Hari kedua di Yogyakarta saya mulai saat jarum jam menunjukkan pukul 06.00. Meskipun mata saya liyer-liyer, betis saya capek, dan gaya gravitasi kasur di hotel begitu kuat tapi saya harus bangun dan berjalan-jalan pagi.



Mengapa pukul 6? Karena saat saya masuk gang Prawirotaman untuk check in hotel, saya sudah berjanji pada diri saya sendiri,”Saya mesti jalan-jalan pagi di sini!” Menurut saya, pukul 06.00 adalah waktu yang tepat untuk memulai berjalan pagi menikmati keadaan sekitar yang begitu menarik perhatian saya.



Memang apa yang menarik perhatian saya? Berikut ini hasil jalan-jalan pagi saya di Prawirotaman.



Gang di dalam gang







Mural-mural di Prawirotaman:



Dekorasi dinding

Pintu






Rumah-rumah dan penginapan di Prawirotaman: 











Inilah hasil tangkapan lensa kamera saya saat pagi di Prawirotaman, ada rumah-rumah dan penginapan, petugas yang sedang membersihkan hotel, mural warna-warni yang menghiasi dinding, dan masih banyak lagi hal yang saya temui di sini saat pagi. Kalau pagimu, kau habiskan untuk apa saat sedang liburan? 




Akhir pekan di Surabaya saya habiskan untuk keliling saja di dalam kota. Saya menganut prinsip "hah yang penting keluar dari rutinitas terserah entah ke mana kaki ini melangkah."

Sabtu pagi, saya akhirnya mengontak seorang kawan lama saya di kabaca, Meu namanya. Seperti yang saya duga ia pun langsung mengiyakan ajakan saya untuk bertemu di sebuah kedai kopi yang saya sendiri belum pernah kunjungi sebelumnya.

Beberapa jam sebelum kami bertemu, Meu menanyakan lokasi atau ancer-ancer kedai kopi tersebut. Saya sendiri yang belum pernah berkunjung ke sana lantas mengirimkan maps kepadanya.

"Maaf Meu aku belum pernah ke sana ini mapsnya."

Ia pun seperti sebelum-sebelumnya tanpa ba-bi-bu langsung membuka peta dan menuju kedai kopi tersebut. Lalu saya yang mengajak bagaimana? Ya datang langsung tapi agak telat hehe, maaf ya Meu.

Ternyata lokasi Moeng Kopi ini cukup "ndelik" istilah bahasa jawanya. Setelah saya mengarahkan motor ke UPN saya harus masuk ke dalam sebuah perumahan lalu belok ke kiri, lalu ke kanan, ke kanan lagi, lurus lalu sampai. Bisa membayangkan ndak? Ndak ya hahaha ( lihat di bagian bawah tulisan ini ada mapsnya).

Tiba di Moeng Kopi saya disambut sekumpulan mahasiswa yang akan meninggalkan Moeng. Sepertinya mereka sedang berkumpul untuk membicarakan sesuatu yang penting perihal kampus.

"He rek ini perlu kumpul lagi."

"Yo ayo.."

Ah percakapan-percakapan itu, rasanya setelah satu tahun meninggalkan dunia kampus, saya mengaku kalau rindu..

Bagaimana dulu mengikuti kegiatan kepanitiaan, cek cok dengan kawan, ngrasani senior yang mukanya galak, pulang larut untuk rapat kegiatan, numpang wifi untuk mengerjakan tugas, sebal saat dievaluasi senior, dan hal-hal lain yang masih banyak lagi.

Ketika saya sudah berhasil memarkirkan kendaraan di depan Moeng, saya bergegas masuk karena jam sudah menunjukkan 16.15 sedangkan kami berjanji untuk bertemu pukul 16.00.

Duh imama :(

Hal unik pertama kali ketika memasuki Moeng adalah alas kaki saya harus dilepas. Ah rasanya ini pertama kali saya masuk ke dalam kafe dengan keadaan nyeker. Kaki saya terasa dingin ketika menginjakkan kaki di lantai Moeng dan saya sangat menyukainya :D

Hal unik kedua yang saya sukai adalah tumpukan buku yang tertata rapi di rak yang diletakkan pada tiang-tiang ruangan. Tidak hanya ada satu rak tapi kalau tidak salah ingat ada empat rak yang berisi buku-buku yang belum sempat saya lihat. Saya terus melangkahkan kaki ke arah barista.

"Mas ini pesan dulu atau bagaimana?"

"Iya mbak bisa pesan dulu, ini menunya."

Barista tersebut menyerahkan sebuah papan kayu yang ternyata di atasnya tertulis menu makanan dan minuman yang dijual. Ukiran tulisan yang tercetak di atas kayu cukup sulit saya lihat.

"Hmm french fries mas, sama minumnya.."

Saat ini saya mengurangi kandungan kafein karena pengalaman yang sudah-sudah jantung saya sering berdegup kencang, entah mengapa saya jadi takut kalau minum kopi dengan kandungan kafein yang terlalu banyak. Saya pun memilih kombinasi kopi dan susu saja.

"Mau panas atau dingin?"

"Dingin."

"Mau kopi atau ada campurannya yang lain?"

"Campuran."

"Oke, cappucino dingin cocok buat mbak."

"Sip mas itu sama camilannya tadi ya saya duduk di atas."

"Siap mbak."

Saya senang dengan barista di Moeng ini yang membantu pelanggan yang suka bingung seperti saya wkwk.

Ketika berjalan menuju lantai dua, ada beberapa orang yang berfoto di sudut-sudut Moeng. Apik sekali memang sudut-sudut kafe ini (dan saya baru menyadarinya setelah saya akan pulang). Tiba di lantai dua saya disambut Meu dan seorang wanita.

"Kenalin Imama namanya Sari, eh gak apa-apa kan aku bawa teman."

"Hoo ya bolehh."

Setelah menjabat tangan Meu dan bercipika-cipiki saya menjabat tangan Sari dan memperkenalkan diri. Entah bagaimana kami memulai obrolan tiba-tiba saja ada begitu banyak hal yang membuat kami nyambung. Tentang teman SMA Sari yang menjadi pacar teman saya, jurusan kuliah Sari yang sama dengan mbak saya, sampai cerita sholat di gunung yang membuat kami berdua rindu melakukannya lagi.

"Eh ayo kita main ke gunung."

Secara cepat Meu membalas,"Yah aku gak bisa ke Gunung."

"Ya udah kita ke tempat yang bisa jalan bertiga."

"Ayo berangkat."

Obrolan kami pun berlanjut tentang cerita kesibukan harian, pernikahan teman, anak-anak di sekitar tempat kegiatan volunteer kami yang sudah duduk di bangku smp, dan cerita di masa lalu yang baru saya ketahui.

Beberapa kali ada beberapa orang berlalu lalang mengabadikan sudut-sudut Moeng yang membuat kami mengambil jeda untuk mengobrol dan menengok ke arah mereka.

Awan yang bergelayut di atas kepala kami dan hari yang makin gelap membuat kami memutuskan untuk mengakhiri perjumpaan kami di Moeng.

Satu hal yang membuat saya nyaman berada di tempat ini adalah suasananya yang seperti berada di rumah sendiri. Saking serunya obrolan kami tadi serta teduhnya Moeng, saya lupa menanyakan ada atau tidak wifi di tempat ini. Wah sudah lama saya tidak melakukan menanyakan password wifi di sebuah kafe haha kalau sudah begini ya memang tempat dan momennya yang pas sekali.

Tangga di lantai dua


Suasana outdoor

Jendela di lantai dua

Lantai di ruang outdoor



Bahan rajut yang dibawa teman saya



Buku kopi

Jendela di Moeng

Ruang Indoor lantai dua





Lantai satu Moeng


Musholla di Moeng yang berlokasi setengah outdoor, sebelah kanan adalah kolam ikan


Sari dan Meu

Secara keseluruhan Moeng tempat yang menyenangkan untuk bersantai melepas penat di Surabaya. Meskipun lokasinya yang cukup ndelik tapi terbayar kok dengan suasana rumahan kafe ini. Untuk makanan kedua yang kami pesan cukup lama datangnya bahkan hingga kami akan pulang makanan tersebut belum diantar huhu :( Bagi kalian yang memakai rok saat akan berkunjung ke tempat ini dan berencana duduk di outdoor lantai dua pastikan memakai legging haha karena lantainya yang terbuat dari besi bolong-bolong._. (you know what i mean ya~) Tapi saya senang dengan lokasi Musholla yang setengah outdoor, sudah lama tidak sholat diiringi angin yang berhembus ~ eaa haha.




Se-tak-terbatas apa ruangan ini?

Jika berbicara tentang museum maka saya akan mengatakan bahwa hanya ada beberapa saja yang membuat saya selalu mengingat isinya. Bukannya yang lain tidak penting atau tidak menarik namun tidak tahu mengapa hanya hal-hal yang menarik dan atraktif yang selalu menyita perhatian saya.

Beberapa waktu yang lalu saya berkunjung ke Museum Macan. Pertama kali mendengarnya saya mengira ini museum yang berisi koleksi hewan-hewan di nusantara namun ternyata nama macan ini diambil dari singkatan The Museum of Modern and Contemporary Art in Nusantara. Museum yang berisi koleksi seni modern dan kontemporer Indonesia dan Internasional ini memiliki luas 4.000 meter persegi.

Hal yang menarik perhatian saya adalah Infinity Room yang dibuat oleh seorang seniman asal Jepang,Yayoi Kusama. Konon, Ia memiliki gangguan mental bernama rijinsho, yang membuat penglihatannya dipenuhi selubung dan halusinasi.

Yayoi menyebut karya seninya merupakan representasi kekerasan di masa kecil. Ibunya adalah sosok yang keras sementara ayahnya jarang di rumah. Titik – titik dalam karyanya adalah imaji, seperti gambaran halusinasi saat ia kecil.

Saya kira ruangannya luas ternyata kecil saja, panjangnya tak lebih dari truk berukuran sedang yang biasanya dihias dengan aneka kalimat jenaka dan lukisan perempuan.

Saat itu antrenya pun tidak terlalu mengular seperti di unggahan netizen, sekitar 5 menit saja sepertinya saya mengantre. Karena ada batas waktu yang diterapkan oleh pengelola yaitu 45 detik, maka pengunjung harus menggunakan waktu sebaiknya untuk bergaya di dalam ruangan.

Tiba giliran saya, penjaga “wahana” ini memberikan instruksi,”Jalannya sampai batas garis kuning ya, jangan melewati keramik karena di sekeliling ada airnya.”

Belum sempat saya mengiyakan instruksi petugas pintu lalu ditutup. Di sekeliling saya lampu warna-warni berpendar mengeluarkan warna yang berganti-ganti. Warna-warni ini dipantulkan di sisi ruangan dan berulang tak terhingga hingga hilang dari pandangan. Ketak-terhinggan ini yang membuatnya dinamakan Infinity Mirrored Room, Ruang Cermin Tak Terhingga.

Benar saja, saat saya mengarahkan kamera ke kaca depan saya dan tiap beberapa detik menekan tombol shutter di kamera hasil foto saya memiliki perbedaan warna.




Saya mengira-ngira perasaan Yayoi Kusama ketika mengalami rijinsho, sekelilingnya dipenuhi halusinasi titik-titik tak terhingga seperti apa yang ada di sekeliling saya. Bagaimana rasanya benar-benar berada di tempat “tak terhingga”? Tak terhinggaan ini meliputi waktu, tempat, dan sebagainya. Akankah kita merasa aman dan baik-baik saja ketika berada di tak terhinggaan tersebut? Atau malah semakin cemas dan berusaha menyembuhkan penyakit tersebut seperti Yayoi Kusama lakukan selama 37 tahun di rumah sakit jiwa yang ia kemudian sesali karena seharusnya bisa menghasilkan lebih banyak karya yang terinspirasi dari keadaan yang ia alami.

Belum sempat saya menekan shutter kamera untuk mengambil gambar dengan angle yang berbeda, tiba-tiba pintu dibuka dan petugas berkata sudah selesai batas waktu 45 detik saya.

Sang petugas menyadarkan saya, waktu di dunia memiliki batas yang harus digunakan sebaik-baiknya.

---
Foto di dalam museum:

Tiket dan buku petunjuk museum 

Mobil

Panduan Pengunjung menuju Infinity Room



Jadi ingat bunga di game mario bros



























Lokasi Museum Macan :
AKR Tower Level MM
Jalan Panjang No. 5 Kebon Jeruk
Jakarta Barat 11530
Indonesia
Harga Tiket Masuk : Dewasa Rp 50000, Anak-Anak Rp 30.000, Pelajar Rp 40.000
Waktu Operasi : Selasa-Minggu (10.00-19.00)