakangan yang penting maju dan mereka bisa mengutarakan ide di otak. Salah seorang dari mereka, Noah, merengek di dekat saya ingin ditunjuk dan maju.

“Aku mau maju .”

“Ya udah angkat tangan.”

Gak ditunjuk dari tadi .”

Meskipun akhirnya ketika ia ditunjuk dan jawabannya kurang tepat ia masih nampak sumringah dan berusaha menjawab lagi. Kudos! Jangan malu dan takut untuk mengutarakan pendapat kalian ya dek.
Selain keberanian, anak-anak ini pun tidak jarang melontarkan pertanyaan-pertanyaan yang susah betul jawabannya. Salah satunya adalah:

”Siapa yang membuat batik pertama kali?”

Fasilitator yang menjelaskan bahan-bahan dan pembuatan batik pun terdiam mendengar pertanyaannya hahaha. Saya sendiri pun pasti ya kaget mendapat pertanyaan tersebut. Mereka ini masih kecil-kecil tapi kreatif dan kritisnya minta ampun. 

Mendung dan gerimis yang datang, tepat saat kegiatan ini akan berakhir. Kegiatan hari ini pun ditutup dengan berfoto bersama semua fasilitator, perwakilan UNESCO, guru, dan anak-anak SD Tumbuh tentunya. Rencananya kegiatan seperti ini akan diadakan rutin satu bulan sekali, saya dibuat penasaran bagaimana keceriaan dan keseruan selanjutnya di Bayat bersama pemuda-pemudinya.

Sesi foto bersama yang....gagal tapi lucuu hahaha

Sesi diskusi dan sharing bersama perwakilan unesco dan pemuda Bayat


Lurik, Batik Teknik Eco-Printing, dll

Batik Tulis Kebon Indah karya warga sekitar





Ya'ahowu..

Setelah berjalan sekitar lima menit dari gapura pintu masuk situs megalitik, saya harus menaiki tanjakan kecil. Tanjakan tersebut membawa ke sebuah tempat datar yang sudah berdiri sebuah rumah berbentuk oval dan di sampingnya terdapat jajaran batu yang tertata rapi.

Akhirnya saya mengetahui bahwa rumah tersebut bernama Oma Hada, rumah adat Nias yang berbentuk oval dengan kaki-kaki rumah yang terbuat dari kayu.

Saya berjalan lurus menuju jajaran batu di samping Oma Hada dan melihat ada batu yang mirip dengan sebuah patung berukuran paling besar dan terletak menjauhi batu lain menarik perhatian.

Patung batu terbesar tersebut digambarkan dalam posisi duduk dengan kedua tangan di dada memegang sebuah wadah. Dagu berjanggut panjang, dan pada lehernya terdapat kalabubu (kalung). Tinggi patung sekiar 3 m. Patung digambarkan memakai penutup kepala dengan hiasan runcing melingkari seluruh kepala, muka persegi, mata kecil, hidung mancung,dan  jenggot sebagian sudah rusak. Telinga kanan beranting-anting bentuk lingkaran dan leher dihiasi kalabubu (kalung). Tangan kanan memakai gelang dan keris terselip di pinggang. Di depan patung tersebut terdapat batu datar yang mungkin digunakan sebagai altar.

Di sisi kiri patung terbesar ini terdapat prasasti berbentuk empat persegi panjang dengan menggunakan huruf latin berbahasa Nias. Terdapat angka tahun 1778 yang tertulis di prasasti tersebut. Wow 240 tahun umur patung ini ternyata!

Ini adalah pertama kalinya saya melihat batu megalitik terukir sangat detail dan menarik. Sebelumnya pengalaman saya melihat ukiran indah di batu ialah saat berada di candi-candi yang berada di Pulau Jawa yang notabene memiliki perbedaan kepercayaan dengan masyarakat Nias karena bentuk ukiran di batu yang ada di candi-candi Pulau Jawa tersebut sudah bercorak Hindu maupun Buddha. Sisi paling menarik yaitu digunakannya batu yang berukuran sangat besar (saya harus mendongak ketika melihat batu megalitik terbesar di Hili Gowe ini) serta ukiran detail seperti keris dan sebuah wadah yang dibawa di tangan batu megalitik.

Saya harus mendongak ketika ingin melihat kepala megalitik terbesar di Hili Gowe ini
Prasasti yang menuliskan angka 1778

Dulu, masyarakat Nias hidup dalam struktur budaya dan hukum yang tinggi.

Hukum adat Nias secara umum disebut fondrakö yang mengatur segala segi kehidupan mulai dari kelahiran sampai kematian. Beberapa hal yang ditentukan dan diatur dalam fondrakö mencakup aspek-aspek fondu (kepercayaan atau agama); fangaso (perekonomian), hao-hao atau ele-ele (kebudayaan); forara hao fowanua (hak dan kewajiban); serta böwö (adat dalam pernikahan).  Salah satu bentuk nyata hukum adat tersebut adalah masyarakat Nias kuno yang hidup dalam budaya megalitik, dibuktikan oleh peninggalan sejarah berupa ukiran pada batu-batu besar yang masih ditemukan di wilayah pedalaman pulau Nias sampai sekarang. Dalam aspek fondu (kepercayaan atau agama) para leluhur Nias kuno menganut kepercayaan animisme murni.

“Kepercayaan animisme adalah kepercayaan kepada roh yang mendiami semua benda (pohon, batu, sungai, gunung, dsb).” 

Peninggalan sejarah berupa batu megalitik memiliki dua fungsi, yaitu fungsi megalit yang utama berorientasi sebagai tanda peringatan bagi laki-laki atau perempuan yang muncul sebagai daro-daro atau naitaro, dan fungsi yang kedua yang lebih menjurus pada kepercayaan terhadap megalit yang memberikan perlindungan, keselamatan dan kesejahteraan yang memiliki kekuatan di luar kemampuan pikiran manusia (supranatural).

Ada satu falsafah yang menarik perhatian saya terkait dengan budaya masyarakat dan batu megalitik yaitu:

“zatua bano fangali lowalangi ba gulidanö”

yang memiliki makna orangtua merupakan pribadi yang harus dihormati bahkan sampai kematiannya, sehingga muncul sebuah falsafah hidup masyarakat Nias yang mensejajarkan orangtua dengan Tuhan, maka sudah menjadi suatu keharusan bagi sebagian masyarakat Nias kuno untuk mendewakan orangtua yang telah meninggal dengan membuat patung atau megalit yang menyerupai orang tua yang telah meninggal (adu zatua) dan menjadikannya sesembahan yang dipercaya dapat memberikan perlindungan dari berbagai macam malapetaka.

Bagi saya falsafah tersebut sangat dalam maknanya. Bagaimana harus bersikap kepada kedua orang tua meski mereka tidak lagi bersama kita. Sekaligus sebuah pengingat sekali ini bagi saya yang kebetulan saat ini sedang tinggal jauh dari orang tua. Maka saya harus terus ingat dan tetap hormat kepada mereka meski jarak memisahkan raga :(

Patung Megalitik di sisi lain Oma Hada


Patung Megalitik di sisi lain Oma Hada




...


Untuk menuju situs megalitik ini Anda dapat menggunakan jasa tur / travel dari Bandar Udara Binaka di Gunung Sitoli. Salah satu travel yang dapat Anda gunakan ialah Go Nias Tour : 081370163576

Berikut ini peta lokasinya, karena saya tidak dapat menemukannya di peta maka saya sematkan Kecamatan Mandrehe : 






Tulisan ini dibuat dalam rangka Famtrip yang diselenggarakan oleh Dinas Pariwisata Nias Barat pada 27-29 Oktober 2018.

Sumber informasi tulisan:

Lucas Partanda Koestoro & Ketut Wiradnyana, Tradisi Megalitik di Pulau Nias, Balai Arkeologi Medan, 2007.
.





Saat berbelok di salah satu gang di Desa Pundong, Bantul, Mbak Yuli menghentikan motornya dan mulai menelepon seseorang. 

“Ini benar polsek...?”

Saya dan Gista reflek saling menoleh.

“Kita mau cari makan bukan cari masalah kan ini Gis, kenapa Mbak Yuli menelepon polsek?”

Ternyata temannya yang bekerja di salah satu Polsek di Bantul lah yang merekomendasikan Miedes Bu Yanti ini dan Mbak Yuli hendak mencari lokasi tepatnya karena agak lupa. Telepon akhirnya diangkat oleh temannya dan yang terdengar adalah diskusi ancer-ancer lokasi Miedes.

Setelah Mbak Yuli menutup telepon kami menyalakan motor dan saya sudah siap membuntuti Mbak Yuli dari belakang. Benar-benar warga Bantul nyel karena hafal betul lokasi dari masing-masing tempat yang akan kami kunjungi salah satunya Miedes Bu Yanti ini. 

Miedes Bu Yanti ternyata sudah ada sejak tahun 1982 dan menjadi salah satu Miedes legendaris di wilayah Bantul. Beruntung sekali kami berkunjung ke Miedes saat kedai makananan ini akhirnya buka saat siang. 

“Baru dua minggu ini mbak kami buka siang hari mulai pukul 10.00 sebelumnya ya malam saja,” ujar Bu Yanti sambil mempersilahkan kami masuk ke dalam kedai makan yang lebih tepatnya masuk ke dalam rumah beliau. Awalnya kami kaget tempat makannya kok masuk ke dalam rumah ternyata saat masuk ke dalam bisa tembus hingga bagian samping rumah yang memang diperuntukkan untuk pengunjung.

“Sebenarnya ya malam saja mbak, tapi banyak yang meminta untuk dibuka saat siang karena kalau malam kan gelap jalannya, pembeli wanita banyak yang takut dan meminta untuk dibuka saat siang, ya sudah akhirnya dibuka.”

Mendengar hal tersebut saya langsung membayangkan saat malam hari melewati jalanan yang saya lewati tadi, kanan kiri sawah dan seingat saya tidak ada tiang lampu, apalagi saya ingat cerita teman saya sendiri yang pernah melewati jalanan yang saya lewati tadi dan memang benar, jalanannya gelap :( Jadi kalau akan pergi ke sini sebaiknya pertimbangkan waktu kedatangan.

“Mau pesan apa mbak?”

Kami pun dengan cepat memutuskan untuk memesan dua porsi Miedes kuah dan seporsi Miedes goreng.

Saat di lokasi kami lah pengunjung satu-satunya dan mumpung sedang sepi dan inilah pengalaman pertama mencicipi mie yang terbuat dari bahan dasar singkong ini maka saya izin untuk melihat langsung proses memasak Miedes. Bu Yanti tidak keberatan sama sekali dengan keinginan saya dan langsung mempersilahkan masuk ke dalam dapur. 

Penataan dapur berukuran 2 m x 3 m ini sederhana. Sebuah meja panjang diletakkan di sisi kanan berdekatan dengan jendela. Di atas meja ini terdapat timbangan dan potongan sayur yang saya perkirakan akan digunakan dalam Miedes.



Di sebelah meja, kompor gas diletakkan di tempat yang agak tinggi yang terbuat dari semen. Dari sini Bu Yanti dapat memasak Miedes sambil duduk.


Bu Yanti sedang memasak Miedes


Proses memasak Miedes yang berkuah dimulai dengan menimbang mie yang sudah ditentukan beratnya oleh Bu Yanti. Selanjutnya Bu Yanti memanaskan minyak goreng. Setelah panas dimasukkanlah beberapa ekor udang dan telur. Campuran antara telur dan udang ini kemudian diorak-arik. Setelah dirasa sudah wangi, air pun dimasukkan yang nantinya akan digunakan sebagai kuah lalu selanjutnya Bu Yanti memasukkan tomat sebagai salah satu sayuran yang ada di Miedes. Terakhir, Bu Yanti memasukkan mie ke dalam wajan yang wanginya sudah memenuhi dapur. Saya meninggalkan sebentar ruangan dapur karena hidung saya yang terasa gatal dan ingin bersin. Setelah puas bersin saya pun kembali ke dalam dapur untuk melanjutkan melihat proses pembuatan Miedes.



Proses pertama: menimbang mie

Proses selanjutnya: memasak udang, telur orak-arik, dan tomat

Penentuan kematangan pastinya sudah tidak menjadi hal baru bagi Bu Yanti. Ketika sudah dirasa kematangannya sudah pas, beliau mengambil Miedes dari wajan yang panas dan meletakkannya di atas piring. Tahap terakhir dari pembuatan Miedes ini adalah menaburi dengan irisan daun seledri, bawang goreng, dan kubis. Sampai di sini lah proses memasak Miedes.

Miedes goreng


Selanjutnya Bu Yanti mempersilahkan saya membawa sendiri Miedes yang telah saya pesan untuk dimakan. Asik juga ya, berasa memasak bersama keluarga sendiri, bedanya di sini saya hanya melihat tanpa ikut campur tangan membantu memasak, takut salah takaran atau pakem yang telah ditetapkan oleh Bu Yanti sendiri lah, jadi ya saya membantu Bu Yanti mengabadikan proses memasak beliau saja. 

Satu hal yang unik saat makan Miedes Bu Yanti ini adalah sambal yang bentuknya berupa cabe yang dikeringkan, mirip b*ncabe ehehe. Saat saya mencicipi Miedes ini, campuran rasa gurih dan tekstur mie yang kenyal (kata teman saya seperti makan seblak) serta pedas dan asin yang begitu pas. Jujur saja ini adalah salah satu mie yang terunik bagi saya. tekstur mienya sendiri yang membuatnya berbeda dari yang lain. Malah menurut saya mirip cendol karena kekenyalannya haha!

sambal kering
Miedes goreng

Miedes kuah


Approved banget lah ini ma,” kata Gista yang sudah memakan Miedes sementara saya masih sibuk dengan pengambilan dokumentasi Miedes ini sendiri. 


Catatan:

Harganya seingat saya Rp 12.000 seporsi dengan air minum.

Untuk menghindari antre panjang saya merekomendasikan berkunjung saat siang hari. Selain bisa makan kalian bisa melihat langsung proses memasak Miedes ini loh! 

Miedes Bu Yanti dapat ditemui di sini: 











Lantunan lagu india mengiringi perjalanan saya dari Bandara ke Hotel yang terletak di Georgetown. Kepala saya reflek ikut bergoyang (sedikit-sedikit).  Sebelum lagu india tersebut dimainkan, sopir taksi online meminta izin kepada saya apakah diperbolehkan menyetel lagu india. Saya pun langsung menjawab,"Ya tentu boleh."

Jadilah perjalanan sore itu seperti perjalanan di New Delhi  daripada di Penang mulai dari lagu, aneka aksesoris di mobil, hingga sopir taksi online yang memang keturunan India  (padahal saya belum pernah ke New Delhi :p).

Lagi-lagi India...

Mungkin ini yang namanya konspirasi semesta, saya baru ingat saat diturunkan oleh sopir taksi di hotel, lokasi penginapan saya berada di Little India. Beberapa toko di samping penginapan terlihat menjual kain sari, punjabi dan jippa suits, aneka bunga, dan lainnya.

Untuk sementara perjumpaan saya dengan budaya India terhenti saat masuk ke dalam hotel karena pemiliknya bukan warga keturunan India tetapi Tionghoa. Sambil melangkah gontai masuk ke dalam hotel karena sudah lelah duduk, petugas yang berjaga bertanya kartu identitas dan kode booking kami. Teman saya, Nofa, yang dalam perjalanan kali ini bertugas untuk menangani urusan penginapan langsung menyerahkan dokumen terkait.  Urusan penginapan lancar, petugas resepsionis langsung saja memberikan kunci kamar. Saat kami meminjam adapter untuk keperluan charger perangkat komunikasi kami olala ternyata petugas resepsionis yang sejak tadi melayani kami adalah orang Medan. (kalau tau dari awal tidak perlu repot-repot ngomong bahasa inggris-_-)

Tidak lama saya beristirahat di dalam hotel karena rundown yang disusun oleh kami sendiri mengharuskan kami bergegas menuju salah satu tempat di sudut Kota Penang. Avatar Park namanya. Tidak banyak yang saya ketahui dari tempat ini hanya taman yang terletak di dalam sebuah kuil dan tepi pantai. Rencananya saya hanya menghabiskan sore dengan duduk di tepi pantai kalau tempatnya memungkinkan dan malamnya langsung menikmati Avatar Park. Hanya begitu saja, harapan yang saya rajut tidak muluk-muluk #cailah ~

Namun ketidakjelian saya melihat secara detail bagaimana destinasi wisata kali ini berujung manis. Saya tidak menyangka sunset di tepi pantai yang masih satu kawasan dengan Avatar Park ini begitu indah. Saya duduk di batu-batu di tepi pantai (yang mengingatkan saya dengan Kenjeran) dan menghadap matahari yang tenggelam di balik gedung-gedung pencakar langit.

Menikmati sunset dengan duduk di batu-batu

Avatar Park

Malam sepulang dari Avatar Park kami memutuskan untuk mencari makan.

"Mau makan apa ini?"

"Nasi Kandar boleh deh Ma kayak rekomnya driver tadi."

"Siiip, tapi Nasi Kandar manaa rek?"

Akhirnya berbekal peta kuliner yang kami dapatkan di bandara, Nasi Kandar Line Clear kami sepakati sebagai makan malam kami. Kesepakatan lain yang kami lakukan adalah pemilihan lauk yang berbeda-beda agar dapat saling mencicipi. Ada cumi, ayam dan olahan daging yang bisa kami rasakan dalam sekali makan.

Nasi Kandar Line Clear

Penjual Chapati di Little India


Hari-hari berikutnya yang kami lakukan dalam urusan makan adalah mencoba berbagai olahan yang belum pernah kami cicipi seperti chapati, pasembur, mie sotong, es kacang, dan es teh tarik yang benar-benar ditarik bukan dari kemasan sachet.

Di akhir perjalanan saya jadi berpikir, perjalanan kali ini mempertemukan banyak sekali ras, dari India, Melayu, Tionghoa, sampai Batak.Hal tersebut didukung oleh data sensus pada tahun 2016 dengan prosentase orang Melayu sebesar 67,4%, Cina 24,6,%, dan India 7,3%.

Terkait dengan multi ras ada sebuah catatan hitam di negeri Jiran pasalnya pernah terjadi kerusuhan yang melibatkan ketiga ras ini pada 13 Mei 1969 dan menewaskan ratusan orang beretnis Tionghoa. Penyebabnya dipicu oleh pemilu yang nyaris memenangkan Democratic Action Party (DAP) yang didominasi etnis Tionghoa.

Pada saat itu terjadi pula ketegangan pada sektor ekonomi yaitu kesenjangan antara warga Melayu dan Tionghoa yang cukup tinggi. Tahun 1960-an warga Melayu menguasai 1,5% total kekayaan nasional dan mayoritas berprofesi sebagai petani di desa berbeda dengan mayoritas warga India dan Tionghoa yang bekerja di sektor perbakan dan industri di kota-kota.

Melihat hal tersebut akhirnya pada 1971 dibentuk New Economic Policy (NEP) yang mengistimewakan warga Melayu dalam berbagai sektor kehidupan publik. Meskipun program ini bisa dikatakan berhasil namun hal lain terjadi di lapangan seperti warga non-Melayu merasa dianaktirikan, kronisme pengusaha dan politisi Melayu serta bagi masyarakat kelas bawah Melayu yang tidak merasa diuntungkan oleh program pro-elit pribumi ini.

Perihal pribumi dan non pribumi yang diberi aturan tertentu di Negeri Jiran ini nyatanya memiliki dampak lain di lapangan. Saya memang tidak mengalami langsung apa yang dialami warga negara tetangga sebelah namun entah mengapa bagi saya pengotak-ngotakan malah membuat kesenjangan dan perbedaan makin terbuka lebar.



Georgetown

Georgetown

es cendol (tapi artificial :p)

Masjid Nagore Dargha Sheriff yang dibangun sejak 1800-an








 Sumber rujukan tulisan: