Jantung Negeri Melayu dalam Secangkir Kopi Sekanak

Sunday, May 14, 2017 Imama Lavi Insani 9 Comments



Sebuah keistimewaan pada suatu malam yang temaram mendapat suguhan hidangan raja-raja melayu sejak  650 tahun silam. Keladak kafeinnya masih terasa di ingatan seiring cerita sejarah yang didengungkan oleh sang tuan pemilik kedai, Bang Teja Alhabd.

Inilah secangkir kopi Sekanak yang diseduh di cangkir porselen Cina yang harum kafeinnya telah dicampur dengan tujuh macam rempah yang berdaki hitam.

Alkisah sebuah kerajaan yang tercatat di sejarah sebagai kerajaan maritim terbesar, Sriwijaya, mulai mengalami kemunduran.

Namun di wilayah Kepulauan Riau, sudah lama berdiri sebuah kerajaan, Bentan atau Bintan namanya. Ada tiga raja yang begitu dikenal, Raja Iskandar Syah, Wan Seri Beni , dan Sang Nila Utama.

Inilah secangkir kopi Sekanak. Hiruplah ! Dan gelegak kopi Sekanak, kemudian mengarak darah pengembara mereka menuju Temasik. Menuju Melaka, Johor, Riau, Lingga dan sekolah negeri di semenanjung Melaka. Dan dengarkan bisik Sang Nila Utama menghunjam rindunya pada Wan Sri Beni, di cangkir-cangkir porselin Cina: Adinda, biarkanlah darah sang Nila Utama berjejak dan membangun sejarahnya sampai ke Arafura, sampai ke Madagaskar sampai ke Okinawa, sampai kepaterakna Batara Majapahit, Ratu Sahina. Sesaplah!

Salah seorang raja Bentan yang menjabat yaitu Raja Seri Tri Buana memindahkan pusat kerajaan Bentan yang semula di Pulau Bintan ke Temasik(Singapura) di tahun 1158 M.

Lebih dari 200 tahun kemudian, tepanya pada 1384 M, Kerajaan Bentan yang dipimpin oleh Prameswara dikalahkan oleh Majapahit yang kala itu sedang mengalami kejayaan. Hingga ia memindahkan kerajaan ke Malaka dan kerajaan pun berubah nama menjadi Malaka dengan Prameswara menjadi raja pertama di sana.

Prameswara kemudian masuk Islam dan beganti nama menjadi Sultan Muhammad.

Layaknya sebuah roda, kehidupan kerajaan pun terus berputar hingga pada akhirnya pada tahun 1511, Malaka dihancurkan Portugis pada masa Sultan Mahmud Syah.

Bersama putranya yang bernama Raja Ahmad, sang Sultan melarikan diri ke Bintan lalu berpindah ke Kampar, Riau, karena Portugis menyerang Bintan.

Sang sultan yang malang, ia pun mengakhiri hidupnya di Kampar dan digantikan anaknya yang bergelar Sultan Alaudin Riayat Syah.

Sang Sultan baru tersebut memindahkan pusat pemerintahan ke Johor dan menjadi Johor 1 atau lebih tepatnya menjadi Raja di sana.

Inilah babak baru Kerajaan Riau-Lingga-Johor-Pahang.

Setelah itu, pusat pemerintahan berpindah-pindah. Bintan, Johor, Hulu Sungai Carang di Bintan, Pahang, dan berakhir di Daik Lingga.

Dari Bintan berakhir di Bintan dapat dikatakan bahwa Bintan sebagai hulu dan hilir cerita sejarah Melayu.



Saya mencungkil kopi Sekanak sesuai arahan Bang Teja. Warna kopi pun berubah, dari mulai hitam pekat menjadi kecoklatan.

Aroma rempah kian menusuk hidung..

Laksana sang prajurit yang diperintah oleh raja, saya pun kembali melaksanakan perintah sang tuan kedai, mencelupkan kayu manis beberapa kali sebagai rangkaian ritual meminum Kopi Sekanak.

Dan kini tibalah saatnya saya merasakan hidangan para raja.

Lewat kayu manis saya menyesap pelan Kopi Sekanak.

Ada rasa yang berkecamuk di mulut, lalu turun melewati tenggorokan,  campuran rempah dan kafein kian memenuhi rongga tenggorokan dan penciuman. Rasanya begitu lengket dan pekat.

Saya tak bisa berhenti menyesap kopi. Enak betul rasanya. Meski bukan kopi murni karena ada tambahan rempah dan susu tapi rasa-rasanya kopi sekanak adalah kopi terenak yang pernah saya cicip.

Sangatlah tepat Raja Melayu mendaulat Kopi Sekanak sebagai hidangan mereka.

Dan slogan “hidangan para raja” yang awalnya saya kira adalah slogan penarik pengunjung untuk datang nyatanya memang benar adanya. Kopi Sekanak, menurut sang tuan pemilik kedai dapat membuat perasaan tenang, tidur nyenyak, dan bangun tidur dengan tubuh yang akan semakin segar.

Sebuah malam yang mahal dengan rasa kopi istimewa yang melekat di otak namun sejurus kemudian saya sadar, berbanding terbalik dengan kegembiraan saya menyesap Kopi Sekanak, remahan sejarah kerajaan melayu berakhir pilu, pada tahun 1913 M, Kerajaan Riau-Lingga takluk di tangan negara berbendera merah putih biru.





(*Kopi sekanak ini nyatanya memiliki filosofi, si kopi mencerminkan watak orang melayu, yang harus dihadapi dengan alon-alon atau pelan-pelan janganlah terburu-buru..)


Sumber informasi:
2. Dapoer Melayoe, Teja Alhabd. Sila berkunjung ke Jl. Sultan Mahmud No.11, Tj. Unggat, Bukit Bestari, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau 
Telepon: 0812-7006-0098
Jam buka: 07.30–20.00


---
Tulisan ini adalah salah satu hasil perjalanan dari kegiatan famtrip oleh Kementerian Pariwisata. Semoga bermanfaat ya tulisannya :D #PesonaIndonesia  #PesonaTanjungpinang

Baca cerita lainnya:  Tercengang di Pecinan Tanjungpinang


9 comments:

  1. Hmm negri kita ini memang terlalu kaya. Termasuk soal kopi, yang setiap daerah punya ciri khas masing2. Pun memiliki kisah2 yg berbeda dan menarik untuk dikulik.
    Menarik mbak ulasannya.

    ReplyDelete
  2. Sukaaaa ! Jangan berhenti nulis .. Imama ��

    ReplyDelete
  3. tulisanmu tentang kopi. Jiwanya dapat Mba.
    Aku malah bacanya: Kisanak. Hehe.
    Membaca tulisan ini, seperti aku sedang mengecap kopinya. Membayangkan saat mengaduk bersama kayu manis, aroma yang menyeruak menusuk indera, kemudian. Ah, sayang, kamu hanya berbagi lewat cerita saja. Ga bawain aku oleh2 kopi Kisanak.

    Mau dong, kopinya!

    ReplyDelete
  4. wahhh pencinta kopi yahh...

    ReplyDelete
  5. well done good writen im :D

    Long time no see ya

    ReplyDelete
  6. aku nyoba teh rempah dengan kayumanis di India dan emang citarasa cinnamon ini bikin rasa jadi seger enak gitu yaa. nah, kalau kopi-kopi di kepri, entah kenapa, semuanya enak. yang di bangka belitung juga enakk..

    ReplyDelete
  7. Sebagai orang yang tak terlalu terbiasa minum kopi (yang mutlak). Kayaknya kopi dengan campuran susu dan rempah bisa jadi alternatif.
    Tulisanmu cantik, Nai. :)

    ReplyDelete
  8. Im, aku bukan coffee person nih, kalo minum kopi ini tetep bakal suka nggak? :D

    ReplyDelete