Tentang Glodok yang Baru Saya Ketahui

Wednesday, July 19, 2017 Imama Lavi Insani 12 Comments



Dua bulan lalu, meskipun suasana bising tak karuan karena berada di tepi jalan, saya berusaha mendekat ke arah guide yang mengantar kami ke lokasi walking tour agar informasi yang diberikan terdengar jelas dan tidak samar-samar.

“Jadi, mengapa Glodok dipenuhi dengan etnis Tionghoa? Ada yang tahu?”

Kami semua saling berpandangan, seperti murid yang sedang ditanya oleh gurunya,lalu serempak menggeleng.

Mungkin bagi sang guide, tidak ada yang mengetahui sejarah Glodok akan membuat suasana tur makin seru karena ada proses transfer ilmu.

Tak lama kemudian karena kami benar-benar tidak bisa menjawab, maka ia pun menjawab pertanyaannya sendiri.

“Dahulu saat zaman penjajah, ada kejadian pembantaian besar-besaran di wilayah Glodok, ada yang tahu apa?”

Akhirnya salah satu dari kami angkat suara. Guide pun senang sambil mengiyakan keterangan singkat salah satu peserta, yang pasti bukan saya yang menjawab.

“Saat zaman penjajahan Belanda, Glodok pernah menjadi kawasan pembantaian besar-besaran. Dahulu, etnis Tionghoa dikumpulkan di satu area, tepatnya Glodok, untuk memudahkan pengawasan dengan terkonsentrasi di satu wilayah saja. Pengawasan yang dimaksud ialah pengawasan terkait dengan pembantaian yang terjadi pada tahun 1740 M.”

Apa yang menyebabkan pembantaian terjadi? Menurut sumber yang saya baca, dahulu saat zaman penjajahan Belanda, etnis Tionghoa yang datang dari daratan China berhasil untuk melakukan kegiatan perniagaan. Pabrik-pabrik didirikan untuk mendukung proses perdagangan. Belanda pun tak senang melihatnya. Etnis pendatang kok lebih sukses daripada pribumi yang notabene mereka jadikan budak.

Akhirnya peraturan pun dilakukan. Warga Tionghoa diberi beban pajak tinggi. Makin tinggi pendapatan mereka, makin tinggi pula pajak yang yang harus mereka bayar.

Pabrik Gula yang mereka miliki harus menjual hasil gulanya kepada Belanda dengan harga murah.

Peraturan lainnya ialah adanya surat izin tinggal di Batavia bagi etnis Tionghoa. Lalu bagaimana cara mendapatkan surat izin tersebut? Ya dengan membayar sejumlah uang kepada petugas. Lantas bagi mereka yang tidak memiliki surat izin akan dimasukkan di penjara.

Siapa yang tak geram dengan tindakan Belanda tersebut?

Adanya korupsi besar-besaran yang dilakukan oleh gubernur VOC serta kesalahan prosedur ekspor gula ke Eropa membuat VOC menaikkan kembali pajak kepada etnis Tionghoa.

Merasa tertindas dengan tindakan yang semena-mena yang dilakukan VOC maka mereka pun melakukan perlawanan.

Beberapa perlawanan yang terjadi diantaranya pada Oktober tahun 1740 M. Sekitar 600 etnis Tionghoa menyerang pos penjagaan di sekitar Jatinegara dan membunuh 50 tentara VOC. Selain di Jatinegara, benteng dalam Kota Batavia pun pernah dikepung dalam bulan yang sama. Mereka ingin masuk. Namun hal ini dapat dicegah oleh tentara VOC yang saat itu dipimpin oleh Gustaav Willem van Imhoff.

Pemberontakan yang terjadi membuat VOC khawatir.

Kekhawatiran tersebut kemudian membuat Belnada menerapkan peraturan baru yaitu adanya jam malam bagi warga Tionghoa yang tinggal di dalam Kota Batavia. Selain itu semua senjata wajib diserahkan kepada VOC.

Kekhawatiran VOC tersebut memuncak hingga akhirnya pada 9 Oktober 1740, atas perintah Gubernur VOC yang menjabat, Adriaan Valckeneir dilakukan pembantaian massal kepada warga Tionghoa yang menewaskan sekitar 10.000 orang dan ratusan warga luka-luka.

Meski telah dilakukan pembantaian namun warga Tionghoa yang masih hidup tetap melakukan pemberontakan.

Akibat dari pembantaian tersebut, Gubernur VOC yang memberi perintah, Adriaan Valckeneir, dicopot dari jabatannya dan dimasukkan ke dalam penjara hingga akhirnya ia meninggal. Lalu sebagai pengganti ditunjuklah Gustaav Willem van Imhoff.

Sebagai Gubernur baru, ia akhirnya memberikan peraturan baru yakni dipindahkannya warga Tionghoa di satu tempat di luar benteng kota yakni di Glodok, agar mereka makin mudah diawasi dan sulit melakukan pemberontakan.

Hingga kini, kawasan Glodok menjadi pusat warga Tionghoa tinggal dan berniaga. Entahlah, sejarah memang membuat pedih hati. Kalau diingat-ingat terus rasa geram tidak tertahan. Namun kini semuanya sudah berlalu. Kawasan Glodok masih hidup dengan ramainya lapak-lapak penjual dagangan. Hio masih menyala di sudut-sudut kelenteng. Pengunjung yang datang dari luar maupun dalam negeri kini ikut memadati kawasan ini meski hanya beberapa jam saja singgah.

Semoga apa yang masih ada terus terjaga meski Mei 1998 sempat ada cerita duka di sana...







Kelenteng Kim Tek Ie

Beberapa pekerja yang sedang melakukan perbaikan


Menyusuri Jalan Kemenangan

Jalan Kemenangan

Makan di kaki lima

catatan: menyusuri Glodok sangat menyenangkan! jangan lupa siapkan alas kaki yang nyaman dan bersenang-senanglah menyusuri gang-gang di sana. Apabila haus dan lapar tak perlu khawatir karena banyak penjual makanan dan minuman, apabila ragu dengan halal/haram, bisa bertanya langsung atau amannya beli penyetan ehehehe...

*semua foto diambil menggunakan kamera hp saya kecuali foto saya yang berbaju biru..



12 comments:

  1. 10.000 orang, menyedihkan :(
    Syukurlah sekarang bertahan sebagai kawasan niaga ya. Semoga tetap harmonis dan baik menjadi ruang buat jalan jalan, jajan, menyusuri kelenteng kelenteng dan rumah unik.

    ReplyDelete
  2. wah, Belanda mudah iri hati ya.
    Hidup bersama mereka saat itu susah juga ya. Banyak aturan. Bahkan berlaku jam malam segala.
    Menarik, Mba.
    Di setiap tempat, pasti ada kampung Tionghoanya. Di tempatku juga ada. dan itu terpusat. Apakah dengan alasan yang sama mereka ditempatkan terpusat dalam satu kawasan?

    ReplyDelete
    Replies
    1. sepertinyaa mas anip, coba baca komentar di bawah ini hehe nanti aku baca-baca lagi..

      Delete
  3. Peristiwa itu juga turut melatarbelakangi berdirinya pecinan di berbagai kota :3

    ReplyDelete
  4. smg bisa hidup harmonis di Indonesia tercinta...

    ReplyDelete
  5. Aku juga pingin menelusuri jejak orang2 tionghoa di deket rumahku, menarik untuk digali hal hal seperti ini

    ReplyDelete
  6. Banyak cerita pilu kala mengenang Glodok, berbagai sumber menuliskan tentang pembantaian. Ya sebuah sejarah kelam yang harus kita ketahui.

    ReplyDelete
  7. Aku pernah dengar soal ini tapi kurang lengkap. Terima kasih Imama sudah menuliskan ini :)
    Aku jadi kepingin ikutan walking tour (banyak rute yang menarik kayanya).

    ReplyDelete
  8. Kalau baca soal sejarah- sejarah begini rasanya pilu, tapi beruntung sekarang wilayah Glodok uda jadi kawasan niaga.

    ReplyDelete
  9. Aku juga baru tau detil sejarah ini. Etnis Tionghoa memang biasanya tinggal di dekat stasiun besar kereta api karena prospek yang bagus buat bisnis. Seperti di Bandung, Solo, Semarang, Jogja, dan kota-kota lainnya. Ternyata yang terjadi di Jakarta berbeda ya, dan tragis.

    ReplyDelete