Sebait Mimpi di Jipurapah

Wednesday, March 11, 2015 Imama Lavi Insani 12 Comments



Jembatan masuk ke desa

Keriuhan suara tawa khas bocah SD terdengar saat kaki saya menginjak lapangan rumput di SDN Jipurapah. Saya sedikit terlambat karena di lapangan sudah berkumpul para volunteer dan semua siswa SDN Jipurapah. Ini merupakan kali kedua saya berada di sini, yang membedakan adalah saat ini saya sedang melakukan kegiatan “sesungguhnya” yaitu Traveling and Teaching, sebuah kegiatan mengajar serta berwisata di tempat yang cukup “menantang” di sebuah desa yang terletak di perbukitan di Kabupaten Jombang.

Berkenalan dan senam bersama :D

Matahari sudah terbit makin tinggi, nampak semua siswa sudah rapi berbaris dengan kami, para volunteer di sekelilingnya. Keceriaan dan kegembiraan terlihat jelas di tiap pelupuk mata bocah disini. Mereka nampak begitu antusias dengan kehadiran kami yang tiba – tiba datang di hari Sabtu.

“ Mana suaramu ?”

Semua siswa pun menjawab dengan lantang

“Ini suaraku.”

Ka Andra mengulangi kalimat tersebut  beberapa kali lagi dan dengan setengah berteriak, semua siswa kompak dengan menjawab “INI SUARAKU !!!” 

Tak ayal kami pun ikut gembira dengan bertepuk tangan karena mereka begitu bersemangat pagi ini. Semangat yang diteriakkan oleh para siswa menular di semua volunteer, terbukti dengan semangat saat memasuki ruang kelas, mengajar materi, bermain bersama sampai dengan akhir acara TnT.

Saya sendiri kebagian untuk mengajar di kelas 1, kelas paling dasar bagi seorang anak yang akan menimba ilmu. Ternyata materi yang kami berikan sudah dikuasai oleh hampir semua siswa yang total berjumlah 8 siswa. Eva, Dwi, Lusi, Yogi, Rehan, Dimas, Ega dan satu lagi saya lupa namanya, mereka begitu antusias dengan apa yang kami ajarkan mulai dari perkenalan diri, belajar berhitung, membaca, dan lain – lain. Awalnya mereka malu untuk sekedar menyebutkan nama tetapi ketika kami memberikan reward bagi siswa yang berani tampil berupa alat tulis dan makanan ringan mereka secara berebutan mengangkat tinggi-tinggi jari mungil mereka dan berlari kecil untuk maju ke depan.

Bersama volunteer dan siswa kelas 1

Selfie bersama :D
Pengalaman baru :))
Sepanjang kelas berlangsung bola mata saya tak hentinya menatap seorang wanita yag sudah berumur lanjut sedang duduk di dekat seorang siswa. Nama siswa tersebut adalah Rehan. Ia masih berusia 5 tahun, sang nenek tiap harinya harus menemaninya bersekolah. Nenek tersebut duduk tepat di samping Rehan. Melihat pemandangan tersebut beberapa kali saya menghampirinya untuk sekedar mengajak maju ke depan atau membantunya menjawab pertanyaan yang dilontarkan teman volunteer saya yang lain. Saat maju ke depan pun Rehan selalu menggandeng tangan neneknya untuk ikut maju. Ia sangat pemalu, sang nenek bercerita ia sebenarnya masuk PAUD tetapi ia tidak mau dan akhirnya menuruti keinginan sang cucu untuk setiap hari duduk di kelas bersama siswa lain.

Rehan dan neneknya (foto diambil dari instagram ka setiawan)

Cerita cinta saya dapatkan di sini. Bagaimana seorang nenek rela setiap harinya meluangkan waktu untuk menemani sang cucu bersekolah dengan duduk di sampingnya. Malu ? Mungkin iya tapi rasa cintanya kepada sang cucu mampu mengusir jauh – jauh rasa tersebut.

Dan saat di akhir-akhir kegiatan ada hal yang membuat hati saya meletup – letup. Rehan sudah berani untuk mengangkat tangannya tinggi-tinggi dan maju ke depan tanpa ditemani oleh neneknya. Sebuah pemandangan yang membuat rasa lega bercampur gembira luar biasa di hati kami, volunteer di kelas satu.

“ Eh tadi Rehan sudah berani ya maju tanpa neneknya,” teman saya, Ka Desi, berkata dengan wajah sumringah.

“ Iya Desii,” saya pun membalasnya dengan cepat.

Di akhir kegiatan TnT semua siswa diinstruksikan untuk menulis nama serta cita – cita yang diinginkan. Mulai dari tentara, guru, dokter, pemain sepak bola, polwan, sampai pemilik bengkel pun mereka ucapkan dengan lantang di depan kami semua. Tak mau kalah dengan siswa, kami yang menyimak pun mengucap Aamiin secara bersamaan. Wajah lugu dan polos mereka terlihat begitu sungguh – sungguh ketika mengucapnya. Tak ada keraguan dan ketakutan saat membaca tulisan di sehelai kertas yang dipotong seperti daun tersebut.

Eva dan mimpinya menjadi guru di depan Pohon Harapan (gambaran harapan dari mimpi dan cita-cita siswa)

Sejatinya mungkin begitu, saat kita masih anak – anak tak ada yang membatasi mimpi dan cita – cita. Dengan bebas kita mengucap apapun yang kita inginkan tanpa ada rasa takut gagal, takut tak kesampaian di tengah jalan, sampai dengan takut sendiri untuk sekedar menyebut apa mimpi dan cita – cita kita.

Seperti pada bait lagu Laskar Pelangi

Bebaskan mimpimu di angkasa

Warnai bintang di jiwa

Menarilah dan terus tertawa

Walau dunia tak seindah surga

Bersyukurlah pada Yang Kuasa

Cinta kita di dunia

Semoga dek, mimpi yang telah kalian dengungkan dengan lantang di depan kelas terbang tinggi sampai ke langit, peluk erat mimpi – mimpi itu. Tak ada yang  boleh menertawakan mimpi yang telah kalian teriakkan, mungkin suatu hari saat kalian ceritakan mimpi kalian ke teman saat duduk di bangku SMP, SMA, atau di bangku kuliah, teman yang mendengar mimpi kalian tertawa tak percaya. Namun ingat, Tuhan tak pernah tidur, percayai mimpi kalian, peluk erat mimpi kalian masing-masing, berlarilah untuk mimpi kalian, sekali dua kali boleh lah gagal, tapi bangkitlah lagi teruslah berlari mengejar mimpi, dan jangan lupa bisikkan mimpi kalian di sepertiga malam dengan Tuhan.

Semoga mimpi dan cita – cita kalian tercapai . . . Aamiin



Ketika minum susu bersama

Dari kiri, ka pita,ka senja,ka vidia,saya,dan ka shelly :D

Bersama semua volunteer di depan rumah Pak Wo, kepala dusun yang juga sebagai rumah tempat tinggal sementara kami :D


12 comments:

  1. Replies
    1. ntar kalo ada lagi kabar-kabar ya im. kali aja aku bisa ikutan

      Delete
  2. eeeh gw dulu pernah loh jdi guru jg trus ngajarin anak2 SD, tpi pas KKN, trus yg kudu gw ajari pelajaran Agama lagi pdahal basic gw SH dan S.Kom, untung smua berjalan lancar dan aaah itu sesuatu bgt buat gw.. #malah curcol

    kenapah gak sekalian ikut Indonesia Mengajar ajah.?

    ReplyDelete
    Replies
    1. wah keren keren, KKN dimana tuh ka?
      Saya belum lulus kuliah hehe semoga aja dapet kesempatan ikutan itu :))

      Delete
  3. Wah keren,
    saya belum pernah dapat kesempatan seperti apa yang diceritakan di link ini. Menginspirasi!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Tulisan di http://www.backpangineer.com/ lebih kereeeen lagi :D

      Ikutan aja ka, kegiatan 1000 guru ada di beberapa daerah di Indonesia kok hehe atau bisa ikutan Indonesia Mengajar sekalian :D

      Delete
  4. Oh jadi kamu masuk ke daerah kekuasaanku gak ngabarin gitu,,,, deuh awas kowe....

    btw 1000 guru yak, keknya ada kenalan-kenalanku yg juga gabung deh, soale kemarin ketemu pake kaos itu...

    terima kasih sudah berbagi ilmu dengan warga Jombang ya ima, tapi awas kowe gak permisi meneh karo aku nek nang jombang, tak kutuk jadi batu akik :p

    ReplyDelete
    Replies
    1. Maaf kak :((((( aku lupa gak bilang hiks hiks lain kali pasti ngabarin wessss

      Sama-sama, Jombang bener-bener beriman, bersih indah dan nyamaaan :))

      Delete
  5. Sangat menginspirasi, Mbak :)). Mengajar itu tindakan yang sangat mulia, tapi apa yang didapatkan seorang pendidik yang melihat anak didiknya berkembang itu juga penghargaan yang besar banget. Pasti senang rasanya melihat anak-anak itu, tertawa lepas, tanpa beban, jadi beban yang ada di pengajarnya pun pasti terangkat juga :hehe.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya awalnya agak takut " Nanti gimana ya kalo gini eh kalo gini malah gimana blablabla... Tapi pas hari H semuanya diluar ekspektasi kami. Meskipun singkat tapi pengalaman yang didapat sungguh luar biasa :D

      Delete