Ora Keno Nduweni

Thursday, April 30, 2015 Imama Lavi Insani 26 Comments



“ Untuk penutup kepala atau sike diibaratkan seperti batu nisan, agar manusia sadar akan kematian dan orang mati gak punya apa – apa, kita harus belajar untuk menghilangkan rasa memiliki istilah Jawa – nya Ora Keno Nduweni. ”


***

Malam itu kaki saya berjalan pelan memasuki sebuah gang kecil di sudut kota Pekalongan. Siangnya Pak Eddy, salah satu pegawai Disbudpar Jawa Tengah berkata,” Nanti malam kita lihat tari- tarian ya.” Di otak saya pun segera muncul beberapa wanita dengan pakaian khas penari Jawa menarikan tari tradisional diiringi dengan grup karawitan. Mereka menari dalam suatu tempat pementasan dengan lampu sorot yang menyoroti penari – penari tersebut, namun sepertinya bayangan saya kurang tepat . .

Gang yang kami masuki tak terlihat hingar bingar sebuah pementasan akan diselenggarakan. Di samping kanan dan kiri saya adalah deretan rumah dengan pagar yang telah terkunci rapat. Lampu yang menyala redup dengan angin semilir turut menemani tiap jengkal kaki yang saya langkahkan.

Papan keterangan sanggar multikultur


Tiba – tiba kami sampai di sebuah rumah yang terlihat sedikit ramai. Barisan motor terparkir rapi di depan rumah tersebut. Beberapa  orang lelaki menyambut kami dan mempersilahkan masuk dengan senyuman hangat. Satu diantara mereka berwajah keturunan arab dan yang lainnya berwajah khas jawa.

Suara gamelan mengalun lembut menyambut kedatangan kami. Kalau tidak salah lagu yang dimainkan yaitu Kebo Giro. Lagu yang biasanya dimainkan saat menyambut kedatangan tamu. 

Suasana di dalam Joglo

Saya teringat sekitar 5 tahun lalu saat masih berstatus sebagai anggota Ekstrakurikuler Karawitan. Saya memainkan lagu Kebo Giro tersebut untuk menyambut kedatangan seorang tamu di sekolah saya. Tiap bunyi yang terdengar di telinga seperti mesin waktu yang membawa ingatan saya memainkan Bonang Lanang dengan arahan pelatih yang telah melalang buana sampai ke Belanda bermodal kepiawaian bermain karawitan. 

Suara sinden yang kali ini adalah seorang lelaki membuyarkan lamunan saya mengenang saat bermain karawitan di SMA. Suaranya yang tegas dan lantang sedikit menjadi pembeda saat sinden grup karawitan yang lain adalah seorang wanita. Akhirnya sebuah lagu tentang Batik Pekalongan dimainkan.

Sinden yang berbeda dari yang lain


Seorang lelaki berwajah arab yang menyambut kedatangan kami tadi memecah keheningan setelah lagu tentang batik selesai dimainkan. Beliau bernama Pak Habib. Dengan wajah keturunan non pribuminya saya dibuat kagum karena bahasa Kromo-nya yang begitu lancar. Rasanya ingin menutup muka sendiri rapat-rapat  karena saya yang notabene keturunan Jawa asli dan hidup lebih dari 21 tahun di lingkungan masyarakat berbahasa Jawa bisa dihitung dengan jari berapa kali berbicara lancar seperti beliau :(

Setelah memperkenalkan diri dan sedikit membahas tentang sanggar multikultur ini beliau menawarkan kepada kami,” Mau melihat tari Darwis?” Kami semua pun mengangguk setuju.

Dua orang penari Darwis

Dua orang dengan pakaian berwarna putih dan topi yang menjulang tinggi berjalan pelan menuju bagian tengah ruangan joglo yang menjadi tempat berkumpul sanggar.

Awalnya mereka membungkukkan badan dengan tangan bersedekap di dada. Alunan musik gamelan mengiringi tarian yang diperkenalkan oleh Maulana Jalaludin Rumi sekitar 800 tahun lalu. Kemudian tangan kanan mereka diangkat ke atas sedangkan tangan kiri menangkup ke arah bawah. Tepat sesaat sebelum sinden mulai bersuara kedua penari tersebut berputar – putar berlawanan arah jarum jam namun tetap di tempat. 

Sedang menari dan berputar berlawanan jarum jam 

Perpaduan suara Shalawat Nabi yang dinyanyikan oleh sinden, tabuhan gamelan, serta dua penari yang berputar seirama dengan shalawat  menjadikan suasana menjadi hening. Semua teman – teman saya nampak begitu menikmati pertunjukkan yang disuguhkan.

Beberapa kali lampu blitz kamera menimpa wajah dua penari yang tengah berkonsentrasi penuh menarikan Tari Darwis. Mereka pun tampak tak terganggu dengan hal tersebut. Masih dengan tangan kanan yang diangkat ke atas dan tangan kiri yang berada sedikit di bawah posisi tangan kanan ,mereka tetap seperti itu sampai suara gamelan terakhir dinyanyikan. 

Akhirnya Pak Habib menceritkan filosofi dari tarian tersebut. 



“Kenapa tarian ini harus berputar? Karena semua atom dikelilingi Proton, Elektron dan Neutron, seluruhnya termasuk planet-planet kita ini seperti bumi. ( Masih ingat kan pelajaran saat SMA bahwa Elektron selalu berputar mengelilingi inti atom yang bermuatan Proton dan Neutron? )

Kenapa tangan kanan ke atas yang kiri menagkup ke bawah? Karena setiap saat kita menerima rahmat, karunia dari Allah, yang kiri senantiasa memberikan. Orang Jawa bilang Ora nduwe dewe lan koyo mengkono sampurnane maring Allah. Jadi kanan menerima kiri memberi, kita sendiri tidak punya apa-apa hanya fasilitator saja.

Kemudian kostumnya ya, kenapa kok namanya sike, penutup kepalanya tinggi? Itu menggambarkan batu nisan, agar kita senantiasa sadar kita semua akan mati dan apa ciri-cirinya orang mati? Orang mati itu gak punya apa-apa artinya Nduwe nang ora pemilikan. Artinya kita harus menghilangkan rasa memiliki, kalau orang Jawa bilang Ora Keno Nduweni.”

Terasa seperti disendokkan beberapa nutrisi ilmu keagamaan sekaligus ilmu kehidupan dari penuturan lengkap Pak Habib. Suaranya yang lembut dengan sesekali diselingi oleh tawa renyah membuat kami seperti sedang berguru pada seorang ahli ilmu.


Pak Habib

Perjalanan yang sangat mahal harganya saya dapatkan di sebuah kota bernama Pekalongan.  Karena saya percaya, Indonesia itu indah, bahkan di tiap sudut kotanya mempunyai keindahannya sendiri. Mungkin memang Pekalongan tidak mempunyai garis laut seindah Raja Ampat, tidak mempunyai alam bawah laut semenakjubkan Bunaken dan Wakatobi, tapi Pekalongan mempunyai cerita sendiri tentang hidup, tentang arti dari keberadaan kita di dunia ini dan tentang bagaimana harus bertindak sebagai makhluk yang telah mendapatkan begitu banyak rahmat dan karunia dari Sang Pencipta. 

Semoga bermanfaat, dear traveler Indonesia : )


ps: beberapa foto saya ambil dari kamera ponsel saya dan hasilnya blur :(( di bawah ini ada foto penari darwis yang sedang menari di Turki 

Sumber: http://zorugo.blogspot.com/2014/02/8-hal-seru-yang-harus-dicoba-di-istanbul.html

-----
Tulisan ini dibuat dalam rangkaian perjalanan FamTrip Jateng yang diselenggarakan oleh Disbudpar Provinsi Jawa Tengah tanggal 21-24 April 2015... Tunggu cerita selanjutnya ya :D

Oh iya cek beberapa tulisan teman-teman saya yang lain ya di Famtrip kemarin :

1. Akulturasi Budaya antara Tradisi Sufi dan Gamelan Jawa : http://bit.ly/1E0Oe9h
2. Ada Pelangi di Curug Sewu Patean Kendal :) : http://bit.ly/1KyVAGm
3. Curug Sewu : http://bit.ly/1GKNCIV
4. #FAMTRIPJATENG HARI KETIGA, BALIK NING TEGAL! : http://bit.ly/1c0NevJ
5. ADUH KAMU RUGI, KALAU KE CURUG SEWU SENDIRIAN! : http://bit.ly/1GLWdOg
6.  Sudah ke Curug Sewu, Kendal? : http://bit.ly/1GLWocq
7. Pekalongan Kota Kreatif Dunia : http://bit.ly/1zwP6qx


26 comments:

  1. Hmmm... sejalan dengan apa yang saya yakini, bahwa hidup itu berputar bagaikan roda, ada saatnya kita di atas dan di bawah...

    ReplyDelete
    Replies
    1. beneeer banget kak, hidup emang selalu berputar, jangan sampai lalai aja pas lagi di atas :)

      Delete
  2. Oh, darwis itu tari - tarian dari turki ternyata :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya kak menurut beberapa sumber seperti itu hehe..

      Delete
  3. terkesan banget aku kunjungan kesini, makanya kutulis duluan imama, banyak pelajaran kita dapat ya Alhamdulillah..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mbak, Alhamdulillah :)) keren banget ini pokoknya tari darwisnya :D

      Delete
  4. Makna dari sebuah perjalanan memang selalu ada....tinggal bagaimana kita memaknai dan mengartikannya... next trip semoga bisa mendapatkan sebuah pesan yang bermakna.. Amiin..

    ReplyDelete
    Replies
    1. aamiin mbak miaa :D
      tiap perjalnan yg kita lalui pasti ada maknanya emang, bahkan waktu kita pergi ke pasar,sekolah,kampus...hehe

      Delete
  5. dan bagaimana caranya agar ketika berputar itu gak pusing..???

    ReplyDelete
    Replies
    1. gak bakal pusing kok kata Pak Habib, hehe
      kunci utamanya pas diawal ada rasa Cinta sama tarian itu, dan kata beliau pas nari kita lebih bisa berkonsentrasi dan lebih peka sama keadaan sekitar :D

      Delete
  6. ini yang paling berkesan....penari bisa menikmati setiap putarannya *Mantaap!!*

    ReplyDelete
  7. Tapi itu roknya belum terlihat mengembang kaya digambar terakhir. hehehe.

    Sayangnya belum ada yang tertarik mencoba tari Sufi selain pak Dwipram :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. mungkin karna masalah tempat kak hehe, cuma bapak kita yang mau coba ya :D

      Delete
  8. Lebih mengejutkan lagi mas Habib bisa bahasa Mandarin! Sebelum pulang sempet ngobrol sebentar, eh diajak cas cis cus bahasa Mandarin. Trus cuma melongo karena nggak ngerti. Jadi merasa malu ngaku sebagai Tionghoa hehehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Oh yaaa ?? Kereeeen banget sih Pak Habib :D
      hihi ayoo kak belajar mandarin :D

      Delete
  9. apa pala mereka ngak mumet yaaaaa ??? aku muter 3xaja dah pusing

    ReplyDelete
    Replies
    1. katanya sih,enggak kak malah mereka makin peka sama keadaan sekitar pas muternya itu :o

      Delete
  10. Aku aja mumet loh liat yang puter2an hehehe, salam kenal Ima

    ReplyDelete
    Replies
    1. hihi sama bangetttt aku juga pas liat mereka nari jadi pusing sendiri :p
      Salam kenal juga yaaa Salman Faris :D

      Delete
  11. Ga begitu tau tentang karawitan dan tari sufi juga. Tapi kemarin cukup puas dengan pengetahuan baru yg didapat dari sini :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sama kak, ilmu baru yang dibagi sama Pak Habib mantepp banget yaak :D

      Delete
  12. Keren, akulturasinya terasa sekali, semua saling menyesuaikan budaya tapi ciri aslinya masih bisa ditunjukkan. Dan falsafahnya universal ya, tentang Tuhan, memberi dan menerima. Pastinya ini pengalaman yang sangat berharga :hehe. Saya juga jadi ikut belajar soal hidup setelah membaca tulisan ini :hehe.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya kak akulturasinya kereeen banget :D
      Semoga bisa bermanfaat ya kak :)

      Delete
  13. wah ternyata dunia ini sudah lama ya usianya...

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya udah lama bangett *lalu bingung apa hubungannya sama tari darwis* hehe

      Delete