Menjadi Sweeper Saat di Suku Tengger

Tuesday, December 27, 2016 Imama Lavi Insani 5 Comments




Mata saya menatap cemas ke arah depan, sesekali menelan ludah dan merapal doa, tangan kanan saya berpegang pada dashboard mobil, dengan satu hentakan rem yang cukup keras mobil yang saya naiki berhasil melewati genangan lumpur yang masih basah.

Kejadian tersebut terjadi berulang-ulang saat perjalanan saya menuju Desa Keduwung bersama dengan VES Community yang bekerja sama dengan salah satu komunitas yang saya ikuti.

Awalnya saya tak terlalu mengenal komunitas tersebut hanya mendengar sedikit saja keterangan dari teman saya. Saya pun tak terlalu memkirkan siapakah VES Community hingga saat memasuki Kabupaten Pasuruan saya harus berganti mobil karena medan yang tak memungkinkan menaiki mobil small mpv lagi.

Saya sempat berganti mobil dua kali dan akhirnya mobil berwarna putih miliki Om Martin yang menjadi teman perjalanan saya kali ini.

Perjalanan kami dimulai saat meninggalkan area GOR di Pasuruan. Perlahan dalam satu baris, mobil VES yang merupakan singkatan dari Vitara, Escudo dan Sidekick mulai bergerak.

Kali ini mobil Om Martin bergerak di barisan mobil paling belakang atau istilahnya sebagai Sweeper. Di sinilah salah satu pengalaman baru saya dimulai.

Sweeper kali ini sangat berbeda dengan Sweeper yang saya ketahui sebelumnya sebagai pengacau petulangan Dora. Malah sebaliknya tugas Sweeper menurut saya cukup berat karena harus memantau rombongan dari belakang, menemani anggota apabila terjadi masalah, serta berkabar apabila terdapat kendaraan lain yang ingin mendahuli rombongan. Tugas tersebut adalah hasil Googling saya dan memang selama perjalanan saya mengalami itu semua.

Selain pengalaman baru menjadi seorang Sweeper ada satu hal lain yang menarik selama perjalanan yaitu adanya radio yang berfungsi untuk media komunikasi antar mobil karena tidak mungkin menggunakan sambungan telepon ataupun chat untuk saling berkabar tentang keadaan mobil dan jalan yang dilewati. Radio tersebut pun menjadi penghibur di tengah perjalanan yang sepi karena pada saat itu hari sudah mulai larut. Kelakar yang dikeluarkan oleh driver mobil lain membuat saya tertawa terbahak. Kalau perjalanan diselingi candaan seperti ini meskipun jaraknya jauh pun akan terasa terus menyenangkan.

Rombongan mobil kami mulai memasuki area pegunungan. Suasana menjadi lebih sepi. Lampu – lampu jalan mulai meredup. Rumah – rumah warga mulai menghilang dan pemandangan mulai berubah menjadi hutan. Lampu penerangan sepenuhnya dari lampu mobil.

Saya mulai memejamkan mata karena beberapa jam lagi kegiatan akan dimulai dan saya harus menyiapkan stamina dan tenaga ekstra karena seharian penuh saya harus mengurusi kegiatan tersebut. Namun harapan saya untuk beristirahat pupus, saya tak memejam sedikitpun. Rasa kantuk tak kunjung datang. Teman saya yang lain, Fidha, sudah larut di dalam hutan kapuk. Akhirnya saya memilih menikmati perjalanan sambil mengobrol dengan Om Martin.

Saya yang begitu penasaran karena belum mengetahui secara jelas apa itu VES dan kegiatannya akhirnya mulai sedikit mengerti dan paham bagaimana komunitas tersebut hidup di tengah hingar bingar komunitas – komunitas mobil yang lain.

“Komunitas VES ini santai, tidak ada iuran rutin, kalau ada yang ingin gabung ya silahkan langsung,” kata Om Martin menjelaskan kepada saya sambil sesekali menjawab obrolan yang ada di radio.
Jalanan yang saya lewati makin gelap. Saya mulai membuka jendela dan merasakan udara dingin pegunungan.

Saat di tengah kegelapan tersebut saya mulai sadar pentingnya alat komunikasi radio. Dari mobil lain melewati radio tersebut mengabarkan keadaan jalan yang dilalui seperti jalan menukik tajam, ada jembatan, belokan curam, atau harus berjalan satu persatu atau saat tiba – tiba berhenti karena ada penumpang yang mual.

Akhirnya rombongan kami sampai di desa terakhir sebelum perjalanan kami dimulai kembali. Di sini kami beristirahat di mobil masing-masing sambil menunggu matahari mulai terbit karena terlalu bahaya apabila memaksakan naik saat malam hari. Desa tersebut adalah salah satu dari tiga dusun Kedawung.

Sekitar 2 jam kemudian perjalanan kembali dimulai dan mobil Om Martin tetap sebagai Sweeper. Di sinilah perjalanan yang sesungguhnya dimulai *sambil mendengarkan backsound mtma*

Pertama kali rombongan mobil harus melewati sebuah jalan berpaving. Tiap mobil harus mengambil ancang-ancang yang pas kalau tidak akan terjadi seperti yang mobil depan saya alami. Karena ancang – ancang yang kurang pas akhirnya mobil tidak kuat untuk menanjak naik. Om Martin lewat radionya menyuruh mobil di depan saya mundur untuk mengambil ancang-ancang. Dan benar saja ketika mobil sudah turun di tempat yang lebih landai kemudian mobil menancapkan gas kuat – kuat untuk dapat naik.

Kemudian kali ini giliran mobil Om Martin yang mulai merangkak naik. Namun ada sedikit kendala karena mobil tidak dapat bergerak walaupun sudah di gas. Akhirnya mobil pun mundur untuk mengambil ancang-ancang namun ternyata mobil tidak dapat bergerak naik malah bergerak mundur. 

Om Martin tetap berusaha menancap gas namun hasilnya nihil. Dengan tangan kiri mengabarkan keadaan mobil yang belum bisa naik melalui radio tiba – tiba mobil yang bergerak mundur berada  seperti diluar kendali dan akhirnya “Brak!” mobil yang saya naiki menabrak dinding pagar rumah warga. Mobil Om Martin terperosok tak dapat bergerak. Kami pun turun dan melihat apa yang terjadi.


Warga sekitar yang melihat kami akhirnya membantu dengan menggoyangkan mobil sambil di gas oleh Om Martin. Deru mesin terdengar keras dan setelah beberapa kali usaha akhirnya mobil berhasil kembali ke jalan utama dan merangkak naik.

Saya yang cukup was – was melihat kejadian tadi mengajak tiga teman saya yang lain untuk segera naik menuju mobil yang sudah menunggu di atas.

“Itu tadi gara-gara ban mobilnya dan paving yang licin..” ujar Om Martin.

Perjalanan kami mulai kembali. Beberapa menit kemudian ada mobil lain yang berhenti. Teman saya yang berada di mobil tersebut berkata bahwa medan jalan cukup parah. Lumpur dan air yang menggenang menjadi salah satu tantangan.

Akhirnya kami harus bersabar menungu mobil lain naik ke atas satu persatu.

Kesabaran kami berbuah manis. Setelah melewati beberapa tikungan tajam dengan medan jalan yang berlumpur kami sampai di Desa Keduwung.

Barisan mobil VES yang berjajar rapi menarik perhatian penduduk setempat.



Mungkin di batin mereka mengatakan Siapa gerangan yang datang pagi-pagi betul begini. Tak hanya satu mobil lagi...

Anjing-anjing kampung pun ikut menyalak seolah mengucap salam selamat datang pada kami.

Penduduk Suku Tengger Desa Keduwung



----
Pulang

Perjalanan pulang dimulai lebih pagi. Kami sudah bersiap pukul 07.30 untuk turun kembali ke rumah. Salah satu anggota VES mengatakan bahwa sebaiknya jam pulang dimulai lebih pagi pasalnya cuaca yang sedang tidak menentu menjadi salah satu alasan utama.

Tidak terbayang bagaimana kami akan melewati jalan yang dilalui sehari sebelumnya dengan keadaan hujan. Itulah yang ditakutkan.

Setelah pamit dan mengucap perpisahan kami pun menaiki mobil. Dan saya kembali menaiki mobil putih Om Martin bersama dengan Kak Hanif dan Emil ditambah dengan kepala sekolah SD yang juga turut serta di mobil.

Perlahan kami meninggalkan Desa Keduwung.

Tak berapa lama kami meninggalkan Desa Keduwung, matahari mulai tertutupi awan tebal.

Wah bahaya nih kalau di jalan dan kehujanan sambil mengingat-ingat medan jalan ketika berangkat, batin saya.

Om Martin tetap fokus menyetir mobil sambil sesekali berbicara pada radio HT dengan mobil lain mengabarkan keadaan jalan yang mulai berkabut dan jarak pandang yang begitu minim.

Saya ngeri-ngeri sedap melihat medan jalan yang dilalui. Apabila di lagu naik-naik ke puncak gunung liriknya berbunyi kiri-kanan kulihat saja, banyak pohon cemara maka kini berganti
kiri-kanan kulihat saja banyak jurang terbuka ~

Kiri-kanan kulihat saja banyak jurang terbuka ~ 




Berjalan diapit jurang dengan jarak pandang yang begitu minim karena kabut yang turun menjadikan perjalanan ini adalah salah satu perjalanan paling tidak akan saya lupakan dan menjadi perjalanan yang cukup menantang di tahun 2016.

Beruntung saat itu perjalanan berjalan lancar tidak ada lagi mobil yang selip atau mengalami hambatan.

Menjadi sweeper adalah hal menarik dan baru bagi saya dan kesabaran adalah salah satu kunci menjadi sweeper yang baik. Bagaimana dengan sabar membantu teman atau mobil lain yang sedang mengalami masalah, bagaimana menurunkan ego mendahulukan orang lain daripada kita, serta yang paling penting ialah selalu memantau dan berkabar perihal keadaan apapun yang sedang terjadi karena sweeper berada di paling belakang sehingga ia menjadi istilahnya penutup bagi rombongan yang sedang berjalan.

Saya begitu senang dan ingin sekali mengulangi pengalaman ini dan apabila diberi kesempatan kolaborasi dengan komunitas saya lagi, yuk mari :D

Dari kiri-kanan : Om Martin, Saya, Kak Hanif, Emil, dan Fidha

5 comments:

  1. Wiiiih seru off road kayak gitu :D :D
    Perjalanan menapaki jalan menanjak itu selalu menegangkan, tapi lebih menegangkan saat turunan haha. Tapi memang kalau pavingnya licin itu bisa bikin repot, ban jadi tidak kuat mencengkeram.

    ReplyDelete
  2. keren dan seru, pengen banget offroad kyak gini, klo di karanganyar jateng juga ada kak beginian :)

    ReplyDelete
  3. Waah... asik... Kayaknya dingin ya disana?

    ReplyDelete
  4. Uda lama pengin offroad kyk gini tp blm kesampaian euy. Seru yah

    ReplyDelete