Multikultural di Negeri Jiran

Tuesday, October 09, 2018 Imama Lavi Insani 1 Comments





Lantunan lagu india mengiringi perjalanan saya dari Bandara ke Hotel yang terletak di Georgetown. Kepala saya reflek ikut bergoyang (sedikit-sedikit).  Sebelum lagu india tersebut dimainkan, sopir taksi online meminta izin kepada saya apakah diperbolehkan menyetel lagu india. Saya pun langsung menjawab,"Ya tentu boleh."

Jadilah perjalanan sore itu seperti perjalanan di New Delhi  daripada di Penang mulai dari lagu, aneka aksesoris di mobil, hingga sopir taksi online yang memang keturunan India  (padahal saya belum pernah ke New Delhi :p).

Lagi-lagi India...

Mungkin ini yang namanya konspirasi semesta, saya baru ingat saat diturunkan oleh sopir taksi di hotel, lokasi penginapan saya berada di Little India. Beberapa toko di samping penginapan terlihat menjual kain sari, punjabi dan jippa suits, aneka bunga, dan lainnya.

Untuk sementara perjumpaan saya dengan budaya India terhenti saat masuk ke dalam hotel karena pemiliknya bukan warga keturunan India tetapi Tionghoa. Sambil melangkah gontai masuk ke dalam hotel karena sudah lelah duduk, petugas yang berjaga bertanya kartu identitas dan kode booking kami. Teman saya, Nofa, yang dalam perjalanan kali ini bertugas untuk menangani urusan penginapan langsung menyerahkan dokumen terkait.  Urusan penginapan lancar, petugas resepsionis langsung saja memberikan kunci kamar. Saat kami meminjam adapter untuk keperluan charger perangkat komunikasi kami olala ternyata petugas resepsionis yang sejak tadi melayani kami adalah orang Medan. (kalau tau dari awal tidak perlu repot-repot ngomong bahasa inggris-_-)

Tidak lama saya beristirahat di dalam hotel karena rundown yang disusun oleh kami sendiri mengharuskan kami bergegas menuju salah satu tempat di sudut Kota Penang. Avatar Park namanya. Tidak banyak yang saya ketahui dari tempat ini hanya taman yang terletak di dalam sebuah kuil dan tepi pantai. Rencananya saya hanya menghabiskan sore dengan duduk di tepi pantai kalau tempatnya memungkinkan dan malamnya langsung menikmati Avatar Park. Hanya begitu saja, harapan yang saya rajut tidak muluk-muluk #cailah ~

Namun ketidakjelian saya melihat secara detail bagaimana destinasi wisata kali ini berujung manis. Saya tidak menyangka sunset di tepi pantai yang masih satu kawasan dengan Avatar Park ini begitu indah. Saya duduk di batu-batu di tepi pantai (yang mengingatkan saya dengan Kenjeran) dan menghadap matahari yang tenggelam di balik gedung-gedung pencakar langit.

Menikmati sunset dengan duduk di batu-batu

Avatar Park

Malam sepulang dari Avatar Park kami memutuskan untuk mencari makan.

"Mau makan apa ini?"

"Nasi Kandar boleh deh Ma kayak rekomnya driver tadi."

"Siiip, tapi Nasi Kandar manaa rek?"

Akhirnya berbekal peta kuliner yang kami dapatkan di bandara, Nasi Kandar Line Clear kami sepakati sebagai makan malam kami. Kesepakatan lain yang kami lakukan adalah pemilihan lauk yang berbeda-beda agar dapat saling mencicipi. Ada cumi, ayam dan olahan daging yang bisa kami rasakan dalam sekali makan.

Nasi Kandar Line Clear

Penjual Chapati di Little India


Hari-hari berikutnya yang kami lakukan dalam urusan makan adalah mencoba berbagai olahan yang belum pernah kami cicipi seperti chapati, pasembur, mie sotong, es kacang, dan es teh tarik yang benar-benar ditarik bukan dari kemasan sachet.

Di akhir perjalanan saya jadi berpikir, perjalanan kali ini mempertemukan banyak sekali ras, dari India, Melayu, Tionghoa, sampai Batak.Hal tersebut didukung oleh data sensus pada tahun 2016 dengan prosentase orang Melayu sebesar 67,4%, Cina 24,6,%, dan India 7,3%.

Terkait dengan multi ras ada sebuah catatan hitam di negeri Jiran pasalnya pernah terjadi kerusuhan yang melibatkan ketiga ras ini pada 13 Mei 1969 dan menewaskan ratusan orang beretnis Tionghoa. Penyebabnya dipicu oleh pemilu yang nyaris memenangkan Democratic Action Party (DAP) yang didominasi etnis Tionghoa.

Pada saat itu terjadi pula ketegangan pada sektor ekonomi yaitu kesenjangan antara warga Melayu dan Tionghoa yang cukup tinggi. Tahun 1960-an warga Melayu menguasai 1,5% total kekayaan nasional dan mayoritas berprofesi sebagai petani di desa berbeda dengan mayoritas warga India dan Tionghoa yang bekerja di sektor perbakan dan industri di kota-kota.

Melihat hal tersebut akhirnya pada 1971 dibentuk New Economic Policy (NEP) yang mengistimewakan warga Melayu dalam berbagai sektor kehidupan publik. Meskipun program ini bisa dikatakan berhasil namun hal lain terjadi di lapangan seperti warga non-Melayu merasa dianaktirikan, kronisme pengusaha dan politisi Melayu serta bagi masyarakat kelas bawah Melayu yang tidak merasa diuntungkan oleh program pro-elit pribumi ini.

Perihal pribumi dan non pribumi yang diberi aturan tertentu di Negeri Jiran ini nyatanya memiliki dampak lain di lapangan. Saya memang tidak mengalami langsung apa yang dialami warga negara tetangga sebelah namun entah mengapa bagi saya pengotak-ngotakan malah membuat kesenjangan dan perbedaan makin terbuka lebar.



Georgetown

Georgetown

es cendol (tapi artificial :p)

Masjid Nagore Dargha Sheriff yang dibangun sejak 1800-an








 Sumber rujukan tulisan:







1 comment:

  1. Sejujurnya aku lihat foto sunsetnya itu syahdu. Aku jadi mbayangin duduk di situ sama pasangan. Terus kok aku senyum sendiri padahal nggak punya pasangan. :))

    ReplyDelete