Mengejar sunrise di penanggungan

Friday, May 02, 2014 Imama Lavi Insani 9 Comments

Saya menarik rapat sleeping bag yang saya jadikan selimut dengan harapan dapat lebih menghangatkan badan saya yang terasa semakin dingin. Saya tidak tahu dengan persis berapa derajat suhu waktu itu di puncak bayangan Gunung Penanggungan. Yang dapat saya pastikan suhu waktu itu mampu membuat seluruh badan saya menggigil kedinginan , terasa kaku dan susah digerakkan. Jam digital di handphone saya menunjukkan pukul 03.00 pagi artinya sudah waktunya untuk bersiap mendaki ke puncak. Waktu yang dibutuhkan sekitar dua jam untuk sampai di puncak Gunung Penanggungan. Karena kami mengejar momen terbitnya sang fajar maka kami harus berangkat dini hari.

Saya diam sebentar untuk mengumpulkan nyawa sambil menggesekkan kedua tangan saya berulang kali agar terasa hangat. Saya lupa tidak membawa sarung tangan waktu itu dan akhirnya harus menanggung akibat tangan saya kedinginan. Akhirnya saya keluar dari tenda yang memuat empat orang ini karena diluar sudah terdengar ramai. Di luar tenda saya melihat teman – teman saya mengelilingi api unggun kecil yang kami buat kemarin malam. Sudah tidak terlalu besar nyala apinya hanya tersisa sedikit bara api.

Saya duduk di samping teman saya yang sedang membuat minuman penghangat hasil racikan sendiri. Saya melihat dia memasukkan madu , bubuk jahe dan air hangat yang dimasukkan ke dalam botol yang kemudian ditutup dan dijungkir balikkan agar tercampur semua. Beberapa jungkir balikan dan akhirnya ‘oplosan’ buatan teman saya berhasil dibuat. Saya ditawari teman saya tapi saya menolaknya. Saya memang menyukai minuman STMJ , Susu Telur Madu Jahe , tapi entah kenapa saya enggan mencoba minuman teman saya tersebut. Memang saat trekking dan camping di atas gunung kita dituntut untuk berpikir kreatif dengan memanfaatkan apa aja yang ada di sekitar kita agar dapat digunakan untuk kebutuhan saat mendaki. Misalnya saat memasak , sebuah sendok selain untuk alat makan juga kami gunakan untuk alat untuk menggoreng.

Perut saya terasa perih karena lapar. Mungkin karena pengaruh cuaca dingin yang semakin terasa menusuk tulang.  Beruntung salah satu teman saya berbaik hati menyisakan mie instan di gelas yang tanpa pikir panjang akhirnya saya makan sampai habis.

Waktu menunjukkan pukul 03.30 dini hari. Teman - teman saya yang sedang tertidur lelap mulai dibangunkan dengan teriakan khas kami. Dan akhirnya satu persatu teman – teman saya bangun. Suasana puncak bayangan mulai ramai. Selain karena teman-teman saya bangun , pendaki lain yang juga sunrise hunter mulai bersiap dan berangkat mendaki ke puncak Gunung Penanggungan. Kami pun mulai bersiap diri.
Teman-teman saya mulai memakai sarung tangan , head lamp , jaket , dan lain-lain. Saya yang hanya bersiap setengah jam untuk pendakian kali ini hanya bisa mengutuk diri kenapa tidak mempersiapkan semua kebutuhan lebih awal agar bisa membawa lengkap semua kebutuhan mendaki. Saya jadi ingat seseorang berkata kepada saya “ kamu kok maksa banget ikut muncak? ” Waktu itu saya tidak menghiraukannya tapi sekarang saya mengiyakan ucapannya. Beruntung saya masih membawa jaket tebal yang sebenarnya tidak cocok dipakai untuk pendakian semacam ini.

Mungkin karena iba saya kurang persiapan salah satu teman saya meminjamkan head lamp kepada saya. Dengan sumringah saya menerimanya dan segera memakainya di kepala saya. Akhirnya tepat pukul 04.00 dini hari kami berkumpul di samping tenda dan mulai berdoa untuk kelancaran pendakian ke puncak.

Sekitar 3 menit kami menundukkan kepala meminta lindungan Sang Kuasa pada pendakian ke Puncak Penanggungan kali ini. Suasana hening sejenak. Entah apa yang teman-teman saya doakan tapi saya yakin doa kami sama , yaitu memohon perlindungan , kelancaran dan keselamatan pada pendakian ini. Setelah selesai berdoa kami pun berkumpul di tengah dan menjulurkan tangan kami menjadi satu. Salah satu teman kami berteriak “ POLITEKNIK !! “ kami pun membalasnya dengan kalimat singkat sarat arti “ JOSS!!!”.

Setelah jargon kampus kami selesai diucapkan kami pun berangkat mendaki. Kali ini perempuan yang ikut mendaki berkurang menjadi tiga orang termasuk saya. Salah satu teman perempuan kami tidak ikut karena sesuatu hal. Kemudian salah satu laki-laki tim kami memimpin di depan dan diikuti kami bertiga kemudian baru teman laki-laki saya yang lain mengikuti di belakang. Teman-teman saya yang lain memilih untuk tinggal di camp untuk menjaga brang-barang kami dan memasak untuk sarapan.

Suhu dingin dengan setia menemani kami yang berjumlah sekitar 15 orang. Derap langkah dan hembusan nafas kami memecah kesunyian dini hari di Gunung Penanggungan. Jalan setapak yang hanya muat dilewati satu orang adalah jalur pertama yang harus kami lewati. Beruntung kemarin malam tidak hujan sehingga jalan dari tanah ini berhasil kami lalui. Setelah melewati jalan setapak baru lah tantangan dimulai. Batu-batu terjal menyambut kami. Jalan pun mulai menanjak. Dengan perlahan saya menaiki satu persatu batu-batu di depan saya. Saya mencari batu pijakan yang pas dan tepat agar tidak terpeleset. Saya juga mencari batu pijakan yang sudah menancap kuat di tanah agar tidak ada suara “awas batu “. Kasihan yang berada di bawah saya kalau terkena batu yang saya pijak runtuh ke bawah. Beberapa kali dari atas saya terdengar “ awas batu “. Kami pun bersiap diri menepi ke samping. Tapi saya bersyukur tidak terkena runtuhan batu dari atas.

Selain suara serangga dan suhu dingin , pendakian kali ini ditemani oleh gugusan bintang di langit. Tampak beberapa gugusan bintang membentuk rasi bintang yang tidak saya ketahui apa namanya. Langit malam seperti ini yang selalu saya nanti saat mendaki gunung. Cerah , tanpa awan , bintang berkelap – kelip tanpa gangguan dan saya melihat dari ketinggian gunung bukan di tengah kota. Hal ini  memberikan suasana yang berbeda.

Sekitar 45 menit kami berjalan menaiki bebatuan , terdengar suara adzan. Mendengar panggilan Tuhan dari atas gunung adalah hal baru bagi saya. Lantunan lafadz Allah yang berkumandang mengingatkan saya akan kebesaran-Nya. Bagaimana kita begitu kecil ketika di alam bebas seperti ini. Tapi sayang kami tidak bisa melaksanakan shalat karena tidak ada lahan datar untuk shalat. Kami pun memutuskan untuk terus berjalan dan akan melaksanakan shalat subuh ketika di atas puncak gunung.

Akhirnya setelah perjuangan panjang sekitar satu setengah jam terdengar suara ramai. saya melongok ke atas dan ternyata sedikit lagi sudah sampai di puncak. Saya pun mempercepat langkah kaki yang terasa makin berat.   

Dan akhirnya saya sampai di puncak. Semburat warna jingga dan biru di langit menyambut kedatangan saya. Setelah beristirahat sebentar saya pun segera shalat. Tapi sayangnya teman-teman saya tidak ada yang membawa matras sebagai alas. Beruntung salah seorang pendaki berbaik hati meminjamkan matras kepada saya sebagai alas shalat.

Sambutan dari alam ketika sampai di puncak

Setelah shalat akhirnya kami berkumpul dan berfoto bersama karena memang tujuan kami kesini untuk merayakan ulang tahun kampus kami yang ke 26. Kami juga membuat video yang berisi doa dan ucapan selamat untuk kampus tercinta kami , Politeknik Elektronika Negeri Surabaya.




foto bersama teman sekelas



Setelah berfoto bersama kami sibuk dengan aktivitas masing-masing. Ada yang asyik berfoto selfie , ada yang mencari spot terbaik untuk berfoto dan ada pula yang hanya duduk menikmati suasana di puncak gunung. Saya mendapati ada sepasang orang sedang tertidur di dalam sleeping bag. Sekilas terlihat seperti dua kepompong berada di atas gunung hahaha.

Dua kepompong di puncak gunung :))

Siluet Gunung Welirang

Suasana puncak Penanggungan waktu itu agak ramai. Karena mungkin waktu itu sedang long weekend sehingga banyak orang memutuskan untuk menghabiskan waktu liburannya untuk menaiki gunung setinggi 1657 mdpl ini. Saya pun masih tertegun dengan apa yang saya lihat ini karena di pendakian saya sebelumnya saya belum mendapatkan lukisan alam seindah ini. Memang waktu itu langit tidak cerah karena tertutupi awan. Tapi hal itu membuat langit tampak begitu indah. Awan yang bercampur dengan cahaya matahari pagi menghadirkan kombinasi unik. Di kota besar seperti Surabaya saya tidak pernah menjumpai hal seperti ini. Akhirnya saya duduk sebentar dengan teman-teman saya yang lain menikmati suguhan luar biasa dari Sang Pencipta.




Matahari yang malu-malu terbit :))
Peace 

Suguhan alam kali ini merupakan “bayaran“ atas apa yang kami lakukan dini hari tadi. Karena menurut saya mendaki sebuah gunung seperi kita menjalani kehidupan. Susah payah kita melangkahkan kaki kita menuju puncak. Menaiki batu-batu terjal , melewati lumpur dan genangan air , yang tidak jarang itu semua memiliki resiko seperti baju penuh lumpur , tergelincir di batu karena licin yang biasanya mengakibatkan kaki keseleo dan terluka bahkan sampai mengeluarkan darah. Kadang nyawa juga menjadi taruhannya. Hidup juga seperti itu , kita berjuang mati-matian dengan penuh pengorbanan meniti langkah untuk mencapai puncak kehidupan yang biasanya kita ibaratkan dengan tercapainya mimpi kita. Segala hal kita usahakan untuk mencapai mimpi kita. Terkadang saat mendaki gunung ada beberapa orang gagal sampai ke puncak dengan berbagai alasan , seperti faktor alam dan cuaca , faktor manusia itu sendiri karena kesehatannya , dan sebagainya. Mimpi juga seperti itu. Kita sudah mengusahakan semaksimal mungkin segala kemampuan kita untuk meraihnya tapi tidak jarang ada beberapa mimpi yang gagal kita raih. Bukan salah kita untuk tidak dapat meraihnya tetapi ingat hakikat manusia yang tugasnya untuk berusaha serta berikhtiar sedangkan hasil akhir ada di tangan Tuhan. Ketika mimpi tidak dapat kita raih tetaplah berpikir positif bahwa Tuhan telah menyiapkan yang lebih baik dari itu.

Matahari tampak makin tinggi. Kami yang belum sempat mengisi perut saat berangkat tadi akhirnya memutuskan untuk segera turun. Terbayang bagaimana jalur yang kami lewati tadi saat berangkat akan kami lewati lagi. Tapi membayangkan saja tanpa berani melaluinya hanya sia-sia tidak ada manfaatnya. Akhirnya setelah berdoa kami pun turun dari puncak. Kami ingat salah satu tulisan saat di pos pertama “ Puncak adalah Tujuan Semu , Tujuan Utama Adalah Kembali ke Rumah dengan Selamat “ .

Mahetala , Mahe Jaya Mahe ! !


Happy traveling : )) 


9 comments:

  1. Penanggungan.. Keliatan Arjuno Wekirangnya eh..
    Kapan kesana lagi kak?
    Ajakkin saya donk :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. This comment has been removed by the author.

      Delete
    2. wah kapan yaa , belum tau kapan hehe :))
      makasih sudah mampir yaa :))

      Delete
  2. Siluet gunung Welirangnya keren.

    Salam,
    http://travellingaddict.blogspot.com/

    ReplyDelete
    Replies
    1. terima kasih banyak :)) salam juga yaa mantap cerita travelingnya :))

      Delete
  3. saia 5 taon idup di surabaya tapi ga pernah ke penanggungan.. pdahal jarakx deket bgt ama sby.. sungguh terlalu.. bedewei, cewe2 PENS itu emank tomboy2 yah.. senenganx naek gunung.. "peace"

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahaha gak juga kok banyak yg feminin disini kayak saya :p hahaha coba ke penanggungan juga dong :))

      Delete