Berkarya Bersama Pemuda Bayat dan SD Tumbuh 3

Wednesday, November 28, 2018 Imama Lavi Insani 2 Comments



Suara cekikian khas anak memenuhi ruang workshop Batik Tulis Kebon Indah, Desa Kebon, Kecamatan Bayat, Kabupaten Klaten. Mereka berasal dari SD Tumbuh 3 Yogyakarta kelas 1 sampai 3 yang hari itu datang untuk belajar membuat batik dan gerabah dengan didampingi guru sekolah mereka.

Sebelum acara dimulai fasilitator sudah bersiap untuk memberikan materi kepada anak-anak ini. Fasilitatornya adalah pemuda di Kecamatan Bayat yang menjadi bagian dari program pemberdayaan ekonomi di sekitar situs warisan dunia kerjasama antara UNESCO dan CITI Foundation. Jumlah penerima manfaat program pemberdayaan tersebut ada 17 orang yang kebanyakan penerimanya dari sektor kerajinan gerabah dan batik. Rata-rata pemuda ini berstatus mahasiswa perguruan tinggi di Yogyakarta. Seorang dari mereka yang berfokus pada batik mengaku masih menjadi mahasiswa di ISI jurusan Kriya. 

Ketika acara dimulai, anak-anak SD Tumbuh 3 dibagi menjadi dua kelompok, batik dan gerabah. Masing-masing kelompok kerajinan ini sudah ada fasilitator yang siap untuk memberikan materi kepada anak-anak. Selama penjelasan materi oleh fasilitator mereka tertib dan mendengarkan dengan seksama serta sesekali bertanya.

Setelah penjelasan selesai, selanjutnya adalah hal yang paling ditunggu oleh anak-anak yaitu praktek langsung membuat kerajinan. 

Di hadapan anak-anak yang memilih kelompok batik sudah tersedia bahan-bahan yang diperlukan yaitu selembar kain batik yang di atasnya sudah ada bahan-bahan untuk dicetak di kain seperti bunga sepatu dan dedaunan. Selanjutnya anak-anak diberi kebebasan untuk menata sendiri pola daun dan bunga yang akan dicetak dengan catatan mereka harus menatanya di setengah kain saja tidak keseluruhan. Setelah proses penataan daun dan bunga selesai kali ini proses yang paling seru akan dimulai. Anak-anak diberi alat pukul seperti kayu dan palu untuk “memukuli” masing-masing kain mereka yang terlebih dahulu dilapisi dengan plastik. Proses pemukulan ini makin membuat suasana kian semarak, anak-anak begitu semangat mengerahkan tenaga mereka agar daun dan bunganya tercetak dengan baik di kainnya. Tak sedikit yang mengeluh lelah tapi hal itu berlangsung sebentar saja selanjutnya ya mereka kembali memukuli kainnya.

Pengarahan oleh fasilitator

Kain dan Bahan untuk Eco Printing

Proses "pemukulan"

Pengelupasan daun dari kain

Hasil karya eco-printing Siswa SD Tumbuh

Kain yang sudah dipukuli tadi lalu dijemur untuk mengeringkan pola daun dan bunga. Setelah itu kemudian dibilas dua kali dengan air tawas dan air tawar biasa. Proses terakhir ialah menjemur kain yang sudah dibilas dengan air dan kain pun siap digunakan.

Proses pembilasan dengan air

Penjemuran kain

Keceriaan nampak pula di wajah anak-anak yang tergabung di kelompok gerabah. Apalagi pola cetakan untuk gerabah yang mereka gunakan bentuknya unik-unik ada cicak, buaya, ayam, gajah, bunga, dan masih banyak lagi. Selain membuat gerabah dengan bentuk yang unik mereka juga diajari untuk menghias gerabah berbentuk kuali kecil. Menurut saya aktivitas ini benar-benar mengasah kreativitas mereka karena tidak ada keharusan harus menghias dengan pakem tertentu. Mereka bebas bereksperimen dengan imajinasi mereka, ada yang menghias dengan pola bunga dan polkadot serta yang paling unik ada yang menghias mulut kuali dengan aneka bentuk. Sungguh kreatif!


Membuat gerabah dengan tanah liat


Fasilitator dari pemuda Bayat membantu anak-anak SD Tumbuh membuat gerabah

ini cicak atau buaya hayo?

Kuali kecil sedang dihias oleh adik-adik SD Tumbuh

Hasil karya kelompok gerabah

Selama acara berlangsung anak-anak SD ini begitu antusias dan aktif. Tidak sedikit dari mereka yang selalu mengancungkan tangan berusaha menjawab pertanyaan yang dilontarkan oleh fasilitator. Benar salah urusan belakangan yang penting maju dan mereka bisa mengutarakan ide di otak. Salah seorang dari mereka, Noah, merengek di dekat saya ingin ditunjuk dan maju.

“Aku mau maju .”

“Ya udah angkat tangan.”

Gak ditunjuk dari tadi .”

Meskipun akhirnya ketika ia ditunjuk dan jawabannya kurang tepat ia masih nampak sumringah dan berusaha menjawab lagi. Kudos! Jangan malu dan takut untuk mengutarakan pendapat kalian ya dek.
Selain keberanian, anak-anak ini pun tidak jarang melontarkan pertanyaan-pertanyaan yang susah betul jawabannya. Salah satunya adalah:

”Siapa yang membuat batik pertama kali?”

Fasilitator yang menjelaskan bahan-bahan dan pembuatan batik pun terdiam mendengar pertanyaannya hahaha. Saya sendiri pun pasti ya kaget mendapat pertanyaan tersebut. Mereka ini masih kecil-kecil tapi kreatif dan kritisnya minta ampun. 

Mendung dan gerimis yang datang, tepat saat kegiatan ini akan berakhir. Kegiatan hari ini pun ditutup dengan berfoto bersama semua fasilitator, perwakilan UNESCO, guru, dan anak-anak SD Tumbuh tentunya. Rencananya kegiatan seperti ini akan diadakan rutin satu bulan sekali, saya dibuat penasaran bagaimana keceriaan dan keseruan selanjutnya di Bayat bersama pemuda-pemudinya.

Sesi foto bersama yang....gagal tapi lucuu hahaha

Sesi diskusi dan sharing bersama perwakilan unesco dan pemuda Bayat


Lurik, Batik Teknik Eco-Printing, dll

Batik Tulis Kebon Indah karya warga sekitar


2 comments:

  1. Keren! Jadi pengen ajak teman-teman ke sini belajar batik eco-printing!

    ReplyDelete
  2. Aku liat di storymu kemarin, seru banget yaaa.
    Bayat (dan Klaten secara umum) aku liat perkembangan soal wisata berbasis edukasi dan ukm-nya lagi giat. Apalagi ada Hannif sih ya

    ReplyDelete