Nusantara, Unity in Diversity


Malam itu ketika saya dan teman-teman sedang makan malam di salah satu restoran di Kupang, Joey yang masih berumur sekitar 7 tahun, berbisik kepada saya.

“Kak Ima kok makan daging? Kan daging tidak boleh dimakan sama orang Islam,” Joey berkata pada saya dengan mimik wajah heran.

“Oh ini kan daging sapi, jadi aman Joey, yang tidak boleh daging babi.”saya membalasnya dengan senyuman.

Joey mengangguk dan kami pun melajutkan makan.

Saya dan Joey di Pantai Oetune


Sebagai agama minoritas, Islam di Kupang nyatanya sudah berbaur dengan baik dan menerapkan toleransi dengan agama lain, yaitu Kristen dan Katolik yang menjadi agama terbesar di kota karang tersebut.

Saat siang hari sebelum acara makan malam dimulai saya diberitahu oleh seorang panitia acara yang saya hadiri bahwa,” Tidak perlu cemas makan daging di sini karena tempat penyembelihan sapi di kota ini petugasnya muslim, jangan takut makan daging ya.” Sambil tertawa renyah panitia tersebut menjelasskan kepada saya yang menjadi salah satu peserta muslim di kegiatan famtrip explor the diversity, Kupang.

Menurut salah satu sumber yang saya baca, bahwa ada masjid yang bernama Al-Muttaqin yang terletak satu area dengan gereja HKBP. Sejak lama kaum muslim dan kristen di Kupang sudah menerapkan toleransi satu sama lain.

Misalnya saat Idul Adha, maka petugas gereja dibagikan pula daging kurban dari Masjid Al-Muttaqin. Kemudian saat Ramadhan maka takmir masjid Al-Muttaiqin menyerahkan jadwal kegiatan mereka kepada petugas gereja. Jadwal ini berguna untuk memberitahu kegiatan apa saja yang akan dilakukan pada Bulan Ramadhan agar kemudian disesuaikan dengan jadwal di gereja. Misalnya masjid baru mengadakan acara setelah kebaktian selesai dilakukan. Dan kegiatan di gereja telah selesai dilakukan sebelum Dhuhur karena mereka paham bahwa waktu Sholat Dhuhur tidak bisa diundur.

Masjid Al-Muttaqin


Sejarah masuknya agama Islam di Kupang sendiri erat hubungannya dengan penyebaran agama Islam di Indonesia. Dari Ternate, Islam meluas meliputi pulau-pulau di seluruh Maluku, dan juga daerah pantai timur Sulawesi.

Pada abad ke-16, dari Sulawesi Selatan muncul Kerajaan Gowa. Pengislaman dari Jawa disini tidak berhasil, akan tetapi berkat usaha seorang ulama asal Minangkabau pada awal abad ke-17, raja Gowa itu akhirnya memeluk agama Islam juga. Nah, atas kegiatan orang-orang Bugis, maka Islam masuk pula di Kalimantan Timur dan Sulawesi Tenggara, juga beberapa pulau di Nusa Tenggara.

Akibat meluasnya kekuasaan Kerajaan Tallo dan Goa di Nusantara Tenggara Timur, maka masuklah agama Islam di Nusa Tenggara Timur. Selain pengaruh dari Sulawesi Selatan, masuknya agama Islam di NTT disebabkan pula oleh masuknya orang-orang yang beragama Islam dari Ternate – Maluku ke daerah ini.

Setelah masuknya agama Islam ke Pulau Solor sekitar abad ke XVI, maka dengan perantaraan orang-orang yang beragama Islam dari Solor, agama Islam masuk ke Batu Besi Kupang sekitar tahun 1613.

Melalui komunikasi laut, agama Islam berhasil dikembangkan di daerah-daerah pesisir Kabupaten Kupang yang strategis letaknya, sehingga terbentuknya masyarakat Islam di Kupang pada mulanya terjadi di daerah-daerah pesisir.

Dalam catatan sejarawan, masyarakat Islam yang berada di pesisir Pulau Timor telah muncul di Kupang, Toblolong (Kecamatan Kupang Barat), Sulamu (Kecamatan Kupang Timur), dan Naikliu (Kecamatan Amfoang Utara), Babau (Kecamatan Kupang Timur). Di tempat inilah, para nelayan, pelayar, dan pedagang menyinggahi dan menetap di daerah-daerah ini. Perkampungan Islam juga terbentuk di Pulau Sabu (Kecamatan Sabu Barat) di daerah pesisir.

Di luar Kupang, masyarakat Islam juga terbentuk di Oesalain (Pulau Semau) tahun 1920, Pulau Rote (Papela, Kecamatan Rote Timur) sekitar tahun 1850. Selanjutnya juga terbentuk di Oelaba (Kecamatan Rote Barat Laut), Batu Tua, Oenggae dan Ndao.
Pada tahun 1925, masyarakat Islam di Baa secara gotong royong membangun sebuah surau. Pada tahun 1930 di bangun Masjid An-Nur Baa berukuran 7x9 meter. Pada tahun 1.900, masyarakat Islam di Papela membangun surau pertama atas inisiatif dari Habib Alwi Gudban.

Pulau Semau

Pantai Tablolong

Setelah masyarakat Islam terbentuk di Kupang tahun 1653, selanjutnya masuklah pedagang-pedagang turunan Arab yang beragama Islam dari Semarang ke Kupang (tahun 1812), pedagang Islam dari Sumba (1860), pedagang Islam dari Aceh (1885), nelayan-nelayan beragama Islam dari Pulau Butung (1895) serta pedagang-pedagang Bugis dan Makasar (1957), disusul pula dengan masuknya para pencari nafkah dari daerah-daerah lain di Indonesia, hingga terbentuk masyarakat Islam di Kota Kupang.

Meski kaum muslim menjadi minoritas namun sampai saat ini mereka hidup berdampingan dengan non muslim dan mengetahui bahwa tempat pemotongan hewan ternak di kupang dilakukan oleh kaum muslim untuk mengahargai kehahalan yang menjadi mutlak bagi kami, menjadi salah satu wawasan baru bagi saya yang seumur hidup menjadi kaum mayoritas di lingkungan tempat saya tinggal.



Sumber informasi dan foto Masjid Al-Muttaqin: 






Bagi seeorang yang memiliki mobilitas tinggi untuk bepergian ke luar negeri seperti traveling, business trip, conference, atau kepentingan lainnya, salah satu hal pokok yang perlu diperhatikan ialah jaringan internet!

Jangan sampai ketika tiba di negara lain kita lupa memikirkan hal tersebut dan berakibat  repotnya mencari sinyal wifi atau bingung memilih provider mana yang sesuai dengan kebutuhan kita.

Daripada lama memilih provider atau mencari jaringan wifi, kini ada solusi jitu untuk mengatasi keresahan tersebut dengan XL Pass Xtra Combo.

Ngomong-ngomong, XL Pass Xtra Combo  ini adalah salah satu produk dari XL Easy Roaming yang dimiliki oleh XL. Selain XL Pass ada pula XL Roaming Combo dan XL Umroh.

Untuk XL Pass terdapat pilihan paket Hotrod dan Xtra Combo.

XL Easy Roaming sendiri ialah salah satu kemudahan berkomunikasi yang ditawarkan oleh XL untuk mengakses internet, telpon dan SMS di luar negeri.

Jadi, kenapa sih harus menggunakan XL Pass Xtra Combo?

1. Anti ribet tanpa gonta-ganti kartu simcard.
Kebayang gak kalau tiba di suatu negara kita harus ribet untuk membuka casing hp, kemudian mengeluarkan simcard lama kita dan menyimpannya di tempat paling aman dan mudah diingat, lalu kita harus mengganti dengan kartu yang baru. PR banget ya melakukannya :( Nah dengan XL Pass tak perlu ribet dengan mengganti kartu ketika berada di luar negeri. Mudah dan anti ribet banget kan!

2. Jaringan terpercaya nan luas

Tak perlu ragu untuk jaringan karena XL telah bekerja sama dengan operator lokal di 39 negara! Coba lihat di sini negara mana yang akan kalian tuju (ada daftar 39 negara)






3. Youtube tanpa kuota
Siapa di sini yang gak suka nge-youtube? Angkat tangan coba. Nah gak ada kan...Jadi daripada kalian bosan dan bingung ketika sedang menunggu transportasi umum atau menunggu pesawat yang lagi delay (duh sedih banget ini), kalian bisa nonton video favorit dengan fitur “Youtube Tanpa Kuota”. Kapan lagi coba bisa nonton vlog dan video favorit kalian tanpa kuota? Ya XL Pass solusinya.

4. Proses aktivasi mudah
Gimana sih caranya buat daftar paket XL Pass Xtra Combo? Ribet gak ya caranya... Jawabannya adalah Big No! Cukup dengan mengakses UMB (*123*747#) atau aplikasi myXL kalian bisa langsung menikmati berbagai fitur yang ditawarkan oleh XL Pass.

Begini teman-teman dengan menggunakan XL Pass ini ada hal-hal yang perlu kalian ketahui.

Apabila kuota masih ada setelah dipakai di luar negeri, kuota masih bisa digunakan kembali sepulangnya ke Indonesia. Jadi sisa kuota tidak terbuang percuma :D

Paket XL Pass bisa diaktifkan baik sebelum atau setelah berada di luar negeri, jadi kalian nggak perlu panik ya.

Asal kalian tau ya, tidak ada kompetitor lain yang mempunyai produk yang serupa, yaitu produk yang membuka akses internet dalam negeri untuk dapat digunakan di luar negeri.

Dan...XL Pass dapat digunakan lintas benua, dengan hanya satu kali aktivasi (selama masa aktif masih ada)

Jadi bagaimana? Sudah siap berkeliling dunia tanpa gundah gulana? Mari berkelana dengan XL Pass ke lintas negara ..









Sebutan “Tiongkok kecil” dan “Kota Santri” telah disematkan pada wilayah ini. Lasem bagi saya tak semata sebuah wilayah namun sebuah wajah, wajah perjuangan dan persatuan Indonesia...

Klakson nyaring dari truk berukuran super besar menemani sore saya di hari terkahir kunjungan ke Lasem.

“Minimal seminggu lah kalian di sini, baru kalian nanti paham dan mengerti bagaimana keadaan sebenarnya toleransi di Lasem ..”ungkap Gus Zaim.

Gus Zaim dan rumah berarsitektur Tionghoanya

Hmm.. seminggu, cukup bagi saya untuk mungkin dicoret dari KK karena janji saya tiba di rumah adalah keesokan pagi.

Bagi saya, berkunjung ke Lasem yang sudah saya idamkan sebulan sebelum kepulangan saya dari ibukota merupakan hal yang begitu menarik perhatian saya. Apalagi ketika berkesempatan bertemu dengan kawan baru yang begitu seru serta guide yang mengantar kami ber-vakansinesia di Lasem ini. Terlebih ketika saya baru mengetahui bahwa ada benang merah peristiwa yang terjadi di Glodok dengan perang yang terjadi di Lasem.

Matahari di Lasem sudah meredup, tanda malam akan berganti. Masjid Jami Lasem yang berada di tepi jalan saya lewati dengan perlahan.

“Dahulu, saat perang melawan Belanda, ada tiga kekuatan utama di Lasem ini, warga Tionghoa, Jawa, dan Pesantren. Mereka bersatu melawan penjajah dibawah tiga pemimpin yang mewakili tiga kekuatan tersebut. Karena perang yang berlangsung hari Jumat, maka kaum muslim melaksanakan Sholat Jumat terlebih dahulu. Nah di alun-alun yang ada di depan masjid Jami ini, warga Tionghoa menunggu kaum Muslim yang sedang sholat. Merinding saya ceritanya..”ungkap pak Yanto, guide kami selama di Lasem.



Ternyata ada kaitan antara perang terjadi di bumi Lasem dengan peristiwa Geger Pecinan yang menewaskan 10.0000 orang di Batavia.
Setelah kejadian tersebut banyak warga Tionghoa memilih untuk berpindah ke wilayah yang lebih aman hingga ke wilayah Tengah yaitu Semarang dan Lasem. Lasem yang saat itu dipimpin oleh Adipati Tumenggung Widyaningrat atau Oei Ing Kiat menerima dengan tangan terbuka warga Tionghoa yang berpindah.

Oei Ing Kiat (Oey Ing Kiat) ialah seorang Tionghoa beragama Islam yang sangat kaya, keturunan Bi Nang Oen yang merupakan salah seorang juru mudi armada Laksamana Ceng Ho yang mendarat di Bonang-Lasem.

Perkampungan baru pun didirikan dengan warga Tionghoa penghuninya.

Merasa senasib dan sepenanggungan dengan kesemena-menaan Kompeni, warga Lasem pun mulai bangkit dengan mengangkat senjata. Kebencian warga Lasem dulunya dipicu dengan serangan VOC pada tahun 1679 yang dibantu penguasa Matram untuk memonpoli perdagangan di pesisir pantai utara Pulau Jawa.

Warga mengangkat tiga pemimpin pasukan pemberontak perang yang juga dikenal sebagai Laskar Dampo Awang Lasem. Mereka adalah Raden Panji Margono, Oei Ing Kiat, dan Tan Kee Wie.

Pemberontakan pun dilakukan dengan strategi dan siasat yang dibuat. Pasukan Laskar Dampo Awang Lasem dibagi menjadi dua bagian, pasukan yang menyerang laut dan darat.
Siasat yang mereka buat ialah menguasai daerah pelabuhan terlebih dahulu yang dipimpin oleh Tank Kee Wie lalu bergerak ke pusat kota. Siasat tersebut berhasil dilakukan dan Rembang pun jatuh ke tangan para pemberontak Lasem.

Salah satu pintu di Kauman


Saat menuju Juwana, rupanya Kompeni telah diperkuat senapan dan meriam dari Semarang. Armada Tan Kee Wie ditembaki dan gugurlah salah satu pemimpin Laskar Dampo Awang Lasem tersebut.

Selanjutnya petempuran di darat tak terhindarkan yang menyebabkan pasukan pemberontak tercerai-berai kembali ke Lasem.

Belanda menang namun pasukan pemberontak tetap menaruh dendam untuk membalas kekalahan.

Selang tiga tahun kemudian, semangat untuk memberontak hadir kembali.

Kini, warga pesantren yang dipimpin oleh Kyai Ali Badawi turut serta.

Dengan khotbah Jumat yang berisi tentang perlawanan terhadap penjajah dan mengajak untuk bergabung menjadi satu dengan warga Tionghoa, mereka berjuang sekuat tenaga melawan penjajah yang kala itu menguasai bumi pertiwi.

Tiga pemimpin perang kemudian terpilih lagi. Kini Kyai Ali Badawi menggantikan Tan Kee Wie yang telah gugur.

Di bawah pimpinan Oei Ing Kiat pasukan VOC dihadang di jalur laut yang dipersenjatai senapan dan meriam hasil rampasan perang. Selama ini senjata-senjata tersebut disembunyikan di dalam terowongan yang digali di tepi Sungai Paturenan.

Di sebelah timur Sungai Paturenan, pasukan yang dipimpin Kyai Ali Badawi menghadang pasukan VOC dan Citrasoma, tetapi banyak yang tewas akibat serangan meriam dari kapal VOC.

Raden Panji Margono memimpin pertempuran di daerah Narukan dan Karangpace (barat Lasem) hingga ke utara di tepi laut. Di Narukan, perut sebelah kiri Raden Panji Margono terkena sabetan pedang. Setelah dibawa ke tempat yang lebih aman, Raden Panji Margono meninggal karena kehabisan banyak darah.

Mendengar berita kematian Raden Panji Margono, Oei Ing Kiat gelap mata. Ia maju ke depan peperangan dan akhirnya tertembak di dada oleh serdadu Ambon.

Tiga pemimpin pemberontakan di Lasem telah gugur di medan perang dengan semangat juang tinggi di masing-masing lini.

Akhirnya pada tahun 1780 sebuah klenteng bernama Gie Yong Bio dibangun untuk mengenang jasa Raden Panji Margono, Oei Ing Kiat, dan Tan Kee Wie.

Kelenteng Gie Yong Bio

Laksana sebuah wajah, Lasem tak hanya sebuah wilayah dengan wisata budaya yang dirias dengan bangunan-bangunan kuno yang berdiri, namun bagi saya, di balik keelokan yang tersembunyi di Lasem, ada darah juang mengalir di urat-urat nadinya, ada persaudaraan umat yang terjalin di lubuk hatinya, dan ada toleransi yang terjaga hingga anak cucu warga Lasem lahir di dunia..






Pintu khas wilayah Lasem

Di depan Rumah Merah


Pondok Bodho “Al-Frustasi”


Sumber Informasi:
1. http://suarapesantren.net/2016/04/25/pondok-pesantren-kauman-di-kota-cina-kecil-lasem/
2. https://id.wikipedia.org/wiki/Perang_Kuning
3. https://fahmialinh.wordpress.com/2015/04/18/narasi-perang-kuning-lasem/
4. Vakansinesia









Dua bulan lalu, meskipun suasana bising tak karuan karena berada di tepi jalan, saya berusaha mendekat ke arah guide yang mengantar kami ke lokasi walking tour agar informasi yang diberikan terdengar jelas dan tidak samar-samar.

“Jadi, mengapa Glodok dipenuhi dengan etnis Tionghoa? Ada yang tahu?”

Kami semua saling berpandangan, seperti murid yang sedang ditanya oleh gurunya,lalu serempak menggeleng.

Mungkin bagi sang guide, tidak ada yang mengetahui sejarah Glodok akan membuat suasana tur makin seru karena ada proses transfer ilmu.

Tak lama kemudian karena kami benar-benar tidak bisa menjawab, maka ia pun menjawab pertanyaannya sendiri.

“Dahulu saat zaman penjajah, ada kejadian pembantaian besar-besaran di wilayah Glodok, ada yang tahu apa?”

Akhirnya salah satu dari kami angkat suara. Guide pun senang sambil mengiyakan keterangan singkat salah satu peserta, yang pasti bukan saya yang menjawab.

“Saat zaman penjajahan Belanda, Glodok pernah menjadi kawasan pembantaian besar-besaran. Dahulu, etnis Tionghoa dikumpulkan di satu area, tepatnya Glodok, untuk memudahkan pengawasan dengan terkonsentrasi di satu wilayah saja. Pengawasan yang dimaksud ialah pengawasan terkait dengan pembantaian yang terjadi pada tahun 1740 M.”

Apa yang menyebabkan pembantaian terjadi? Menurut sumber yang saya baca, dahulu saat zaman penjajahan Belanda, etnis Tionghoa yang datang dari daratan China berhasil untuk melakukan kegiatan perniagaan. Pabrik-pabrik didirikan untuk mendukung proses perdagangan. Belanda pun tak senang melihatnya. Etnis pendatang kok lebih sukses daripada pribumi yang notabene mereka jadikan budak.

Akhirnya peraturan pun dilakukan. Warga Tionghoa diberi beban pajak tinggi. Makin tinggi pendapatan mereka, makin tinggi pula pajak yang yang harus mereka bayar.

Pabrik Gula yang mereka miliki harus menjual hasil gulanya kepada Belanda dengan harga murah.

Peraturan lainnya ialah adanya surat izin tinggal di Batavia bagi etnis Tionghoa. Lalu bagaimana cara mendapatkan surat izin tersebut? Ya dengan membayar sejumlah uang kepada petugas. Lantas bagi mereka yang tidak memiliki surat izin akan dimasukkan di penjara.

Siapa yang tak geram dengan tindakan Belanda tersebut?

Adanya korupsi besar-besaran yang dilakukan oleh gubernur VOC serta kesalahan prosedur ekspor gula ke Eropa membuat VOC menaikkan kembali pajak kepada etnis Tionghoa.

Merasa tertindas dengan tindakan yang semena-mena yang dilakukan VOC maka mereka pun melakukan perlawanan.

Beberapa perlawanan yang terjadi diantaranya pada Oktober tahun 1740 M. Sekitar 600 etnis Tionghoa menyerang pos penjagaan di sekitar Jatinegara dan membunuh 50 tentara VOC. Selain di Jatinegara, benteng dalam Kota Batavia pun pernah dikepung dalam bulan yang sama. Mereka ingin masuk. Namun hal ini dapat dicegah oleh tentara VOC yang saat itu dipimpin oleh Gustaav Willem van Imhoff.

Pemberontakan yang terjadi membuat VOC khawatir.

Kekhawatiran tersebut kemudian membuat Belnada menerapkan peraturan baru yaitu adanya jam malam bagi warga Tionghoa yang tinggal di dalam Kota Batavia. Selain itu semua senjata wajib diserahkan kepada VOC.

Kekhawatiran VOC tersebut memuncak hingga akhirnya pada 9 Oktober 1740, atas perintah Gubernur VOC yang menjabat, Adriaan Valckeneir dilakukan pembantaian massal kepada warga Tionghoa yang menewaskan sekitar 10.000 orang dan ratusan warga luka-luka.

Meski telah dilakukan pembantaian namun warga Tionghoa yang masih hidup tetap melakukan pemberontakan.

Akibat dari pembantaian tersebut, Gubernur VOC yang memberi perintah, Adriaan Valckeneir, dicopot dari jabatannya dan dimasukkan ke dalam penjara hingga akhirnya ia meninggal. Lalu sebagai pengganti ditunjuklah Gustaav Willem van Imhoff.

Sebagai Gubernur baru, ia akhirnya memberikan peraturan baru yakni dipindahkannya warga Tionghoa di satu tempat di luar benteng kota yakni di Glodok, agar mereka makin mudah diawasi dan sulit melakukan pemberontakan.

Hingga kini, kawasan Glodok menjadi pusat warga Tionghoa tinggal dan berniaga. Entahlah, sejarah memang membuat pedih hati. Kalau diingat-ingat terus rasa geram tidak tertahan. Namun kini semuanya sudah berlalu. Kawasan Glodok masih hidup dengan ramainya lapak-lapak penjual dagangan. Hio masih menyala di sudut-sudut kelenteng. Pengunjung yang datang dari luar maupun dalam negeri kini ikut memadati kawasan ini meski hanya beberapa jam saja singgah.

Semoga apa yang masih ada terus terjaga meski Mei 1998 sempat ada cerita duka di sana...







Kelenteng Kim Tek Ie

Beberapa pekerja yang sedang melakukan perbaikan


Menyusuri Jalan Kemenangan

Jalan Kemenangan

Makan di kaki lima

catatan: menyusuri Glodok sangat menyenangkan! jangan lupa siapkan alas kaki yang nyaman dan bersenang-senanglah menyusuri gang-gang di sana. Apabila haus dan lapar tak perlu khawatir karena banyak penjual makanan dan minuman, apabila ragu dengan halal/haram, bisa bertanya langsung atau amannya beli penyetan ehehehe...

*semua foto diambil menggunakan kamera hp saya kecuali foto saya yang berbaju biru..






Bujang Dare Tinggi Semampai
sungguh lawa si bujang dare
ke Tanjungpinang jangan tak sampai
wisata kulinernya menggungah selere


Makanan khas melayu identik dengan penggunaan rempah-rempah yang cukup banyak. Santan juga menjadi salah satu unsur penting untuk memperkaya rasa dan karakter kental. Selain rempah dan santan ternyata ada beberapa kuliner yang khas dari Tanah Melayu. Nah kali ini saya akan membahas tentang beberapa kuliner Melayu yang saya cicipi saat berkunjung di Tanjungpinang beberapa waktu yang lalu, silahkan disimak ya...

1. Mie Tarempa


Pertama kali mencicipi kuliner yang berasal dari Tarempa Kabupaten Anambas ini, rasanya langsung pengen cepat-cepat menghabiskan saking enaknya haha (dasarnya suka banget makan). Jadi Mie Tarempa ini terbuat dari tepung dan telur dengan bumbu rempah kemerahan yang sepertinya ini yang bikin saya ketagihan makan haha. Tekstur Mie Tarempa sendiri lebih tebal daripada mie yang lain. Saat memakannya saya jadi ingat mie aceh, hmm meski belinya di Surabaya belum di tempa aslinya tapi saya menemukan kemiripan diantara keduanya. Oh iya Mie Tarempa sendiri ada tiga macam yaitu basah, lembab, dan kering, jadi tinggal sesuaikan dengan selera kalian ya!
Mie Tarempa di Tanjungpinang dapat kalian cicipi di Jl.D.I Pnjaitan, Komplek Pertokon Villa Pinang Mas Blok B No.23-24, Km, 9, Tanjungpinang.

2. Kopi Sekanak

Kalau ingin deskripsi detail Kopi Sekanak, bisa langsung berkunjung ke tulisan saya ini ya hehe pokoknya hidangan raja-raja ini wajib teman-teman cicip ketika berkunjung ke Tanjungpinang :D

3. Otak-Otak Ikan


Otak-otak ini terbuat dari ikan laut yang dihaluskan dan diberi bumbu. Adonan ikan tadi lalu dibungkus di daun kelapa dan dibakar atau dipanggang. Rasanya mirip pepes ikan bikinan ibuk saya di rumah ehehehe..

4.Bingke Pandan


Dibuat dari bahan-bahan pilihan dan alami yang sejak dulu dikenal sebagai kue tradisional asli dari Negeri Melayu. Wangi pandan,rasa khas dan bentuknya yang segi delapan membuat kue ini unik dan berbeda daripada yang lain.

5. Luti Gendang


Cemilan satu ini ternyata juga berasal dari Pulau Tarempa yang terdiri dari roti yang berisi abon ikan. Untuk varian abonnya dapat berbeda-beda tapi yang kemarin saya makan berisi abon ikan. Luti Gendang ini paling pas disantap saat hangat sambil ditemani es teh tarik..

6. Tape


Tape yang ada di Tanjungpinang ini rsanya ya sama seperti yang tapi biasanya saya makan haha bedanya dari pembungkusnya karena biasanya kalau di tempat saya tinggal dibungkus dengan besek kalau di Tanungpinang menggunakan daun.

7. Tepung Gomak


Kue satu ini rasanya seperti mochi dengan tepung tebal di bagian luar. Rasanya manis nan legit.

8. Air Sepang


Air Sepang ini berasal dari kayu sepang yang serumpun dengan secang. Saya menyaksikan sendiri bagaimana perubahan warna air ketika diberi kayu sepang yang awalnya jernih hingga menjadi pink, iya pink! Saya juga heran kandunan apa yang ada di dalam kayu sepang sehingga menjadikan perubahan warna tersebut. Keunikan Air Sepang ini adalah ketika kita makan sesuatu yang begtu pekat rasanya di mulut seperti kari atau kopi maka ketika minum Air Sepang rasa pekat itu pun hilang dan berubah netral kembali mulut kita. Hebat kan? Yuk cicipi..

9. Sop Ikan


Sop Ikan di Tanjungpinang biasanya berisi ikan tengiri yang berkuah bening nan segar dengan bumbu rempah yang menjadikan rasanya makin nikmat.

10. Nasi Dagang


Kalau saya bilang, ini adalah nasi kucingnya Tanjungpinang. Isinya yaitu nasi bersantan dengan lauk yang bermacam-macam kebetulan yang saya cicipi kemarin lauknya ikan. Ukuran nasinya juga sepertinya tergantung di mana membeli karena ketika mencoba di tempat yang lain ternyata ukurannya ndak dikit-dikit amat.

11. Lemper


Rasanya sama kok seperti lemper pada umunya yang membedakan hanya bentuknya yang panjang..

12. Roti Jala


Roti ini terbuat dari tepung terigu, telur dan air yang dibentuk seperti jala. Sebenarnya roti jala ini berbentuk dadar namun dengan cetakan khusus akhirnya menjad bentuk jala. Roti jala disajikan dengan kari kambing sebagai pendampingnya.

13. Gonggong


Hewan yang menjadi ikon Kota Tanjungpinang ini ternyata enak loh!
Jadi Gonggong ini merupakan hewan seperti siput. Biasanya disajikan dengan cara direbus dan cara makannya pun membutuhkan ketelitian haha. Jadi biasanya ada daging yang mencuat keluar cangkang Gonggong, nah itu ditarik, nanti daging di dalam cangkangnya akan keluar tapi ndak semua Gonggong bisa ditarik lewat daging yang mencuat tadi ya, ada juga yang susah sekali diambil dagingnya, nah kalau begini bisa memakai alat bantu seperti tusuk gigi.

14. Manisan Jambu


Kalau kata teman saya manisan ini aslinya dari Medan, tapi di Tanjungpinang ada juga ternyata haha. Yang menarik dari manisan jambunya ialah daging jambunya yang begitu tebal serta dipadukan dengan bumbu yang nyess banget! Rasanya mirip dengan rujak manis kalau Jawa. Manisan ini banyak dijumpai di sepanjang Tepi Laut Tanjungpinang ya teman-teman :D

15. Kopi Susu Warkop Batman


Kalau di kota-kota besar di Jakarta atau Surabaya orang-orang ketika bertemu dengan rekan kerja, klien,dll biasanya di cafe atau warung kopi yang ada di mall. Nah kalau di Tanjungpinang, orang-orangnya suka banget ngopi di warung-warung pinggir jalan. Alhasil banyaak sekali warung-warung kopi yang ada di Tanjungpinang ini salah satunya Warkop Batman ini. Soal rasa, enak pol lahh!

16. Ikan Asam Pedas


Terakhir adalah ikan asam pedas yang saya makan ketika di Pulau Penyengat. Jadi karena Kepulauan Riau salah satunya adalah Tanjungpinang ini adalah wilayah kepualauan, maka banyak sekali olahan hasil laut yang diracik menjadi makanan super nyess nan lezat. Ikan asam pedas sendiri adalah olahan ikan dengan kuah kental yang berwarna merah. Rasa pedasnya datang dari perpaduan antara lada putih, cabai, serta jahe yang berpadu menjadi satu menjadi bumbu si ikan yang ditangkap dari lautan.

Nah itu tadi cerita singkat kuliner-kuliner yang saya cicipi di Tanjungpinang, Bagaimana? kalian tertarik dan pengen cicipi yang mana? Yang pastti soal rasa tak kan bikin kalian kecewa :D



.....
Tulisan ini adalah salah satu hasil perjalanan dari kegiatan famtrip oleh Kementerian Pariwisata. Semoga bermanfaat ya tulisannya :D #PesonaIndonesia  #PesonaTanjungpinang



Baca cerita lainnya:  











Adalah sebuah halaman panjang yang ditumbuhi nyiur yang melambai pelan ketika angin laut bertiup.
Ketika tiba pertama kali di halaman panjang ini, saya melihat ada keramba yang bergerak naik turun pelan mengikuti alunan gerak ombak. Keramba ini pada akhirnya saya ketahui bernama asli kelong. Si Kelong memiliki dua jenis, yang menetap di suatu tempat dan yang berpindah-pindah sesuai keinginan si tuan ingin memasangnya di mana dan bagaimana.
Namanya juga keramba, tugas utamanya ialah menjadi perangkap makhluk laut. Ikan – ikan bilis ialah salah satu jenis makhluk yang sering tertangkap, antara sedih dan gembira saya mendengar cerita dari guide pinang jaya tour ini, sedih karena nasibnya berakhir di keramba tapi memang sudah nasibya ya :( dan gembira karena sebelumnya saya makan otak-otak ikan yang katanya terbuat dari ikan bilis.
Akhirnya saya mengetahui bagaimana caranya ikan yang saya makan tadi ditangkap.

Ngomong – ngonng otak-otak ikan di Tanjungpinang enak sekali, kalian harus mencobanya kalau singgah ke Tanjungpinang dan Bintan.


Kelong yangada di tepi pantai

Di sepanjang jalan menuju halaman panjang ini, bebatuan berukuran tak beraturan yang masih dipertanyakan asal muasalnya nampak berserakan. Ada yang dibiarkan di tepi jalan menemani si aspal hitam berpanas-panasan, ada pula bebatuan yang berendam di dalam air, meski beberapa bagian tak terkena air, namun si batu yang berendam terlihat bernasib cukup beruntung, dengan berada di separuh air, setidaknya bisa membuat ia sedikit merasa dingin, tak seperti nasib saudara batunya yang lain yang berpanas kentang-kentang *.
Di salah satu halaman dengan beberapa batu yang ada di tepi, beberapa remaja dengan wajah riang berenang.
Langkah kaki terus menyusuri halaman indah Tanjungpinang. Beberapa pintu untuk masuk halaman tak dapat dimasuki karena terhalang izin dan bukan tamu yang menginap di resort tempat di mana pintu tersebut berada.
Namun akhirnya, ada satu pintu yang terbuka lebar dan dapat dimasuki oleh masyarakat umum, akhirnya saya dapat menjejak dan memasuki halaman indah nan menawan ini.
Inilah halaman indah yang sedari tadi saya ceritakan, si Pantai Trikora, yang memiliki garis pantai kurang lebih 25 km.







Butiran halus pasir seolah mengajak bermain untuk dibuat bermacam bentuk seperti yang pengunjung lain lakukan, tapi saya memilih untuk duduk berselonjor kaki, melepas sandal, dan berdiam diri menikmati alam sekitar.













.....
Lokasi yang saya kunjungi berada di Serumpun Padi Emas Resort, di sini selain area resort juga ada area umum yang diperuntukkan bagi pengunjung non resort. Selain pemandangan yang menarik Anda dapat menyewa gazebo yang ada di tepi pantai, sangat pas bagi Anda yang ingin bersantai bersama keluarga, teman, atau pasangan.


* bahasa suroboyan yang menyebut suatu keadaan begitu panas



Tulisan ini adalah salah satu hasil perjalanan dari kegiatan famtrip oleh Kementerian Pariwisata. Semoga bermanfaat ya tulisannya :D #PesonaIndonesia  #PesonaTanjungpinang



Baca cerita lainnya:  

1. Jantung Negeri Melayu dalam Kopi Sekanak
2. Tercengang di Pecinan Tanjungpinang