Jangan Menyerah di Jalan Putus Asa

Sunday, January 25, 2015 Imama Lavi Insani 8 Comments


Pagi itu, di pinggiran salah satu kota di Jawa Timur suasana begitu tenang. Kokok ayam terdengar bersahutan. Di sisi kanan dan kiri nampak sawah dengan beberapa petani yang sedang menanam padi. Dari kejauhan bukit berwarna hijau terlihat berdiri gagah bersama teman-temannya. Saya membuka kaca perlahan, mempersilahkan udara pagi masuk ke rongga paru-paru yang terasa sesak dengan segala residu yang saya hirup di kota Pahlawan.

Mengintip dari jendela


Rumah – rumah penduduk masih bergaya rumah Jawa lama, dengan genting yang rendah sampai ada yang hampir menutupi bagian atas pintu. Tiba – tiba teman saya menghentikan mobil yang kami kendarai. Ia keluar dan bertanya pada seorang wanita yang tengah sibuk beraktivitas di depan rumahnya. Tidak berapa lama ia kembali lalu kami dibawa masuk ke sebuah gang. Kemudian ia memarkirkan mobil di depan rumah salah seorang penduduk yang telah ia kenal sebelumnya.
Setelah kami keluar dan menyapa pemilik rumah tersebut kami pun siap untuk melanjutkan perjalanan ke tujuan utama, sebuah institusi pendidikan dasar yang berada di bukit yang telah kami lihat saat perjalanan menuju desa terakhir yaitu Desa Brangkal.

Berjalan di kaki bukit


Pelindung sengatan matahari 
Dengan riang kami melangkahkan kaki menuju kaki bukit yang tanahnya nampak berwarna putih. Mungkin tanahnya mengandung kapur, batin saya. Sebelumnya kami sudah diperingatkan oleh salah satu teman kami bahwa rute yang harus kami lewati sejauh 6 km kurang lebih waktunya 2 jam. Tapi sayangnya ia tak menjelaskan secara rinci bagaimana medan yang harus kami tempuh atau mungkin saya yang kurang memperhatikan penjelasannya ya : | Perjalanan baru berjalan 5 menit, namun bulir- bulir keringat sudah menetes di kening saya. Perjalanan yang masih 1 jam 55 menit nampak begitu berat, setelah lama tidak menghirup aroma gunung.

Sisa air hujan

Selang beberapa menit kemudian, terdengar deru suara sepeda motor dari arah bawah bukit, wah kami sudah berjalan berapa meter ya sudah bisa mengatakan dari arah bawah hehe. Kami pun membuka jalan dengan cara menepi di sisi jalan yang kami ambil. Kemudian seseorang dengan penampilan seperti petugas berhenti tepat di tengah-tengah kami. Awalnya saya mengira beliau adalah salah satu petugas Perhutani yang sedang berjaga, namun saat memperkenalkan diri ternyata beliau adalah salah satu guru di tempat yang kami tuju.


Keren ya gurunya :D


Pertanyaan pertama yang beliau lontarkan adalah,” Ada keperluan apa ya datang kesini?”

Salah satu dari kami menjawab,” Kami sedang survey pak ke SD Jipurapah.”

Setelah mendengar jawaban teman kami langsung saja raut muka beliau berubah. Senyum hangat mengembang di bibir pria yang memiliki tinggi di atas rata-rata ini. Badannya nampak seperti pembalap motor trail, tinggi dan tegap, dan gaya bicaranya yang tegas membuat pikiran saya ‘menuduh’ beliau adalah seorang petugas Perhutani. Beliau menawarkan salah satu dari kami untuk ikut dengannya menaiki motor trail, tapi kami menolaknya secara halus dengan alasan ingin merasakan bagaimana rasanya harus berjalan sejauh 6 km menuju sekolah.


Setelah mengobrol sebentar kemudian beliau melanjutkan perjalanan dengan motor trail-nya dan kami dengan kaki yang “lincah” mulai lagi untuk melangkahkan kaki. Sebenarnya hari itu kondisi badan saya kurang begitu sehat dengan serangan virus flu yang beberapa hari sebelumnya datang menyerang. Tapi entah mengapa, saat saya menanyakan kepastian keberangkatan kepada teman saya, energi baru pun muncul dengan tiba-tiba. Saya akhirnya memutuskan ikut survey dengan kondisi badan yang kurang begitu mendukung. Sempat saya takut badan saya tidak kuat berjalan sampai ke tujuan, namun sampai dengan persimpangan jalan pintas dan jalan utama, kaki saya masih terasa begitu ringan untuk dilangkahkan.

Menurut salah satu guru yang kami temui, sebaiknya kami mengikuti arah kabel listrik, karena jalurnya lebih pendek, meskipun medannya sedikit lebih berat. Kami yang mendengar kata ‘lebih pendek’ serempak berjalan dengan sesekali mendongak ke atas untuk melihat kabel berwarna hitam legam yang terpasang di antara pohon – pohon.

Menyeberangi sungai kecil


Sesuai dengan apa yang dikatakan oleh guru perempuan tadi, medan tempuhnya memang cukup sulit, kami harus menyeberang sungai kecil yang tanahnya mudah sekali ambles seperti lumpur hisap tapi hisapannya tidak seseram itu. Saya pun bersiap untuk mengambil ancang-ancang menyeberang, “HAP! HAP!” saya pun memilih meloncat cepat ke tanah yang sudah menghisap sedikit bagian sandal saya dan berhasil mendarat di seberang sungai.

Ternyata benar, setelah mendaki sedikit kami sampai di jalan utama. Dan kata salah satu teman saya,” Wah bentar lagi sampai ini.” Kami pun makin bersemangat untuk menyelesaikan jalan yang dinamai “Jalan Putus Asa” ini. Menurut salah satu guru lain yang kami temui di tengah jalan, dinamakan Jalan Putus Asa karena jalan ini nampak begitu susah untuk dilalui. Sepanjang perjalanan hanya batu terjal dan tanah putih yang ditemui. Untuk orang yang baru datang kesini sepertinya nama tersebut memang cocok disematkan.

Jalan Putus Asa


Tiba-tiba dari kejauhan nampak atap rumah warga muncul dibalik jalan yang berkelok. Satu atap, dua atap, muncul seiring dengan langkah kami yang makin dekat dengan Desa Kedung Dendeng (namun warga setempat lebih sering menyebutnya Kedung Gendeng).

Woaaah, saya terpana melihat apa yang ada di depan mata saya. Saya hirup dalam-dalam udara di “pintu masuk” desa ini. hamparan sawah hijau yang baru ditanam, tebing yang sepertinya terbuat dari kapur serta sungai bening yang mengalir di bawah jembatan tua sebagai akses menuju desa ini benar-benar membersihkan residu di paru-paru dan pikiran saya.

Jembatan kayu yang sudah renta


Dari kejauhan suara tawa bocah berseragam merah putih yang berlarian menuju ke arah kami terdengar renyah di telinga. Semacam bonus ucapan selamat telah berhasil melalui rintangan 6 km dengan medan yang cukup berat menurut saya. Batu – batu dan tanah yang berwarna putih membuat sandal gunung kami berganti warna. Mungkin sebagai tanda kelulusan telah berhasil berjalan 6 km dengan waktu tempuh 2 jam, dibandingkan tanda kelulusan corat – coret seragam, sepertinya pergantian warna sandal kami lebih “berharga”.

Kalau saja, saya sudah menyerah di tengah jalan dengan mengiyakan tawaran beberapa guru yang melintas di “Jalan Putus Asa” mungkin saya tidak akan mendapatkan ucapan selamat dan tanda kelulusan tersebut.

Sandal memutih tanda kelulusan (?)


Segarnya pemandangan di samping kelas


8 comments:

  1. Replies
    1. Makasii kak ini masih belajar yg lebih keren dari tulisan ini masih banyaak bgt hehe :D

      Delete
  2. Survey apaan itu Im? Sama anak beibs? Ajakin poo 😒

    ReplyDelete
    Replies
    1. survey buat kegiatan komunitas deen, ini acara diluar kampus kok hehe

      Delete
  3. Keren banget, nice blog btw.


    www.littlenomadid.blogspot.com

    ReplyDelete
    Replies
    1. thank youuu,blog dan tulisannya di www.littlenomadid.blogspot.com juga kereeen :D

      Delete
  4. Asikk yak bisa jalan'' traveling gitu , Sambil foto" keknya seru jg tu soalny saya hobby jg traveling skligus hunting hhehe

    Salam Kenal Yak
    http://superhidz.blogspot.com/

    ReplyDelete
    Replies
    1. Salam kenal jugaa...
      emang udah pasangan klop banget traveling sambil foto-foto hehe

      Delete