Menelusuri jejak Sang Proklamator dan Pendiri Sarikat Islam di Kota Pahlawan

Monday, March 31, 2014 Imama Lavi Insani 5 Comments


HOS Tjokroaminoto dan Soekarno

Siang itu awan bergumul pekat di langit kota Surabaya. Dengan ingatan seadanya saya dan teman saya mengarahkan motor ke salah satu jalan di kota ini yang terkenal dengan makam tua belandanya. Karena baru satu kali ke jalan ini saya akhirnya bertanya ke beberapa orang untuk memastikan jalan yang kami lewati benar. Nama jalan ini adalah Peneleh. Jalan yang terletak di dekat tugu Pahlawan ini cukup terkenal di kalangan pecinta fotografi karena seringkali mereka mengambil foto di makam belanda yang siang itu suasananya tampak sedikit seram karena awan pekat dan angin yang sedikit berhembus kencang. 


Setelah cukup lama mengitari jalan ini dan sempat tersesat salah masuk gang akhirnya kami sampai di gang bernomor VII. Senyum puas merekah di bibir saya bak pelari sampai di garis finish karena cukup lama berputar – putar dan akhirnya menemukan tempat yang kami tuju. Saya pun segera turun dari motor setelah membaca tulisan semua kendaraan bermotor harus turun. Di pintu masuk gang ini terdapat palang besi yang ditata sedemikian rupa sehingga hanya kendaraan roda 2 yang bisa masuk. Suasana jaman kolonial belanda segera saya rasakan ketika memasuki gang kecil ini. Betapa tidak bangunan disini masih terjaga arsitektur aslinya. Di bangunan paling depan terdapat bangunan bertuliskan Toko Buku Peneleh. Meskipun hanya tulisan Peneleh yang belum terkelupas catnya, namun bangunan tersebut tetap  menggambarkan bagaimana keadaan toko buku pada jaman kolonial dahulu. Ketika saya menengok ke pintu yang sedikit terbuka di bangunan dengan teralis kuning tersebut saya melihat seseorang sedang menyalakan televisi. Saya pun melanjutkan langkah karena tidak ingin mengganggu penghuni rumah menuju bangunan tujuan utama saya kesini yaitu Rumah HOS Tjokroaminoto.

Toko Buku Peneleh



bangunan dengan arsitek jaman kolonial belanda







Rumah HOS Tjokroaminoto

Berada di depan sebuah bangunan rumah bercat putih dengan arsitektur khas rumah Joglo , rumah ini terlihat terkuci dengan kunci yang sudah sedikit berkarat. Saya membaca papan deskripsi tentang rumah HOS Tjokroaminoto ini. Antara bingung dan penasaran akhirnya saya memberanikan diri bertanya kepada seorang perempuan yang sedang duduk bermain dengan anaknya. “ Ke rumah ketua RT saja mbak , jalan ini lurus terus belok kanan nanti disana coba tanya lagi mbak” ujarnya.

Makam mbah panjang dari Ampel

 Teman saya menunjukkan sebuah makam yang ternyata berada tepat di depan saya tetapi saya tidak menyadarinya. Setelah tahu itu adalah sebuah makam saya menelan ludah antara kaget dan syok.  Sambil menunggu teman saya yang sedang mendorong sepeda motor dan berjalan menuju rumah ketua RT , saya bertanya kepada ibu muda ini kenapa ada makam di dekat rumah HOS Tjokroaminoto. Awalnya saya mengira makam tersebut adalah makam HOS Tjokroaminoto tapi ternyata makam tersebut adalah makam mbah panjang dari ampel yang sudah ada ratusan tahun lalu. Dengan nisan bercat putih warga setempat tidak merasa takut ataupun terganggu dengan adanya makam tersebut terbukti dengan ibu muda yang duduk santai di dekat makam sambil bermain dengan anaknya.

Setelah beberapa saat kemudian seorang pria tengah baya datang dengan membawa kunci di tangannya. Pria tersebut tampak rapi dengan kemeja merah dan celana jeans hitam. Senyum hangat menghiasi wajah pria berkulit sawo matang ini. Beliau adalah ketua RT yang telah kami tunggu sejak tadi. Kemudian beliau mempersilahkan kami masuk ke dalam rumah HOS Tjokroaminoto setelah membuka kunci pagar. Seketika hawa panas menyeruak dari dalam rumah dan dengan segera pak Eko , nama panggilan ketua RT gang VII Jalan Peneleh ini menyalakan kipas angin yang berada di ruang tamu. Setelah menyalakan lampu yang tertempel di dinding beliau menemani kami berdua berkeliling di dalam rumah. Furniture yang masih terjaga keasliannya dan beberapa foto di dinding seperti mesin waktu yang menjadikan suasana kembali ke jaman penjajahan. 

Ketua RT yang sedang membuka pintu rumah HOS Tjokroaminoto



keadaan di dalam rumah

Kami tertarik dengan tangga yang akan membawa ke lantai dua bangunan ini. Terbuat dari besi dan berwarna hijau tangga ini terlihat begitu kokoh. Setelah minta izin ke Pak Eko untuk naik ke lantai dua kami pun bergantian menaiki tangga ini. Setelah sampai  di tangga paling atas saya menengok ke kanan untuk melihat kondisi ruangan. Ventilasi udara kecil yang dibuat di dinding ternyata tidak cukup membantu menyejukkan ruangan sehingga suasana pengap dan panas sangat terasa di sini. Ruangan ini kosong yang ada hanya lampu dan tiang berwarna putih. Setelah puas melihat keadaan lantai dua kami pun turun.



di dalam ruangan lantai dua

Kemudian pak Eko mulai bercerita tentang sejarah kediaman HOS Tjkroaminoto ini. Cerita di mulai pada saat jaman orde baru dahulu terdapat kebijakan untuk memusnahkan semua barang atau apapun yang berhubungan dengan Soekarno. Karena Soekarno pernah tinggal di rumah ini untuk kos , ketua RT setempat akhirnya menjadikan rumah bercat putih ini menjadi tempat kos agar tidak dimusnahkan dan tidak ketahuan.

Kemudian setelah Orde Baru berakhir ada pihak yang membawa semua barang di lantai 2. Sampai sekarang tidak diketahui siapa orang dibalik ‘pengambilan barang’ tersebut. Yang diketahui hanya mobil pengangkut barang tersebut berjenis pick up berwarna biru dengan plat merah.

“ Saya sampai sekarang ndak tau mbak siapa orang yang ngambil semua barang di lantai 2 , ndak tahu ditaruh mana , tapi kan itu semua peninggalan sejarah mbak , kalo misalkan orang yang ngambil barang itu tau itu barang sejarah trus dijual , mahal loh mbak itu” , ujar pria ini dengan nada agak kecewa.  

Kemudian kami melanjutkan perbincangan di ruang tengah. Ruangan ini sering dipakai untuk istilahnya ‘nongkrong’ . Jadi pada jaman dahulu tempat ini menjadi tempat berkumpulnya para pahlawan untuk berdiskusi bersama. Rasa senang dan bangga terbesit di hati saya. Saya sekarang berada di ruangan yang menjadi saksi bisu perjuangan para Pahlawan untuk memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Tiba-tiba atmosfer tahun 1945 berputar-putar di imajinasi saya. Dengan 4 buah kursi yang ditata melingkar , satu meja di tengahnya dan lampu ruangan yang tergantung tepat di atas meja membuat saya membayangkan bagaimana dulu Soekarno , HOS Tjokroaminoto , dan para Pahlawan lain mengadakan diskusi bersama memunculkan ide – ide apa saja yang akan mereka lakukan untuk kemerdekaan Indonesia. Meskipun hanya ruangan kecil tetapi kenangan dan memori yang tersimpan sangat besar sekali maknanya bagi Indonesia.

Ruang tamu yang dijadikan tempat 'nongkrong' para Pahlawan dulu :))

Setelah bercerita tentang bagaimana ruangan ini dulu difungsikan , pak Eko kemudian melanjutkan cerita tentang kegiatan apa saja yang pernah dilakukan di sini. Beliau mengatakan secara rutin dari salah satu universitas negeri di kota ini melakukan kegiatan seperti diskusi sejarah bersama. Mereka juga mengundang beberapa tokoh sejarah serta orang-orang yang mengerti dengan beberapa lokasi sejarah di sekitar gang Peneleh ini. Selain universitas negeri ternyata secara rutin juga ada salah satu sekolah dari Kota Malang yang berkunjung untuk kegiatan Study Tour tentang sejarah. 

Saya sempat ingat dulu waktu saya masih duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama saya pernah melakukan kegiatan Study Tour jauh-jauh ke kota Malang tetapi yang terjadi sekarang sebaliknya sekolah di kota Malang tersebut yang berkunjung untuk melakukan Study Tour di Surabaya. Kunjungan mereka berkaitan dengan mata pelajaran IPS yang memang seingat saya dulu ada salah satu bab yang menceritakan tentang kisah perjuangan HOS Tjokroaminoto dan partai Sarekat Islam. Jadi selain belajar sejarah dari buku, mereka juga mengetahui langsung lokasi pendirian Sarekat Islam yang juga rumah dari pendirinya sendiri , HOS Tjokroaminoto. Salah satu trik belajar yang efektif dan menyenangkan untuk menghindari kebosanan yang sering sekali terjadi saat belajar Sejarah.

Salah satu foto yang tertempel di dinding rumah.

Tidak terasa waktu sudah hampir menunjukkan pukul 5 sore. Karena ada yang harus kami lakukan di kampus akhirnya kami undur diri ke pak Eko. Kami pun mengucapkan banyak terima kasih karena beliau sudah meluangkan waktunya untuk menemani kami yang telah banyak sekali mendapatkan pengetahuan sejarah yang mungkin tidak akan kami dapatkan kalau tidak berkunjung disini. Rasa syukur dan bangga terlintas di hati saya karena masih ada segelintir orang yang peduli dengan peninggalan sejarah Indonesia. Tinggal kita sebagai generasi muda menentukan pilihan , maukah kita peduli dan turut membantu melestarikan peninggalan sejarah yang sangat berharga ini , ataukah kita secara acuh melupakan dan tidak peduli lagi dengan semua peninggalan sejarah yang diwariskan untuk kita agar kita mau belajar dan berintrospeksi diri dengan adanya sejarah tersebut.


Saya teringat kata-kata Bung Karno , JAS MERAH , Jangan Sekali-kali Melupakan Sejarah , kalau bukan kita sebagai generasi muda lantas siapa lagi yang mau peduli? 



-------------------------------------------------------------------------------------------------
Bagaimana caranya kesana? 

- anda bisa melihat peta dari google maps berikut :


Apa yang perlu dipersiapkan untuk kesana ?

- Uang secukupnya
- Bawa tisu atau sapu tangan untuk menyeka keringat karena sebentar lagi musim panas dan udara                   pasti akan sangat panas
- Kamera ( hp , pocket , dll )

Kapan waktu yang tepat waktu kesana ?

- Pagi hari sektar jam 8 - 11 dan sore hari sekitar pukul 15.00 

Karena kunci rumah dibawa oleh ketua RT setempat dan biasanya saat siang istirahat lebih baik                    datang pada jam tersebut atau kalau ingin mengadakan janji ingin berkunjung bisa menghubungi nomer           telefon pak Eko , silahkan tanya ke saya nomer telefon pak Eko di twitter @imalavins 


5 comments:

  1. Wah, ini kalau dari Terminal Bungur Asih naeknya apa yah, mbak? hehehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalo tepatnya saya kurang tau mbak soalnya saya naik motor hehe , mungkin mbak bisa naik jsp dari Terminal Bungurasih ke terminal joyoboyo atau bisa juga naik bison , nanti kalo udah nyampe di Joyoboyo nanya ke sopir angkot disana ke Jl.Peneleh naik angkot yang mana :))

      Delete
  2. Tulisannya mantap banget.... Jadi penasaran pingin ke sana juga hehe. Salam kenal dari Solo :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. wahh trima kasih haha ini masih proses belajar , tulisan di http://jejak-bocahilang.com/ juga keren banget hahaha :))

      Delete
  3. wah ini juga ada toh, nais mba. salam kenall, semoga nanti jalan2 ke tempat sejarahnya bisa sampe ke kota lain

    ReplyDelete