Warna-warni Alami Batik Kampung Malon di Gunungpati

Tuesday, June 19, 2018 Imama Lavi Insani 2 Comments

imalavinskampungmalon33



Jalanan berliku dan menanjak di Gunungpati saya akhiri dengan berhentinya bus di depan rumah salah seorang warga. Ternyata kami sudah ditunggu dan segera disambut oleh mereka. Mulanya kami saling bersalaman sambil mengucap salam selamat datang. Adanya dua warga yang konon menjadi ikon Kampung Malon ini menambah semarak proses penyambutan. Masing-masing dari kami, rombongan dari famtrip semarang hebat, bergantian untuk berfoto dengan ikon kampung tersebut.

imalavinskampungmalon4

Sambil asyik berfoto dengan ikon kampung malon kami dipersilahkan untuk mencicipi suguhan khas yaitu wedang malon. Wedang ini ternyata minuman khas Kampung Malon yang terdiri dari rempah-rempah seperti kapulaga, jahe, pandan, jeruk purut, kayu manis, dan gula aren. Air hasil rebusan ini kemudian ditaburi irisan kelapa muda. Ketika masuk melewati tenggorokan, rasa hangat langsung menjalar ke seluruh badan. Kalau diminum saat hujan atau udara dingin sangat pas sekali lah wedang satu ini.

imalavinskampungmalon3

Setelah puas mencicipi minuman khas kampung malon, kami diajak untuk pergi ke kelompok batik yang ada di kampung ini. Ada beberapa kelompok batik yaitu Zie Batik, Batik Kristal, Batik Citra, Batik Delima, Salma Batik, dan Batik Manggis.

Dulu di sini mayoritas penduduknya adalah petani. Namun saat ini batik menjadi ikon atau unggulan di Kampung Alam Malon. Batik di sini memiliki ciri khas dari motifnya yaitu Semarangan serta motif yang ada di lingkungan sekitar kampung. Selain itu hal menarik lainnya adalah digunakannya warna alami pada pembuatan batik.

imalavinskampungmalon9
Bahan pewarna alami biru dari warna pasta indigo, jelawe, dan tingi.

Warna alami ini didapat dari apa yang ada di sekitar lingkungan warga, seperti Indigofera penghasil warna biru, Tingi untuk warna cokelat muda yang berasal dari kulit kayunya, dan Jelawe (Terminalia jewelica) untuk warna kuning. Bahan-bahan ini didapatkan dari tanaman yang memang sengaja ditanam sendiri oleh mereka. Ketika kami diajak ke kebun yang berada tak jauh dari salah satu pengerajin yaitu Zie Batik, kami melihat hamparan tumbuhan Indigofera di salah satu petak.

imalavinskampungmalon26
Perjalanan menuju kebun

imalavinskampungmalon27
Indigofera
Saya pun bertanya-tanya bagaimana caranya dari tumbuhan berwarna hijau ini didapatkan warna biru indigo yang begitu khas dan berkarakter.

Ternyata untuk mendapatkan warna indigo tersebut harus melalui beberapa tahapan seperti pengambilan daun yang dianggap sudah cukup “berumur”, lalu proses perebusan, kemudian dilanjutkan dengan proses lainnya seperti fermentasi dan masih banyak lagi.

Kira-kira seperti ini ilustrasi prosesnya ~

Proses yang cukup panjang ini memang terlihat begitu melelahkan lalu mengapa tetap menggunakan pewarna alami dari alam sekitar?

Warna-warna sintetis atau buatan umumnya memang harganya lebih murah dan warnanya lebih mencolok dan bervariasi namun di sisi lain warna-warna buatan tersebut memiliki dampak terhadap lingkungan yang cukup serius seperti pencemaran lingkungan dan menimbulkan gangguan berbagai penyakit kulit.

Memang jika dilihat dari harga pasti ada perbedaan antara alami dan buatan namun dari sisi dampak warna alami lebih aman digunakan serta memiliki ciri khas dan karakter sendiri dibandingkan dengan warna buatan.

Saat ini Zie Batik tidak hanya memproduksi batik saja namun juga sudah mempersiapkan untuk menjadi produsen pasta warna indigo karena setelah dibandingkan dengan warna indigo hasil produsen lain, warna indigo Zie Batik ini tidak kalah bagusnya.

imalavinskampungmalon21
Batik yang akan dijemur

imalavinskampungmalon14
Seorang pegawai Zie Batik sedang mengecek batik yang sedang dijemur

Setelah berkunjung dan belajar tentang warna alami untuk batik, kami diajak untuk bermain bersama di Taman Nyai SekarWangi dan Pendapa Sunan Kali Jaga. Di salah satu sudut kampung disediakan tempat untuk mengenang kembali ragam dolanan yang masih “alami” belum tersentuh kemajuan era teknologi. Jegog Lesung dan Egrang pun akhirnya menjadi tontonan dan mesin waktu bagi saya yang tidak terasa sudah makin sepuh ini hehe.

imalavinskampungmalon29
Jegog Lesung

imalavinskampungmalon30
Egrang

imalavinskampungmalon7
Pemilik Zie Batik

imalavinskampungmalon8
Workshop Zie Batik
imalavinskampungmalon23
Malam

imalavinskampungmalon17
Ragam warna dan corak Zie Batik
imalavinskampungmalon18
Warna indigo
imalavinskampungmalon5
Kelompok Batik Citra Malon
imalavins
Berada di tengah-tengah batik dengan warna alami
imalavinskampungmalon35
Pembuatan batik cap

imalavinskampungmalon20
Menu makan siang 

2 comments:

  1. Kalau berbicara limbah, sepertinya tetep harus dikaji sih ini meskipun dari bahan alami.

    ReplyDelete
  2. Hai, Ima. Apa kabar? Minal aidzin wal faidzin ya...Aku lega akhirnya masih ada yang aktif blog di blogspot setelah 3 tahun aku ga buka blogspot. hehehe.... :)

    ReplyDelete