Menuruni jurang adalah salah satu hal yang tidak pernah ada di daftar kegiatan-paling-ingin dilakukan seumur hidup saya. Tapi ternyata beberapa minggu yang lalu saya berkesempatan mencoba salah satu kegiatan yang cukup ekstrim tersebut.

Awalnya segerombol anak-anak yang telah kami ajak belajar dan bermain bersama saat pagi hari mendatangi tempat saya dan teman-teman komunitas 1000 Guru Surabaya beristirahat.

Mereka berniat mengajak kami berjalan-jalan ke sungai tempat mereka biasanya bermain.
Jarak yang terucap dekat menjadi salah satu magnet yang membuat kami langsung tergiur dan mengiyakan ajakan mereka.

Namun sepertinya kami memiliki definisi dekat yang berbeda dengan mereka. Jika saya mendefinisikan dekat dalam jarak 100 meter sampai 300 meter dengan jalanan rata, mereka mendefiniskan dekat dalam jarak 1 km sampai 2 km dengan kondisi jalan yang tak pernah saya bayangkan sebelumnya karena begitu menantang!

Rasa was-was, takut, dan cemas menjadi satu ketika anak-anak menunjuk sebuah jalan setapak menurun yang tampak begitu curam. Di depan saya memang pemandangan begitu menawan namun saat melihat jalan ke bawah tampaklah jurang dengan pepohonan dan tumbuhan lain yang menutupi dasar.

Pemandangan di depan mata, lalu melihat ke bawah :((


Sebenarnya rasa was-was saya dipicu oleh ketidaksiapan saya sendiri. Bayangan saya yang mengira akan jalan santai berakhir dengan keputusan tidak berganti baju. Setelan rok, kaos oblong, dan alas kaki cr*cs plastik ungu saya pakai untuk menuruni jurang yang tanahnya begitu licin dan berbatu. Sekali lagi saya tidak pernah membayangkan jalannya seekstrim ini.

Tiba-tiba saja saya harus dihadapkan pada pilihan menuruni jurang atau tetap di tempat, tidak melakukan apa-apa, hanya menunggu saja karena apa yang saya saya kenakan waktu itu begitu tak sesuai dengan apa yang ada di depan mata.

YOLO,You Live at Once...,”kata Sara salah satu peserta yang berasal dari Eropa.

Ah, kesempatan pergi ke tempat ini tak pasti terjadi dua kali dalam hidup saya, apa salahnya mencoba, toh kalau terjadi apa-apa masih ada teman yang akan membantu :D

Dan ya! Saya menuruni jurang dengan jalan setapak selebar dua badan orang dewasa dengan alas kaki berbahan plastik dan rok.

Jangan bayangkan cara saya berjalan turun. Berbeda dengan anak-anak yang berlarian menuruni jurang, setidaknya ada beberapa siput di jalan yang mampu saya balap.



Beberapa bagian ada yang sudah diberi jalan setapak tapi lebih banyak tanah

Sebenarnya saya juga sedikit bingung menyebut ini jurang atau lembah atau istilah lainnya karena hanya kata tersebut yang muncul di otak. Yang pasti tempat yang saya kunjungi ini diapit oleh dua tebing besar dengan dasar sungai yang konon kata anak-anak adalah salah satu jalur rafting yang ada di kawasan Trawas.

Di depan tebing

Di salah satu titik ketika turun, nampak tebing yang terlihat di seberang.

Setelah setengah jam berjalan menyusuri jalan yang menurun, suara gemuruh air disertai suara dari teman-teman yang sepertinya sudah tiba di sungai semakin menambah semangat saya berjalan.

Dan akhirnya sampailah saya pada dasar dari jurang yang tak berdasar jelas ketika dilihat dari atas tadi.

Sungainya memang benar-benar jernih dan airnya sangat segar.

segarrr :D

Berakhir nyeker ._.


Saya membasuh muka berkali-kali sebagai rasa syukur dapat turun dengan selamat sekaligus menghilangkan rasa lelah yang menjalar di seluruh badan. (Hmm padahal masih ada pr naik jurang lagi haha).

Warga sekitar bercerita bahwa dahulu ada sebuah resort yang akan dibangun di dekat sini namun karena pemilik tiba-tiba sakit keras maka pembangunan dibatalkan.

Saya membayangkan kalau jadi dibangun resort, mungkin jalannya tidak akan seekstrim ini. Mungkin saja akan dibangun jalan setapak yang mempermudah pengunjung, mungkin saja saya bisa membalap siput lebih cepat lagi.

Ah tapi inilah seru dan menariknya ke lokasi sungai ini, setidaknya saya belajar untuk cepat mengambil keputusan ketika sesuatu terjadi tanpa persiapan matang yang tak pernah saya sangka sebelumnya. 


Foto bersama di kali :D



ps:kalau tau medannya sedikit ekstrim saya pasti akan memilih alas kaki lain yang lebih aman ._. tapi...Terima kasih banyak sandal plastik ungu yang unyu ! :D


Oh ya di 1000 Guru ini sudah tersebar di beberapa regional di Indonesia, bagi kalian yang ingin mengikuti kegiatan 1000 Guru di luar pulau tempat kalian tinggal bisa mencari  tiket pesawat murah di Tiket2.com ya :D  Banyak  tiket pesawat murah dan promo di sana. Tunggu apalagi segera klik link ya :D



Tiket sudah di tangan ketika jarum jam di stasiun menunjukkan pukul 07.30. Harusnya sudah berangkat tapi ternyata ada sedikit perubahan jam keberangkatan. 15 menit kemudian dari arah utara suara kereta memecah penantian penumpang yang memiliki tujuan beragam ke Kota Malang, saya sendiri sebenarnya tak memiliki tujuan jelas ketika pergi ke kota ini. Hanya sekadar “kabur” sebentar dari rutinitas harian (tapi sebenarnya pukul 8 malam saya harus tiba di tempat les saya karena ada kelas).

Jadi kurang dari 12 jam saya akan menghabiskan waktu saya di kota berjuluk bunga ini.

Baiklah mari berjalan, tanpa tujuan, siapa tahu menemukan hal baru yang menyenangkan.

....
Kota Malang hari itu cukup terik, saya yang bingung akan pergi ke mana lagi setelah makan di Depot Hok Lay dan ke salah satu pusat perbelanjan, akhirnya berjalan tanpa arah ke arah selatan stasiun.

“Dil,balik yuk, ke taman dekat stasiun ae gimana.”

“Yuk ma, di sini gak ada apa-apa.”

Akhirnya setelah berjalan tanpa kejelasan ke arah selatan stasiun, kami memutuskan untuk kembali dan masuk ke taman.

“Dil itu apa yo?”

“Mana ma?”

“Itu bangunan yang di sana.”

Kami akhirnya mempercepat langkah. Tanpa disangka ternyata ini adalah sebuah perpustakaan yang menjadi bagian dari csr salah satu perusahaan di Malang.




Bangunannya tak begitu luas. Hanya satu lantai. Namun yang membuatnya menarik adalah tata letak rak buku yang diatur dalam tiga bagian. Sisi kanan dan kiri yang menempel di dinding serta satu lagi berada di tengah.

Rak-rak buku tersebut berbahan dasar kayu dengan beberapa bagian rak yang tak sepenuhnya terisi oleh buku.

Waktu itu saya berkunjung sore hari sekitar pukul empat sore. Bias-bias sinar matahari yang akan tenggelam menembus beberapa bagian rak yang tak terisi buku. Bias – bias tersebut menjadi penerang alami bagi perpustakaan ini.

Sambil membunuh waktu saya memutuskan duduk di kursi beralas bantal hitam.

Buku di tangan, angin semilir yang masuk ke dalam perpustakaan, dan cahaya yang cukup teduh membuat saya berhasil menyelesaikan satu buku. Padahal sebelumnya tak pernah saya rencanakan akan menghabiskan waktu di perpustakaan ini.

Namun memang beberapa waktu yang lalu saya memiliki keinginan ketika berkunjung ke salah satu kota atau tempat saya dapat berkunjung ke perpustakaan lokal. Saya ingin melihat bagaimana perpustakaan dikelola di wilayah selain kota saya tinggal (sekaligus melihat desain dan tata ruang perpustakaannya, siapa tahu suatu hari dapat terinspirasi dan membangun perpustakaan sendiri, aamiin).

Saya jadi ingat kata-kata di salah satu perpustakaan di kota saya.

Kota tanpa perpustakaan bagai rumah tanpa jendela.”

Bagaimana dengan rumahmu sendiri? Sudah memiliki cukup jendela atau sedang berusaha membangunnya?





Pak Bisari, Penjaga Perpustakaan








ps: kalau sedang berkunjung ke Malang, bisa berkunjung ke taman yang letaknya di depan Stasiun Kotabaru Malang ini. Selain teduh dan nyaman bisa sekalian baca buku di sini juga. Ngomong-ngomong saya lupa bawa kamera saku saya, jadi semua foto saya ambil dari smartphone saya ._.




“Kenjeran Lama memang bagaimana mas?”

“Hahaha ya gitu mbak, jelek, kumuh, apalagi pas malam, wah, bahaya haha,” kata petugas di toko kain.

Hari itu saya pergi ke sebuah toko kain di salah satu pasar di Surabaya untuk membuat sarung bantal. Obrolan tentang tempat wisata di timur Surabaya tiba-tiba saja bergulir. Saya berpura-pura tidak tahu bagaimana kondisi Pantai Kenjeran Lama, padahal beberapa minggu yang lalu saya bisa sampai dua kali seminggu ke sana. 

Kesan kumuh, tidak tertata rapi dan aneka label lainnya memang sudah melekat di ingatan beberapa warga Surabaya, tidak terkecuali saya. Apalagi saat malam hari ini, Kenjeran Lama menjadi tempat lautan asmara karena banyaknya pasangan yang memadu kasih di sana.

Namun babak baru cerita di Kenjeran Lama dimulai...

Sekitar setahun yang lalu saya mengikuti tur bis wisata yang diselenggarakan rutin oleh pemkot Surabaya. Bis berwarna kuning membawa saya ke Pantai Kenjeran Lama untuk berisitirahat melepas lelah sekaligus sebagai akhir dari tur. Di sana saya melihat air laut surut dan di depan saya nampak kerangka bangunan seperti jembatan besar akan dibangun. Pemandangan tersebut sungguh tak sedap dipandang, karena memang belum selesai. Mau dibangun apa ya. Desas – desus dari penjual di Pantai Kenjeran Lama akan dibangun sebuah jembatan.




Jembatan? Untuk Apa? Bukannya malah menghalangi pemandangan sunrise ya..

Saat itu hati saya diliputi kebingunan besar, bagaimana rupa jembatan yang akan dibangun serta apa rencana bu walikota sebagai alumni perencana wilayah kota akan menata kenjeran lama. Lalu pikiran tersebut lama kelamaan sedikit terlupa.

Namun pada 9 Juli 2016  halaman facebook saya dipenuhi foto sebuah jembatan dengan air mancur berwarna-warni yang dapat menari disertai lokasi foto “Kenjeran Lama.”

Saya terkejut, karena sudah lama tidak mengikuti perkembangan pembangunan jembatan Kenjeran Lama.

Akhirnya di suatu pagi saya diajak oleh seorang teman untuk pergi melihat sunrise di Kenjeran. Sekitar enam bulan lamanya saya sudah tidak berkunjung ke Pantai Kenjeran Lama.

“Saya sering kesini loh, habis subuh berangkat ke sini sendiri sampai sini langsung hadap laut nunggu Sunrise,”ujar teman saya memecah keheningan pagi.

“Hmm..Saya juga sering dulu, makan pentol sama liat sunset, tapi hari itu saya sadar kalau Kenjeran tempat untuk melihat Sunrise bukan Sunset.”

“Hahahaha !!”

Tawa pun pecah. Saya sendiri bingung dengan ketidaksadaran saya membedakan lokasi sunset dan sunrise. Namun pagi itu membuat saya sadar bahwa Kenjeran ialah tempat untuk melihat Sunsrise bukan Sunset. Tercatat!

Sinar matahari mulai beranjak naik. Aroma asin menyerbak hidung. Saya  tak mau lama-lama duduk saja akhirnya saya mulai melangkahkan kaki beranjak pergi.

Perjalanan kaki saya menemukan beberapa hal menarik di sekitar tempat-menunggu-sunrise. Saya pergi ke rumah penduduk di tepi pantai yang telah dicat warna-warni dan ditata rapi, nampak begitu indah dipandang. Di seberang rumah penduduk dibangun Sentra Ikan Bulak yang menjual berbagai macam ikan dengan olahan yang bermacam-macam pula salah satunya diasap. Lalu sekarang ada taman bermain bernama Taman Hiburan Pantai Kenjeran Lama, yang berlokasi tepat di sebelah kiri pintu masuk Jembatan Suroboyo, satu hal yang menarik ialah terdapat outbond di dalamnya yang dapat disewa oleh umum. Selain taman bermain, ada pula taman bermain yang berada di depan pemukiman penduduk dan tidak dipungut biaya. Dan yang paling menarik ialah Jembatan Suroboyo di Pantai Kenjeran Lama yang menjadi ikon baru Surabaya. Jembatan sepanjang 800 m ini menghubungkan Pantai Kenjeran Lama dengan Jalur MERR & Jalan Laguna Surabaya.

Jembatan ini nampak begitu gagah di tepi pantai Kenjeran Lama. Deretan lampu, bunga, dan tiang-tiang yang berdiri sepanjang jembatan menambah keindahan. Muda-mudi hilir mudik mencari spot terbaik ada juga yang naik ke atas jembatan untuk melihat pemandangan yang berbeda dan anak-anak kecil sibuk bersepatu roda ditemani orang tua mereka.

Langkah saya terhenti di beton panjang yang dibangun di samping pemukiman rumah penduduk. Saya mencoba untuk duduk di atas beton, namun beberapa kali saya melompat tak kunjung dapat duduk. Akhirnya saya menyerah dengan menyandarkan badan saja.

Tiba-tiba ada seorang lelaki paruh baya berjalan kaki lalu menyandarkan badannya dengan melipat tangan di beton dua meter dari saya. Ia nampak sedang bersantai menikmati pagi hari di tepi pantai Kenjeran Lama.

Foto oleh teman saya


“Nek pas pasang banjir iki mbak sampek omah, sak durunge dibangun iki (sambil menunjuk ke tempat ia bersandar).”

Saya bingung beliau tiba-tiba mengajak saya berbicara.

“Oh ya pak?” 

“Iya, ini kan baru dibangun, sebelumnya gak ada. Dulu, warga di sini harus bersiap siaga saat air laut pasang, pasti masuk ke dalam rumah.”

Bulu kuduk saya meremang, ngeri membayangkannya. 

“Tapi sekarang sudah ada ini, lumayan membantu, tapi bagian belakang sana masih kadang-kadang banjir sedikit.”

Ternyata beton ini dibangun sebagai tanggul..ohh

“Hmm, kalau rumah-rumah ini dicat sendiri pak?”

“Oh enggak, kemarin dibantu sama pemerintah ngecatnya.”

Saya ingin menyudahi percakapan ini karena matahari makin tinggi, saya harus bersiap karena ada kelas pagi.

“Mbak gak naik perahu?”

“Perahu apa pak?”

“Perahu itu mbak.” Beliau menunjuk sebuah perahu yang sepertinya akan berangkat pergi ke tengah laut.

“Itu bisa disewa maksudnya saya naiki pak?”

“Bisa mbak, banyak pengunjung yang datang biasanya naik.”

“Terima kasih pak infonya, mungkin lain kali tidak hari ini hehe.”

Saya mengucap pamit dan segera memanggil teman saya untuk segera pulang.

“Apik yo saiki kenjeran.Kapan-kapan mau liat sunsetnya dari jembatan!”

Teman saya menggelengkan kepala, sepertinya saya harus diberi pelajaran arah mata angin dan lokasi matahari terbit dan terbenam di Surabaya. 








ps: saya akhirnya ke Jembatan Suroboyo untuk melihat sunset, meskipun tidak melihatnya langsung karena lokasi Jembatan Suroboyo di sebelah timur tapi pemandangannya keren juga kok :D ini beberapa fotonya, saya ambil dari kamera hp saya







Ada sebuah wilayah yang begitu dingin karena berada di ketinggian. Wilayah tersebut sangatlah terkenal seatero negeri karena saat musim libur panjang banyak didatangi orang dari berbagai kota untuk melepas penat rutinitas harian. Namun orang-orang yang datang seringkali kebingunan untuk mencari tempat menginap yang nyaman, tenang, jauh dari keramaian dan sangat menyenangkan.

Namun ada sebuah tempat yang memenuhi  empat hal diatas. Tempat itu ialah Berlian Resort.

Berlian Resort ialah tempat bermalam yang berada di Jl. Sindanglaya Cimacan Km 41, Ds. Sindang Jaya, Cipanas, Bogor.

Apabila memiliki rencana berlibur untuk keluarga besar atau juga dengan kolega kantor maka tempat inilah yang sangat cocok untuk Anda karena tak hanya menikmati alam sekitar yang begitu sejuk dan tenang saja namun di Berlian Resort ini memilki fasilitas kegiatan outdoor yaitu outbound. Dan khusus bagi Anda yang sedang mencari tempat yang begitu tenang dan nyaman untuk membahas agenda kantor ada beberapa paket yang tersedia yaitu Full Board Meeting Pakage, Full Day Meeting Package, serta Half Day Meeting Package.

Bagi Anda yang sedang merencanakan berkumpul dengan sanak saudara yang sudah lama tidak berjumpa maka dapat memilih Berlian Resort dan memilih Outbound Package sebagai sarana untuk mempererat kehangatan keluarga dengan berbagai games seru dan menyenangkan.

Namun apabila Anda hanya pergi dengan keluarga inti ataupun sedang bepergian seorang diri jangan khawatir karena ada beberapa tipe kamar yang juga sesuai kok : )

Di Berlian Resort, ada beberapa pilihan vila dan kamar yang dapat Anda pilihan sesuai kebutuhan, diantaranya ialah:

Vila 2 kamar tersedia  1 unit
Vila 3 Kamar seharga Rp 1.500.000  permalam  tersedia 4 unit
Vila 4 Kamar Rp 2.000.000 permalam  tersedia 1 unit

Standart Room :
- Hortensia 24 kamar
- Heliconia 32 Kamar
Extra Bed 75k

Selain itu fasilitas yang ditawarkan di antaranya ialah:
-WiFi di area umum
-Restoran
-Ruang rapat
-Ruang keluarga
-Area merokok
-Area bebas asap rokok
-Teras
-Aula
-Banquet
-Sarapan
-Makan siang dari menu
-Makan malam dari menu
-TV kabel
-Supermarket
-Laundry
-Jasa tur
-Resepsionis 24 jam
-Check-in ekspress
-Check-out ekspress
-Keamanan 24 jam
-Tennis
-Ruangan game
-Taman
-Area main anak

Khusus untuk area outdoor ada beberapa aktivitas yang dapat Anda lakukan seperti bermain basket, voli, tenis dan lain-lain. Aktivitas tersebut didukung oleh beberapa fasilitas yang ditawarkan oleh pihak Berlian Resort seperti:
- Lapangan Basket dan Voli
- Lapangan Tenis
- Billiard
- Kolam Pancing
- Jogging Track total area 4 hektar


Lapangan Basket

Area Bermain Anak



Selain berbagai fasilitas di dalam Berlian Resort yang begitu banyak dan menarik, Anda juga bisa berjalan-jalan di sekitarnya karena ada beberapa lokasi yang cukup dekat dengan Berlian Resort ini seperti Taman Safari Indonesia yang berjarak 8.50 km, Kebun Raya Cibodas 2.71 km, Perkebunan Teh Puncak 6.33 km.

Lalu bagi Anda yang hobi berbelanja maka jangan ragu untuk menginap di Berlian Resort. Lokasi yang strategis dan dekat berbagai tempat perbelanjaan akan sangat memanjakan Anda saat menginap di tempat ini.

Bagaimana? Tertarik untuk segera memesan kamar atau vila untuk tempat menginap yang nyaman, tenang, jauh dari keramaian dan sangat menyenangkan, maka segeralah memesannya. Salah satu cara paling mudah ialah lewat Traveloka.


Berlian Resort, pilihan cerdas bagi Anda yang ingin menginap di akomodasi dengan harga terjangkau dengan pelayanan prima!




Pulau Semau adalah pulau kecil di sebelah barat Kota Kupang. Saat tiba di Pulau ini saya disambut dengan beningnya warna air laut dan batu-batu karang berwarna hitam yang menghadap langsung dengan pelabuhan.

Satu persatu kendaraan roda dua segera diturunkan secara manual oleh para awak perahu. Satu motor diangkat oleh sekitar 3 orang. Caranya yang masih tradisional menjadi pemandangan baru bagi saya yang tidak pernah berpikir sebuah motor dapat diangkat oleh manusia. Saya pikir hal tersebut hanya ada di film superhero seperti hulk,superman, dan lain – lain. Mungkin kalau ada Pak Mario Teguh disini beliau akan berkata,”Super sekali orang – orang ini...”

Akhirnya setelah semua motor diturunkan akhirnya perjalanan mengelilingi Pulau Semau pun dimulai. Deru suara motor beradu dengan jalanan yang sebagian besar masih berupa tanah dan bebatuan. Jalanan di pulau ini sedikit yang diaspal alhasil debu jalanan menjadi teman seperjalanan rombongan saya saat di sini.

Tiba – tiba saya berpapasan dengan sebuah mobil. Langsung saja saya bertanya kepada Pak Erick, salah seorang pegawai dari Asita NTT yang membonceng saya,” Pak itu ada pegawai dishub disini ya, naik apa ya pak mobilnya?” Saya bertanya keheranan karena berpikir tidak mungkin menaiki perahu seperti yang saya naiki tadi.

“ Iya itu mobilnya saja yang dishub tapi di pulau ini mobilnya jadi angkutan umum penduduk yang mau ke pelabuhan.”

“Iya pak? Saya kira itu petugasnya lagi keliling pulau ”



Pak Erick lalu mengiyakan dan ketika mobil dari dishub tersebut berpapasan dengan saya di dalamnya ada beberapa orang yang melihat balik ke arah saya,ohh bener ya jadi kendaraan umum.Kami pun kembali beradu dengan jalanan Semau menuju destinasi wisata pertama kami. Satu jam berjalan sepertinya kok tidak ada tanda – tanda pantai atau air laut. Jalanan yang kami lewati malah menjadi jalanan berkapur putih.

Saya pun diam saja menikmati pemandangan sekeliling yang makin menarik. Rumah – rumah yang sebelumnya adalah rumah biasa dengan batu bata kini berubah menjadi rumah berdinding kayu beratap rerumputan. Sesekali saya berjumpa dengan anak – anak kecil yang melihat kepada kami dengan wajah heran kemudian mereka melambai tangan.

Rumah Penduduk
“Disini jarang sekali ada orang yang datang berkunjung jadinya mereka (anak-anak kecil) pasti heran. Meskipun tak ada yang dikenal tapi setiap ada yang datang mereka menyambut dengan seperti itu tadi, melambaikan tangan dan kalau berpapasan dengan sesama pegendara motor pasti disapa dengan membunyikan klakson.”

Benar saja dari tadi Pak Erick selalu membunyikan klakson motor ketika berpapasan dengan pengendara motor lain. Padahal Pak Erick tidak mengenal mereka satu pun namun sapaan hangat berupa senyuman,lambaian, dan saling membunyikan klakson menjadi satu hal unik yang saya temui di Pulau Semau ini.

Saya pun ingin mencoba tiga resep rahasia tersebut. Saat seorang perempuan berjalan sedang menyeret tumpukan dedaunan yang sepertinya dibuat untuk atap rumah mereka saya pun mencoba menyapa dengan senyuman, lambaian tangan dan dibantu dengan klakson dari Pak Erick dan ibu – ibu itu pun menghentikan jalannya dan tersenyum manis membalas sapaan kami.

Berhasil!

Akhirnya selain diam menikmati perjalanan selama saya mengelilingi Pulau Semau tiga resep rahasia tersebut saya terapkan. Lucu sekali ketika melihat segerombol anak – anak yang sedang duduk – duduk kemudian semuanya melambaikan tangannya sambil tersenyum lebar :D

Di malam hari ketika masih menyusuri Pulau Semau untuk kembali ke pelabuhan saya kembali berbincang dengan Pak Erick. Mulai dari cerita Pak Erick saat dahulu bekerja di Timor Leste namun harus berhenti dari pekerjaanya karena konflik panjang yang akhirnya menjadikan Indonesia berpisah dengan Timor Leste dan hal tersebut mengharuskan Pak Erick kembali ke Kupang hingga cerita tentang penduduk Timor Indonesia.

“Di Timor ini memang bentuk fisik kita terlihat seram dan garang tapi itu semua mungkin karena pengaruh keadaan lingkungan yang memang cukup keras namun hati kita baik. Tak seseram apa yang terlihat dari luar.”

Saya pun mengangguk pelan beberapa kali.

Di tengah gelapnya jalanan Pulau Semau yang minim sekali penerangan tiba – tiba ada suara motor dari arah depan. Pak Erick kembali memberi tanda sapa berupa klakson, meskipun tanpa berbalas senyum dan lambaian tangan, balasan berupa klakson dari motor di samping saya menutup hari itu dengan pelajaran sederhana dari Pulau Semau yaitu tiga resep rahasia:

Senyuman, Lambaian Tangan, dan Membunyikan Klakson...



Sidoarjo, 21 Desember 2015.

Beberapa gambar yang saya ambil di Pulau Semau:

Pohon kering

Pantai Oinian

Jalan berwarna putih :o


Pantai Otan





Sejujurnya saya tak mengetahui di mana lokasi Pantai Batu Bolong dan siang itu saya tetap memberanikan diri untuk tetap pergi ke pantai tersebut. Ketika sampai di sebuah pertigaan, saya bingung harus pergi ke mana. Lalu saya kembali melihat aplikasi penunjuk arah di smartphone dan yang terjadi adalah saya makin bingung.

Tiba – tiba beberapa kali bule melewati saya dengan membawa papan selancar.

Oh iya Batu Bolong kan tempat favorit bule berselancar, akhirnya dengan niat bulat saya pun memasukkan samrtphone saya ke dalam tas dan mulai untuk mengikuti seorang bule bermotor matic di depan saya.

Entah apa yang saya pikirkan saat itu, bisa saja bule di depan saya pergi untuk pulang ke penginapan mereka atau pergi ke tempat lain tapi hati saya yakin untuk tetap mengikuti bule tersebut.

Hati saya makin berdebar ketika jalan yang saya lewati berupa jalan kecil selebar 3-4 meter, ini kok seperti jalanan di rumah pada umumnya, kecil, banyak rumah penduduk dan sepertinya tidak ada tanda-tanda sebuah pantai. Dan yang membuat saya makin dag-dig-dug adalah bule di depan saya mengarah ke sebuah sawah. Hah ? benar ini jalan ke Pantai Batu Bolong? Namun saya tetap mengikuti ke arah sawah.


Sawah yang berwarna kuning keemasan lalu menjadi pemandangan perjalanan saya menaiki motor selama beberapa saat. Tapi yang melewati sawah ini kebanyakan orang-orang yang membawa papan selancar dan memang sepertinya telah dan akan pergi ke pantai. Hati saya kembali optimis pada bule di depan saya. Saya akan tetap mengikuti mereka.

Sesampainya melewati sebuah kafe di tepi sawah bukan bebek atau ayam di tepi sawah tibalah di sebuah mulut gang pertigaan yang mengarah ke dua jalan antara kanan dan kiri.  Waktu itu jalanan di sawah begitu ramai dan jalanan agak rusak jadi harus berhti-hati dan saya harus berfokus pada dua hal sekaligus, fokus di jalan dan fokus melihat ke depan. Namun tiba-tiba ketika saya melihat ke depan, bule di depan saya tadi menghilang. Olala~ ke mana ya mereka? Saya pun kembali mengikuti apa kati hati saja setelah kehilangan bule di depan saya. Akhirnya saya tiba di mulut gang pertigaan dan saya mengambil arah ke kanan jalan. Jalan yang membawa penyesalan karena 5 menit berjalan lurus saya tak melihat tanda-tanda pantai dan jalanan begitu sepi.

Saya pun memutuskan kembali ke mulut gang tadi dan memilih jalan ke arah kiri tadi yaitu lurus ke depan.

Selama perjalanan belok kiri banyak sekali tempat makanan seperti kedai pizza tepi sawah dan kafe lucu lainnya. Mungkin kalau ke sini lagi saya akan mencoba mengunjunginya karena teman saya sudah menyarankan beberapa tempat dan lain kali saya akan mencobanya :D

Lalu saya tiba di pertigaan lagi, entah sudah berapa kali pertigaan yang saya lewati, saya kemudian memilih belok ke arah kanan jalan. Dari arah berlawanan beberapa bule seperti dari sebuah pantai dengan kaki mereka yang berbalut paris. Saya makin tak sabar untuk sampai di Batu Bolong dan yakin bahwa jalan yang saya pilih benar. Laju motor sewaan pun makin saya tambah.

Di sini banyak sekali beberapa pojokan yang begitu cantik untuk dijadikan background foto namun hari makin sore dan saya pun harus memburu waktu untuk bisa sampai ke Batu Bolong.

Salah satu pojokan cantik


Sepertinya ujian saya dengan pertigaan benar-benar diuji, kali ini kembali saya harus berhadapan dengan pertigaan. Tapi kali ini soal di pertigaan untuk memilih jalan kanan atau kiri tak terlalu sulit karena ketika saya menegok ke arah kiri nampak gerombolan bule dengan papan selancar di tangan mereka. Nah, pasti di sana!

Secepat kilat saya menuju ke ujung jalan dan benar saja kali ini suara deburan ombak menyambut kedatangan saya seraya mengucapkan,”Selamat Datang di Batu Bolong dan Selamat Telah Menempuh Ujian Pertigaan.”

Ujung Jalan, yay :D


Senyum saya melebar dan dengan lari-lari kecil saya menuju asal deburan ombak...

Pantai Batu Bolong

Pantai Batu Bolong lagi

Pantai Batu Bolong lagi hehe




Untuk kalian yang bingung apabila ke Canggu ke mana saja maka inilah beberapa hal yang saya sarankan:

 1. Pergi ke pantai.
Ada beberapa pantai di Canggu seperti Pantai Berawa, Echo Beach dan Batu Bolong tinggal memilih dan siapkan perlengkapan ke pantai kalian.

2.Banyak sekali deretan toko yang begitu lucu dan unik yang akhirnya membuat saya tergoda mampir ke salah satu tokonya dan berhasil membuat satu postingan ini haha.

Beberapa toko di Canggu



3.Ini belum saya lakukan tapi saya mendapatkan informasinya dari blog teman saya yaitu berkunjung ke kafenya. Di Canggu ini ada banyak sekali kafe yang memiliki bentuk yang memikat pembeli seperti sebuah kedai pizza di tepi sawah. Selengkapnya coba baca blog teman saya ya di sini : )

4. Sebaiknya kalau ke Canggu bersama seseorang yang dapat membantu kalian untuk berfoto. Kenapa? Karena banyak sekali lokasi yang begitu instagrammable. Bahkan di tepi jalan pun seperti foto di bawah ini sangat cocok sekali untuk mengisi feed instagram. 

Salah satu pojokan cantik lagi 



Selamat berlibur ke Canggu, hati-hati dengan pertigaan hehe.





Canggu memiliki kisah menarik tersendiri bagi saya yang berkaitan dengan alat transportasi yang membawa saya pergi dari daerah tersebut.

Ceritanya begini..

Saat keluar dari bandara saya memesan sebuah layanan taksi online untuk membawa saya ke hotel. Namun karena ingin berjalan-jalan saya meminta taksi online tersebut untuk membawa saya ke Cangu dan mampir di beberapa destinasi wisatanya.

Namun masalahnya taksi tersebut memiliki janji pukul 11 siang dengan penumpang lain, pilihannya adalah saya langsung di antar ke hotel dan tidak berjalan-jalan atau saya diturunkan di tempat lain dan menyewa layanan transportasi lain untuk berjalan-jalan.

Saya pun memilih opsi kedua.

Setelah sebelumnya saya berkenalan dan diberikan kartu nama sambil sedikit mengobrol tentang rencana perjalanan saya, Pak Didi, sopir taksi online tersebut menurunkan saya di suatu tempat. Karena masih dalam masa promo saya pun menggunakan promo tersebut dan tak lupa mengucapkan terima kasih dan sampai jumpa kembali ketika saya akan menggunakan layanan taksi Pak Didi.

“Mbak tapi ingat ya, di Canggu itu daerah macet jadi kalau mau pesan telfon saya sekitar 2 jam sebelumnya nanti saya jemput di hotel. Jangan pesan pakai aplikasi dulu, nanti baru di dalam mobil baru pesan ya mbak.”

“Kenapa begitu pak?”

“Soalnya rawan mbak di sana, sering ada bentrok, mobil teman saya ada yang digores sama warga di sana.”

“Oh begitu, oke pak siap.”

Sampai di situ saya pun selalu mengingat-ingat apa kata Pak Didi untuk memesan 2 jam sebelumnya dan menelfonnya baru memesan lewat aplikasi di dalam mobil.

Untuk sampai di hotel saya menggunakan layanan transportasi yang berbeda yaitu menggunakan ojek online.

Lalu saya ingat apa kata Pak Didi.

“Kalau ojek aman sedikit mbak daripada taksi online.”

Setelah berjalan-jalan di Canggu dan pergi dengan beberapa teman, saya pun beristirahat di hari itu.

Keesokan harinya saya kembali berjalan-jalan namun sesuatu hal terjadi, saya lupa waktuuu : ((

Sesampainya di hotel saya bergegas packing dan bersiap-siap untuk pergi ke bandara. Di chat grup saya, teman-teman saya yang lain sudah sampai di bandara tinggal saya saja yang belum sampai.
Saya pun langsung menelfon Pak Didi dan lupa salah satu pesan dari beliau untuk menelfon sekitar dua jam sebelumnya..

Degup jantung saya dag-dig-dug tak karuan menunggu Pak Didi di lobby hotel.

“Sabar mbak, duduk dulu saja tadi sudah saya beritahu lokasi hotelnya kok, tunggu sebentar lagi juga sampai,” ujar petugas hotel menenangkan saya.

Saya pun menurut.

Tak lama kemudian mobil Pak Didi datang saya pun langsung melesat keluar dari hotel tak lupa mengucap salam perpisahan dengan petugas hotel.

“Mbak berani sekali, kemarin saya sudah bilang kalau di Canggu ini daerah macet kalau telfon sekitar 2 jam sebelumnya. Beruntung mbak ini, saya lagi bawa penumpang ke batu bolong pas mbak tadi telfon jadi bisa langsung ke sini.”

“Kok bisa ya tadi pas mbak nelfon saya ada di Batu Bolong? Padahal kita tidak janjian loh sebelumnya.”

Pak Didi terus berkata kepada saya tentang ketidaksengajaan tersebut sambil menyetir dengan gesit di jalanan untuk memburu waktu saya yang akan segera berangkat ke Pulau Komodo.

“Hehe iya pak maaf ya tadi tiba-tiba begitu, saya tadi pagi jalan-jalan pak di Canggu sampai lupa waktu, masih bisa kekejar gak ya pak sama pesawatnya?”

“Jam berapa mbak pesawatnya?”

“Di jadwalnya 13.45”

Waktu itu pukul 12 siang lebih. Perjalan sekitar satu jam di hari biasa kata Pak Didi, jad saya akan tiba pukul....tiba-tiba perut saya mulas 

“Saya usahakan ya mbak agak ngebut, tapi saya kaget loh tadi kok bisa ya pas saya bawa penumpang di Cangu mbak telfon..” Pak Didi mengulang kata-katanya.

Saya sendiri gak tau paaak, iya ngebut aja pak saya restui bangett. Batin saya berteriak-teriak.
Lampu merah di depan saya berubah warna menjadi hijau. Pak Didi pun melesatkan mobilnya di jalanan Canggu yang kala itu tiba-tiba sedikit sepi menurutnya.

Saat di dalam mobil kami berdua lebih banyak diam, tapi sejujurnya saya berdoa agar saya tidak terlambat. Mulut saya komat-kamit tak karuan. Ponsel saya kembali bergetar dan sebuah pesan masuk. Teman saya kembali menanyakan di mana posisi saya. Ya Allah beri kelancaran : ((((

“Beruntung mbak ini, jalannya agak sepi,biasanya di sini ramai. Kalau di sini sudah aman selanjutnya aman mbak!” ujar Pak Didi sambil tetap sedikit ngebut di jalanan. Entah sampai mana, saat itu hati saya sudah dag-dig-dug tak karuan tak sempat menanyakan sampai di mana.

“10 menit lagi sampai mbak ini,”ujar Pak Didi seperti menenangkan saya.

“Oh ya pak?” Saya pun segera membalas pesan teman saya dan mengatakan sekitar 10 menit lagi sampai di bandara.

Dan benar sekali perkiraan Pak Didi, 10 menit setelahnya sebuah palang nama bandara terpampang di depan saya.

“Alhamdulillah paak!” saya sedikit berteriak kepada Pak Didi.

Beliau membalasnya dengan senyum lebar dan berkata kepada saya agar tak mengulanginya hehe.

“Siap Pak!”

--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Itulah cerita saya saat bertemu dengan Pak Didi, sopir salah satu layanan taksi online di Bali. Saat mengobrol dan mengatakan Sidoarjo sebagai tempat saya tinggal beliau pun langsung menyahut dengan mengatakan bahwa Ayah beliau pun berasal dari Sidoarjo. Sebuah ketidaksengajaan lagii haha.

Menurut saya beliau ini sangat supel dengan pelanggan, bisa mengendarai dengan baik, mengizinkan saya untuk mengisi daya baterai ponsel yang sekarat di mobilnya dan yang paling penting bisa ngebut dengan sangat baik hahaha.

Pak Didi saat mengebut di jalanan 



Bagi teman-teman yang ingin mengontak beliau, selain pesan lewat aplikasi online beliau juga bersedia untuk ditelfon langsung dan mengantar ke tujuan wisata teman-teman. Kalau berminat, bisa japri saya ya :D





“200 ribu mbak, itu udah pas.”

“kurangi dikit ya pak, 150 berlima.”

Pak Susilo seperti agak berpikir dengan angka yang kami tawarkan tersebut, tak lama kemudian beliau mengangguk setuju. Setelah itu kami disuruh Pak Susilo untuk menunggu di Dermaga Tlocor untuk memulai perjalanan ke salah satu pulau unik di Sidoarjo, yaitu Pulau Sarinah. 

Pulau Sarinah ialah pulau buatan yang dibuat oleh BPLS dari sedimentasi lumpur lapindo yang telah menyembur 10 tahun yang bertempat di muara sungai Kali Porong, Desa Tlocor, Kecamatan Jabon. Kira-kira luasnya sekitar 90 hektar.



Di Dermaga Tlocor nampak beberapa orang sedang sibuk dengan alat pancing masing-masing. Beberapa diantaranya sudah berhasil mendapatkan ikan sedangkan yang lain nampak masih berusaha menebar umpan agar pulang tidak dengan tangan hampa. 

“Mbak mau naik perahu ya?”

“Iya pak”

Kemudian pria berbaju oranye yang menanyai saya segera memberitahukan kepada teman-temannya yang lain. Sepertinya dengan kedatangan perahu di dermaga sedikit mengganggu kegiatan memancing mereka. Saya pun kembali diam dan menunggu datangnya perahu Pak Susilo yang sedang disiapkan di sisi lain dermaga.

Sekitar 10 menit menunggu sambil berteduh di bawah pepohonan mangrove di dermaga, terlihat sebuah perahu mulai berjalan menyusuri sungai. Suara mesin perahu segera menyita perhatian kami semua di dermaga. 

Kami berlima, saya, mbak, lek yani (panggilan untuk adik dari ibu), dan dua sepupu saya yang masih duduk di bangku SMP dan SMA segera bangkit menuju jembatan kecil sebagai jalan turun ke perahu.
Ternyata perahu Pak Susilo memutari dermaga. Padahal kalau lurus saja bisa langsung sampai namun sepertinya Pak Susilo tak ingin mengganggu aktivitas umpan-umpan yang telah dilempar dan ingin memanaskan mesin sehingga beliau mengambil jalan ke tengah sungai lalu merapat ke ujung dermaga.

Setelah dipasang sebuah papan kayu dari jembatan besi yang telah berkarat satu persatu kami mulai naik perahu. Ada rasa was-was ketika melewati jembatan besi karena beberapa bagian sudah berlubang dan terlihat berkarat. Namun dengan awas kami selamat hingga masuk perahu.



Perjalanan ke Pulau Sarinah pun dimulai...

Kami melewati Kali Porong (Sungai Porong) untuk menuju pulau tersebut. Sebenarnya sejak lama saya ingin kesana namun belum ada kesempatan yang pas dan kali ini saudara saya yang sedang mudik sedang ingin menjelajah Sidoarjo, saya pun langsung mengiyakan ajakannya. 
Saat mulai menyusuri Kali Porong tiba-tiba saya mengingat sesuatu.

Sekitar setahun lalu, segerombol buaya muara terlihat sedang “berjemur” di Kali Porong Dusun Awar-Awar, Krembung. Kali Porong tersebut letaknya di sebelah kecamatan saya tinggal. Buaya-buaya tersebut berpindah tempat diduga karena pencemaran lingkungan. Berita tersebut cukup heboh di masyarakat Sidoarjo dan keluarga saya bahkan mbak dan ibu saya sempat akan melihat buaya tersebut tetapi gagal karena saat itu akses jalan cukup susah. Namun kepindahan buaya tersebut sampai sekarang belum dapat dipastikan berasal dari muara Kali Porong karena ada yang menyebutkan bahwa sebenarnya buaya-buaya tersebut milik warga yang sengaja dilepas. 

Benar tidaknya berita bahwa buaya yang sedang “berjemur” tersebut berasal dari Kali Porong membuat saya tetap was was karena setahu saya tempat tinggal buaya memang di perbatasan antara laut dengan sungai dan tujuan saya adalah tempat tersebut. 

Kalau buaya tersebut berpindah dari muara ke Kali Porong di Krembung berarti buaya tersebut pasti melewati Kali yang sedang saya lewati sekarang ini...hmmm baik tenang-tenang.

Lek saya sibuk untuk bertanya banyak tentang Pulau Sarinah pada Pak Susilo, saya sendiri sibuk dengan seorang sepupu saya yang masih akan duduk di bangku SMA, Ibed, karena ia berpindah tempat sehingga perahu langsung terasa agak miring.

“Bed, tetep duduk di sana.”

Ketakutan saya akan buaya sepertinya berimbas pada tiap gerak perahu. Sedikit saja oleng saya langsung menoleh ke Ibed yang memiliki postur badan sedikit bongsor untuk tak berpindah-pindah tempat duduk. Ibed sendiri sepertinya sedikit kesal pada saya yang  nampak mengaturnya.

Saya tak mau perahu yang saya naiki terbalik dan berakhir dengan berenang bersama buaya, itu saja ketakutan saya.

Sekitar 30 menit di atas Kali Porong, tanda-tanda sebuah pulau sudah mulai terlihat.

Perlahan perahu mulai mendekat ke arah Pulau Sarinah. Hijaunya pepohonan mangrove menyambut kedatangan kami. Selain itu nampak beberapa burung liar yang hinggap di pepohonan dan ranting daun yang telah mati di Kali Porong serta terdapat sebuah dermaga sederhana terbuat dari kayu yang menjadi pintu gerbang pulau ini. 


Dermaga Pulau Sarinah


Mata kami semua nampak mengamati dengan jeli tiap sudut pulau yang hanya dapat kami lihat bagian tepinya saja. Sejauh mata memandang, pepohonan mangrove nampak tumbuh dengan lebat. Hanya suara mesin perahu yang begitu berisik terdengar di telinga. Selain itu kami hanya diam menikmati pemandangan. 

Tiba-tiba karena penasaran saya bertanya pada Pak Susilo,”Pak di sini benar ada buayanya?”

Suasana yang sebelumnya hening tiba-tiba menegang. Saya langsung ditegur oleh lek dan mbak yang sepertinya memiliki rasa takut yang sama seperti saya. Pak Susilo tak menjawabnya hanya sedikit tersenyum. Saya pun mengurungkan niat untuk bertanya lagi. 

Perahu terus bergerak mengelilingi pulau. Aliran sungai nampak begitu tenang sedikit berbeda saat akan “berbelok” ke arah Pulau Sarinah yang sepertinya menjadi pertemuan arus di Kali Porong.
Tak ada tanda-tanda keadaan manusia di tepi Pulau Sarinah karena memang keberadaan petugas dari BPLS (Badan Penanggulangan Lumpur Sidoarjo) berada di dalam pulau. Sebenarnya kami ingin masuk ke dalam pulau namun terbentur dengan peraturan baru yang mengaharuskan memiliki surat izin koramil setempat. Sayang sekali kami tidak mengetahui hal tersebut ._.

Menurut Pak Susilo, rencananya pulau ini akan dijadikan wisata mangrove serta ada beberapa fasilitas tambahan seperti sepeda air. Saat ini belum saya ketahui sampai tahap mana pulau ini dijadikan sebagai destinasi wisata. Namun untuk menjadikannya sebuah destinasi wisata baru di Sidoarjo sepertinya membutuhkan banyak persiapan termasuk salah satunya sisi keamanan transportasi menuju Pulau Sarinah dan mitos tentang buaya sendiri (tetep hehe).

Apakah benar buaya yang waktu itu berpindah ke Kali Porong berasal dari pulau ini dan kalau nanti dijadikan tempat wisata buaya-buaya tersebut bagaimana nasibnya ._. Entah kenapa saya begitu penasaran dengan keberadaan buaya. Padahal saya sendiri kalau langsung berhadapan pasti langsung menggigil ketakutan tak karuan. 

Sebuah perahu nelayan nampak melaju ke ujung lain Pulau Sarinah. Saya pikir perahu yang kami tumpangi akan sampai ke ujung juga namun ternyata perahu memutari sungai dan sepertinya akan kembali ke Dermaga Tlocor.

Deru mesin terdengar begitu bising di telinga seperti halnya kondisi pembangunan kota yang terkenal dengan julukan “Kota Delta” ini yang sedang gencar sekali mempercantik diri di sana-sini. Semoga keberadaan pulau ini menjadi salah satu agenda besar bagi Sidoarjo untuk terus meningkatkan potensi wisata. Harapan dan doa selalu saya panjatkan bagi kota kelahiran tercinta.



Salam,

Salah satu putri daerah kota delta tercinta :*



Beberapa foto perjalanan selama di Pulau Sarinah:



Beberapa burung liar di Pulau Sarinah

Pulau Sarinah dari atas, sumber: travelingyuk.com

Dermaga Tlocor

Pak Susilo, yang telah mengantar kami ke Pulau Sarinah




Informasi tambahan :
-Untuk menuju Pulau Sarinah terlebih dahulu ke Dermaga Tlocor. Dari arah Tanggulangin, setelah melewati jembatan Kali Porong langsung belok kiri. Lalu jalan terus lurus sekitar 15 km sampai Dermaga Tlocor yang ditandai dengan sebuah patung berbentuk apel (padahal bukan kota apel). 
- Infrastruktur termasuk sangat bagus karena jalan aspal tidak ada yang berlubang serta tempat parkir cukup luas saat di dermaga.
-Di sepanjang jalan mata akan dimanjakan dengan pemandangan tambak ikan serta ada beberapa warung makan ikan bakar.
-Harga sewa perahu sekitar Rp 150.000 – Rp 200.000
-Biasanya tempat ini dijadikan sebagai tempat latihan tim SAR karena di waktu yang lain saya pernah bertemu dengan tim SAR yang sedang berlatih di sana.
-Di Dermaga Tlocor sendiri terdapat pula warung penjual makanan kecil serta terdapat warung makan ikan bakar.
-Apabila ingin masuk ke dalam Pulau Sarinah harus memiliki izin dari koramil setempat, informasi ini saya dapatkan dari seorang warga di sana.