Sejujurnya saya tak mengetahui di mana lokasi Pantai Batu Bolong dan siang itu saya tetap memberanikan diri untuk tetap pergi ke pantai tersebut. Ketika sampai di sebuah pertigaan, saya bingung harus pergi ke mana. Lalu saya kembali melihat aplikasi penunjuk arah di smartphone dan yang terjadi adalah saya makin bingung.

Tiba – tiba beberapa kali bule melewati saya dengan membawa papan selancar.

Oh iya Batu Bolong kan tempat favorit bule berselancar, akhirnya dengan niat bulat saya pun memasukkan samrtphone saya ke dalam tas dan mulai untuk mengikuti seorang bule bermotor matic di depan saya.

Entah apa yang saya pikirkan saat itu, bisa saja bule di depan saya pergi untuk pulang ke penginapan mereka atau pergi ke tempat lain tapi hati saya yakin untuk tetap mengikuti bule tersebut.

Hati saya makin berdebar ketika jalan yang saya lewati berupa jalan kecil selebar 3-4 meter, ini kok seperti jalanan di rumah pada umumnya, kecil, banyak rumah penduduk dan sepertinya tidak ada tanda-tanda sebuah pantai. Dan yang membuat saya makin dag-dig-dug adalah bule di depan saya mengarah ke sebuah sawah. Hah ? benar ini jalan ke Pantai Batu Bolong? Namun saya tetap mengikuti ke arah sawah.


Sawah yang berwarna kuning keemasan lalu menjadi pemandangan perjalanan saya menaiki motor selama beberapa saat. Tapi yang melewati sawah ini kebanyakan orang-orang yang membawa papan selancar dan memang sepertinya telah dan akan pergi ke pantai. Hati saya kembali optimis pada bule di depan saya. Saya akan tetap mengikuti mereka.

Sesampainya melewati sebuah kafe di tepi sawah bukan bebek atau ayam di tepi sawah tibalah di sebuah mulut gang pertigaan yang mengarah ke dua jalan antara kanan dan kiri.  Waktu itu jalanan di sawah begitu ramai dan jalanan agak rusak jadi harus berhti-hati dan saya harus berfokus pada dua hal sekaligus, fokus di jalan dan fokus melihat ke depan. Namun tiba-tiba ketika saya melihat ke depan, bule di depan saya tadi menghilang. Olala~ ke mana ya mereka? Saya pun kembali mengikuti apa kati hati saja setelah kehilangan bule di depan saya. Akhirnya saya tiba di mulut gang pertigaan dan saya mengambil arah ke kanan jalan. Jalan yang membawa penyesalan karena 5 menit berjalan lurus saya tak melihat tanda-tanda pantai dan jalanan begitu sepi.

Saya pun memutuskan kembali ke mulut gang tadi dan memilih jalan ke arah kiri tadi yaitu lurus ke depan.

Selama perjalanan belok kiri banyak sekali tempat makanan seperti kedai pizza tepi sawah dan kafe lucu lainnya. Mungkin kalau ke sini lagi saya akan mencoba mengunjunginya karena teman saya sudah menyarankan beberapa tempat dan lain kali saya akan mencobanya :D

Lalu saya tiba di pertigaan lagi, entah sudah berapa kali pertigaan yang saya lewati, saya kemudian memilih belok ke arah kanan jalan. Dari arah berlawanan beberapa bule seperti dari sebuah pantai dengan kaki mereka yang berbalut paris. Saya makin tak sabar untuk sampai di Batu Bolong dan yakin bahwa jalan yang saya pilih benar. Laju motor sewaan pun makin saya tambah.

Di sini banyak sekali beberapa pojokan yang begitu cantik untuk dijadikan background foto namun hari makin sore dan saya pun harus memburu waktu untuk bisa sampai ke Batu Bolong.

Salah satu pojokan cantik


Sepertinya ujian saya dengan pertigaan benar-benar diuji, kali ini kembali saya harus berhadapan dengan pertigaan. Tapi kali ini soal di pertigaan untuk memilih jalan kanan atau kiri tak terlalu sulit karena ketika saya menegok ke arah kiri nampak gerombolan bule dengan papan selancar di tangan mereka. Nah, pasti di sana!

Secepat kilat saya menuju ke ujung jalan dan benar saja kali ini suara deburan ombak menyambut kedatangan saya seraya mengucapkan,”Selamat Datang di Batu Bolong dan Selamat Telah Menempuh Ujian Pertigaan.”

Ujung Jalan, yay :D


Senyum saya melebar dan dengan lari-lari kecil saya menuju asal deburan ombak...

Pantai Batu Bolong

Pantai Batu Bolong lagi

Pantai Batu Bolong lagi hehe




Untuk kalian yang bingung apabila ke Canggu ke mana saja maka inilah beberapa hal yang saya sarankan:

 1. Pergi ke pantai.
Ada beberapa pantai di Canggu seperti Pantai Berawa, Echo Beach dan Batu Bolong tinggal memilih dan siapkan perlengkapan ke pantai kalian.

2.Banyak sekali deretan toko yang begitu lucu dan unik yang akhirnya membuat saya tergoda mampir ke salah satu tokonya dan berhasil membuat satu postingan ini haha.

Beberapa toko di Canggu



3.Ini belum saya lakukan tapi saya mendapatkan informasinya dari blog teman saya yaitu berkunjung ke kafenya. Di Canggu ini ada banyak sekali kafe yang memiliki bentuk yang memikat pembeli seperti sebuah kedai pizza di tepi sawah. Selengkapnya coba baca blog teman saya ya di sini : )

4. Sebaiknya kalau ke Canggu bersama seseorang yang dapat membantu kalian untuk berfoto. Kenapa? Karena banyak sekali lokasi yang begitu instagrammable. Bahkan di tepi jalan pun seperti foto di bawah ini sangat cocok sekali untuk mengisi feed instagram. 

Salah satu pojokan cantik lagi 



Selamat berlibur ke Canggu, hati-hati dengan pertigaan hehe.





Canggu memiliki kisah menarik tersendiri bagi saya yang berkaitan dengan alat transportasi yang membawa saya pergi dari daerah tersebut.

Ceritanya begini..

Saat keluar dari bandara saya memesan sebuah layanan taksi online untuk membawa saya ke hotel. Namun karena ingin berjalan-jalan saya meminta taksi online tersebut untuk membawa saya ke Cangu dan mampir di beberapa destinasi wisatanya.

Namun masalahnya taksi tersebut memiliki janji pukul 11 siang dengan penumpang lain, pilihannya adalah saya langsung di antar ke hotel dan tidak berjalan-jalan atau saya diturunkan di tempat lain dan menyewa layanan transportasi lain untuk berjalan-jalan.

Saya pun memilih opsi kedua.

Setelah sebelumnya saya berkenalan dan diberikan kartu nama sambil sedikit mengobrol tentang rencana perjalanan saya, Pak Didi, sopir taksi online tersebut menurunkan saya di suatu tempat. Karena masih dalam masa promo saya pun menggunakan promo tersebut dan tak lupa mengucapkan terima kasih dan sampai jumpa kembali ketika saya akan menggunakan layanan taksi Pak Didi.

“Mbak tapi ingat ya, di Canggu itu daerah macet jadi kalau mau pesan telfon saya sekitar 2 jam sebelumnya nanti saya jemput di hotel. Jangan pesan pakai aplikasi dulu, nanti baru di dalam mobil baru pesan ya mbak.”

“Kenapa begitu pak?”

“Soalnya rawan mbak di sana, sering ada bentrok, mobil teman saya ada yang digores sama warga di sana.”

“Oh begitu, oke pak siap.”

Sampai di situ saya pun selalu mengingat-ingat apa kata Pak Didi untuk memesan 2 jam sebelumnya dan menelfonnya baru memesan lewat aplikasi di dalam mobil.

Untuk sampai di hotel saya menggunakan layanan transportasi yang berbeda yaitu menggunakan ojek online.

Lalu saya ingat apa kata Pak Didi.

“Kalau ojek aman sedikit mbak daripada taksi online.”

Setelah berjalan-jalan di Canggu dan pergi dengan beberapa teman, saya pun beristirahat di hari itu.

Keesokan harinya saya kembali berjalan-jalan namun sesuatu hal terjadi, saya lupa waktuuu : ((

Sesampainya di hotel saya bergegas packing dan bersiap-siap untuk pergi ke bandara. Di chat grup saya, teman-teman saya yang lain sudah sampai di bandara tinggal saya saja yang belum sampai.
Saya pun langsung menelfon Pak Didi dan lupa salah satu pesan dari beliau untuk menelfon sekitar dua jam sebelumnya..

Degup jantung saya dag-dig-dug tak karuan menunggu Pak Didi di lobby hotel.

“Sabar mbak, duduk dulu saja tadi sudah saya beritahu lokasi hotelnya kok, tunggu sebentar lagi juga sampai,” ujar petugas hotel menenangkan saya.

Saya pun menurut.

Tak lama kemudian mobil Pak Didi datang saya pun langsung melesat keluar dari hotel tak lupa mengucap salam perpisahan dengan petugas hotel.

“Mbak berani sekali, kemarin saya sudah bilang kalau di Canggu ini daerah macet kalau telfon sekitar 2 jam sebelumnya. Beruntung mbak ini, saya lagi bawa penumpang ke batu bolong pas mbak tadi telfon jadi bisa langsung ke sini.”

“Kok bisa ya tadi pas mbak nelfon saya ada di Batu Bolong? Padahal kita tidak janjian loh sebelumnya.”

Pak Didi terus berkata kepada saya tentang ketidaksengajaan tersebut sambil menyetir dengan gesit di jalanan untuk memburu waktu saya yang akan segera berangkat ke Pulau Komodo.

“Hehe iya pak maaf ya tadi tiba-tiba begitu, saya tadi pagi jalan-jalan pak di Canggu sampai lupa waktu, masih bisa kekejar gak ya pak sama pesawatnya?”

“Jam berapa mbak pesawatnya?”

“Di jadwalnya 13.45”

Waktu itu pukul 12 siang lebih. Perjalan sekitar satu jam di hari biasa kata Pak Didi, jad saya akan tiba pukul....tiba-tiba perut saya mulas 

“Saya usahakan ya mbak agak ngebut, tapi saya kaget loh tadi kok bisa ya pas saya bawa penumpang di Cangu mbak telfon..” Pak Didi mengulang kata-katanya.

Saya sendiri gak tau paaak, iya ngebut aja pak saya restui bangett. Batin saya berteriak-teriak.
Lampu merah di depan saya berubah warna menjadi hijau. Pak Didi pun melesatkan mobilnya di jalanan Canggu yang kala itu tiba-tiba sedikit sepi menurutnya.

Saat di dalam mobil kami berdua lebih banyak diam, tapi sejujurnya saya berdoa agar saya tidak terlambat. Mulut saya komat-kamit tak karuan. Ponsel saya kembali bergetar dan sebuah pesan masuk. Teman saya kembali menanyakan di mana posisi saya. Ya Allah beri kelancaran : ((((

“Beruntung mbak ini, jalannya agak sepi,biasanya di sini ramai. Kalau di sini sudah aman selanjutnya aman mbak!” ujar Pak Didi sambil tetap sedikit ngebut di jalanan. Entah sampai mana, saat itu hati saya sudah dag-dig-dug tak karuan tak sempat menanyakan sampai di mana.

“10 menit lagi sampai mbak ini,”ujar Pak Didi seperti menenangkan saya.

“Oh ya pak?” Saya pun segera membalas pesan teman saya dan mengatakan sekitar 10 menit lagi sampai di bandara.

Dan benar sekali perkiraan Pak Didi, 10 menit setelahnya sebuah palang nama bandara terpampang di depan saya.

“Alhamdulillah paak!” saya sedikit berteriak kepada Pak Didi.

Beliau membalasnya dengan senyum lebar dan berkata kepada saya agar tak mengulanginya hehe.

“Siap Pak!”

--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Itulah cerita saya saat bertemu dengan Pak Didi, sopir salah satu layanan taksi online di Bali. Saat mengobrol dan mengatakan Sidoarjo sebagai tempat saya tinggal beliau pun langsung menyahut dengan mengatakan bahwa Ayah beliau pun berasal dari Sidoarjo. Sebuah ketidaksengajaan lagii haha.

Menurut saya beliau ini sangat supel dengan pelanggan, bisa mengendarai dengan baik, mengizinkan saya untuk mengisi daya baterai ponsel yang sekarat di mobilnya dan yang paling penting bisa ngebut dengan sangat baik hahaha.

Pak Didi saat mengebut di jalanan 



Bagi teman-teman yang ingin mengontak beliau, selain pesan lewat aplikasi online beliau juga bersedia untuk ditelfon langsung dan mengantar ke tujuan wisata teman-teman. Kalau berminat, bisa japri saya ya :D





“200 ribu mbak, itu udah pas.”

“kurangi dikit ya pak, 150 berlima.”

Pak Susilo seperti agak berpikir dengan angka yang kami tawarkan tersebut, tak lama kemudian beliau mengangguk setuju. Setelah itu kami disuruh Pak Susilo untuk menunggu di Dermaga Tlocor untuk memulai perjalanan ke salah satu pulau unik di Sidoarjo, yaitu Pulau Sarinah. 

Pulau Sarinah ialah pulau buatan yang dibuat oleh BPLS dari sedimentasi lumpur lapindo yang telah menyembur 10 tahun yang bertempat di muara sungai Kali Porong, Desa Tlocor, Kecamatan Jabon. Kira-kira luasnya sekitar 90 hektar.



Di Dermaga Tlocor nampak beberapa orang sedang sibuk dengan alat pancing masing-masing. Beberapa diantaranya sudah berhasil mendapatkan ikan sedangkan yang lain nampak masih berusaha menebar umpan agar pulang tidak dengan tangan hampa. 

“Mbak mau naik perahu ya?”

“Iya pak”

Kemudian pria berbaju oranye yang menanyai saya segera memberitahukan kepada teman-temannya yang lain. Sepertinya dengan kedatangan perahu di dermaga sedikit mengganggu kegiatan memancing mereka. Saya pun kembali diam dan menunggu datangnya perahu Pak Susilo yang sedang disiapkan di sisi lain dermaga.

Sekitar 10 menit menunggu sambil berteduh di bawah pepohonan mangrove di dermaga, terlihat sebuah perahu mulai berjalan menyusuri sungai. Suara mesin perahu segera menyita perhatian kami semua di dermaga. 

Kami berlima, saya, mbak, lek yani (panggilan untuk adik dari ibu), dan dua sepupu saya yang masih duduk di bangku SMP dan SMA segera bangkit menuju jembatan kecil sebagai jalan turun ke perahu.
Ternyata perahu Pak Susilo memutari dermaga. Padahal kalau lurus saja bisa langsung sampai namun sepertinya Pak Susilo tak ingin mengganggu aktivitas umpan-umpan yang telah dilempar dan ingin memanaskan mesin sehingga beliau mengambil jalan ke tengah sungai lalu merapat ke ujung dermaga.

Setelah dipasang sebuah papan kayu dari jembatan besi yang telah berkarat satu persatu kami mulai naik perahu. Ada rasa was-was ketika melewati jembatan besi karena beberapa bagian sudah berlubang dan terlihat berkarat. Namun dengan awas kami selamat hingga masuk perahu.



Perjalanan ke Pulau Sarinah pun dimulai...

Kami melewati Kali Porong (Sungai Porong) untuk menuju pulau tersebut. Sebenarnya sejak lama saya ingin kesana namun belum ada kesempatan yang pas dan kali ini saudara saya yang sedang mudik sedang ingin menjelajah Sidoarjo, saya pun langsung mengiyakan ajakannya. 
Saat mulai menyusuri Kali Porong tiba-tiba saya mengingat sesuatu.

Sekitar setahun lalu, segerombol buaya muara terlihat sedang “berjemur” di Kali Porong Dusun Awar-Awar, Krembung. Kali Porong tersebut letaknya di sebelah kecamatan saya tinggal. Buaya-buaya tersebut berpindah tempat diduga karena pencemaran lingkungan. Berita tersebut cukup heboh di masyarakat Sidoarjo dan keluarga saya bahkan mbak dan ibu saya sempat akan melihat buaya tersebut tetapi gagal karena saat itu akses jalan cukup susah. Namun kepindahan buaya tersebut sampai sekarang belum dapat dipastikan berasal dari muara Kali Porong karena ada yang menyebutkan bahwa sebenarnya buaya-buaya tersebut milik warga yang sengaja dilepas. 

Benar tidaknya berita bahwa buaya yang sedang “berjemur” tersebut berasal dari Kali Porong membuat saya tetap was was karena setahu saya tempat tinggal buaya memang di perbatasan antara laut dengan sungai dan tujuan saya adalah tempat tersebut. 

Kalau buaya tersebut berpindah dari muara ke Kali Porong di Krembung berarti buaya tersebut pasti melewati Kali yang sedang saya lewati sekarang ini...hmmm baik tenang-tenang.

Lek saya sibuk untuk bertanya banyak tentang Pulau Sarinah pada Pak Susilo, saya sendiri sibuk dengan seorang sepupu saya yang masih akan duduk di bangku SMA, Ibed, karena ia berpindah tempat sehingga perahu langsung terasa agak miring.

“Bed, tetep duduk di sana.”

Ketakutan saya akan buaya sepertinya berimbas pada tiap gerak perahu. Sedikit saja oleng saya langsung menoleh ke Ibed yang memiliki postur badan sedikit bongsor untuk tak berpindah-pindah tempat duduk. Ibed sendiri sepertinya sedikit kesal pada saya yang  nampak mengaturnya.

Saya tak mau perahu yang saya naiki terbalik dan berakhir dengan berenang bersama buaya, itu saja ketakutan saya.

Sekitar 30 menit di atas Kali Porong, tanda-tanda sebuah pulau sudah mulai terlihat.

Perlahan perahu mulai mendekat ke arah Pulau Sarinah. Hijaunya pepohonan mangrove menyambut kedatangan kami. Selain itu nampak beberapa burung liar yang hinggap di pepohonan dan ranting daun yang telah mati di Kali Porong serta terdapat sebuah dermaga sederhana terbuat dari kayu yang menjadi pintu gerbang pulau ini. 


Dermaga Pulau Sarinah


Mata kami semua nampak mengamati dengan jeli tiap sudut pulau yang hanya dapat kami lihat bagian tepinya saja. Sejauh mata memandang, pepohonan mangrove nampak tumbuh dengan lebat. Hanya suara mesin perahu yang begitu berisik terdengar di telinga. Selain itu kami hanya diam menikmati pemandangan. 

Tiba-tiba karena penasaran saya bertanya pada Pak Susilo,”Pak di sini benar ada buayanya?”

Suasana yang sebelumnya hening tiba-tiba menegang. Saya langsung ditegur oleh lek dan mbak yang sepertinya memiliki rasa takut yang sama seperti saya. Pak Susilo tak menjawabnya hanya sedikit tersenyum. Saya pun mengurungkan niat untuk bertanya lagi. 

Perahu terus bergerak mengelilingi pulau. Aliran sungai nampak begitu tenang sedikit berbeda saat akan “berbelok” ke arah Pulau Sarinah yang sepertinya menjadi pertemuan arus di Kali Porong.
Tak ada tanda-tanda keadaan manusia di tepi Pulau Sarinah karena memang keberadaan petugas dari BPLS (Badan Penanggulangan Lumpur Sidoarjo) berada di dalam pulau. Sebenarnya kami ingin masuk ke dalam pulau namun terbentur dengan peraturan baru yang mengaharuskan memiliki surat izin koramil setempat. Sayang sekali kami tidak mengetahui hal tersebut ._.

Menurut Pak Susilo, rencananya pulau ini akan dijadikan wisata mangrove serta ada beberapa fasilitas tambahan seperti sepeda air. Saat ini belum saya ketahui sampai tahap mana pulau ini dijadikan sebagai destinasi wisata. Namun untuk menjadikannya sebuah destinasi wisata baru di Sidoarjo sepertinya membutuhkan banyak persiapan termasuk salah satunya sisi keamanan transportasi menuju Pulau Sarinah dan mitos tentang buaya sendiri (tetep hehe).

Apakah benar buaya yang waktu itu berpindah ke Kali Porong berasal dari pulau ini dan kalau nanti dijadikan tempat wisata buaya-buaya tersebut bagaimana nasibnya ._. Entah kenapa saya begitu penasaran dengan keberadaan buaya. Padahal saya sendiri kalau langsung berhadapan pasti langsung menggigil ketakutan tak karuan. 

Sebuah perahu nelayan nampak melaju ke ujung lain Pulau Sarinah. Saya pikir perahu yang kami tumpangi akan sampai ke ujung juga namun ternyata perahu memutari sungai dan sepertinya akan kembali ke Dermaga Tlocor.

Deru mesin terdengar begitu bising di telinga seperti halnya kondisi pembangunan kota yang terkenal dengan julukan “Kota Delta” ini yang sedang gencar sekali mempercantik diri di sana-sini. Semoga keberadaan pulau ini menjadi salah satu agenda besar bagi Sidoarjo untuk terus meningkatkan potensi wisata. Harapan dan doa selalu saya panjatkan bagi kota kelahiran tercinta.



Salam,

Salah satu putri daerah kota delta tercinta :*



Beberapa foto perjalanan selama di Pulau Sarinah:



Beberapa burung liar di Pulau Sarinah

Pulau Sarinah dari atas, sumber: travelingyuk.com

Dermaga Tlocor

Pak Susilo, yang telah mengantar kami ke Pulau Sarinah




Informasi tambahan :
-Untuk menuju Pulau Sarinah terlebih dahulu ke Dermaga Tlocor. Dari arah Tanggulangin, setelah melewati jembatan Kali Porong langsung belok kiri. Lalu jalan terus lurus sekitar 15 km sampai Dermaga Tlocor yang ditandai dengan sebuah patung berbentuk apel (padahal bukan kota apel). 
- Infrastruktur termasuk sangat bagus karena jalan aspal tidak ada yang berlubang serta tempat parkir cukup luas saat di dermaga.
-Di sepanjang jalan mata akan dimanjakan dengan pemandangan tambak ikan serta ada beberapa warung makan ikan bakar.
-Harga sewa perahu sekitar Rp 150.000 – Rp 200.000
-Biasanya tempat ini dijadikan sebagai tempat latihan tim SAR karena di waktu yang lain saya pernah bertemu dengan tim SAR yang sedang berlatih di sana.
-Di Dermaga Tlocor sendiri terdapat pula warung penjual makanan kecil serta terdapat warung makan ikan bakar.
-Apabila ingin masuk ke dalam Pulau Sarinah harus memiliki izin dari koramil setempat, informasi ini saya dapatkan dari seorang warga di sana.






Penerbangan pagi kala itu berlangsung dengan terburu-buru, iya aku lagi-lagi hampir terlambat memasuki pesawat. Petugas yang berjaga juga ikut tergopoh-gopoh menanyaiku ke mana saja karena pesawat segera berangkat.

“Mbak, ke mana saja? Sudah boarding beberapa menit lagi mau terbang,” suara petugas terdengar sedikit kesal kepadaku.

“Iya pak maaf.” Hanya kata itu yang keluar dari mulutku, aku tak bisa berkata apa-apa lagi selain mengutuk diriku sendiri.

Dengan membawa tas ransel dan jinjing aku menaiki eskalator yang membawaku turun untuk menaiki bis yang akan mengantarku ke dalam pesawat.

Alhamdulillah, tidak telat.

Aku masuk ke dalam pesawat yang akan mengantarku ke Pulau Dewata. Setelah sehari sebelumnya aku memilih tempat duduk di kursi bernomor 9A melalui web check in, aku masuk ke dalam dan segera mencari kursi bernomor 9A. Ah itu dia!

Namun kursi tersebut sudah ada yang menempati. Seorang perempuan muda terlihat menerawang jauh keluar jendela.

“Mbak maaf itu kursi saya.”

Tanpa mengeluarkan satupun kata perempuan tersebut lalu bergeser ke kursi di tengah yang masih kosong.

Aku pun mengucapkan permisi dan segera duduk di kursi dekat jendela pilihanku sendiri.

Tak lama kemudian pesawat mulai bergerak. Aku pun mencoba mengatur nafas sambil menenangkan pikiran setelah sedikit berlarian dan terkena semprot petugas bandara.
...

Entah ini sudah berapa ribu kaki di atas udara dan aku sibuk membolak-balik majalah yang disediakan maskapai hingga halaman terakhir.

Kebosanan pun datang. Setelah menghabiskan snack yang diberi oleh pramugari aku bingung sekarang harus bagaimana lagi. Ingin mengobrol dengan perempuan yang di sebelahku tapi sepertinya ia enggan karena aku sudah “merebut” tempat duduknya.

Hmmm...

Aku pun menengok ke sebelah kiri. Olala, pemandangan pagi ini sangat cantik dan aku baru menyadarinya. Awan-awan berwarna putih yang berbentuk tak beraturan terhampar. Dari balik kaca jendela aku bisa melihatnya dengan jelas bagaimana warna biru pastel berpadu dengan merah muda lembut. Aku benar-benar menyukainya, gradasinya menurutku sangat luar bisa cantiknya. Sang Pencipta sungguhlah Sang Maestro tiada dua karena telah menciptakan suguhan sempurna pagi ini.
Lalu aku pun mulai memejamkan mata, membayangkan bagaimana rasanya berada di tengah-tengah awan berwarna biru pastel itu.



Seperti wendy di dongeng peterpan, tanpa memakai alas kaki aku akan terbang meliuk-meliuk bebas di antara gumpalan awan. Masuk ke dalam awan satu ke awan lainnya sambil sesekali menari mendengar musik dari angin yang berhembus pelan. Aku akan terbang bebas di antara awan tanpa ada yang menghalangi.

Aku terus membayangkan aku terbang di antara awan pastel itu lalu... Duk!

Aw,kepalaku mengenai kaca jendela.

Lalu aku kembali membuka mata, meski tak bisa terbang menari di atas awan namun pemandangan di sebelah kiri mengobati kekecewaanku. Kali ini puncak gunung yang entah-namanya-apa terlihat di antara gumpalan awan biru pastel. Tak jauh dari gunung tersebut garis pantai memanjang terhampar. Ahh, sempurna! Aku tak lagi membayangkan bisa terbang di antaranya karena aku hanya ingin menari di atas awan.



Suara berat terdengar agak samar di telingaku. Pilot mengabarkan kalau sebentar lagi akan sampai di bandara tujuan.

Aku melihat ke sebelah kiri lagi, berharap awan biru pastel mengikutiku namun harapan itu kubuang jauh-jauh. Tak ada satu pun awan yang mengikuti.

Kulihat sekali lagi dengan seksama, berharap ada yang mengikuti dan Ya! Ada gumpalan awan seperti mengikuti dari belakang. Aku pun kembali menegakkan kepala dan melihat ke arah awan. Namun, sepertinya ada yang aneh dengan awan yang mengikutiku. Bentuknya tak secantik awan pastel tadi. Kali ini warnanya abu-abu kehitaman.

Awan apa itu? Aku bertanya dalam hati.

Awan-awan itu seperti berlari kearahku. Makin lama gerombolannya makin banyak.

Perlahan suasana di luar mulai gelap.



Tiba – tiba ada satu gumpalan awan besar yang dimasuki pesawatku. Lalu pesawat mulai terguncang pelan. Guncangan tersebut tak kunjung reda malah semakin keras. Lalu gemuruh hujan tiba-tiba datang.

Suasana dalam pesawat makin gelap. Guncangan yang tak kunjung reda membuat botol di meja lipat berpindah tempat.

Ada yang tidak beres, ada yang aneh.

Aku kembali memikirkan awan yang dimasuki pesawat yang kunaiki. Awan apa ini?

Pramugari dari arah belakang berlari ke depan.

Pesawat terus berguncang keras dengan air hujan yang terdengar seperti menusuki pesawat yang kunaiki, bayi di depanku mulai menangis.

Aku menoleh ke kaca di sampingku, gelap!

Oh, di manakah awan-awan yang berwarna biru pastel tadi? Aku tak menyukai berada dalam awan gelap ini.

Keadaan makin kacau, beberapa orang mulai gaduh menanyakan apa yang sedang terjadi. Pramugari yang ada tak bisa mengendalikan suasana.

Pak tua di samping perempuan yang kurebut kursinya tadi kulihat menunduk, memejam mata sambil merapal sesuatu.

Oh sedang terjadi apa ini? Ayolah cepat bawa kami semua ke bandara yang tadi katanya sudah dekat.
Suara tangisan bayi terdengar kembali kini terdengar dari arah belakang. Lampu di dalam pesawat kemudian mati. Bersamaan dengan itu tiba-tiba kudengar tak ada lagi suara mesin.

Mesin mati. Suasana dalam pesawat gelap total! Aku merasakan pesawat terhentak meluncur tajam tanpa kendali. Suara teriakan penumpang terdengar keras memenuhi isi pesawat.

Aku pun mengikuti pak tua untuk diam mulai berdoa meskipun rasanya ingin berteriak sekencang-kencangnya  Kembali kutengok jendela di sebelah kiriku dan melihat sepertinya ada awan berwarna biru pastel tadi. Sepertinya memang ia mengikutiku, namun suasana kacau seperti ini tak seharusnya ia muncul. Seharusnya ia muncul sejak tadi menggantikan awan hitam ini. Aku kembali merapal doa. Sebuah tanya di otakku tiba-tiba mencuat, awan-awan yang datang menghampiri apakah pertanda sebuah ajakan untuk saatnya aku menari di atas awan berwarna biru pastel tadi?

Ini bukan saat yang tepat, pesawatku jatuh dan untuk kali ini aku tak mau menari di atas awan.





Waktu itu perjalanan saya menuju penginapan di salah satu sudut Canggu ditemani oleh matahari di Pulau Bali yang sedang panas menyengat. Namun saya tetap bersemangat pasalnya tempat meninap saya kali ini konon katanya jaraknya tak terlalu jauh dari pantai, yay :D

“Alamat lengkapnya di Canggu mana mbak?”

“Gang Lely pak, dari google maps ini lurus nanti ada pertigaan belok kanan.” Saya berusaha menjelaskan kepada layanan ojek online yang saya naiki.

“Oh iya mbak yang pertigaan itu ya berarti.”

“Iya pak,benerr.”

Tak lama kemudian saya sampai di Litus Rinaya, sebuah hotel di kawasan Canggu. Saat pertama kali kaki saya menjejak Litus Rinaya saya langsung disambut oleh petugas hotel yang ramah dan langsung mengurus penginapan saya hari itu.

Mbak dan Mas Petugas Hotel


“Duduk dulu mbak silahkan, hmm satu hari saja ya mbak.”

“Iya pak, sehari aja.”

“Satu orang aja ya mbak.”

“Iya pak,satu ajaa. Eh pak di sini ada sewa motor? Saya pengen keliling naik motor soalnya hehe.”

“Oh ada mbak, di Litus Rinaya ada sewa motornya, sehari Rp 60.000, mau sewa mbak?”

“Iya pak mau tapi saya masuk kamar dulu ya hehe.”

“Oke mbak.”

Salah satu keasyikan di hotel ini ada sewa motornya jadi tamu hotel tidak usah susah-susah cari persewaan (bagi yang ingin sewa motor ya). Nanti saya akan ceritakan pengalaman berkeliling Canggu dengan menaiki motor yang sangatt asyique bangett di postingan lain (tunggu ya :D)

Kembali lagi ke proses check in, sambil menunggu saya melihat sekeliling. Wah ada sebuah kolam renang berukuran sedang di depan mata. Wah seru nih ada kolam renangnya ditambah dengan beberapa tumbuhan hijau membuat pemandangan langsung segar seketika.

Beruntung prosesnya tak lama, langsung saya di antar menuju kamar dan diberi kunci.

Setelah ditinggalkan oleh petugas hotel saya langsung meletakkan barang-barang dan mulai istirahat liat-liat isi kamar yang akan saya tempati sampai esok hari.

Bagi saya yang sendirian di kamar lumayan banget kamar deluxe ini ditambah dengan view kamar yang langsung menghadap kolam renang membuat pemandangan jadi segar hehe.
Baiklah ini dia isi kamar yang saya tempati.








Pemandangan langsung ke kolam renang :D

.......

Keesokan harinya setelah bangun pagi, saya langsung pergi ke lobby karena berniat jalan-jalan lagi di sekitar Pantai Batu Bolong, padahal kemarin sudah pergi ke sana tapi saya ingin pergi lagi hehe. Jaraknya yang tidak terlalu jauh, sekitar 15 menitan , dengan pemandangan yang super seru membuat saya ketagihan.

Ketika sampai di lobby saya langsung ditawari untuk sarapan. Seorang mbak-mbak petugas mendekati saya dan memberikan daftar menu. Hmmm saya bingung mau memilih apa tapi akhirnya pandangan saya tertuju pada gambar stylish breakfast Saya pun memilihnya beserta jus apel :D

Sambil menunggu sarapan saya datang, petugas hotel tadi menyuruh saya untuk mengambil teh dan kopi yang tersaji di ujung tempat makan. Tapi saya sedang malas mengambil kopi dan teh, pengennya air mineral saja.Akhirnya saya urung mengambil teh dan kopi.

Tempat makan di Litus Rinaya ini berdekatan dengan lobby hotel dan di sampingnya ada kolam renang. Ahh sarapan pagi saya seru sekali :D

Kemudian sarapan pagi saya datang. Sebuah roti dengan sosis, telur dan sayuran (hijau dan tomat) terhidang. Kandungannya lengkap nih, protein, serat, karbohidrat,lemak, vitamin jadi satu :D Ukurannya juga pas tidak terlalu banyak dan tidak terlalu sedikit. Soal rasa, tidak perlu ditanya, nyess banget.




Setelah sarapan, saya langsung  menarik gas motor dan melanjutkan jalan-jalan Canggu lagi hehe.
Oh iya ada satu pengalaman menarik, saat proses check-out petugas hotel dengan baiknya menjelaskan kepada sopir layanan taksi online saya dengan gamblang dan jelas lokasi Litus Rinaya. Saat itu sudah mepet waktunya, jadwal terbang pukul 13.40 dan pukul 12.00 masih di hotel padahal di Canggu terkenal daerah macet hehe :p Setelah menjelaskan dengan jelas hotel Litus Rinaya di mana, sang petugas menenangkan hati saya.

“Sabar mbak, tenang dulu, ditunggu sambil duduk aja,” kata petugas.

Saya yang dag-dig-dug takut ketinggalan pesawat tiba-tiba menurut. Terima kasih Litus Rinaya dan petugas hotelnya yang ramah dan baiiik.

Jadi, masih bingung kalau ke Bali ke enaknya ke mana? Coba deh ke Canggu dan Litus Rinaya, daripada mbulet ke di kawasan itu-itu aja :D

Berikut ini beberapa foto sudut Litus Rinaya lagi:

Lobby Hotel

Desain hotel yang minimalis

Pemandangan dari balkon kamar


Tempat makan

Lobby Hotel

Halaman depan Litus Rinaya

Ini motor yang saya sewa, gak pernah ngambek selama saya pakai :D





Info tambahan:
- Litus Rinaya ini biasanya dihuni oleh para surfer, karena letaknya yang tak jauh dari pantai.
- Ada sewa motornya jadi tidak susah cari persewaan bagi para amor (anak motor hehe)
- Sarapan dapat dipesan sehari sebelumnya.
- Di daerah Canggu cukup sulit apabila memakai jasa taksi online (waktu itu saya pakai uber) karena sesuatu hal namun saat saya memakai jasa taksi online sebelum ke Litus Rinaya dan sudah berkenalan dengan sopir taksi online tersebut saya tinggal menelfon untuk menjemput di hotel. Kalau ojek online masih cukup mudah :)


Hotel Litus Rinaya
Jalan Raya Canggu Gang Lely No 2,Canggu,Bali
Telepon: +62 361 474 0821
Akun sosial media:
Instagram : @litus_rinaya
Twitter : @litus_rinaya
Fanpage : Litus Rinaya Canggu






Nafas terengah selalu mengiringi langkah saya siang itu. Ditambah dengan matahari yang berada tepat di atas ubun-ubun membuat suhu udara makin terasa panas dan membuat keringat terus menitik. Nyali saya sedikit ciut.

Bisa gak ya sampai ke puncak pulau? Ini panas banget ._.

Di atas sudah terihat beberapa teman saya yang mengabadikan foto diri. Gugusan pulau dengan bukit tinggi disertai gradasi warna air laut yang biru membuat siapapun pasti tak kan mau melewatkan momen untuk berfoto, termasuk saya. Namun dengan nafas terengah saat itu harapan saya hanya satu, selamat tiba di puncak pulau. Setelahnya bebas saya mau lakukan apapun. Saya hanya ingin melihat dari puncak tertinggi bagaimana rasanya melihat keindahan pulau yang sangat tersohor ini.

Langkah kaki saya kian terasa berat dengan jalanan berdebu dan batu kerikil.

Bisa gak ya sampai puncak pulau?

Pikiran itu datang kembali. Lekas saya hilangkan pikiran negatif tersebut dan memulai kembali berjalan menuju puncak pulau.

Pemberhentian pertama

Dua orang teman saya sudah bersiap berfoto dengan menaiki sebongkah batu besar. Mumpung mereka berhenti saya juga ikut sekalian mengabadikan pemandangan.

Batu hitam yang berukuran sedang saya pilih untuk tempat duduk dan air mineral tanpa ba-bi-bu saya teguk.

Di depan saya garis pantai tak begitu jelas terlihat. Hanya buih-buih air laut yang menabrak batu karang Pulau Padar. Saya berdiri lalu memilih duduk di atas rerumputan dan mencoba sedikit melongok ke bawah kira-kira bagaimana pemandangannya. Ombak yang menabrak batu karang seakan mengajak saya untuk bermain di air lautnya. Hmm nanti ya, saya juga tak sabar untuk menyicipi berenang di air laut jurassic land ini.

Pemberhentian Pertama

Lalu istirahat di pemberhentian pertama selesai, saya pun kembali melangkahkan kaki melanjutkan perjalanan.

Kali ini tanah sedikit landai tak terlalu terjal lagi.

Fufufu..semangat,semangat sampai puncak! Kata saya dalam hati.

Debu kian bertebaran dan saya tetap menguatkan hati untuk mencapai puncak pulau.

Pemberhentian kedua..

Sebuah batu besar berwarna hitam pekat menjadi tempat istirahat kedua saya. Disana sudah lebih teduh karena ada sebuah pohon yang menjadi payung. Eh kok bisa ya ada pohon padahal di sekeliling rumput menjadi kering dan berwarna cokelat. Mungkin belum waktunya pohon ini berubah menjadi warna cokelat atau mungkin Tuhan berbaik hati memberikan tempat berteduh bagi para pengunjung.

Tak jauh dari pemberhentian kedua ada tempat yang disebut-sebut sebagai tempat ikonik (sepertinya seluruh pulau ini sangat ikonik ._.) Ketika saya memandang ke depan pemandangan gugusan pulau di seberang dan garis pantai makin terlihat jelas mengelilingi pulau.

Pose khas di pemberhentian kedua adalah menaiki sebuah batu yang agak menjorok. Ketika saya akan berfoto saya benar-benar menguatkan diri untuk tidak takut.

“Ima,mumpung di sini, nanti sampai rumah nyesel loh, ayo berdiri di sana.”

Seorang teman lagi-lagi menguatkan saya untuk berdiri di atas batu untuk mengambil diri saya yang sebelumnya hanya duduk.

“Yakin ini gak apa?”

“Gak apa, nah kamu pijak batu yang itu, terus itu. Siap ya, tahan, satu dua..”

Jadilah pose foto menahan takut terambil di kamera saya. Terlihat benar-benar menahan ketakutan haha lalu akhirnya pelan-pelan saya turun dari batu dan mulai duduk saja ._.

Memilih duduk daripada berdiri ._.
Seorang teman saya yang lain lalu mengajak terus menanjak ke atas pulau.

“Mau ikut naik gak? Nanggung udah sampai sini.”

Yuk!”

Saya langsung mengiyakan dan mulai melangkahkan kaki kembali. Kali ini langkah saya terasa lebih ringan. Entah itu setelah beristirahat agak lama atau sudah berdaptasi dengan lingkungan sekitar.
Rumput kering kali ini terlihat makin banyak. Selain itu hanya suara angin saja yang terdengar, wuss,wuss,wuss ~

Terlihat dari bawah teman saya sudah sampai di puncak. Seperti mendapat suntikan semangat saya makin percepat langkah kaki.

Hap hap hap..
Beberapa langkah lagi saya akan sampai puncak.
Hap hap hap, semangatt!

Diiringi dengan suara angin yang terdengar begitu berisik terkena rerumputan saya terus melangkahkan kaki sambil bersenandung pelan agar pendakian saya siang itu tak terasa makin berat.

Sedikit lagi saya akan sampai di puncak. Suara teman satu kapal saya terdengar makin jelas. Saya pun makin bersemangat.

Satu langkah, dua langkah, tiga, empat, Alhamdulillah :D Saya sampai juga di atas puncak pulau.

(Saya yang baru datang langsung diajak berfoto oleh teman satu kapal)

“Ayo ayo foto dulu bersama.”

“Yang fotoin siapa?”

“Saya aja yang fotoin.”

Seorang teman baru yang sepertinya berprofesi sebagai juru foto langsung menawarkan diri.

“Ayo baris semua geser ke kanan sedikit, iya terus, pas!”

Cekrik..cekrik..cekrik

Bentar saya bikin panorama ya tahan semua.”

Kami pun menurut saja diperintah hehe..

“Tahan senyumnya. Sekarang gaya bebas ya “

Foto bersama (diambil oleh ayojalanjalan )

Setelah selesai sesi foto bersama saya mengedarkan pandang ke seluruh penjuru pulau.

Ahhh sampai juga di atas puncak :D (sebenarnya ada puncak satu lagi yang lebih tinggi tapi sepertinya sampai di sini saja, tak kuat lagi rasanya hehe..)

Perjuangan panjang yang dimulai saat pertama tiba di pulau ini hingga ke puncak terbayar lunas. Pemandangan yang sangat apik terbentang luas di depan mata.

Sejauh mata memandang, terhampar rumput kering berwarna cokelat dan pulau-pulau lain yang memiliki warna serupa. Beberapa titik pulau ditumbuhi oleh beberapa pohon berwarna hijau yang tampak kontras dengan warna pulau yang berwarna cokelat.

Saya kembali mengatur nafas. Rasanya tiba di puncak ini seperti mimpi. Ketika diberitahu bahwa nanti akan singgah di Pulau Padar saya langsung mencari informasi di dunia maya namun kebanyakan menampilkan foto cantik dengan berbagai pose di atas batu dengan background gugusan pulau dan garis pantai yang sangat indah.

Hmm beberapa sumber memang mengatakan bahwa treknya cukup melelahkan namun sebatas itu saja tidak secara detail menjelaskan.

Akhirnya ketika saya sendiri yang mendaki hingga ke puncak pulau ini dengan terik matahari yang selalu menemani rasanya sangat bersyukur impian yang datang satu jam lalu untuk sampai ke puncak bisa terwujud.

Lalu apa yang dilakukan ketika sampai di puncak?Berteriak-teriak, salto, atau berdiri lagi di ujung batu sambil berfoto? Ah tidak, impian saya satu jam yang lalu hanya satu saja kok, bisa selamat sampai di puncak. Selanjutnya..saya dapat bonus merasakan aroma laut yang samar tercium dengan angin yang bertiup sambil melihat alam sekeliling pulau di tanah (hampir) tertinggi di pulau ini :)



....

Pulau Padar adalah Pulau kecil yang terletak di antara pulau Komodo dan Pulau Rinca. Namun tenang kawan, di pulau ini tidak ada komodo kok :)

Beberapa tips untuk kalian yang akan berkunjung ke sini:
1. Pakai sepatu atau sandal untuk trekking ke gunung. Medan yang cukup sulit membuat alas kaki adalah salah satu hal yang sangat penting. Jangan sampai terselip atau terpeleset karena alas kaki ya.

2. Pastikan pakaian yang kalian pakai nyaman digunakan dan tidak membuat ribet selama perjalanan ya. Kalau ingin berfoto cantik mungkin bisa membawa pakaian ganti (beberapa teman saya seperti itu). 

3. Bagi yang berhijab sebaiknya bahan hijab yang digunakan mudah menyerap keringat karena kondisi sekitar yang sangat panas sehingga nantinya dapat menyerap keringat di kepala. Kalau saya menyarankan bahan katun dan tie-rack (ini nama brand cuma saya kurang tau nama aslinya apa hehe). 

4. Jangan lupa bawa air mineral tapi sampahnya harus dibawa kembali ya.


Lokasi Pulau Padar dapat dijangkau dengan kapal yang berada di Labuan Bajo. Kalian dapat mengikuti open trip yang banyak sekali beredar di media sosial tapi cermati baik-baik ya open trip yang kalian ikuti. Cari yang benar-benar terpecaya. Selain itu bisa menyewa langsung kapal di pelabuhan untuk pergi ke Pulau Padar.





Tiwus, Lestari, Perfecto..

Nama yang tak asing bagi penggemar karya Dee atau Dewi Lestari. Nama – nama tersebut adalah nama jenis kopi yang ada di salah satu karyanya, yaitu Filosofi Kopi, sebuah cerita pendek yang telah diangkat menjadi sebuah film (favorit saya :D).

Sebenarnya saya tak memilki ketertarikan khusus dengan kopi sebelum akhirnya membaca karya cerita pendek Dee dan menonton filmnya. Ternyata tiap kopi memiliki cerita sendiri yang menarik untuk disimak.

Kali ini saya berkunjung ke salah satu sudut Kota Semarang tepatnya di Jl.Beteng 41. Tak pernah saya sangka sebelumnya saya akan menemui Tiwus, Lestari, dan Perfecto di kedai kopi mungil tersebut.

Lestari,Tiwus, dan Perfecto

Pertemuan saya hari itu sangat spesial pasalnya tak hanya bertemu dengan para tokoh Filosofi Kopi namun juga bertemu dengan seorang pria bernama Moelyono Soesilo. Siapakah Moelyono Soesilo? Jujur saya tak pernah mengenal beliau sebelumnya namun berdasarkan cerita dari salah seorang panitia BP2KS beliau yang kini tengah menjabat sebagai Wakil Ketua Asosiasi Eksportir Kopi Indonesia (AEKI) Jateng adalah seorang advisor di film Filosofi Kopi.

Beliau yang menjadi penasehat pada kopi yang disajikan di film Filosofi Kopi. Tak heran bila di kedai kopi ini dijual pula kopi-kopi tersebut.

Moelyono Soesilo mengatakan bahwa pembangunan E-Coffee ini tidak hanya bertujuan sebagai kedai kopi saja namun juga sebagai tempat belajar beberapa ilmu per-kopi-an. E-Coffee sendiri sebenarnya adalah singkatan dari Edu-Coffee.

Benar saja apa kata Moelyono Soesilo, kita dapat belajar tentang kopi di tempat ini dimulai dari cara penyajian. Sajian kopi di kedai ini dapat kita lihat prosesnya karena tata letak dapur kopi yang bersebelahan langsung dengan meja pengunjung. Dengan sebuah meja yang cukup rendah, pengunjung dapat melihat langsung pembuatan kopi, mulai dari penggilingan, penyaringan hingga proses akhir menuangkan kopi dari teko ke cangkir-cangkir.

Saat itu ada dua barista yang sedang bekerja, seorang perempuan dan seorang lagi laki-laki. Mereka terlihat sibuk untuk membuat kopi bagi kami yang berjumlah sekitar dua puluhan.

Dua barista yang sedang sibuk bekerja

Saya pun datang mendekat, melihat pembuatan kopi untuk pertama kalinya. Barista perempuan yang berambut pendek terlihat cekatan dan terampil saat membuatkan kami kopi. Sang barista lelaki tak kalah cekatannya dengan berjalan mondar-mandir sambil membawa teko yang berisi kopi untuk kami nikmati.

Saya yang masih sangat awam di dunia per-kopi-an dengan lugu menanyakan hal yang mungkin sangat menjengkelkan bagi sang barista.  

“Cara pembuatan kopinya dari awal bagaimana ya?”

Lah dari tadi saya bikin ini ndak disimak apa dek

Saya nyimak kok tapi kan saya gak tau kok ujuk-ujuk kopinya dilewatkan filter dan langsung bisa diseduh, awalnya gimana ._.

Baiklah itu adalah percakapan di imajinasi saya saja

Sang barista akhirnya menjelaskan kepada saya.

“Awalnya siapkan kopi yang baru digiling, lalu siapkan paper filter dan basahi kertasnya, tujuannya adalah untuk menghilangkan aroma dari kertas itu sendiri. Lalu masukkan kopinya, kita pre-infuse dulu istilahnya, tujuannya untuk membasahi kopi. Lalu tunggu sekitar 30 detik hingga satu menit, kemudian tambahkan air sesuai keinginan, standar perbandingannya sekitar 1:15,1:12, perbandingannya itu sesuai keinginan.”

Saat menunggu selama 30 detik terlihat bubuk kopi yang baru digiling mulai bercampur dengan air lalu tetesan air mulai jatuh dari paper filter ke dalam teko kopi. Perlahan barista mulai menuangkan air  ke atas kertas filter dan kopi pun siap tersaji.

Saat saya sedang memerhatikan barista membuat kopi, Pak Moelyono Soesilo tiba-tiba mengambil sebuah gelas dengan gelas aluminium di atasnya, yang baru-baru ini saya ketahui itu adalah alat untuk membuat Kopi Vietnam atau biasanya disebut Vietnam Drip.

“Mari-mari kita coba kopi Mirna,” sambil tertawa renyah beliau mulai unjuk gigi membuat kopi vietnam yang namanya diganti dengan Kopi Mirna (Mirna, seorang perempuan yang meninggal setelah meminum Kopi Vietnam yang telah diberi racun sebelumnya oleh rekannya).

Perhatian saya pun beralih.

"Gue nggak pernah percaya bercanda soal kopi" 


Tangan cekatan Pak Moelyono mulai beraksi. Tak lama kemudian cangkir pun terisi dan kopi vietnam siap tersaji.

“Imama coba ini, wenaak,” ujar salah satu teman saya yang sedari tadi juga memerhatikan dengan lekat proses pembuatan Kopi Vietnam.

Saya pun mengambil satu gelas Kopi Mirna eh Kopi Vietnam. Jadi, ini kopi yang menjadi minuman terakhir Mirna sebelum meninggal. Kata orang-orang Kopi Vietnam rasanya enak dan istimewa, mari saya buktikan sendiri.

Dengan mengucap doa berharap tak ada sianida yang tercampur di dalamnya, saya mulai meneguk perlahan Kopi Vietnam di gelas kertas berwarna putih.

Glek ... tegukan pertama untuk berkenalan dengan Kopi Vietnam.
Glek ... tegukan kedua, jadi begini rasanya Kopi Vietnam.
Glek ... tegukan ketiga, saya mulai merasakan keistimewaannya.
Glek ... tak ada tegukan lagi,yang tersisa hanyalah bongkahan es.

Saya ketagihan dengan Kopi Vietnam yang memang istimewa menurut saya. Ada dua rasa berbeda yang saya rasakan. Pertama, rasa pahit di lidah saat pertama kali mulai mengecap rasa. Kedua rasa manis yang terasa ketika sudah masuk ke dalam tenggorokan. Perpaduan yang pas antara pahit dan manis membuat saya berkeinginan mengambil gelas kedua. Namun hmm yang lain sudah mengambil Kopi Vietnam gak ya?

Saya melihat teman saya yang lain, mereka nampak nyaman duduk dan bersenda gurau hanya beberapa teman saja yang berdiri mengelilingi Pak Moelyono dengan kopi Mirna. Aihh saya kok jadi menamai Kopi Mirna bukan Kopi Vietnam ._.

Terlihat tangan Pak Moelyono mulai beraksi lagi dengan Vietnam Drip. Sepertinya Pak Moelyono akan membuat Kopi Mir.. eh Kopi Vietnam lagi :D Saya pun bersabar menunggu untuk gelas kedua.

Tak butuh waktu lama untuk Pak Moelyono membuatnya, kemudian sedikit demi sedikit beliau menuangkan cangkir beling yang berisi Kopi Vietnam penuh ke dalam gelas kertas yang masih kosong.

Lalu setelah saya yakin tak ada lagi yang mengambil Kopi Vietnam yang terhidang di meja aluminium barista saya mengambil gelas kedua.

Kali ini saya akan meneguk dengan pelan, batin saya.

Namun sama seperti gelas pertama, setelah berupaya memelankan tegukan tetap saja dengan tiga tegukan isi dalam gelas langsung habis seketika.

Rasanya memang istimewa, pantas saja kalau banyak yang suka dan menjadikannya kopi favorit, termasuk saya :D

Total tiga gelas yang sudah saya habiskan di kedai ini. Satu gelas kopi hitam yang rasanya sangat asam (karena saya sengaja tak menambahkan gula ke dalamnya) serta dua gelas Kopi Vietnam dengan perpaduan pas antara pahit dan manis yang dibuat langsung oleh Pak Moelyono.

Ketiga gelas kopi tadi memiliki kesamaan rasa yaitu pahit yang melekat dalam indera pengecap saya. Rasa yang tak akan pernah hilang dari si kopi sendiri.

Entah mantra magis apa yang diucap oleh sang barista dan Pak Moelyono hingga detik ini saya tak bisa melupakan rasa pahit itu..

Kopi Vietnam buatan Pak Moelyono Soesilo

 
Barista menuangkan kopi pada gelas kertas 


Informasi selengkapnya:
Instragram ecoffee : E-Coffee


---
Tulisan ini dibuat dalam kegiatan famtrip #SemarangHebat yang dilaksanakan oleh Badan Promosi Pariwisata Kota Semarang (BP2KS).

Baca tulisan teman-teman saya yang lainnya ya :)

Leonard Anthony : Jelajah Malam di Lawang Sewu
Eka Situmorang-Sir : Semarang Night Carnival 2016
Titi : Warak Ngendok
Mas Budi : Keseruan Semarang Night Carnival 2016